
Kecurigaan Rani terbukti saat Ana meminta bidan terdekat untuk memeriksa kan keadaan Rina.
Hati Rani bergetar saat bidan mengatakan kalau Rina sedang hamil. Rey yang mendengar itu langsung memeluk tubuh Rina, Rani hanya mengigit bibir bagian bawah, ada rasa iri menyelimuti hati Rani melihat semuanya.
Apalagi saat melihat tangan Rey beberapa kali mengelus perut Rina dengan lembut, Rani hanya mendesah pelan, ada perih dalam hatinya.
Ia langsung beranjak dari tempat itu lalu keluar menuju perpustakaan yang terdekat disana. Dio yang melihat itu langsung menyusul Rani, sedangkan Rey seperti tidak menyadari kalau Rani dan Dio pergi begitu saja.
Sedangkan Santi terpuruk ia tidak menduga kalau Rina bisa hami,"kapan mereka bikin bayinya? Kan aku selalu bareng sama mereka, malah malam hari juga aku selalu tidur sama Rina," bisik hati Santi heran.
Untung kata kat itu tidak ia ucapkan dihadapan anak dan menantunya, kalau sampai terucapkan pasti mereka tidak bakal mengakui kalau pernah berbuat sesuatu, ya biarpun mereka berbuat sesuatu juga sudah halal secara hukum agama dan negara.
"Kamu cemburu?" Tanya Dio melirik wajah Rani.
"Ngapain aku harus cemburu? Mereka udah sah kok," kata Rani.
"Kenapa kamu pergi begitu saja, saat mendengar apa yang disampaikan oleh bidan tentang!"
"Dio cukup! Kamu ngapain ikuti aku!" Teriak Rani gusar.
Ia merasa jauh untuk meraih Rey, dsn sekarang Dio malah mengatakan itu pada dirinya membuat dirinya merasa terbakar, apalagi mendengar kata kata Dio seperti itu.
Ranty lanhsung mengambil buku yang dibaca, bukan membaca tapi pikirannya kemana kemana, kacau balau sebenarnya tapi ia berusaha tidak menunjukan dihadapan Dio.
Dilain sisi Rey sangat bahagia sekali mendengar kalau istrinya hamil muda, sampai ia mengelus perut Rina dengan lembutnya.
Rina yang tidak menduga sangat gembira sekali, ia Baner benar bahagia wajahnya berseri seri saat tahu dalam rahimnya ada yang hidup.
"Mas, kira kira kita bikin anak ini kapan ya?" Bisik Rina pada Rey.
"Entah! Aku juga nggak tahu, apa aku yang bikin ya?" Goda Rey.
"Kalian bingung bikinnya, apalagi ibu!" Seru Santi menatap keduanya.
__ADS_1
Sejak tadi ia masih berada di samping mennayunya melihat apa yang dilakukan oleh Rey pada mennayunya.
"Ih ibu kok bilang begitu sih!" Sanggah Rey mendelik.
Santi dan Rina tersenyum melihat delikan mata Rey seperti itu terlihat lucu sekali.
Santi mengajak Rey dan Rina untuk pulang ke rumah yang Santi tempati, sebenarnya Santi berniat bertemu dengan Surya kerena Surya tidak ada ya sudahlah mereka pulang ke rumah.
Rey akan mengantarkan Rani ke rumah Senja, tapi ia menolak Rey untuk mengantarkan dirinya, Rani pulang ke rumah senja mengunakan kendaraan umum di sekitar sana.
Dio yang akan mengantarkannya juga ditolaknya, ia menyuruh Dio ikut dengan Rey saja dan Rani tidak mau kalau Dio mengikutinya. Dio hanya mengangguk saja, ia memberikan waktu dan ruang supaya Rani bisa menerima takdirnya.
Rani pulang ke rumah Senja. Senja dan Zoya saling tatap menatap Ran ini yang siap siap pulang ke kampung halamannya alasan yang masuk akal kasihan Anindya. Zoya yang ingin menanyakan hanya diam saja kerena melihat wajah kakaknya ditekuk sedemikian rupa.
Sedangkan di kediaman Santi, Rey langsung keluar rumah setelah mengantarkan Rina dan Santi. Hatinya senang mendengar Rina hamil, hasil cintanya dengan Rina. Ya biarpun ia tidak pernah menganggap Rina ada tapi kebersamaan akhir akhir ini yang membuat dirinya dekat dengan Rina.
Di sebuah gubug dekat rumahnya, Rey menatap kearah depan dengan tatapan mata yang kosong. Pikirannya ingat percakapan yang terjadi di rumah Senja. Apalagi kata kata Senja pada Rani.
Rey tahu kalau Senja menatap tajam kearah Rani. Senja baru menyadari kalau malam Rani tidak bisa tidur, ya kerena ia dan Rani tidur dalam satu kamar. Rani juga tidak pernah bilang apa apa pada dirinya.
"Sudah kalain jangan berdebat. Ini kan urusan para wanita," sanggah Senja waktu itu pada dirinya dan Dio.
Awalnya ia tidak mengubris apa apa yang Senja katakan pada dirinya tentang Rani. Ya ia melihat Senja memijat bahu Rani dengan lembut, awalnya Ia ingin berkata tapi hanya diam saja.
Apalagi saat Rey melihat Senja yang manatap wanita itu, dan Rey merasakan kalau di diri Senja ada aura yang positif pada Dio untuk Rani. Saat ia menatap Senja saat itu pula Dio menatap Rani.
Kejadian di rumah Senja terbayang jelas sekali, ya setelah mereka duduk lesehan. Senja menyediakan minuman teh manis anget, serta kukus singkong yang dikasih kelapa yang di parud
"Anak mu kemana kak?" Tanya Rina celingukan.
"Sama art."
"Ayah dari kemarin nggak pulang, aku juga nggak tahu ayah kemana." Senja mendahului bicara.
__ADS_1
"Iya nggak pulang, aku menyangka nya ayah pulang malam. Tapi ayah nggak pulang," lanjut Rani menunduk.
"Trus rencana kita bagaimana? Apa kak Senja tahu dimana ayah kakak?" Tanya Dio menatap Senja.
Senja mengelengkan kepala. Tandanya ia sama sekali tidak tahu keberadaan Surya dimana. Memang selama ini ia tidak tahu apa yang dilakukan Surya, ia baru tahu sekarang sekarang saja itu juga dari Vian bukan ia tahu diri sendiri.
"Ayah sebenarnya sebelum ini sering cerita pengen ketemu wanita yang menolongnya," ungkap Senja.
Rey tidak curiga sama sekali pada apa yang dikatakan Senja pada dirinya dan yang lainnya, menurutnya wajar kalau Surya menginginkan kalau ingin bertemu dengan kenalannya di masa lalu.
Rey tidak tahu kalau kenalan Surya adalah wanita yang pernah ia sayangi. Rey tidak tahu sama sekali kalau ada salah satu orang yang hatinya berdetak keras saat Senja menceritakan wanita itu.
"Mas, kenapa?" Tanya Rani menghampiri Rey yang sedang duduk disana.
Rey terkejut mendengar suara Rina yang menghampiri dirinya, ia langsung menatap wajah Rani tajam.
"Kamu istirahat," perintah Rey.
"Aku nggak bisa tidur."
"Kenapa ada yang sakit atau kamu ingin sesuatu?" Tanya Rey.
Rina mwngelangkan kepala saja," aku ingat Rani," ucap Rina.
Mendengar nama Rani disebut oleh Rina, Rey hanya menarik nafas dalam dalam lalu dihembuskan begitu saja, ia tidak menduga kalau Rina bakal bicara masalah Rani.
"Aku nggak enak pada Rani, kita nggak bisa mengantarkan Rani ke rumah kak senja," sesal Rina lirih.
Rey seperti tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Rina, ia langsung beranjak dari duduk dan membimbing Rina untuk masuk kamar untuk istirahat
Biarpun malas Rina akhirnya mengikuti ajakan Rey masuk kamar.
Santi melihat apa yang Rey lakukan pada Rina, ia hanya bisa menghela nafas panjang. Ada kisi hati yang hilang saat melihat Rey mengajak Rina ke kamar, ia hanya diam saja kerena mungkin mereka ingin istirahat.
__ADS_1
Santi hanya terduduk di kursi, tadinya ia menatap Rey yang berada di gubug di dekat rumahnya, awalnya ingin dihampiri tapi mengurungkan niatnya kerena melihat Rina menghampiri Rey.*