BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Rani


__ADS_3

Kejadian tadi membuat Rani shock. Ia tidak menyangka apa yang Rina katakan padanya sangat berbeda jauh dengan apa yang ia ungkapkan kemarin di sekolah.


"Aku hanya ingin mengurusnya, dia anak Rey. Seharusnya aku yang berhak mengurusnya," rengek Rina waktu itu di gerbang sekolah.


"Nggak aku nggak bakal memberikan bayi ini pada siapapun juga. Aku yang berhak mengurusnya apalagi aku ibunya," tegas Rani menolah.


"Tapi Ran apa kamu sanggup mengurus seorang diri tanpa bantuan siapapun juga. Ran, ingat kamu juga butuh dukungan saat lahiran kalau siapa yang mendampingi kami disaat saat itu!" jelas Rina menatap Rani..


"Ada Zoya yang bakal menemani aku, aku nggak peduli aku berjuang sendiri maupun tanpa pendamping yang penting selamat!" tekad Rani.


Tapi Rina hanya memandang sinis mendengar apa yang dikatakan oleh Rani. Rani tidak peduli pada pandangan Rina waktu itu, kalau ia akan bertekad mengurusnya dan ia juga akan berjuang melahirkan anak ini biarpun misal Zoya tidak ada disampingnya.


"Kamu bilang itu kerena kamu. juga inginkan merasakan melahirkan?" tohok Rani sinis.


Deg!


Hati Rina berdetak sangat keras mendengar apa yang diucapkan oleh Rani. Sebenarnya kata kata Rani benar sekali, ia ingin sekali merasakan melahirkan. Kata orang melahirkan itu nikmat banget, tapi Rina hanya bisa berkhayal memikirkan proses melahirkan yang sebagian orang indah sekali apalagi didampingi oleh sang suami.


"Jangan sok tahu,"cerca Rina tidak suka.


"Kenapa kalau kamu nggak mau melahirkan harus mengurus anak yang aku kandung, itu telah membuktikan kalau kamu rindu itu," sindir Rani tajam.


Rani tersenyum sinis menatap Rina yang menatapnya dengan perasaan geram sekali. Tapi Rani tidak bergeming sama sekali pada tatapan mata Rina.


Tapi dengan santainya ia mengusap perutnya, Rina benar benar memalingkan muka muak melihat itu semuanya. Ia lakukan itu kerena ia iri sama Rani yang bisa hamil dan.mungkin merasakan gerakan janin yang dikandung? Sedangkan dirinya?


Rani menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan kembali. Rani benar benar shock mendengar kata kata Rina tadi tentang rencana Rey dan Rina memohon kalau dirinya tidak memberikan bayi itu pada Rey.


Rani tidak atau apa yang terjadi, tapi setelah melihat wajah Rina yang tulus Rani luluh juga. Dan ia mengakhiri sandiwaranya tadi dengan memeluk tubuh Rina dengan erat sekali.

__ADS_1


Sampai Rina mendelik ketika Rani menceritakan kalau itu hanya tak tik dirinya saja untuk mencoba beberapa jauh Rina menginginkan penjagaan bayi yang ia kandung.


Rani melihat di bola mata Rina terdapat sebuah ketulusan untuk janin yang di kandungnya. Ibarat ketulusan seseorang ibu pada anaknya.


Tia tiba Rani meringis saat ia merasakan gerakan janin yang ia kandung. Ya janin itu telah bergerak hidup. Ada senyuman indah menghiasi wajah Rani, ia dengan reflek mengusap perutnya dengan lembut. Beberapa kali ia meringis kegelian saat janin itu merespon elusan yang ia berikan.


"Aku ingin hamil seperti kamu, tapi Rey tidak menyentuhku selama 5 tahun," keluh Rina murung pada Rani tadi.


"Kak, bersabar pasti suatu waktu nanti kakak bakal hamil dan Rey bakal menjadi milik kakak," kata Rani perih.


Sejujurnya Rani ingin kalau Rey kembali padanya tapi melihat prilaku Rey seperti itu Rani lebih mundur saja kerena Rey tidak menginginkan anak yang dikandung nya.


Dio yang masih berada diantara dua wanita itu menatap bola mata Rani dengan tajam, Dio merasakan kalau hati Rani masih belum melupakan Rey. ia menhan gejolak hati yang tiba tiba muncul begitu saja dalam kalbunya.


Rani tidak menyangka kalau Rina bakal menceritakan kerjakan malam pertama sampai sekarang ia tidak pernah berbuat apa apa dengan Rey. Menurutnya ia mencoba menggodanya supaya Rey mau melihat tapi nyatanya tidak sama sekali.


Rani hanya mendesah mendengarkan apa yang diceritakan Rina, entah ia senang atau sedih mendengarkan cerita Rina. Entah Rina berbohong atau tidak ia sama sekali tidak tahu apa apa, kerena itu urusan mereka.


Rani hampir terpental, saat telinganya mendengar sebuah gedoran keras di daun pintu. Memang tadi ia mengunci pintu sebelum masuk rumah dan duduk di ruang keluarga yang menyatu dengan ruang tamu.


Rani sebenarnya ingin pura pura tidak mendengarkan gedoran pintu, tapi sang tamu tidak memiliki adab bertamu. Ia mengedit pintu sangat keras sekali, akhirnya Rani menyerah dan beranjak dari tempat duduknya. Menuju pintu, untuk tahu siapa yang mengedit pintu dengan cepat.


"Rey! Kamu apa apa an bukaannya dalam atau apa ini main," sembur Rani saat pintu sudah terbuka lebar.


Rey yang melihat Rani lanhsung menarik tangan wanita itu dengan kasar menuju dalam rumah, sampai Rani berusaha untuk melepaskan genggaman tangan Rey yang kuat tapi ia tidak bisa.


"Oke, aku setuju kamu lahir kan bayi itu tapi setelah lahir aku yang mengurusnya,"hardik Rey dengan muka merah padam.


Tangannya yang menggenggam tangan Rani langsung dilepaskan begitu saja, dan Rey mendorong bahu Rani dengan kuat. Rani tersungkur untung tubuhnya jatuh di atas kasur yang tadi ia duduki

__ADS_1


"Rey sakit," rintih Rani menatap tajam.


Rani terjatuh, untung tidak telungkup hanya terduduk saja itu sakit sekali kerena bokongnya langsung menyentuh kasur. Tapi tidak terlalu sakit ia hanya terkejut saja melihat kelakuan Rey padanya.


"Aku nggak akan kasih dia padamu, kamu yang ingin dia tidak adakan, kenapa? berubah pikiran," seru Rani sinis sambil berdiri dihadapan Rey.


"Bangsat!" teriak Rey geram sekali.


Dicengkram nya kedua bahu Rani dengan kuat sampai wajah wanita itu meringis, tangan kekar Rey meremas kedua bahu itu dengan keras sekali tanpa peduli sang pemilik bahu kesakitan.


"Rey, lepaskan."


Kedua tangan Rani berusaha melepaskan cengkraman kedua tangan Rey yang kuat tapi Rey tidak peduli sama sekali.


"Aku nggak akan melepaskan kalau kamu tidak janji memberikan bayi itu untukku,"


"Kamu gila Rey."


Ha ha ha ha


Tawa Rey mengema kesenangan melihat Rani meringis kesakitan, ia puas membuat wanita itu marah dan memberontak dihadapannya. Rey langsung mendorong tubuh Rani dengan keras sekali.


Aaah!


Jerit wanita itu seketika saat pungung terbentur langsung ka kasur lantai dengan kerasnya. Ia meringis. Biarkan ia jatuh di atas kasur tapi ia masih merasakan sakit di punggungnya. Belum sempat Rani bangun, Rey dengan ganasnya langsung menarik tangan Rani sampai Rani terjungkal..


"Rey!" pekik Rani.


Jatuh kali ini bukan ke kasur tapi tangan bagian kiri terasa sakit kerena terbentur meja. Rey belum puas melakukan permainan yang menurutnya seru sekali.

__ADS_1


"Mas, hentikan semuanya!" terima tiba tiba Dio datang dengan cepat ia melumpuhkan Rey yang akan menyentuh Rani..


Rey terkejut melihat kedatangan Dio.yangbia tidak sangka sangka sama sekali. Melihat Rani duduk di lantai ia langsung memburu tubuh Rani.*


__ADS_2