BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
POV Rani


__ADS_3

Reader pasti tahu,kan perasaan aku. Aku tuh sayang sama Rey. Rey baik sih orangnya perhatian apalagi ia juga selalu melindungi aku. itu sebelum aku ditinggal nikah oleh Rey, entah apa yang ada di pikiran Rey waktu itu harus menikah dengan wanita yang asing untukku.


Aku hanya kenal namanya. Itu juga dari Rey..


"Ran, mungkin hari ini kita terakhir untuk bertemu. Kerena aku bakal melakukan akad nikah dengan Rina." getar Rey waktu itu..


"Nikah?"


Aku hampir tidak percaya apa yang Rey katakan padaku, laki laki itu hanya mengangguk saja tanpa bisa menjawab pertanyaan yang aku lontarkan olehku.


"Maaf!''


Hanya itu yang dia ucapakan padaku. Hatiku hancur dan remuk saat dia mengatakan dia bakal menikah dengan wanita lain, aku marah, frustasi.


Bayangkan waktu Rey menikah ia mengundang aku di resepsi pernikahannya. Aku tidak hadir sama sekali, malas, menghadiri pernikahan pacarku.


Sejujurnya aku masih mencintai Rey, biarpun kalau mau aku bisa saja mencari laki laki lain untuk mengantikan Rey dalam hidupku tapi aku tidak bisa sama sekali..


O,ya waktu aku pacaran dengan Rey. Aku sudah mengenal Dio. Dio laki laki yang baik, tegas, lembut, dan Dio juga pernah menyatakan cintanya padaku, tapi aku tolak itu sebelum Rey menikah dengan Rina.


Ya aku dan Dio satu UT di Cibaliung, kami berdua mengambil jurusan Perpustakaan. Sedangkan Rey beda perkuliahan, kalau Rey kuliah di kota propinsi, awalnya sih mengambil jurusan pertanian. Yupz Rey mengambil kampus negri di Banten dekat terminal Pakupatan.


Aku berniat sebenarnya mengenalkan Dio pada Rey sehabis lulus kuliah. Kami mengambil DII Perpustakaan kerena jurusan perpustakaan sangat baru jadi tidak ada S1 nya.


Aku suka Dio tapi hanya sebatas sahabat sajatidaka lebih dari itu. Biarpun Dio sangat perhatian, tapi aku menganggapnya ia hanya sahabat saja, saat aku berada dititik terendah Dio selalu ada di sampingku.


Aku beberapa kali menyembunyikan masalah yang aku hadapi tapi Dio selalu tahu apa yang terjadi padaku. Mungkin kerena Dio lelah mengejarnya, sehabis lulus kuliah ia menikah dengan wanita yang benar benar tulus mencintainya

__ADS_1


Sedangkan aku masih mengharapakan Rey, sedangkan Rey telah pergi jauh bersama wanita lain yang kini jadi istrinya. Rey meninggalakan kampung halaman demi mengejar kebahagiaan dsn meninggalakan aku yang terpuruk..


Lulus dari perkuliahan aku tidak langsung kerja, aku menganggur tapi disela menganggur itulah aku sedikit membuka TBM Pustaka Cakrawala.


Sebelum bekerja di SMP aku praktek tentang ilmu perpustakaan misal administrasi perpustakaan, pengolahan bahan pustaka. Ya aku bersyukur sedikit demi sedikit melupakan Rey. Sejak Rey menikah aku sama sekali tidak mendengar nama Rey lagi.


Kegiatan yang aku lakukan di TBM akhirnya tercium oleh ketua Forum TBM kabupaten, dan akhirnya aku ikut kegiatan TBM di kota kabupaten Pandeglang.


Dua tahun aku mengadakan kegiatan untuk membina minta baca anak anak, remaja dan masyarakat sekitar kampung yang aku tinggali, aku bertemu dengan Dio kembali di acara Bimtek Pengolahan Bahan Pustaka yang diadakan di Anyer


"Kamu udah nikah?" tanya Dio menatapku.


Aku hanya menarik nafas dalam dalam mendengar apa Diao katakan padaku. Secara berlahan aku hanya mwngelangkan kepalaku, entah di lihat entah tidak..


"Kamu masih menunggu laki laki itu?" tanya Dio.


"Aku nggak punya harapan lagi menunggunya, mungkin dia lebih bahagia dengan wanita itu," ujarku hampa.


Anehnya sejak Dio bicara tentang Rey, aku malah kepikiran Rey terus. Aku merasakan rindu, sakit, kecewa, marah tapi aku melempiaskan ya pada siapa?


lima tahun sejak kejadian itu.


Aku masih mengharapakan Rey, dan lebih sadisnya aku malah menginginkan Rey cerai dengan wanita itu! Wanita yang tidak tahu diri yang telah merampas kebahagiaanku, dan untuk melupakan semuanya aku melamar kerja di sekolah tingkat pertama di sebuah kecamatan.


Tapi pertemuanku yang pertama sejak Rey meninggalakan aku, malah membuat aku tersiksa. Ya aku bertemu Rey kembali dan yang lebih terkejutnya dia adalah kepala perpustakaan di sekolah yang berada di perbukitan kecil yang indah dan permai.


Antara rindu, benci, kecewa masih aku rasakan dan yang lebih kagetnya lagi Rey mengatakan kalau dia divonis mandul oleh ibu mertuanya.

__ADS_1


Entah setan mana yang merasuki kami berdua malam yang seharusnya tidak terjadi apa apa, harus terjadi. Malam yang dingin itulah saat hujan deras mengguyur, aku menyerahkan semuanya lada Rey.


Aku kaget saat aku telat tamu bulanan ku yang seharusnya datang tiap bulan tiba tiba tidak datang lagi, gelisah, khawatir, cemas, merasa salah dll. Aku terpuruk saat aku.mwlihat tespeck seharusnya negatif malah positif.


Aku gamang. Dengan perasaan yang tidak dapat dilukiskan aku telpon Rey, tapi apa yang dia katakan.


"Gugurkan janin itu sebelum besar," teriak Rey di sebrang telpon


"Rey janin ini anakmu!" sembur ku marah.


Aku tidak menyangka Rey akan menyuruh menggugurkan janin yang beberapa Minggu di kandunganku. Aku berusaha menjaga dirinya daripada ia harus tiada. Aku bakal berusaha untuk menjaga kehamilanku biarpun berat sekali.


"Wanita kotor, wanita perebut suami orang," cercaan demi cercaan yang paling menakutkan.


Ya dari sana aku mengenal Rina sebagai istri Rey sekaligus kakak Dio. Otomatis aku shock kerena Dio juga nggak pernah cerita apa apa tentang kakaknya, aku nggak nyangka sedikitpun wanita yang di nikahkan adalah Rina kakaknya dari Rey.


Sebelum menikah, aku pernah bertemu dengan Rina, Dio mengenalkan aku waktu itu aku dan Dio masih kuliah. Aku juga nggak menyangka sama sekali, Rey telah membuat semua hubunganku dengan Dio hampir rusak, menurutku benar benar jahat.


Dio otomatis pernah benci sama aku tapi aku sadar aku ini siapa. Ya bagaimana pun aku masa lalu Rey. Rina pernah dekat denganku tapi sekarang jauh lagi, aku juga nggak tahu apa yang terjadi, aku tidak mengerti sama sekali.*


Belum lagi ocehan orang orang serta gunjingan yang membuat aku drop. Kenapa harus wanita yang disalahkan atas kehamilannya itu, untung ada tetanggaku yang baik dan perhatian padaku.


Rey benar benar jahat. Bukan hanya ingin mengugurkan janin yang aku kandung tapi ia juga menyuruh aku mengangkat buku ke ruangannya? untuk apa coba?


Sewaktu aku melahirkan Rey yang menemaninya. Aku hanya tersenyum tipis saat ia memengang tanganku, biarpun Rey diam saja tapi proses yang aku jalani penuh dengan kegembiraan kerena Rey ada di sampingku.


Aku juga nggak menyangka kalau Rey bakalan menjadi supporter yang baik, untuk mendukung aku. aku baru tahu kalau semuanya kerena Dio, Dio yang menyuruh Rey buat menunggu aku.

__ADS_1


__ADS_2