BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Menentang Rencana Santi.


__ADS_3

"Mbak, kita harus bagaimana?" tanya Rani akhirnya.


Sebenarnya kau mau jujur rani ingin sekali menyelesaikan semuanya. ia hanya ingin kalau misal Rina percaya pada dirinya bukan mertuanya, kalau saja mereka berjalan satu tujuan mungkin semuanya tidak bakal seperti ini. Tapi nyatanya sekarang, ia dan Rina bagaikan air dan minyak apalagi mereka.menvibtai orang yang sama.


Hanya bedanya kalau Rani masa lalu Rey yang tiba tiba muncul kembali, sedangkan Rina.masa depan Rey yang akan selalu ada dalam kehidupan Rey sendiri. Rani menarik nafas dalam dalam, apa yang akan diucapkan Rina pada dirinya..


Tapi Rina hanya melirik wajah Rani, dan menatap dedaunan yang bergoyang kerena tertiup angin.


"Kenapa sih masa lalu Rey harus hadir diantara masa depan yang kini di jalani oleh Rey," gumam Rina pelan..


Tapi masih terdengar jelas di telinga Rani. Rani diam saja mendengarkan gumam Rina seperti itu, Rani mengakui kalau gumaman Rina menyesali pertemuan antara Rey dengan dirinya.


Bukan hanya Rina saja mungkin yang menyesali, tapi dirinya juga menyesali kenapa harus bertemu dengan Rey di masa depan ini. Kalau mau jujur sebenarnya Rani juga tidak mau bertemu dengan Rey apalagi satu pekerjaan di sekolah yang sama..


Seingat Rani, Rey kuliah di fakultas komunikasi tapi ujug ujug sekarang sebagai kepala perpustakaan. Sebenarnya ia ingin menanyakan tentang status pekerjaan Rey tapi ia tidak lakukan kerena pasti akan menambah pikiran Rina.


Rani juga tidak berani menyakan masalah ini pada Rey, pasti Rey bakal menyangka dirinya keppo sama urusan dirinya.


Rani menunggu jawaban dari Rina, tapi Rina sepertinya hanya diam saja tidak memberikan respon sedikitpun pada dirinya.


"Kalau kakak mau bagaimana kalau kita tentang ibu mertua kakak," saran Rani mengajak Rina untuk melakukan sesuatu pada Santi..


"Ran, kamu sebenarnya mau menyebut aku kakak atau mbak sih!" teriak Rina kesal.


Dari tadi Rina sewot masalah sebutan antara kakak dan mbak yang disebutkan oleh Rani. Rani hanya meringis saat mendengarkan teriakan kekesalan Rina masalah penyebutan nama.


Rani juga kadang heran sih pada dirinya kalau otaknya lagi banyak pikiran pasti kakak yang keluar, tapi kalau otaknya stabil mbak yang keluar. Ya otomatis lah Rina marah juga kerena ia juga merasa aneh. Rani hanya senyum senyum saja.


"Nggak lucu tahu!" damprat Rina.


Sebenarnya ia juga senyum mendengar sebutan yang diucapkan oleh Rani pada dirinya, tapi ia berusaha untuk menahan senyumannya.

__ADS_1


"Aku salah, kak," ujar Rani hampir tidak kedengaran.


"Kamu udah tahu salah ngomong lagi!" seru Rina gemas.


Sebenarnya ia tidak tega membenci Rani, entah kenapa ia.merasa nyaman sekali didekat Rani, seperti melihat seseorang. Ia hanya kesal kenapa harus Rani yang menjadi selingkuhan dirinya bukan orang lain.


"Maaf!"


"Udah. Kita lakukan rencana kita masing masing, tapi jangan ikuti ibu Santi." kata Rina tegas.


"Maksudnya?"


"Kamu nggak ngerti aja. Kita tidak punya rencana apa apa, lebih baik kamu diam saja biarpun ibu datang juga. Aku nyakin ibu bakalan membujuk kamu, lakukan peranmu saja," kata Rina menjelaskan apa yang harus dilakukan Rani.


Rani mengangguk angguk saja, ia sekali kali menyela, bertanya dan kadang diam juga. Akhirnya setelah bicara lebar Rina langsung pamit kerena sore telah tergantikan menjadi malam.


Apa yang dikhawatirkan Rina terbukti. Malam hari Santi datang sendirian, Rani awalnya tidak mau kalau Santi masuk ke rumahnya tapi wanita itu kekeh untuk kedalam rumahnya.


Malam itu penampilan Santi jauh berbeda dengan hati hati lainnya. Dandannya juga terlihat menor, rambut disanggul. Rani menduga duga kalau Santi mau pergi kemana?


"Kamu lebih baik siap siap, kita berangkat malam ini buat dinner." ujar Santi tanpa menunggu pertanyaan Rani lagi.


Deg!


Rani tersentak mendengar Santi bicara siap siap pada dirinya, ia sama sekali tidak mengerti apa yang harus siap siap, tapi ia langsung mengerti apa yang Santi abakala.lakukan.


"Maaf aku nggak bisa datang, perut bagian bawahku kram," alasan Rani.


Rani langsung mendesah dan menyandarkan pungungnya ke belakang untuk mencari kenyamanan. Sebenarnya itu bukan alasan Rani. Memang waktu Rina tadi ke rumahnya sore tadi ia menahan sakit dibawah perutnya yang tiba tiba muncul begitu saja. Dan rasa sakit itu sekarang masih ada, Zoya tadi telpon kalau ia datang malam hari ada kegiatan di sekolah.


Sebenarnya Rani takut ditinggal sendirian, tapi bagaimana Zoya butuh kegiatan yang dilakukannya, otomatis Rani di rumah sendirian.

__ADS_1


"Jangan banyak alasan, kandungan kamu masih lama kan lahirannya, masa sekarang sakit sih!" Santi seperti tidak peduli pada keadaan Rani.


Santi juga tidak ada perasaan khawatir sama sekali mendengar apa yang diomongkan oleh ibunya Rey. Rani mencipir mendengar Santi berkata demikian pada dirinya, 'ini anak dan ibunya sama saja, nggak mau kalah,' bisik hatinya.


"Bu, aku nggak bohong! Kalau ibu mau bicara lebih baik bicara disini saja," ketus Rani.


"Nggak malam ini kita selesaikan semuanya ini," sanggah Santi.


Tanpa pikir panjang Santi langsung menarik tangan Rani, Santi tidak peduli pada penolakan Rani pada dirinya. Rani berusaha menarik tangan Rani untuk mengikuti ajakannya.


"Bu, sakit!" jerit Rani menghentakkan tangannya dari cengkraman tangan Santi yang kasar dan keras sekali menariknya sampai tangannya terasa sakit.


Mau tidak.mau akhirnya Rani mengikuti Santi kerena tangannya ditarik ini oleh Santi, sambil salah satu tangannya memegang bagian perut bagian bawah.


Santi akhirnya melepaskan tangan Rani, Santi yang berhasil menarik tangan Rani sampai di teras. Rani mengusap tanganya yang sakit.


"Bu, aku udah bilang aku nggak mau ikut, ibu kenapa maksa seperti ini!" teriak Rani kesal atas prilaku Santi yang kasar.


"Ibu hanya ingin ngajak kamu.makan.itu saja," alasan Santi..


"Kenapa bukan Rina saja yang ibu ajak, dia juga menantu ibu bukan aku!" sembur Rani tidak suka.


"Ibu hanya ingin kamu yang jadi menantu ibu, bukan Rina. Ibu ingin cucu ibu," kata Santi lembut.


Tapi Rani tidak mengubris apa yang Santi katakan. Ia langsung masuk kembali ke dalam rumah, dengan perasaan yang tidak menentu sama sekali.


"Ran," panggil Santi sambil meraih tangan Rani.


Tapi Rani langsung menepiskan tangannya Santi dengan cepat dan tangkasnya. Rani langsung masuk ke dalam rumah sambil menutup pintu, tapi Santi berhasil mendorong untung Rani tidak jatuh.


"Ibu, apa apaan?" teriak sebuah sura yang sangat hapal sekali.

__ADS_1


Rey berada di belakang Santi bersama Dio dan Rina. Rani yang hampir terdorong juga hanya terkesima melihat kedatangan mereka yang mendadak seperti itu. Santi tidak menduga kalau ketiga orang itu bakal datang, hatinya berdebar keras.*


__ADS_2