BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Rey menyudutkan Santi


__ADS_3

Tanpa menunggu waktu Rey lanhsung melotot matanya ke arah Santi yang hampir saja membuka semua kedok permainan yang mereka jalani. Rey dengan emosi langsung menarik tangan Santi dengan kasarnya. Ia merasakan didihan darah yang semakin lama semakin membludak naik ke ubun ubun nya. Rina yang melihat ibu mertua ditarik oleh Rey lanhsung mengejar Rey.


Santi meronta meminta tolong. Ia berusaha melepaskan ngenggaman tangan anaknya tapi Rey terlanjur marah, dan ingin sekali membludak emosinya dihadapan Ningsih, tapi niat itu diurungkan olehnya..


Otomatis Rey menarik tubuh wanita setengah baya dengan kekuatan emosi yang meletup letup siap tumpah. Sebenarnya sejak kemunculan di rumah Amanda Rey sudah tidak kuat apa yang dilakukan ibunya dengan keluarga Amanda.


Berani bertengkar dengan Amanda tanpa melihat posisi dirinya di rumah itu, Santi memangil manggil nama Rani tapi Rina hanya diam saja, di tempat . Begitu juga Ningsih. Tapi Dio hanya diam saja mematung melihat adegan ibu dan anak serta menantunya yang mengejar di belakang.


Ningsih melihat semuanya hanya mengerutkan wajahnya. Tiba tiba pandangannya langsung berlatih kearah Rani dan Dio.


Hati Rani langsung berdebar sangat kuat saat mata Ningsih menatap kearah dirinya, ia juga terpekur mengingat kesalahan yang ia perbuat pada ibunya.


"Kalian sebenarnya menyembunyikan apa?" selidik Ningsih menatap wajah Rani dsn Dio saling bergantian satu sama lainnya.


"Nggak ada apa apa kok," hindar Rani cepat.


Sebenarnya hati Rani sangatlah berdebar dengan keras takut ibunya tahu yang sebenarnya. Dio mengepalkan tangannya Sejujurnya ia sangat geram pada Santi yang tidak pernah mendengarkan apa yang direncanakan, sekarang tidak ada pilihan lain selain kejujuran yang harus terungkap.


Tapi Dio hanya melirik wajah Rani yang tertunduk, tanganya memainkan ujung bajunya.


"Kalian jujur apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ningsih lembut.


"Kenapa wanita itu mengatakan kalau dia akan menikahkan kamu dengan Rey, sedangkan kamu bilang kalian telah menikah, mana yang benar?" lanjut Ningsih.


Deg!


Hati Rani berdetak dengan keras sekali, jantungnya hampir copot dari tempatnya saat Ningsing mengatakan itu, perkataan yang seharusnya tidak diucapkan.


Dio pun terkesiap sesaat. Rani yang berada didamping Dio langsung menyenggol lengan Dio meminta bantuan pada Dio.

__ADS_1


"Kenapa kalian diam. Apa yang kalian pikirkan?" pertanyaan bertubi tubi dari mulut Ningsih.


"Bu, kit kita bicaraa di di rumah aja yuk!" Akhirnya Rani dengan sukses bicara dengan Ningsih.


"Baik lah," jawab Ningsih.


Ketiga orang itu langsung menuju teras rumah, sebenarnya jantung Rani berdetak dengan keras sekali, takut ketahuan kalau ia sama sekali belum menikah dengan Rey. Boro boro menikah dengan Rey sampai sekarang juga Rey tidak pernah mengakui kalau janin dalam kandungannya adalah hasil perbuatan dirinya.


Rani benar benar kalut kalau harus menceritakan semuanya. Ia juga memikirkan bagaimana Rey bisa menganggap bayi nya juga sudah dibuat pusing apalagi ditambah dengan Ningsih yang bakal menyudutkan dirinya.


Dio merasakan kalau Rani sangat gelisah terlihat tanganya beberapa kali meremas celana yang ia gunakan.


Sedangkan disisi lain. Rey dengan emosinya langsung membuka pintu mobil dan menghempaskan tubuh Santi masuk ke dalam mobil, waktu itu tubuh Santi terbentur pintu mobil. Santi ingin melawan Rey tapi Rey dengan tangkasnya mengunci pintu mobil. Santi yang berada di dalam mobil menggedor ngedor pintu.


Setelah Santi masuk ke dalam.mobil, Rey melihat Rani menuju kearahnya, ia yang awalnya akan melangkah ke sebelah pintu depan dekat setir akhirnya tidak jadi kerena menunggu istrinya yang menghampirinya.


"Mas," panggil Rina yang mengatur nafas yang Turan naik. Ia berhasil menghampiri suaminya dengan nafas memburu kerena habis berlari, ia menyandarkan tubuhnya di pintu mobil, sambil tanganya menyeka cairan bening yang keluar dari pori pori kulitnya yang terasa pedih mata, dan asin saat tercicip.


"Kamu pulang juga harus pulang?" teriak Rey dengan cepat meraih tangan Rina.


Setelah melihat Rina bisa mengatur nafas secara normal lagi, Rey menyuruh Rina pulang bersamanya.


Rina awalnya akan menghindar tapi tidak jadi, kerena Rey dengan tangkas langsung mengambil tangan Rina dan Rina pun duduk di depan, dan Rey disamping Rina. Sedangkan Santi hanya diam saja. Ia sebenarnya ingin keluar tapi ditahan oleh Rey.


Rey membawa ibunya ke dalam rumah, dengan kasarnya ia mendorong tubuh perempuan itu dengan kerasnya, hampir saja Santi kepalanya terbentur.


"Mas!" teriak Rian terkejut melihat Rey memperlakukan ibu mertuanya seperti itu.


"Kamu diam! Jangan ikut campur!" terik Rey saat melihat Rina ingin menolong ibu mertuanya.

__ADS_1


Santi hanya meringis kesakitan, ia berusaha bangkit dan dengan beringasnya ia memukul tubuh Rey dengan tangannya. Bukannya menyadari Rey malah balik pukul, untung Rina menghalangi Santi.


"Rin, kamu jangan bela ibu, ibu yang salah! Kalau saja ibu mengikuti apa yang diomongkan sama kamu mungkin kita tidak seperti ini!" ketus Rey marah.


"Ibu hanya ingin kalian menikah," ujar Santi


"Bu, terus aku bagaimana?" jerit Rina..


Ia sebenarnya merasakan kalau Santi menyisihkan dirinya dari Rey. Rina tidak habis pikir sama Santi datang bukan membela dirinya malah membela Rani, dan yang ia takutkan sekarang keberadaan Ningsih kalau wanita itu tahu sebenarnya habis riwayatnya.


Rina nyakin kalau Ningsih bakal menyetujui kalau Rani menikah dengan Rey apalagi keadaan Rani seperti itu.


Dan itu sama saja yang jadi korban adalah dirinya sendiri bukan Rani, ia nyakin sebagai mana pun Rani menolak Rey, Ningsih bakal memaksa Rani menikah dengan Rey


""Apa tujuan ibu kesini hanya itu?" tanya Rina sendu.


Tiba tiba Rina merasa nyakin kalau ibu mertua datang bukan kerena ingin membela dirinya dihadapan Rey tapi membela Rani. Santi hanya diam saja mendengar apa yang keluar dari mulut menantunya.


"Kamu harus terima saja, keputusan yang mama lakukan demi kebaikan kamu Rey!" lanjut Santi.


Ia tidak berusaha mempedulikan teriakan dari mulut Rina.


"Ibu ebih mementingkan ego ibu dari pada kepentingan kami," sembur Rey tajam.


Rey sangat geram pada ibunya ia langsung meninggal ibu dan istrinya di ruang tamu. Rani awalnya kaan mengejar suamianya. Tapi ditahan sama Santi, Rina akhirnya diam saja.


"Kamu harus izinkan Rani,"


"Nggak sampai kapanpun aku nggak ikhlas Kaskus Rey menikah dihadapan ku, apalagi harus menikah!" jerit Rina marah.

__ADS_1


Wanita muda itu langsung pergi begitu saja tanpa memperdulikan tatapan Santi. Mendengar suara Santi mengatakan harus mengizinkan Rani menikah dengan Rey, tanpa tahu perasaannya yang hancur berkeping keping bagaikan kaca yang dilempar kuat kuat*


__ADS_2