
Rey duduk di gubug dekat pesawahan yang menuju sebuah gang xxx ia seperti menunggu seseorang. Ya Rey tadi sedang senang senang candaan dengan Rina tiba tiba Santi menyusul ke kamar dan memberi tahu kalau ada orang yang mencarinya.
Kata Santi, Rey harus menunggu di gubug xxxx, gubug itu semacam sebuaharkas pertemuan Rey dan orang orang yang berhubungan denganya. Akhirnya Rey lanjsung menuju gunung yang di maksudkan, ditempat itu ia sendirian saja, ia harus menunggu seseorang yang menelpon Santi.
Pandangan Rey memandang hamparan padi yang menghijau indah, apalagi nuansa pesawahan yang sejuk kerena banyak udara yang menerpa tubuhnya.
Ia mendesah saat mengingat satu malam yang tidak mungkin ia lupakan yaitu Rani, Rani wanita yang pernah mengisi hidupnya dan berjuang mempertahankan kehamilannya.
Pandangannya memandangi hampsraran pagi yang bergoyang goyang tertiup angin yang nakal. Tiba tiba banyangan itu muncul yang membuat dirinya semakin ragu atas perasaannya pada kedua wanita yang kini mengisi kehidupan nya.
Di dalam ruangan perpustakaan Rey menghembuskan.
Matanya melihat ke seluruh ruangan perpustakaan yang rapi dan bersih. Ruangan yang nyaman sekali, kerena diurus dan rawat oleh Rani
Rey duduk di bangku pustakawan. Pandangan matanya lurus ke arah depan.
"Rey, jangan!"tolak Rani waktu itu.
"Katanya kamu sayang aku? Buktikan?" Ujar Rey bernafsu.
"Tapi, Rey!" Rani menghindar.
Ya ia masih menyanyangi Rey tapi ia tidak ingin melakukannya. Tapi Rey seperti agak memaksa Rani. Rani menepiskan tangan Rey dari tubuhnya.
Tapi Rey tidak menyerah untuk merayu Rani waktu itu, sampai wanita yang ada dihadapan Rey tidak bisa beekitik lagi. Diantara rasa rindu, benci, cemas, resah semuanya jadi satu membuat mereka melakukan perbuatan itu.
Rey hanya bisa bernafas panjang saat mengingat semuanya. Rey melakukan itu hanya pelempiasan saja, kerena ia tidak suka sama ibu mertua yang menuduh dirinya mandul.
Ia puas sekali.
Rey tidak menyangka kalau perbuatannya yang melampaui batas, telah berwujud janin yang kini berada di rahim Rani. Tanpa ia peduli sama sekali. Ia telah menodai cinta yang tulus.
Argh!
__ADS_1
Teriak Rey di ruang itu. Untungnya sekolah sepi, kerena anak anak sudah pulang. Tapi siang itu ia malas untuk pulang apalagi harus bertemu dengan Rina dan mertuanya.
Kalau ia punya kebaranian mungkin ia lebih memilih Rani dibandingkan Rina. Sejujurnya ia masih menyanyagi Rani, hanya ia takut melukai hati ibunya itu saja. Sebenarnya ibunya menyuruh ia dan Rina tinggal bersamanya. Tapi Amanda malah tidak mengizinkan mereka pulang ke rumah ibunya Rey.
Rey tersentak seketika, gawainya berteriak nyaring sekali.
"Mas, dimana? Jangan jangan sama Rani?! Teriak Rina disebrang sana.
"Aku di sekolah." Ujar Rey pelan.
Ia tidak meladeni ocehan Rina. Rina tahu kalau Rey tidak meladeninya. Itu yang membuat Rina meradang.
"Kami betah di sekolah kerena Rani, apa kerena Rani hamil oleh kamu! Teriak Rina tidak suka.
Rey langsung mematikan hpnya. Ya sejak Rina tahu kalau Rani hamil oleh nya wanita itu selalu posesif terhadap yang. Telat sedikit Rina marah marah terhadap dirinya, membuat dirinya tidak nyaman berada disamping Rina.
Rey bukan hanya mematikan sambungan tapi ia juga memencet tombol of untuk mematikan gawainya. Kalau ia tidak melakukannya maka Rina bakal menelpon terus menerus itu yang membuat kepala Rey pening.
"Kak, belum pulang?" Tanya Dio menghampiri Rey.
Rey menatap Dio dengan tajamnya. Dio menarik kursi mendekati Rey. Mereka duduk berhadapan.
"Belum, kamu?" Tanyak Rey.
Rey menatap wajah Dio. Ia merasakan kalau di wajah Dio ada kekhawatiran yang mendalam di wajahnya.
"Dio, apa yang kamu pikirkan?" Tanya Rey menyelidik Dio.
"Kenapa sih kakak lakukan itu sama Rani? Kak, kakak tahu itu merusak masa depan Rani." Kata Dio seperti menyesali.
"Maafkan kakak, Dio. Kakak hilaf." Gumam Rey.
"Kamu mencintainya?" Lanjut Rey melihat Dio tajam.
__ADS_1
Sebenarnya Rey ingin melihat reaksi Dio menanyakan hal itu pada pria yang ada dihadapannya. Ia menatap wajah Dio dengan lembutnya, Rey melihat disinar mata Dio secercah cahaya indah, ia nyakin kalau secercah itu adalah sebuah perasaan Dio pada Rani.
"Dari dulu aku menyayanginya, tapi tahukah kakak dia lebih memilih kakak dibandingkan aku." Kata Dio perih.
Deg! Kata kata Dio menghantam hati Rey yang paling dalam. Sebenarnya kalau ia mau jujur, sampai saat ini ia juga menyanyangi Rani, ia melakukan kekerasan, sindiran hanya untuk memutuskan perasan sayangnya pada Rani. Tapi semakin ia memupuk perasaan benci pada Rani, hati kecilnya menolak. Ya kerena Rey masih mengharapkan Rani dalam kehidupannya.
Dio berkata seperti itu, ia ingin Rey tahu kalau wanita yang ia sayangi, dari bangku kuliah lebih memilih laku laki laki yang tidak pernah memperjuangkannya. Sampai meninggalkan menikah dengan wanita lain.
"Kakak melakukan kerena kakak frustasi, menghadapi tekanan ibu."
Dio mendesah mendengar pengakuan dari kakak iparnya. Dio tahu sebutan ibu yang diucapkan oleh Rey adalah ibunya. Memang ibu sering mengatakan perkataan pedas pada Rey kerena sejak 5 tahun sejak menikah, mereka belum dikarunia anak.
"Aku belum pernah menyentuh kakakmu." Spontan Rey mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak pernah ia katakan.
Dio menatap wajah kakaknya dengan tajam. Ia bagaikan mendengar halilintar di siang bolong mendengar pengakuan dari Rey. Mata Dio beradu pandang dengan Rey. Rey mengangguk mengiyakan apa yang ia ucapakan dihadapan Dio.
"Aku hanya menganggap kakakmu adalah adikku." Kata Rey mengungkap perasaan yang sebenarnya pada Dio.
Rey tidak bisa menutup hatinya pada Dio. Dio terpuruk saat tahu perasaan Rey pada Rani, seperti perasan dirinya pada Rani. Hanya yang membedakan mereka tidak bisa bersatu kerena Rey telah menikah dengan Rina, dan kemungkina besar juga Rina tidak bakal setuju kalau Rey menikah dengan Rani. Apalagi Rani?
"Aku nggak bisa melukai hati mama, Dio. Aku hargai keputusan mama untuk menjodohkan aku dengan Rina biarpun aku harus berkorban meninggalkan wanita yang aku sayangi."
"Tapi mungkin untuk waktu dekat ini, aku akan mencoba untuk mencintai Rina biarpun itu susah sekali." Lanjut Rey menepuk bahu Dio.
"Cintai dirinya, jangan seperti aku yang mencintai tapi tidak pernah bertangungjawab padanya." Ujar Rey sambil berdiri meninggalkan ruang perpustakaan.
"Kak!" Panggil Dio cepat sebelum Rey meninggalkan dirinya.
Rey yang akan pergi langsung menghentikan langkahnya. Matanya langsung menatap wajah Dio cepat. Dio beranjak dari duduknya, ia mendekati Rey yang sedang berdiri yang tidak jauh dari pintu.
"Aku ingin memiliki Rani untuk selamanya kak." Kata Dio pelan.
Rey tersenyum manis. Biarpun hatinya sangat teriris saat Dio mengucapakan kata kata itu, tapi Rey tidak mau egois sama sekali. Rey menyentuh bahu Dio dengan lembutnya.*
__ADS_1