
Sore itu! Rani bahagia menyambut kedatangan Adinda yang telah lama menghilang mungkin setelah pembicaraan mereka yang terakhir itu. Riri hanya mangut mangut saja saat mendengar apa yang diceritakan oleh Rani, bukan hanya Riri yang terkejut. Ridwan juga Sampat tidak percaya lalu Rey yang diceritakan oleh Rani adalah Rey teman nya dulu di kantor.
Memang Ridwan tahu Rey, ketika mereka sama sama bekerja di sebuah penerbitan di kota Anta Berantah, ketika itu Rey baru menikah dengan Rina.
"Jadi Rey?" Ridwan bersuara hati hati.
Rani mengangguk mengiyakan. Ia membenarkan apa yang keluar dari mulut Ridwan.
"Aku salah, aku salah Din, mencintai orang yang sudah menikah. Tapi apa aku salah ingin mencintai Rey?" tanya Rani mengenal nafas.
"Ran, aku nyakin Allah punya rencana lain untukmu," kata Adinda membesarkan hati Rani.
Ia melihat ada sebuah kehancuran yang tertangkap oleh matanya. Adinda hanya senyum kecut saat melihat perut Rani yang mulai kelihatan. Secara reflek Adinda mengusap perutnya, usia kandungan baru 6 minggu.
"Aku harus bagaimana?"
"Serahkan semuanya sama Allah?"
"Memangnya Allah masih menerima tobat wanita yang merampas suami orangnya!" tiba tiba terdengar suara nyaring di balik pintu.
Amanda telah berdiri di pintu dengan tatapan mata yang angkuh saat mendengar apaa yang diucapkan oleh Adinda.
Rani yang mendengar teriakan Amanda langsung down. Ia.merasa kalau ia tidak mungkin bisa membersihkan diri dari dosa yang ia lakukan.
"Ibu, maaf ya hati hati bicara. Allah itu maha pengampun, ibu jangan sok tahu!" bentak Adinda yang tidak suka pada Amanda yang tiba tiba datang tanpa permisi sama sekali..
"Oh, anak bau kencur jangan ikut campur! Ini urusan saya dengan wanita itu,!" sembur Amanda marah..
Ia tidak suka kalau apa yang diucapkan wanita muda dihadapannya, pikir Amanda segampang itu Tuhan memaafkan wanita yang telah jadi selingkuhan anaknya.
Amanda hanya ingin kalau Rani tersiksa dulu dari pada di maafkan itu lebih tidak menantang sama sekali, apa yang di perbuat oleh Rani seharusnya dapat balasan yang setimpal.
"Din, sudah. Apa yang dikatakannya benar kok! Aku wanita kotor yang nggak akan bisa bersih!" Rani rapuh..
__ADS_1
"Kata siapa? Orang yang bertobat adalah orang yang paling suci dibandingkan orang yang angkuh dan sombong!" pojok Adinda sengit.
Ridwan dan Riri yang sedang duduk juga berdiri mereka tidak ingin kalau Amanda dan Adinda bertengkar di rumah Rani. Ridwan beberapa kali memegang baju istrinya supaya istrinya tidak bicara dengan wanita yang tidak dikenalnya.
Adinda sama sekali tidak mengenal wanita yang ada dihadapannya, begitu juga dengan Ridwan. Sedangkan Riri tahu kalau wanita itu Amanda ibunya Rina mertua dari Rey.
"Kamu anak kecil tidak tahu sopan santun ya!" teriak Amanda gemas.
Ingin rasanya Amanda merobek mulut Adinda kalau Riri tidak menghalangi nya mungkin tangan Anda sudah menampar berkali kali wajah Adinda. Tapi untungnya Ridwan juga menghalangi Amanda, sampai ia merasa kesal pada Ridwan dan Riri.
"Benar Din aku nggak pantas untuk tobat, aku kotor!" tangis Rani rapuh.
Hatinya tercabik seperti disayat oleh ribuan pisau diiris iris sampai lembut. Adinda yang melihat Rani menangis langsung memeluk tubuh Rani dengan erat sekali, ia tidak tega melihat Rani yang terpuruk seperti itu.
Tatapan mata Amanda dengan tajam lanhsung menghujam kearah Rani, ia tersenyum dengan sinis melihat tangisan Rani seperti itu, ia bersorak gembira.
Amanda sebenarnya datang ke rumah itu, hanya ingin kalau Rani tidak menganggu rumah tangga anaknya, apalagi posisi Rina anaknya agak tersisih apalagi saat kedatangan Santi, dan Santi tahu kalau Rani hamil oleh Rey.
"Wanita kotor itu tidak berhak mendapat kesucian kembali. Wanita kotor bakal kotor selamanya," Hina Amanda dengan tajamnya..
"Bu, cukup! Cukup!" Raung Rani.
Hatinya tidak terima oleh kata kata yang keluar dari Amanda.
"Bu, kalau ibu bicara kotor lagi lebih baik ibu pergi! Pergi!" teriak Adinda terbawa emosi.
Boro boro Rani yang mendengarnya, Adinda merasa sakit mendengar kata kata yang tidak seharusnya diucapkan.olwh wanita itu. Menurut Adinda wanita setengah baya itu tidak pantas untuk mengucapakan kat kata seperti itu apalagi kat kata kotor untuk menghina.
Amanda berang seketika juga mendengar apa yang dikatakan oleh wanita muda itu, ingin rasanya ia menampar mulut yang lancang, tapi Amanda tidak melakukannya kerena Riri dan Ridwan menghalangi dirinya untuk mencapai Adinda.
"Sudah, Din. Kamu seharusnya nggak perlu ikut campur. Apa yang dia katakan benar, aku," ujar Rani pedih.
"Nggak, kamu berhak untuk baik. Dia nya salah yang nggak suka kamu menjadi yang terbaik," potong Adinda menyindir Amanda.
__ADS_1
Amanda memandang sebel ke arah Adinda, kerena ia tidak menyangka kalau kedatangan dirinya haruss.kedualuan sama wanita itu, sebenarnya ia datang ke rumah Rani hanya ingin bicara empat mata saja tapi kerena kedatangan Adinda ia mengurungkan niatnya untuk bicara pada Rani.
Dan ketika ia sampai ke rumah Rani, Amanda tidak suka pada apa yang diucapkan oleh Adinda, apalagi sekarang posisi Rani aman sekali, Santi malah mendukung atas kehamilan Rani. Itu yang membuat Amanda tidak bisa menerima keadaan Rani sebenarnya.
Ia sebenarnya tidak ingin kalau perhatian Santi tertuju pada Rani, ia sebenarnya panas sekali, saat Santi menyanjung Rani dihadapannya, apalagi masalah kehamilan Rani yang membawa kebahagiaan pada diri Santi.
"Wanita macam.kamu.hatusmya neraka tempatnya!" cerca Amanda berapi api.
"Bu, cukup! Seharusnya ibu introfeksi diri, bukan menghujat," pekik Adinda marah.
Ridwan akhirnya menarik tangan Amanda dengan kuat supaya wanita itu keluar dari ruangan, Adinda beberapa kali mengucapakan astagfirullah dalam hati melihat tingkah laku dari Amanda.
"Awas ya, kamu nggak anakku selamat!"
Amanda dapat mengatakan kata kata itu, sebelum ia ditarik tangannya oleh Ridwan. Amanda sebenarnya sudah berusaha berontak tapi tangan Ridwan dengan kuat memegangnya. Akhirnya mau tidak mau langsung meninggalakan rumah Rani, yang lanhsung ditutup oleh Ridwan dan dikunci.
Sebenarnya Amanda merasa tersisihkan, mendengar apa yang disampaikan Santi. 'Kalau memang Santi bahagia atas kehamilan Rani, kenapa dia dulu tidak merestui pernikahan Rani dan Rey?' pertanyaan itu yang berkecamuk dalam hati Amanda saat ini.
Akhirnya tanpa pamit lagi dan telah mengadu argumen Amanda meninggalkan mereka yang masih berada di ruang tamu. Adinda langsung mengusap bahu Rani lembut.
"Kata katanya nggak disaring lagi," geram Riri sambil meninju kursi yang ia gunakan.
"Siapa sih!" tanya Adinda penasaran.
""Ibunya Rina, mertua Rey," ujar Riri memberi tahukan.
Deg
Adinda langsung membeku di tempat mendengar jawaban adiknya, begitu juga dengan Ridwan. Ridwan menatap Riri ingin kepastian.
Ia tidak menyangka sama sekali kalau wanita itu ibu dari Rina, Adinda hanya mendesah. Adinda duduk di samping Rani. Sambil pikirannya blank saat tahu kalau wanita yang bertengkar dengannya adalah orang tua Rani. Beberapa kali Adinda mendesah dan mengeluarkan nafas seperti mengeluarkan beban yang menghimpit dadanya.
"Aku salut kau bisa menghadapi semuanya," puji Adinda disamping Rani.
__ADS_1
"