
Rani termanggu saat Dio memberikan cincin untuknya. Dio melamar Rani untuk dijadikan pasangan hidupnya. Ia tidak menduga sama sekali kalau Dio melakukan itu padanya.
Wanita itu hanya diam saja, ia ragu untuk menentukan cincin dari Dio. Cincin yang mungil. Kerena Rani diam saja dan tidak bergeming sama sekali, akhirnya Dio memasangkan cincin itu di jari manis Rani, ia hanya diam saja.
Tapi hatinya benar benar terharu melihat Dio seperti itu padanya, apalagi dari dulu laki laki yang ada dihadapannya selalu ada bersama dirinya. Awalnya Rani akan menolak. Tapi, Dio dengan cepat memengang tangan Rani, ia agak memaksa wanita itu untuk memakainya ditangan Rani. Rani diam.
Pas, cincin itu di jari manis Rani. Cincin yang indah. Ditengahnya ada mutiara yang berkilau. Secara diam diam Rani suka itu. Dio menganggam tangan Rani erat sekali.
"Dio, kamu nggak salah memilih?" Ujarnya ragu.
Rani menatap wajah Dio dengan tajam sekali, ia takut sebenarnya kalau suatu waktu nanti ada apa apa nya dengan menerima lamarannya Dio.
"Nggak, aku tidak salah memilih, kamu wanita yang aku impikan jadi pendamping hidupku." Kata Dio tulus.
"Dulu aku pernah menikah dsn hampir punya anak, tapi jujur aku nggak pernah melupakan kamu Ran." Lanjut Dio jujur.
Ya ia ingat kalau mamanya menjodohkan dengan kenalan mama, ia awalnya tidak bisa menerima tapi akhirnya mau tidak mau ia menerima nya.
Wanita itu cantik tapi ia masih bermimpi menikah dengan Rani. Dalam khayalan nya Dio menikah dengan Rani dsn punya anak.
Rita wanita itu baik sekali, perhatian pada dirinya tapi cinta dirinya hanya untuk Rani, ya biarpun ia menikah dengan Rita tapi ia tidak mencintai Rita sampai suatu waktu Rita hamil ia senang sekali, tapi ia menangis sedih kerena ia masih belum menyanyangi Rita. Sampai Rita meninggal akibat terjatuh dan keguguran.
"Tapi, aku telah," ujar Rani menatap wajah Dio. Ragu.
Hampir saja ia bicara kalau dirinya telah hamil, dan punya anak. Wanita kotor seperti dirinya tidak pantas menerima cinta tulus dari Dio. Rani menatap wajah Dio.
Tapi Dio langsung menempelkan jari tangannya ke bibir Rani dengan lembut. Dio tidak peduli keadaan diri Rani seperti apa tapi ia ingin memiliki Rani seutuhnya. Itu saja.
"Ran, itu masa lalu mu. Sekarang, aku ingin menguntai semuanya di masa mendatang denganmu." Kata Dio kembali.
Sambil menatap wajah Rani lembut sekali. Rani hanya tertunduk malu. 'Ah! Kamu kenapa sih Ran, malu malu sama Dio, apa kamu suka sama Dio, Ran.' bisik hati Rani.
Ya sejak dulu Rani merasakan perhatian Dio. Sampai sekarang perhatian.dio tidak berubah. Ia hamil tapi Dio selalu siaga menemani Rani dalam keadaan apapun juga.
__ADS_1
Saat Rani di dorong Rey sampai jatuh. Dio yang membawa dirinya ke puskesmas, dan membawa pulang ke rumah di suruh istirahat. Dio juga membelikan nasi Padang untuk mereka berdua, beli buah buahan untuk Rani.
Mengingat itu. Rani luluh hatinya. Ia melihat pancaran cinta Dio yang begitu besar. Dio pun menamani saat sakit.
Ah! Dio.
Rani beranjak dari duduknya. Ia menuju luar ruangan perpustakaan. Dio langsung menyusul dan berdiri disamping kiri Rani.
"Aku tidak pantas untukmu Dio. Kamu seharusnya mencari wanita yang pantas untuk pendampingmu, bukan aku."
"Nggak! Kau wanita yang pantas untukku," tegas Dio kembali.
Rani membalikkan badannya. Mereka berhadapan satu sama lain.
"Aku pikir pikir dulu, Dio." Ujar Rani.
"Kenapa harus pikir pikir lagi Ran. Dia sayang kamu, tidak seperti aku yang mencampakkan kamu setelah tahu kamu hamil," kata Rey yang tiba tiba menghampiri mereka berdua.
Rani tidak bergerak. Ia terpekur. Tidak menyadari kalau Rey berada ditempat itu. Dio masih menatap Rani.
Kemarin Rey mengajak Dio untuk bicara. Bicara masalah Rani, ya Dio mengungkapkan kalau selama ini, ia suka sama Rani. Mungkin waktu kuliah. Tapi Rani tidak pernah mengubris ya. Akhirnya Rey merelakan Rani untuk Dio. Asal jangan sakiti Rani. Dia, mengangguk seketika juga.
"Kerena sudah banyak aku menyakiti dirinya, aku menyesal Dio menyakiti wanita itu." Ujar lirih Rey.
Ia berjanji tidak akan membuat Rani menangis. Rey percaya itu.
Dengan dukungan Rey. Dio memberanikan diri menghadap Rani. Seperti dulu.
Mereka masih mematung di luar perpustakaan. Rey mendekati Rani. Ia menatap tulus sama Rani.
"Ran, kamu berhak bahagia. Tapi bukan dengan aku. Aku janji akan mempertangung jawabkan semuanya. Anakmu, anakku juga. Anak biologis ku, bukan anak nasabku," kata Rey menepuk bahu Rani lembut.
"Dio pangeranmu Ran. Dia lebih menyanyangimu dari pada aku. Dio juga lebih perhatian pada anakmu, dibandingkan aku," lanjut Rey sambil meraih tangan Rani dan Dio.
__ADS_1
Rey menyatukan tangan mereka. Dio langsung menggenggam tangan Rani erat dan lembut. Ada sensasi hangat di hati Rani seketika juga, saat tangan dirinya dipengang Dio.
Rey meninggalkan mereka berdua. Ada perasaan sakit dihati. Tapi, ia tepiskan begitu saja. Ia tidak mau egois untuk melihat kebahagiaan Rani.
Ia yang salah. Mencintai tapi merampas kebahagiaan Rani. Di ruangannya Rey duduk dan memejamkan mata.
"Rey, aku hamil," masih terhiang kata kata Rani saat ia memberitahukan dirinya hamil.
Rey melihat ada pancaran kegembiraan saat melihat wajah Rani yang agak pucat. Rani memberikan tespek, disana terlihat dua garis. Satu garis berwarna merah dan satu garis warna samar.
"Kamu hamil, Ran? Kok bisa?" Kata Rey saat itu. Ia syok melihat tespek ditangan Rani.
Rani yang mendengar kata kata Rey terkejut.
"Dia anak kita Rey!" Ujar Rani menjelaskan.
Tangan Rani meraih tangan Rey. Dan menempelkan ke perutnya yang masih datar.
Rey menepiskan tangan Rani. Dan secara reflek mendorong tubuh Rani. Rani yang tidak menduga itu terjatuh sambil duduk. Rey meninggalkan Rani.
Sejak saat itu Rey masih belum menerima dan menyuruh Rani untuk mengugurkan ya. Tapi, Rani tetap pada pendiriannya. Ia tidak ingin menggugurkan bayi yang di kandungnya.
"Rey, aku mohon biar ia hidup. Ia pantas untuk hidup seperti kita, ia ingin hidup." Tangis Rani sambil memohon pada Rey supaya mengizinkan dirinya mengandung dan melahirkan Anindya.
Kalau mengingat itu. Rey merasa bersalah sama Rani.
"Dio, beri waktu aku untuk berpikir. Aku ingin memikirkan keseriusan kamu padaku. Maaf kalau jawaban yang akan kamu terima tidak sesuai dengan harapan.
"Ran, apapun jawaban yang kau berikan aku terima. Masalah cincin pakailah untuk dirimu. Tidak usah balik lagi, biarpun kau menolakku juga," kata Dio pasrah.
"Insya Allah jawabannya besok. Insya Allah aku ke rumahmu," kata Rani menatap wajah Dio.
Dio hanya mengangguk saja.*
__ADS_1