
Sepeningglan Rey, Rina termenung di rumah yang ia tempati sekarang. Tiba Tiba ia ingat pertemuan dengan Rani di sebuah TBM yang berada di kecamatan. Ia berapa kali mendesah sangat panjang seperti mengeluarkan beban yang mengganjal hatinya.
Rina mengingat semua yang ia dan Rani lakukan, ia sama sekali tidak menduga kalau harus bertemu dengan wanita yang pernah suaminya sayangi.
Ia baru tahu. Kalau Rani adalah wanita yang pernah mengisi hatinya Rey. Ia tidak tahu sama sekali kalau Rani wanita yang bisa menaklukan hati Rey.
Dirinya tidak tahu sama sekali kalau Dio juga mencintai wanita yang Rey cintai. Tapi Rani lebih memilih Rey ketimbang Dio sendiri.
Ya perjodohan lah yang membuat Rey dan Rani terpisah, begitu juga dirinya sendiri.
"Lebih baik disayang sama cowok dibandingkan kita yang sayang sama cowok itu! Kata orang kalau kita disayang sama cowok bakal indah, sedangkan kalau kita sayang sama cowok bakal susah."
Kata kata itu terhiang hiang di telinga dirinya. Ya sejak lima tahun pernikahan ia harus mencintai Rey tanpa Rey membalas cintanya. Dan dirinya sangat itu sama Rani kerena Rani memiliki dua laki laki yang menyanyangi diri Rani. Sedangkan ia sendiri sejujurnya merasa lelah sangat lelah kerena harus mencintai tanpa respon sama sekali.
"Kak, maaf aku tadi beres buku dulu baru kesini." Kata Rani yang tiba tiba muncul tanpa permisi lagi ia duduk di samping Rina.
Rina hanya mengangguk saja. Ya hari ini ia dan Rani janjian di TBM, untuk bertemu satu sam lain dan Rina yang meminta Rani datang. Awalnya Rani menolak tapi Rina keukeuh ingin bicara berdua dengan Rani.
"Kamu masih mencintai Rey?"tanya Rina memandang dedaunan yang tertiup angin siang hati.
"Kak, aku nggak mau bahas apa apa kalau kalau kakak bahas dia." Potong Rani menghindar.
Rani juga tidak menyebut nama Rey. Nama Rey ia ganti dengan sebutan dia. Rani sebenarnya ingin melupakan Rey tapi tidak bisa kerena ia dan Rey sering bertemu di sekolah.
Di sekolah juga ia kadang lebih banyak menghindar dari pada bertemu dengan Rey tapi susah kerena satu sekolahan, jadi tiap detik ketemu.
"Aku hanya ingin jawaban yang pasti dari kamu, Ran." Gumam Rina seperti bertanya pada dirinya.
Rani mengelengkan kepalanya. Ia beranjak dari tempat duduknya, berdiri. Tapi Rina langsung menyentuh tangan Rani untuk mencegah supaya tidak meninggalkan dirinya di tempat itu.
Rani mendesah.
__ADS_1
"Aku nggak mau jawab pertanyaan kakak."
"Kenapa? Kerena kamu sebenarnya masih mencintai Rey?" Tohok Rina dengan kata katanya.
"Kak!" Jerit Rani menatap wajah Rina.
"Kamu beruntung dicintai oleh dua pria yang sangat sayang sama kamu." Desah Rina memelas.
"Kak, please jangan ngomong masalah itu ya kak. Apa kakak mau ketemu aku hanya untuk bahas Rey dan Dio?" Tanya Rani mengerti siapa dua pria yang disebutkan oleh Rina.
Deg!
Hati Rani berdetak keras. Saat matanya melihat anggukan pelan Rina, hatinya terasa perih sekali. Rani mendesah mengeluarkan beban dihatinya. Akhirnya ia duduk kembali disamping Rina yang masih duduk ditempatnya.*
"Sejujurnya aku masih sayang sama Rey. Rey janji untuk menikah dan hidup bahagia denganku, tapi kenyataan itu datang Rey harus menikah dengan wanita lain." Ucap Rani menahan gejolak hatinya yang tiba tiba menyelimbuti kalbu yang paling dalam.
Tatapan matanya memandang lurus. Menatap sebuah gedung kesehatan yang berdiri tidak jauh dari TBM milik kecamatan.
Apa yang diceritakan oleh Rani. Ia sangat iri sama Rani, kerena Rani masih punya hati Rey sedangkan dirinya hanya punya fisik Rey bukan hatinya.
Begitu dengan Dio adiknya, yang secara gamblang dan blak blak kan mengatakan kalau ia juga sayang pada Rani.
Mungkin kalau di yang menyatakan sayang sam Rani tidak jadi masalah, tapi yang mengatakan itu adalah Rey ia harus bagaimana? Menyerahkan Rey begitu saja pada Rani?
"Aku sangat iri sama kamu Ran. Kamu dicintai oleh dua pria, sedangkan aku?" Rintih Rina sakit hatinya.
"Rey tidak lagi." Dengus Rani.
"Rey sebenarnya mencintaimu masih mencintaimu, tapi mungkinan keadaanlah yang membuat dirinya seolah olah membenci kami." Ungkap Rina..
Ya Rina tahu kalau Rey masih mencintai Rani. Kalau Rey tidak mencintai Rani tidak mungkin Rey masih menyimpan fhoto Rani.
__ADS_1
Itu telah membuktikan kalau Rey sebenarnya menginginkan Rani, hanya Rey tidak mau kalau semua orang mengetahui semuanya termasuk ibunya. Ada luka dihati Rina.
"Aku nggak mau bahas ini, sebenarnya. Kerena kakak yang minta ya aku jawab jujur." Ujar Rani.
Rina hanya menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan kembali. Sebenarnya tanpa ia mencari tahu dari Rani juga ia tahu dari tingkah laku Rey.
5 tahun yang lalu ia sangat kagum sama Rey, kerena pria itu baik. Tapi sekarang kebalikan dari semuanya.
"Aku tidak mencintai Dio, kak. Biarpun Dio selalu memberikan yang terbaik sampai saat ini." Suara Rani bergetar sekali.
Hatinya sangat sakit kalau mengingat semuanya. Tidak sakit bagaimana? Dari dulu ia dan Rey saling suka satu sam lain dan haampura manikah. Tapi saat menikah Rani harus menerima kenyataan pahit. Rey dijidohkan dengan wanita yang tidak pernah Rey kenal. Dan yang paling menyakitkan lagi, Rey malah mau menerima semuanya. Meninggalkaan dirinya yang terluka.
Dan rani kecewa pada dirinya. Kerena 5 tahun sudah berlalu tapi perasaan itu tidak hilang begitu saja, ia masih menyimpan rasa itu untuk Rey. Dan setelah semuanya ia berikan, Rey malah menolak secara terang terangan.
"Aku nggak tahu harus bagaimana kak. Memang aku masih suka sama Rey tapi aku tidak mau menyakiti kakak." Getiar suara Rani sambil menghapus cairan bening yang menetes.
Rina melihat itu. Ia hanya diam saja, pura pura tidak melihat kalau Rani mengusap cairan bening yang hampir jatuh. Rina hanya mengusap punggung Rani dengan lembut, seperti memberikan kekuatan, sebenarnya bukan ia yang memberikan kekuatan pada Rani, tapi dirinya lah yang berusaha kuat.
"Kakak beruntung bisa diretui oleh ibu Tini, sedangkan aku? Dari dulu aku tidak diterima baik sama ibu Tini." Rani akhirnya cerita.
Ya sejak pertama bertemu, ibu Tini ibunya Rey sama sekali tidak pernah menerima dirinya malah terang terangan tidak suka didepan Rey. Sampai Rey tidak tahu apa yang harus ia perbuat.
Ya Rani mundur, sebelum Rey menikah dengan wanita pilihan ibunya. Rey waktu itu memang berusaha memperjuangkan dirinya, tapi akhirnya peri itu menyerah.
Rina mendengarkan apa yang diceritakan Rani. Ia mengakui apa yang dikatakan Rani tentang ibu mertuanya. Ia sangat tersanjung sekali kerena ibu Tini menerima dirinya apa adanya. Malah ibu mertuanya terkesan memanjakannya. Tapi ia sadar. Rina menikah dengan Rey, hidup bersama dengan Rey.
"Ibu baik. Tapi tidak dengan Rey. Rey dari dulu tetap seperti Rey yang sekarang." Curhat Rina.
"Aku belum mendapatkan hatinya, hatinya hanya untukmu." Ujar Rina pelan.
Rani hanya mendesah mendengarkan apa yang dikatakan Rina. Entah ia bersyukur atau apa, saat tahu kalau sebenarnya Rey masih mencintainya. Sejujurnya ia seperti melihat kisi kisi hatinya untuk Rey.*
__ADS_1