
Sepulang dari rumah Dio, Rani langsung menuju kamarnya begitu juga dengan Ningsih. Dio sebenarnya mencegah Rani untuk pulang, ia hanya ingin Rani menenangkan diri di kamarnya tapi Rani menolaknya, ia hanya ingin pulang. Akhirnya Dio tidak bisa memaksa Rani, ia yang mengantarkan Rani dsn ibunya pulang. selama diperjalanan mereka hanya diam saja. Hanya pikiran mereka.masing masing yang saling bertanya satu sama lainnya. Tanpa ada jawaban satu pun juga.
Setelah sampai di rumah Rani langsung masuk kamar dan menutup pintu rapat rapat. Seperti tidak.inhin ada orang yang masuk di kamarnya, apalagi ia tidak mengharapakan ibunya yang masuk.
Ia merasa kalau ibunya selama ini membohongi dirinya, tanpa pernah menceritakan semuanya. Selama ini ibu nya telah merahasiakan semuanya, sampai ia tidak tahu apa apa.
Dulu ia menyesal kenapa tidak mengenalkan Ningsih dengan Santi kalau memang mereka masih ada hubungan saudara dengan ayahnya.
''Ayah bakal sayang sama kamu sampai kapanpun, Ran, ayah nggak mau kehilangan dirimu," ungkap Ilham ketika ia masih hidup.
''Ah, ayah kok bilang gitu sih kaya aku bukan anak ayah saja," ujar Rani merasa heran..
Ilham hanya tersenyum sambil mengucek rambut Rani dengan penuh kasih sayang. Tapi ada perasaan bersalah waktu itu saat ia mengucek rambut anaknya, sebenarnya ia sudah bertekad ingin menceritakan semuanya tapi Ningsih tidak mengizinkannya.
Ilham akhirnya merangkul putrinya dengan tulus.
"Ayah, ada apa?" tanya Rani waktu itu.
"Apa yang ayah katakan? Katakanlah pada Rani, Rani nggak marah kok kalau ayah berkata apapun tentang Rani," Rani melepaskan pelukan ayahnya.
"Ayah bangga pada kamu, ayah nggak tahu kamu bangga atau tidak punya ayah seperti ayah ini," getir Ilham.
"Kok ayah bilang begitu sih, aku bangga kok punya ayah seperti ayah," Rani merasa heran saat mendengar ayahnya berkata seperti itu..
Tiba tiba Rani seperti punya firasat pada dirinya ketika secara tidak langsung Ilham mengatakan itu padanya. Jarang sekali ayah berkata serius seperti yang tadi, baru kali ini ia mendengarkan.
"Ayah, kenapa ayah seperti ini?" tanya Rani heran.
"Kamu bakal tetap jadi Putri ayah untuk selamanya," ucap Ilham sambil mengusap cairan bening di pipinya.
__ADS_1
Rani yang melihat Ilham seperti itu merasa Ilham punya sesuatu yang tidak pernah tersampaikan. Rani ingin rasanya mengorek kata kata Ilham tapi ia tidak bisa kerena pasti ayahnya bakal marah..
Hati Rani merasa aneh, Ilham hari itu berubah sekali. Sejak kejadian pembicaraan kemarin Ilham selalu berusaha meluangkan waktu dengan Rani dibandingkan dengan adiknya Zoya. Rani merasa kalau Ilham telah mempunyai firasat ingin mengatakan sesuatu pada dirinya.
"Ayah senang kita bisa jalan jalan bersama," kata Ilham ketika ia mengajak Rani ke puncak berdua.
"Ayah kok ayah nggak mengajak ibu dan Zoya bareng kita?" kata Rani heran.
Ya baru kali ini Ilham mengajak dirinya ke puncak. Berdua lagi tanpa dengan ibu dan Zoya, kalau aktifitas pergi ke puncak memang sering mereka lakukan ketika liburan tiba. Tapi untuk pergi berdua baru kali ini Ilham lakukan dengan Rina.
"Ibu dan adikmu banyak urusan jadi ayah hanya mengajak kamu," dusta Ilham tersenyum getir.
Ilham berbohong pada Rani kalau Ningsih banyak urusan, keren ayang terjadi bukan itu. Ilham dan Ningsih bertengkar gara gara Ilham ingin menceritakan semuanya lada Rani tapi Ningsih malah mengancam Ilham kaku sampai cerita, Ningsih bakal membawa Rani dsn Zoya.
Ilham takut sekali kehilangan Rani, ia telah menganggap Rani menjadi anak kandungnya. Ningsih juga mengancam pada Ilham kalau ia menceritakan siapa ayah kandung Rani, Ningsih bakal menyerahkan Rani lada ayah kandungnya.
Itu ketakutan yang terbesar dari Ilham.
Rani mengusap tangan ayahnya dengan penuh kasih sayang. Melihat itu Ilham bukan langsung menjawab tapi ia beranjak dari dipan tempat kasur langsung berjongkok dihadapan Rani.
"Rani kalau ada apa apa jangan sampai kamu lupa sama ayah ya sayang, ayah sayangnya banget sama kamu. Ayah nggak mau kehilangan kamu sayang," Isak Ilham sambil memeluk tubuh Rani dengan erat.
Rani hanya diam saja ia tidak mengerti kenapa ayahnya sampai bilang seperti itu, seingatnya Ilham tidak pernah memeluk.tubuh Zoya apalagi menangis seperti itu dihadapan Zoya.
Rani akhirnya membalas pelikan ayahnya dengan erat sekali.
"Ayah, aku tetap putrimu kok, sampai kapanpun juga aku tetap putrimu," kata Rani.
"Makasih sayang," ujar Ilham melepaskan pelukannya dari Rani..
__ADS_1
Rani hanya menarik nafas dalam dalam ketika terdengar suara pintu diketuk berulang ulang oleh orang, ia langsung beranjak dari kamarnya lalu membuka pintu terlihat Zoya yang berdiri di pintu itu.
"Kak, kenapa?" tanya adiknya menatap wajah Rani.
Sebelum menjawab pertanyaan adiknya, Rani mengajak Zoya masuk ke dalam kamarnya, tapi sebelum itu ia melirik kesana kemari seperti takut Ningsih mendengarkan apa yang ia akan bicarakan pada Zoya.
Zoya masuk kamar Rani dan duduk di pinggir ranjang, begitu juga dengan Rani juga duduk didekat Zoya setelah menutup pintu kamar.
Zoya merasakan kalau kakaknya ada masalah, yang tidak bisa terungkapkan. Zoya manatap wajah Rani tajam, Rani hanya tersenyum membalas tatapan adiknya.
"Nggak ada apa apa kok." saut Rani.
Kini ia merasakan yang dirasakan ayahnya Ilham, tidak bisa cerita tentang dirinya, begitu juga dengan Rani, ia tidak mungkin cerita masalah ayahnya.
"Sejak kedatangan ibu, kakak berubah,"
Rani menarik nafas dalam dalam lalu menghembuskan nafasnya kembali, ia tidak langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh adiknya.
"Kakak cuma ingat ayah," akhirnya itu yang keluar dari mulut Rani.
"Kakak ingat sewaktu ayah ngajak kakak seorang ke puncak tanpa diri kamu dan ibu," senyum Rani terasa perih.
Rani akhirnya menyangka kalau ayahnya membawa ke puncak hanya ingin menceritakan tentang dirinya sendiri hanya berdua saja, tapi sampai Ilham meninggal ia tidak pernah menceritakan apapun juga pada Rani.
Ya Serapi apapun rahasia yang terpendam pasti semuanya bakal terungkap cepat atau lembut begitu juga dengan dirinya. Sejujurnya ia sama sekali tidak menyangka hal itu terjadi, kerena ayah tidak pernah membedakan kasih sayangnya.
Malah ia berpikir kalau ia merasakan kasih sayang ayahnya full dibandingkan Zoya. Rani hanya menghembuskan nafas saja, mengingat semuanya.
"Aku sangka kakak mikirin kak Dio atau kak Rey," canda Zoya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ah kamu, ngapain mikirin merek," sahut Rani sambil memukul adiknya gemas.
Tapi Zoya lanhsung berlari menjauhi kakaknya. Mereka tertawa, Zoya tertawa lepas sedangkan Rani hanya menutupi perasaannya. Perasaan sedih saat ia tahu kalau ia bukan anak Ilham. Ia hanya anak Surya dan entah sekarang Surya dimana keberadaannya, entah meninggal atau hidup begitu juga dengan kakaknya.*