
Dio mengurungkan dirinya untuk mengejar laki laki itu, ia ingat Anindya sendirian di dalam rumah, bisa saj ia meninggalkan Anindya tapi kalau Rani dsn Senja pulang tanpa melihat dirinya pasti meraka pasti bakal marah.
Terpaksa Dio masuk ke dalam rumah, tapi ia langsung berhenti menatap kalau ada motor yang terparkir di halaman belakang. Motor yang lupa dibawa oleh laki laki itu, akhirnya Dio masuk ke dalam rumah.
'Apa itu Surya? Jadi Senja dan Rani kumgkina besar nggak bertemua dengan Surya dong!' bisik Dio lanhsung menghempaskan tubuhnya ke kursi.
Apa yang dibisikkan dalam hati Dio memang Rani dan Senja tidak bisa menemui Surya, kedua wanita itu balik lagi ke rumah dengan perasan bertanya tanya tentang keberadaan Surya sebenarnya.
Senja telah berusaha menelpon suryantaoi hpnya malah tidak dibawa, ia baru ingat waktu ayahnya pergi tidak membawa hpnya.
Rani dan senja balik lagi ke rumah kerena mereka ingat Anindya yang bersama dengan Dio. Di tambah lagi Rani takut kalau Anindya minta ASI nya.
"Dio Kamu kenapa kok wajahnya ditekuk kaya gitu? Tanya Rani.
"Tadi ada laki laki!" Adunya pada Senja dsn Rani.
"Laki laki? Masa ada maling siang siang seperti ini?"
Dio mengangkat kedua bahunya. Tanda ia tidak tahu sama sekali..
"O,ya tapi ia meninggalkan motornya lho di halaman belakang." Seru Dio seperti batu ingat.
"Masa?" Serempak Rani dan Senja berkata berbarengan..
Rani dan Senja tidak menunggu waktu lagi, mereka lanhsung menuju halaman belakang. Dio yang melihatnya juga langsung menyusul Senja dan Rani.
Saat Senja melihat motor yang terparkir di halaman belakang ia hanya menghela nafas.
"Ayah,"gumam Senja.
"Jadi ayah pulang?" Tanya Rani menatap Ada Senja dan Dio bersamaan.
Di wajah Rani ada sedikit kecewa sekali, kalau saja ia dan kakaknya lebih awal datang ke rumah itu pasti ia bertemu dengan ayahnya.
Dio melirik wajah Rani sekilas, Dio merasakan aura kekecewaan terlihat jelas. Dio hanya diam saja, ia juga tidak menyangka kalau laki laki itu adalah Surya.
__ADS_1
Tapi memang tadinjuga ia sudah menduga kalau laki laki itu Surya tapi masih ragu kerena laki laki itu harus menyepak pintu rumahnya.
"Apa kalian ada masalah, keren awaktu aku tidur aku dengar suara pintu di pukul berapa kali," selidik Dio pada Senja.
Senja bukanya langsung menjawab menjawab pertanyaan dari Dio ia hanya menarik nafas lalu dihembuskan nya. Rani menatap Senja ingin tahu apa yang bakal Senja bicarakan.
"Kita lebih baik kedalam yuk!" Ajak Senja mengajak keduanya masuk ke rumah.
Dio dan Rani mengikuti Senja untuk masuk ke dalam rumah, mereka duduk lesehan di ruangan keluarga ambil menemani Anindya yang masih terlelap tidur.
Setelah keduanya duduk. Senja melihat kearah Dio dan Rani.
"Sebelum kalian datang kami bertengkar hebat. Alasannya ia ingin bertemu dengan anak Ilham, aku ingin menjelaskan kalau Rani bukan anak Ilham tapi beliau malah marah dan meninggalkan rumah," cerita Senja.
"Jadi kamu belum cerita tentang Rani. Kalau Rani bukan anak Ilham?" Tanya Dio.
"Belum, mau cerita bagaiamana kalau ayah lanhsung pergi dan malah memotong omonganku," ujar Senja..
"Terus kakak diam saja waktu ayah pergi?" Tanya Rani.
"Kerena ayah mengunakan motor, aku nggak bisa mengejarnya ya udah aku hanya bisa mengelus dada saja." Lanjut Senja.
"Aku juga nggak tahu kalau ayah bakal pulang secepat itu, tapi aku menduga kalau ayah ingin meneemuiku. Tapi entahlah." Hela Senja.
"Kalau saja kita pulang dengan cepat mungkin aku bisa bertemu dengan.ayah, kira kira ayah bakal pulang nggak ya malam ini," kata Rani seperti pada diri sendiri.
"Aku nyakin ayah pulang. Tapi nggak tahu juga sih beliau pulang atau nggak nya, lebih baik kamu menginap saja Rani itu lebih baik buat kamu bisa.ketemu ayah." Kata Senja menawarkan tempat untuk Rani.
Rani mengangguk mengiyakan ajakan Senja, sedangkan Dio hanya diam saja.
Ya laki laki yang Dio temui adalah Surya yang pulang ke rumah lagi. Ia sebenarnya ingin bertanya tentang masalah anak Ilham dan kenapa putrinya tidak setuju kalau ia balas dendam pada anak Ilham. Tapi waktu membuka pintu, pintu belakngnya di kunci.
Otomatis ia marah dan menyepak pintu berkali kali, disangkanya di rumah itu ada Senja seorang. Tapi waktu pintu terbuka ia sangat terkejut melihat laki laki muda ada di dalam rumahnya.
Ia ingin menanyakan tentang keberadaan laki laki itu, tapi ia malah berlaku tidak adil mendorong tubuh laki laki itu dari pada kenapa kenapa ia langsung meninggalakan rumah itu dengan berlari. Ia lupa untuk membawa motor, kerena di kejar oleh laki laki itu.
__ADS_1
Surya kini pergi ke pondok ia merebahkan tubuhnya di atas dipan yang berada di dalam pondok itu. Ada helaan nafas yang panjang keluar dari mulut Surya.
'Siapa laki laki itu? Kenapa Senja tidak pernah cerita tentang laki laki itu," bisik hati Surya.
Ia merasa keppo. Tapi kalau dipikir lagi kalau ia pulang pasti ia dan Senja bakal bertengkar lagi, apalagi di rumahnya ada laki laki muda.
Tok tok tok
Suara pintu diketuk tiga kali membuat dirinya bayar dalam lamaunannya. Surya lanhsung bangkit dari rebahannya, ia langsung bangkit dan duduk bersila menatap anak buahnya yang datang.
"Ada apa? Apa ada berita terbaru tentang anak itu?" Tanya Surya.
Anak buah Surya duduk di kursi yang ada di ruangan itu, setelah Surya memepersilahkan ia untuk duduk.
"Ketua gimana rencana kita untuk menculik cucunya Ilham?" Tiba tiba anak buah nya berkata the point dihadapan Surya.
"Lakukan! Jangan sampai gagal sebelum aku menemui nya!" Kata Surya.
"Baik ketua, apa malam ini kita menuju rumah wanita itu?" Tanya nya pada Surya.
"Boleh, asal kamu hati hati jangan ketahuan siapa siapa kalau kamu dan yang lainnya bergerak."
"Kamu kalau sudah menemukan dia, langsung bawa ke tempat yang aman." Lanjut Surya.
"Oke ketus apa yang ketua katakan kaan kami laksanakan dengan baik baik saja."
"Bagus! Jangan sampai gagal rencana kita. Awas kalau sampai gagal ku cincang tubuh kalian!" Ancam Surya dengan mata melotot hampir keluar.
Ia masih ingat ketika rencana itu gagal gara gara ada laki laki yang menolong bayi itu. Surya tidak tahu laki laki itu, ia hanya tahu dari anak buahnya saja tidak melihat kejadiannya.
Kalau saja ia berada ditempat itu, mungkin ia.bakal mencincang laki laki yang membawa bayi itu, Surya mengepalkan tangannya kesal kalau.mengingat kejadian itu.
Anak buahnya langsung mengangguk seketika, dan meninggalkan Surya. Surya yang ditinggalkan anak buahnya kembali tiduran, ya ia masih ingat kejadian itu. Kejadian yang membuat nya marah.
Surya kembali tiduran terlentang. Satu kakinya dilipat sedangkan satu kakinya lagi dipanjangkan, tangan nya dijadikan bantal. Pikirannya entah kemana.*
__ADS_1