BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Rencana Rani


__ADS_3

Dio dan Rani menahan.nafas saat Zoya menceritakan tentang Dyan pada keduanya. Rani jaya mengelengkan kepala saja saat mendengar Rey menyiksa Dyan dan memukul kepala Dyan dengan sebilah kayu..


"Vian kemana?" tanya Dio akhirnya mennayakan keberadaan Vian.


"Nambah ban yang bocor," jawab Zoya.


Setelah menceritakan semuanya Zoya masuk ke dalam rumah dan membiarkan kakaknya bersama dengan Dion.


"Rencana kita bagaimana?" tanya Dio menatap wajah Rani.


Rani hanya mengelengkan kepala mendengar pertanyaan Dio seperti itu, ia sama sekali tidak punya ide apa apa untuk merencanakan sesuatu dengan Dio. Tapi mendapatkan pertanyaan dari Dio ia hanya mengangguk angguk dengan cepat sekali..


"Kita seharusnya tahu rencana Rey dulu sebelum kita merancang rencana. Kerena kalau kita tahu apa yang direncanakan oleh Rey pasti kita bisa membuat rencana itu," ujar Rani berpikir.


"Apa aku harus pura pura memberikan anak ini pada Rey?" tanya Rani tiba tiba.


Dio terdiam seketika juga mendengar apa yang diucapkan oleh Rani. Ia tidak menyangka kalau rencana itu ada dalam benak Rani.


"Aku setuju kalau kamu pura pura atau nyata juga menerima lamaran Dyan untuk di jodohkan," ujar Rani kembali tanpa menunggu Dio menjawab nya.


"Gila!" Dengus Dio tidak suka ide Rani.


"Kenapa?" tanya Rani.


"Ide bagus juga. Tapi bagaiamana kalau kita kasih tahu rencana kita pada Dyan dulu biar Dyan setuju dan tahu rencana ini." akhirnya Dio tidak bisa berkutik pada rencana Rani.


"Vian, Zoya dan kakak bagaimana?"


"Biarkan, bagus kalau Zoya dan Vian nggak dikasih tahu biar mereka yang jadi tokoh lain dari cerita kita?"


"Ah kamu, aku tahu kamu hanya ingin mengubah cerita. Dasar penulis," Dengus Dio mengerti jalan pikiran Rani.

__ADS_1


Dio hanya bisa mwngelangkan kepala saja mendengar apa yang Rani lakukan, drama yang indah dan bakal berhasil. Dio hanya bisa mengajungkan jempol saja mendengar rencana Rani yang sungguh asyik. Apalagi Dio tahu karakter Zoya kalau misal rencana ini Zoya tahu tidak mungkin berhasil masalahnya ia bakal tidak tega marah sama orang termasuk pada dirinya begitu juga Vian.


Ia mengerti apa yang dimaksud oleh Rani, setelah tahu rencana Rani Dio hanya mengangguk angguk saja. Sedangkan Zoya yang dari tadi dari dalam langsung menuju ke teras menghampiri Rani dan Dio.


Ia sebenarnya ingin menceritakan keadaan wanita yang di tolong itu dan meminta bantuan Dio untuk mendatangi tempat dimana Rey dan wanita itu berada, Zoya sebenarnya ingin kalau Dio menceritakan semuanya lada polisi supaya Rey bisa ditangkap dan dijebloskan ke penjara.


Dan Zoya berharap kalau Dio dan kakaknya bakal bahagia bersama. Ya gadis itu berharap kakaknya bahagia dengan Dio kerena Zoya merasa nyakin kalau Dio bakal membahagiakan kakaknya dibandingkan Rey laki laki yang pernah jadi pacar kakaknya.


Zoya tidak tahu apa yang akaan direncanakan oleh kakaknya.


Gadis itu menghampiri Rani dan Dio yang masih ada di teras, dan duduk di kursi satunya. Menatap wajah kedua nya, yang sedang serius diskusi. Ada senyuman tipis menghiasi wajah Zoya saat ia menatap keduanya, ada binar kebahagiaan yang tidak terlukiskan.


"Zoy, apa mungkin kakak harus kembali pada Rey?" gumam Rani seperti pada diri sendiri.


Sebelum Zoya mengutarakan niatnya pada kakak dan Dio, Rani bergumam di saat Zoya akan angkat bicara. Zoya yang mendengar gumaman kakaknya langsung melonggo tidak nyakin apa yang ia dengar sama sekali.


Zoya langsung menatap wajah Dio yang diam, Dio yang tahu tatapan mata Zoya hanya mengangkat bahu saja tanda tidak tahu, sebenarnya Dio juga terkejut sama apa yang ia dengar.


"Kak! Kakak bilang apa!" suara Zoya tinggi saat mendengar gumaman Rani kakaknya.


"Kakak lelah menghadapi semuanya," ujar Rani pasrah.


Deg!


Hati Zoya seperti berhenti berdetak saat mendengar suara Rani yang penuh kepasrahan seperti itu. Ada semburat kekecewaan yang terpancar di wajah Zoya yang putih alami tanpa riasan sama sekali.


Dio tercekat mendengar gumaman diri Rani, ia tidak menduga sama sekali kalau Rani begitu cepat menyesuaikan apa yang akan ia lakukan. Awalnya diomongin menghentikan Rani supaya Zoya tahu masalah yang bakal terjadi.


"Kak Dio udah tahu kok!" pancing Rani menatap wajah Dio meminta dukungannya..


Deg!

__ADS_1


Bagian Dio yang tidak menyangka apa yang diucapkan oleh Rani, ia gelagapan mendengarkan apa yang diucapkan Rani, ia tahu kalau Rani mengucapakan itu hanya pancingan untuk dirinya.supaya mendukung.


"Kak!" teriak Zoya tidak mengerti.


Gadis itu sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkan kakaknya, kerena ia membantu Rani sampai sekarang juga hanya ingin menjaga Rani tapi Rani berkata seperti itu.


Zoya perih mendengar semuanya, tapi itu keputusan Rani kakaknya tidak bisa digugat lagi. Rani menatap bola mata Zoya yang hampir berkaca kaca menahan tangisan yang siap tumpah kapan pun juga.


Dio juga merasakan apa yang dirasakan ingin rasanya ia cerita semuanya, matanya melirik Rani tapi Rani mengelangkan kepala pada Dio. Akhirnya Dio hanya diam saja, Dio langsung beranjak mendekati Zoya dan memeluk tubuh Zoya.


Tapi gadis itu keburu menghindar masuk dalam kamar sambil menangis. Zoya merasa pembelaannya sia sia pada kakaknya selama ini, kerena ia juga selalu membantu kakaknya. Tapi balasan yang kakaknya buat diluar dugaan dirinya sama sekali. Dio mendengus melihat Zoya pergi begitu saja sedangkan Rani tersenyum.


Dio hanya tertegun melihat Zoya, tiba tiba hati Dio merasa iba pada Zoya. Dio tahu pasti Zoya merasa kalau Rani bakal kembali ke Rey. Ya siapa yang tidak kecewa kerena selam ini Zoya juga berjuang untuk kebahagiaan kakaknya.


"Kamu jahat Ran, kenapa kamu seperti ini pada Zoya!" sembur Dio marah.


"Dio, ini kan akting!" Rani heran pada Dio.


"Akting tidak lucu, melukai orang yang sayang sama kamu." hardik Dio meninggalakan Rani.


Rani hanya menatap kepergian Dio. ia hanya mengangkat bahu saja saat Dio pergi tanpa pamit sama sekali pada dirinya. Rani beranak ditempat duduknya lanhsung masuk kedalam rumah, ia tertegun saat melihat Zoya membereskan semua baju bajunya dimasukan dalam koper kecil Zoya sendiri.


"Dek, kamu mau kemana?" tanya Rani heran..


Ia tertegun melihat Zoya seperti itu. Zoya hanya diam saja saat kakaknya bertanya pada dirinya, ia langsung pergi begitu saja tanpa memperdulikan pertanyaan kakaknya.


"Zoya, jawab kamu mau kemana?" teriak Rani emosi.


Iantidak suka kalau pertanyaannya di cuek kan oleh adiknya sendiri.


"Pergi, kerena kakak mau kembali sama.rwy, lebih baik aku pergi jauh," ketus Zoya sambil meninggalkan kakaknya.

__ADS_1


Rani langsung meraih tangan Zoya, tapi gadis 18 tahun dengan cepat langsung menghindar dari ngenggaman tangan kakaknya. Zoya langsung pergi mengunakan motor yang ada di depan rumahnya, tanpa peduli dengan Rani lagi. Rani tertegun melihat Zoya pergi begitu saja, ia ingin mengejar tapi Zoya keburu pergi.


Melihat itu Rani hanya mendesah dan ia.lanhsung menjatuhkan tubuhnya di sofa di ruangan multifungsi. Tatapan matanya kosong, hatinya tidak tentu arah memikirkan adik semata wayang.*


__ADS_2