BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Rina mencari bukti


__ADS_3

Rina hanya mematung di kamarnya, kata-kata Surya menggelitik hatinya. Ia hanya bisa menarik nafas dalam dalam saja, sekarang ia sendiri yang harus bergerak untuk tidak menceritakan siapa Senja pada semua orang kecuali Rani mungkin..


Ia nyakin kalau Rani tidak akan mengungkapkan siapa Senja pada Santi. Tapi disisi lain ia merasa bersalah pada ibunya, kerena ia juga harus merahasiakan keberadaan Senja sedangkan Senja adalah anak kandung ibu dari Surya.


Ia hanya menghela nafas dalam dalam mengingat kata kata Surya yang tegas dan masih terhiang di telinganya.


"Kalau mama kam tahu ini, berarti itu dari kamu, saya bakal mencari kamu ke ujung dunia juga, camkan kata kata saya." ujar Surya mengingatkan Rina.


Sebenarnya waktu Rina akan pulang Surya ragu melepaskan Rina. Senja hanya mengingatkan ayahnya untuk melepaskan Rina, kerena Rina bukan tahanan. Rina melihat wajah Surya, wajah laki laki itu hanya bisa diam dan dari mulutnya ada helaan nafas yang berat mendengar apa yang di ucapkan oleh Surya.


"Oke, saat izinkan kamu pulang tapi jangan beritahu siapa siapa kalau kami ada di alamat ini, dan jangan kasih tahu siapa senja pada siapa saja." ujar Surya tajam.


"Kalau sama mama," pancing Rina.


Surya diam saat Rina mengucapkan mama, mata Surya malah melirik kearah wajah Senja sedangkan wanita itu hanya diam saja, ia tidak menyaut sama sekali.


Surya yang tahu Senja hanya diam saja, ia hanya menatap Rina.


"Biar Amanda yang tahu sendiri, tapi insya Allah aku yang kasih tahu mama kamu," ujar Surya cepat.


Rina mengangguk. Dan hari itu juga ia pulang kembali ke tempat dimana Santi berada, ia juga lupa tidak memberi tahukan masalah anak Ningsih pada Surya. Ia juga tidak ada niatan untuk memberitahukan Rani pada Surya.


Kerena di rumah tidak ada siapa siapa. Rina langsung masuk kamar ia menyandarkan pungungnya ke dinding dan menatap luar jendela yang terang oleh mentari sore hari.


Rina langsung berdiri, saat mendengar ketukan dan panggilan dari Santi. Sebenarnya ia malas membukakannya, tapi kalau tidak dibuka pasti Santi bakal mengetuk terus menerus.


"Kamu ngapain saja di kamar? Kaya orang yang sakit saja," gerutu Santi menatap Rina.


"Aku cape," ujar Rina sambil balik badan menuju kasur kembali.

__ADS_1


"Kamu darimana? ditelpon nggak diangkat," cerocos Santi ikut duduk di kursi yang ada di kamar itu.


"Aku tadi nolong orang," jawab Rina dengan malasnya.


"Kok lama! Apa parah?" tanya Santi cuek.


"Motornya rusak. Sudahlah Bu aku cape, aku pengen istirahat," potong Rina membaringkan badannya.


Melihat itu Santi sebenarnya gemas ingin menanyakan lebih lanjut tapi melihat Rina membaringkan tubuhnya dan matanya terpejam, akhirnya Santi beranjak dari tempat duduk dan pergi sambil menutup pintu kamar Rina.


Rina yang tahu mertuanya pergi ia mengambil nafas dalam dalam lalu dihembuskan begitu saja dengan kasarnya, untung Santi cepat pergi kalau tidak ia bisa ketahuan kalau bertemu Surya juga anaknya. Ia takut kalau Santi tahu masalah ini bisa gawat, bisa bisa mertuanya membocorkan pada Surya itu yang Rina tidak mau sama sekali.


"Santi licik, dia bisa halalkan cara untuk mendapatkan semua nya, penuh ambisi!" Dengus Surya.


Dari kata kata Surya, Rina bisa merasakan kalau Surya tidak menyukai Santi dan sebenarnya ia juga merasakan sekarang Santi itu bagaimana.


"Aku harus mencari sesuatu, dan aku harus dapat buktinya." gumam Rina.


Tindakan Santi yang tiba tiba datang dan menyuruh Rey menikah dengan Rani sedangkan Santi sendiri lah yang membuat Rey dan Rani tidak menikah. Anak? Kenapa harus mempermasalahkan anak?


"Aku juga nggak suka sama bibi Santi, egois. Kalau disini juga ia kaya pemilik rumah saja." Dengus Senja..


"Memang bibi mu pernah kesini?" tanya Rina waktu itu..


"Sering banget."


Rina hampir tidak percaya kalau ibu mertuanya sering menginap di rumahnya Senja, kalau dipikir untuk apa ya Santi menginap sedangkan hubungan mereka juga sangat jauh. Oke kalau Santi sepupunya ayah Senja itukan sepupu jauh. Maksudnya nenek nya Rey dengan neneknya Senja adalah sepupu, jadi kan hubungan Santi dsn Surya sudah jauh banget apalagi yang sepupunya itu nenek nya Surya dsn Santi.


Rina hanya bisa tepuk jidat. Ya oke lah kalau Rani, kala itu Rani masih bisa di maklumi kerena mereka satu ayah biarpun beda ibu. Kaya dirinya dengan Senja hanya beda ayah saja. Tapi adik asli senja satu bapak yaitu Rani.

__ADS_1


"Aku nyakin mertuaku melakukan sesuatu, apalagi ia tahu kalau Rani salah satu anak Surya." gumam Rina..


"Kamu melamun apa sih!" tegur Rey dengan herannya..


Rey mengetuk ngetik pintu kamar, tapi tidak ada yang buka terpaksa ia membuka pintu sendiri, Rey terkejut melihat Rina duduk tapi pandangan matanya kosong..


Rina yang tidak menyangka sangat terkejut melihat kedatangan Rey di kamarnya, ditambah lagi laki laki itu duduk disamping Rina..


"Nggak apa apa kok, aku hanya mikir kalau bayi Rani berada di sini enak ya," ujar Rina gugup..


Tapi perasaan gugup itu ia langsung sadar dan mengingat bayinya Rani. Rey yang mendengarkan Rina menyebut bayi hanya diam saja. Ia.hanua menarik nafas dalam dalam lalu menghembuskan nafasnya kasar.


Sebenarnya ia juga dalam hati menginginkan tapi resiko yang ia hadapi besar sekali. Jadi Rey hanya diam saja saat Rina mengatakan bayi. Dengan refleknya Rey mengusap lembut kepala Rina, sampai wanita itu tertegun melihat prilaku suaminya seperti itu.


"Aku cape ingin istirahat," Rey langsung beranjak dari duduk lanhsung berbaring di ranjang, sedangkan Rina hanya diam saja. Tapi ia merasakan hatinya berdebar sangat panjang.


"Terserah kamu mas!" Dengus Rina kasar.


Ia menatap wajah Rey lembut. Tapi ia tidak bermuatan mengidap suaminya, ia hanya penasaran apa yang akan Santi lakukan pada Surya dsn kenapa Santi bersikeras ingin menikahkan Rey dengan Rani?


"Apa jangan jangan kata kata pak Surya benar, Santi ingin memiliki apa yang pak Surya punya?" jerit hati Rina


"Kalau itu jangan sampai dibiarkan, aku harus memberitahukan Rani. Tapi apa aku telpon dirinya atau apa? Sedangkan disisi lain pak Surya juga nggak tahu kalau Rani juga putrinya," ujar Rina dalam hati.


Beberapa kali Rina menghela nafas panjang dan membuangnya secara kasar.


"Kamu ada masalah?' tanya Rey ketika mendengar helaan nafas Rani..


"Katanya kamu.mau tidur," Dengus Rina melihat wajah Rey yang menatapnya..

__ADS_1


"Aku tadi tidur cuma mendengar helaan nafas kamu aku bangun," dusta Rey..


Rey langsung duduk di samping Rani, tapi wanita itu langsung membuang wajahnya ke arah kanan. Rey melihat ada perubahan dari pancaran wajah Rina.*


__ADS_2