BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Senja berusaha menjelaskan


__ADS_3

Rani dengan hati masih berdebar debat tidak karuan sama sekali, akhirnya memberanikan  diri untuk memberanikan untuk mengucapakan salam.


"Assalamualaikum," ucap Rani dengan nyaring sekali. 


Rani juga berusaha mengetuk pintu yang tertutup. 


"Walaikumsalam," jawab seorang wanita dengan lembutnya. 


Tidak lama kemudian daun pintu terbuka dengan lebar, terlihat seorang wanita yang mwmbukakan pintu itu. Hati kedua wanita itu saling berdetak. 


"Rani," bisiknya. 


"Kakak,"ucap Rani lirih. 


"Rani, kamu Rani kan?" Tiba tiba senja dengan refleknya memeluk tubuh Rani dengan erat.


Rani juga membalas pelukan Senja. Tiba tiba ada perasaan yang menyeruak dihati Rani, ia seperti mimpi saja kalau dirinya seorang adik. 


Ya selam ini ia menganggap dirinya sebagai kakak, kakak dari adik satu satunya yaitu Zoya. Jadi tahu kalau ia anak kedua ia hanya bisa mwmantung antara percaya dan tidaknya. 


Sekarang ia bisa memeluk wanita yang ada dihadapannya. Wanita yang akan ia sebut sebagai kakak.


"Aku nggak percaya kalau kamu itu Rani," bisik senja tulus. 


Rani tersenyum mendengar kata kata senja yang menurutnya tulus sekali. 


"Kak, apa benar ayah?" Rani ragu untuk melanjutkannya. 


Senja hanya menarik nafas dalam dalam saat mendengar apa yang dikatakan oleh Rani. 


"Ayah nggak percaya apaa yang aku katakan, aku lelah menjelaskan semuanya kalau kamu bukan anak ilham tapi anaknya." 


"Trus kakak tahu dari mana aku anak Surya, sedangkan aku dan kakak baru ketemu sekarang,"tanya Rani terkejut. 


Ya Rani sangat terkejut sekali mendengar cerita yang dituturkan senja tentang dirinya. Sedangkan ia dan senja baru pertama ketemu, ditatap wajah kakaknya dengan lembut ia ingin tahu seberapa jauhnya senja kakaknya tahu semuanya. 

__ADS_1


"Vian yang banyak cerita padaku, kalau kamu adalah anak ayah. Aku awalnya nggak percaya tapi Vian kekeh supaya aku percaya. Akhirnya aku mempercayai Vian biarpun dalam hati ada kemustahilan." Jawab Senja jujur. 


"Jadi kakak sekarang percaya kalau aku anak ayah bukan anak bapak." Tanya Rani menatap wajah Senja. 


Rani sengaja mengebut bapak pada Ilham sedangkan pada Surya ia menyebut ayah, supaya bisa membandingkan penyebutannya saja. Tapi memang sewaktu Ilham masih hidup Rani selalu menyebut Ilham bapak kerena Ilham membiasakan dirinya untuk disebut bapak..


Begitu juga dengan Zoya dan ibu memanggil Ilham dengan sebutan bapak. Tapi sekarang ia punya ayah kandung otomatis ia menyebut Surya dengan sebutan ayah. 


"Ya aku sekarang percaya kalau kamu anak dari ayah, ya biarpun beda ibu juga." 


"Aku pengen ketemu ayah," kata Rani pada Senja. 


"Ayah sudah dua hari nggak pulang, dan aku bersyukur kalau anak kamu selamat," ujar Senja tersenyum. 


"Makasih kak, sudah khawatir pada anakku."


Senja mengangguk, tanpa disadari ia menyentuh wajah Rani lembut sekali. 


"Aku bahagia punya adik seperti kamu dan Vian." Lirih Senja. 


Belum sempat Rani menjawab ucapan senja, tiba tiba telpon senja berteriak dengan kerasnya. Ia.lanjsung mengangkat tapi sebelum diangkat ia melihat layar hpnya terlihat yang menelpon itu ayahnya. 


"Yah, pulang!" 


Senja berusaha untuk mengalihkan perhatian ayahnya supaya melupakan pencarian pada Rani, ya untungnya apa coba? Senja melakukan itu bukan kerena Rani adik se ayah bukan, biarpun Rani bukan adiknya ia juga akan melakukan sama. 


Apalagi ini Rani adiknya. Kalau dipikir buat apa coba ayah membunuh Rani? Untungnya tidak ada sama sekali, malah ruginya ada. Penjara. 


Senja menyuruh ayahnya untuk pulang, ia sebenarnya ia ingin mengatakan kalau ada Rani di rumah tapi niatnya diurungkan. Ia takut kalau ayahnya pulang nanti Rani bakal diapa apa in sama ayah. 


Rani yang melihat kakaknya bicara sama Surya, hatinya sangatlah berdebar apalagi saat mendengar senja menyuruh ayahnya pulang. 


"Kamu nggak denger apa yang ayah katakan," bentak Surya di sebrang sana mendengar Senja mengalihkan perhatiannya. 


"Yah, buat apa ayah lakukan itu? Yah kalau terjadi apa apa siapa yang rugi?" Bujuk Senja. 

__ADS_1


Rani menatap wajah Senja, ia tahu kalau Senja berusaha untuk melunakkan hati ayahnya. 


Rani sebenarnya ingin bicara tapi ia menhan diri untuk tidak mengambil hp yang ada ditangan Senja apalagi mereka sedang bicara. 


"Kamu nggak ngerti perasaan ayah, Senja! Kamu hanya bel orang itu, orang yang telah menghancurkan hidup ayah!" Teriak Surya marah.


"Aku yang harus ngerti ayah? Emang ayahnya nggak pernah dengerin apa yang Senja katakan!" Sembur Senja.


"Ayah lebih mwngingkan dendam daripada anak sendiri, seharusnya ayah bersyukur ada seorang bapak yang rela memberikan kasih sayangnya buat anak ayah!" Lanjut Senja terbawa emosi.


Senja tidak tahu harus bangiamana ia mengatakan pada Surya tentang Rani. Surya kekeh pada pendiriannya saja, tanpa memikirkan akibat dari oerbuatan yang akan ia lakukan pada anaknya sendiri.


Menurut senja Surya terlalu terbawa masa lalu yang seharusnya masa lalu itu terkubur saja, ini malah diingat ingat dan kanyatanya korbannya adalah anak sendiri yang tidak diketahui sama sekali.


Rani yang mendengarkan perdebatan Senja dengan Surya hanya menunduk saja, Senja di depan Rani berusaha untuk meluluhkan hati ayahnya Surya, malah dijadikan tempat amarah Surya.


Rani sudah pasrah saja apa yang akan dilakukan ayahnya sendiri. Kata kata Senja oleh Rani dibenarkan, Ilham yang bukan ayah kandungnya saja rela dan ikhlas mengurus dan mendidik dirinya, sedangkan Surya?


"Maksud kamu apa bicara itu sama ayah! Ingat ini ayahmu yabgbtelah mengurus kamu dari kecil sampai dewasa!" Sembur ayahnya dibalik telpon tidak terima.


"Ayah yang menculik aku, aku nggak minta ayah mengurus Senja. Sampai sekarang senja ingin ketemu ibu, tapi sampai kapan ayah menghalangi senja!" Ketus Senja.


Akhirnya Senja langsung mematikan hpnya. Wajahnya terlihat kesal sekali mendengar apa yang ayahnya ucapakan. Setelah mematikan hpnya senja langsung menghempaskan tubuhnya ke kursi yang tadi ia duduki.


"Ayah nggak mau dengar kakak, de. Kalau saja ayah mau denger kakak mungkin kakak bisa mencegah semuanya." Ujar Senja pasrah.


Ia kehilangan arah, Rani yang melihat senja seperti itu ia merasa bersalah telah melakukan kesusahan pada kakak yang baru ditemuinya.


"Kak, ayah dimana? Biar Rani yang kesana menyusul ayah, mungkin kalau Rani yang mengatakan semuanya pada ayah, beliau bakal percaya pada Rani." Tiba tiba Rani mengucapakan kata kata itu.


Senja sedikit terkejut mendengar apa yang keluar dari mulut Rani. Senja hanya bisa terdiam saja.


"Nggak de, kakak yang harus jelaskan semuanya." Cegah Senja.


Ia melarang Rani untuk bertemu dengan ayahnya. Senja takut kalau Rani kenapa kenapa, apalagi Rani tidak tahu ayahnya bagaiamana. Senja takut kalau misal Rani menemui ayahnya tanpa saling kenal.

__ADS_1


"Tapi kak, seharusnya aku yang jelaskan semuanya supaya ayah percaya sama aku kali ini aja," mohon Rani pada kakaknya.


Senja mengelengkan kepalanya. Hatinya tidak mengizinkan Rani untuk menemui ayahnya. Sampai Rani memohon pada senja tapi Senja kekeh pada pendiriannya.*


__ADS_2