BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Lalu Salah Siapa?


__ADS_3

Rani hanya bisa menatap pertemuan antara Surya dan Ningsih. Dalam hatinya ada syukur yang membuncah saat ibunya dan Aya saling berpelukan satu sama lainnya. Tapi hatinya mulai muncul ketakutan, takut kalau Surya masih dendam pada bapaknya. Bapak yang telah mengurus dan membesarkan dirinya dengan kasih sayang yang luas sekali.


Tapi ia berusaha untuk menepiskan semua nya kerena Surya belum tahu Zoya itu pikir Rani. Setelah melepaskan pelukan dari Ningsih Surya menatap tajam kearah Ningsih. Banyak pertanyaan yang ia ingin utarakan, tapi ia agak bigung untuk memulai kata apa dulu yang keluar dari mulutnya.


Ditatap wajah Ningsih dengan kerinduan yang membuncah dalam hatinya, beberapa kali Surya mencium tangan Ningsih, Ningsih hanya diam saja ia tidak menyangka kalau bisa bertemu dengan Surya kembali.


"Kamu sepeninggalan aku menikah lagi atau nggak?" tanya Surya.


Ningsih bukan langsung menjawab tapi ia menghela nafas lalu dihembuskan kembali. Ya ia harus mengungkapkannya sekarang dan tidak ada kesalahpahaman antara Surya dan dirinya.


Surya menunggu apa yang Ningsih katakan, ia juga diam melihat Ningsih terdiam.


"Lalu, Rani itu siapa? Apakah Rani anak Ilham?" tanya Surya spontan.


"Ranty Maharani adalah anakmu, mas. Ia anak kandungmu, disaat aku meminta cerai dan kamu meninggalkan aku, aku dalam keadaan hamil dan nggak diketahui kalau aku hamil, kalau saja aku tahu kalau aku hamil. Aku nggak mungkin minta cerai mas," Ningsih sukses menceritakan keadaan dirinya.


"Apa, jadi jadi dia putriku?" tanya Surya berteriak.


Ada perasaan senang, sedih, menyesal, mendengar apa yang diceritakan oleh Ningsih. Ia memandang wajah Ningsih dengan perasaan bersalah kerena emosi waktu itu ia langsung meninggalakan Ningsih tanpa pikir panjang lagi.


"Kalau kamu hamil sama aku, lalu kenapa ilham?" tanya Surya tersendat.


"Ilham datang setelah kamu pergi mas. Aku menikah dengan Ilham setelah melahirkan Rani, Ilham sayang banget sama Rani, mas. Ilham lebih menyanyangi Rani dibandingkan anak kandungnya sendiri," jelas Ningsih.


Ia juga tidak mau kalau ada kesalahpahaman antara Surya pada Ilham. Ya Ningsih hanya ingin meluruskan cerita antara dirinya dan Ilham supaya Surya tidak menuduh dirinya atau Rani yang tidak tidak.


Surya menundukkan wajahnya. Ya pantes kalau ceritanya begitu, ia tidak menyadari kalau Ningsih hamil dan menuduh Ningsih berpaling pada Ilham.


"Ilham tahu aku hamil olehmu, mas. Sebenarnya ia.mwncari kamu, tapi pencarian terhadapmu dihentikan ketika Rani telah lahir, ia menyanyangi dan tidak mau pisah dengan Rani." ungkap Ningsih.


"Tapi ia pernah cerita waktu itu, ia satu kantor denganmu, tapi Ilham nggak mau kalau kamu tahu itu anak kandungmu." lanjut Ningsih.


"Ning, aku nggak mau kehilangan Rani. Aku sayang sama Rani, aku mohon jangan pisahkan Rani denganku," ujar Ilham waktu itu.


Ningsih menatap wajah Ilham dengan seriusnya.

__ADS_1


"Maksudmu, mas?"


"Aku ketemu dengan ayah kandung Rani, tapi aku nggak bisa mengatakan kalau ia punya anak darimu, aku takut ia memisahkan aku dengan Rani. Rani anakku, Ning!" Tangis Ilham.


Terpancar diwajah Ilham sebuah ketakutan yang luar biasa saat ia tahu kalau Surya kembali lagi.


Ningsih yang mendengar itu terpana seketika, ia tidak menyangka kalau suaminya bakal bertemu dengan Surya laki laki yang meninggalakan dirinya dengan anak yang telah dilahirkannya.


"Aku harus menemui nya, di harus bertangungjawab pada Rani!" teriak Ningsih.


Ningsih langsung pergi begitu saja, untung Ilham dengan gerak cepat langsung menghentikan langkah Ningsih dengan memegang tangan Ningsih erat.


"Kamu mau kemana?" tanya Ilham menghentikan langkah istrinya.


"Aku bakal minta pertanggungjawaban pada mas Surya, mas. Mas, seharusnya dia yang menafkahi Rani bukan kamu!" sembur Ningsih.


"Jangan, kalau.misala kamu minta pertanggungjawaban pada Surya, aku takut kalau Rani dibawa oleh Surya. Aku sayang pada Rani," ungkap Ilham tulus.


"Aku lebih baik kehilangan segalanya daripada aku kehilangan Rani, ya biarpun suatu saat nanti kita butuh Surya. Tapi untuk saat ini biarkan seperti ini saja," Ilham memohon.


Surya menghela nafas panjang mendengar cerita tentang Ningsih, ia tidak tahu kalau Ilham yang ditemui di kantor adalah bapak sambung Rani, ia tidak menduga sama sekali kerena hatinya diliputi.oradangka kalau Ningsih menikah dengan Ilham dan punya anak yaitu Rani.


Ningsih pun menceritakan kalau Ilham sebenarnya tahu apa yang dilakukan Surya padanya, ya tanpa Surya tahu, Islam menceritakan semuanya pada Ningsih dsn satu pesan Ilham jangan benci Surya bagaimanapun ia adalah ayah kandung Rani itu yang di ungkapkan oleh Ilham.


Mendengar itu Surya hanya menunduk pasrah, ia tidak menyangka laki laki yang dibencinya adalah seorang pahlawan untuk.keluarganya.


"Assalamualaikum!" ucap salam Zoya.


Gadis umur 18 tahun langsung masuk begitu saja, ia tidak menyadari kalau di rumahnya ada tamu. Untung senja yang ada diluar langsung menarik tangan Zoya. Senja memberikan kode buat Zoya.


Tapi terlambat ucapan salam Zoya terdengar nyaring kedalam rumah.


"Walaikumsalam," jawab Rani.


Surya dan Ningsih juga menjawab salam. Surya langsung membalikan tubuhnya ke arah pintu depan, matanya menangkap sosok yang di kenalnya. Ia terbelalak menatap Senja putrinya berada di tempat ini.

__ADS_1


"Senja! Kamu?" tanya Surya kaget.


Senja pun tidak kalah kagetnya saat ayahnya berteriak menatap wajahnya. Ia hanya mengetuk kepala, sedangkan Zoya menatap selidik pada Surya dsn Ningsih.


Rani terdiam seketika. Ia tidak menceritakan kalau di rumahnya bakal kedatangan tamu, masalahnya mendadak sekali ia membawa Surya ke rumah itu.


Surya menatap wajah Zoya, ia seperti.melihat seseorang di wajah itu. wajahnya, matanya, semuanya mirip.


'Ilham,' bisik hati Surya.


Zoya memperhatikan Surya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ia juga menatap Rani yang ada di hadapannya, tatapan penuh tanya, Rani hanya diam saja sambil memainkan matanya.


Rani berharap kalau Zoya mengerti atas permainan matanya tapi Zoya sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud Rani.


"Apaan sih kak!" ujar Zoya.


"Dia siapa?" tatap Surya pada Ningsih.


"Dia Zoya, anak kandung aku." jawab Ningsih.


"Zoya!" gumam Surya memandang wajah Ningsih.


Surya langsung terdiam seketika juga. Ia yang menatap Ningsih hanya bisa menunduk.


"Ketua, kami nyakin kalau Zoya ada hubungan dengan Rani wanita yang menolong ketua," ujar Bandot waktu itu padanya.


"Hubungan! Hubungan maksudnya apa?" tanya nya pada Bandot.


Ia sama sekali tidak mengerti apa yang Bandot bicarakan tentang Zoya dan Rani..Akhirnya bandot mengatakan kalau antara Rani ada hubungan khusus kerena mereka seperti punya ikatan darah, tapi Surya tidak percaya pada pengakuan bandot sama sekali.


"Nggak mungkin, Rani dan Zoya ada hubungan ikatan darah," tepis Surya.


"Bisa jadi. Mereka kakak adik!" ujar Bandot menjelaskan.


"Nggak aku nggak setuju kalau Zoya dan Rani punya hubungan khusus! Sudah aku nggak mau mendengar lagi!" teriak Surya marah.

__ADS_1


Surya hanya terpaku bagaikan es yang membeku mendengar apanyang disampaikan oleh Ningsih. Surya sebenarnya belum siap diterjang ombak kejujuran dari Ningsih tapi Ningsih melakukan pekerjaan yang baik. Mengakui Zoya pada Surya sebagai anaknya.*


__ADS_2