BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Zoya mengikuti saran Rani


__ADS_3

Setelah diberitahu tentang Santi yang ingin menikahkan Rani dsn Rey akhirnya Zoya mengikuti saran kakaknya. Ia meminta bantuan Vian kerena Vian sering mencari tahu informasi yang berhubungan dengan Rani, ya tanpa Rani ketahui sebenarnya Vian telah tahu tentang Rani dari penyelidikan dirinya.


Ya biarpun menyelidikan Vian relatif singkat dan tidak lama, tapi ia mendengar kabar burung tentang Rani dari berbagai pihak.


"Kak, kira kira hubungan Santi dsn Surya itu apa? Benar benar sepupu atau apa?" tanya Vian menatap wajah Zoya.


"Katanya sepupu."


"Kalau memang mereka sepupu, berarti sepupu jauh ya. Masalahnya Surya dan Santi sepupu dari pihak ibunya. Jadi ibu Santi dan ibu Surya saudara kandung gitu?" tanya Vian ingin tahu.


"Ya mungkin begitulah."


"Kak, apa ada hubungan dengan kematian Ilham?"


"Ilham? nama ayahku!" ujar Zoya terkejut mendengar apa yang Vian katakan.


Vian mengangguk dengan cepat saat Zoya menyebut kalau itu nama ayahku. Vian hanya menarik nafas dalam dalam, dan mengalihkan pandangan matanya kearah yang lain.


"Aku menyangka ada kaitan ini sama kehamilan ibu Ranty," gumam Vian.


"Maksudmu?"


"Aku heran kenapa waktu ibu Rani hamil pak Rey mau mengugurkan janin itu, terus apa hubungan dengan Rina meminta bayi itu?" pertanyaan demi pertanyaan terlontar begitu saja dibibir Vian.


Ya biarpun Rani tidak pernah menceritakan apa yang terjadi, tapi ia mendengarkan semuanya kabar burung itu, ya sejak ia menemukan Rani mengeluh sakit dan mengalami pendarahan Vian langsung mencari tahu kejadiannya Tapi kejadian demi kejadian yang Vian lihat seperti sengaja oleh seseorang.


Tapi Vian hanya diam saja kerena tidak punya bukti yang kuat untuk menyelidiki semuanya.


"Aku ingat, kakak nggak mau menceritakan kehamilan dirinya pada kak Rina," seru Zoya spontan.


"Kak Rani takut kalau misal istrinya kak Rey tahu bisa kacau seluasnya, tapi kenyataannya?"


"Malah kak Rina ingin memiliki bayi itu!" lanjut Zoya berpikir.


Zoya masih ingat waktu ia sengaja membuka kehamilan kakaknya pada Rani, spontan Rani ingin memiliki nya. Tapi alasan Rani pada waktu itu tidak pernah terjadi, ya Rey takut kalau kehamilan Rani terdengar oleh istrinya kalau ia sendiri yang digugat cerai oleh Rina. Kenyataannya yang ada sekarang malah Rey sama sekali atau Rina tidak menggugat perceraian pada Rey.

__ADS_1


Zoya tahu kalau kakak nya pernah menangis kerena Rina ingin anak yang Rani lahirkan nanti sampai ia sendiri juga mendukung kakaknya untuk tidak memberikan bayi itu pada Rina.


Vian mengelus tangan Zoya lembut. Zoya hanya tersenyum samar sekali, ia mulai mengerti kemana arah tujuan yang sebenarnya.


"Kita selidiki Rina dulu!" terik Vian akhirnya.


"Aku nyakin Rina pasti tahu kenapa ia meminta anak ibu Rani." lanjut Vian.


"Kak Rina, oke kita selidiki dirinya dulu baru Rey." akhirnya Zoya ikut saran Vian.


"Vi, apa ada hubungan dengan kak Rey?" tanya Zoya menatap Vian.


"Ada kayanya. Tapi aku lebih ke kak Rina sih daripada ke pak Rey." tegas Vian.


"Gimana menyelidiki kak Rina kira kira?" tanya Zoya.


"Apa kita minta bantuan pak dio saja gitu, biar bagaimana pun pak Dio lebih leluasa menyelidiki kakaknya," usul Vian cerdik.


"Ya Allah kenapa aku lupa sama kak Dio," tepuk Zoya berteriak histeris.


Tapi rencana menyelidiki Santi diubah menjadi menyelidiki Rina, Rina yang diduga kuat untuk diselidiki dulu daripada Santi. Ya menurut Vian, semua berawal dari Rina yang se koyong koyong meminta bayi Rani.


Vian menduga dua kemungkinan yang terjadi, satu menyelamatkan, atau Rina benar benar ingin anak Rani hanya untuk memancing cinta Rey pada diri Rina itu sendiri.


"Ya udah kita pulang aja yuk! takut kak Rani nyariin aku," Zoya akhirnya pamit pada Vian.


Vian hanya mengangguk. Setelah Zoya pergi Vian hanya menarik nafas dalam dalam, ia harus bergerak tapi dengan siapa ia bergeraknya?


Di tempat lain. Seorang wanita dengan anggunnya melangkah dengan elegan menuju sebuah ruangan yang berukuran 4x6², ruangan itu terlihat bersih sekali dan memang ruangan itu ruangan yang ia gunakan dengan beberapa orang kepercayaannya.


"Kita seharusnya nggak gagal mengerjakan tugas kita, ini kita malah kebobolan," ketus wanita itu marah.


Meja yang ada di ruangan itu ia gebrak dengan keras sekali sampai terdengar bunyi yang khas. Beberapa orang hanya menunduk mendengar suara ketus yang keluar dari wanita itu.


Wajahnya terlihat merah padam. Apalagi melihat kondisi Rani yang sekarang sehat dan bisa menimang anak dalam pelukannya.

__ADS_1


"Seharusnya kamu yang bergerak bukan ayah bayi itu!" teriak wanita itu menatap penuh api kepada lagi lagi yang tadi mengajukan pertanyaan padanya.


"Rey sudah benar."


"Seharusnya kamu," wanita itu tidak meneruskan kata katanya.


"Nya, terus kita harus melakukan apa lagi?" tanya laki laki itu cepat.


"Aku hanya ingin Rani kehilangan bayinya, itu saja kerena aku ingin Ningsih merasakan apa yang pernah aku rasakan," geram wanita itu manatap anak buahnya dengan tajam.


"Jangan sampai.misi ini gagal, semua nya gara gara kalian! hardik wanita itu melanjutkan kata katanya.


Wanita itu langsung meninggalkan tiga anak buahnya di tempat itu. Setelah wanita itu meninggalakan ruangan itu ketiganya hanya melepaskan nafas yang berat.


"Untung nggak dibunuh juga, kali ini jangan gagal lagi. Kita habisi laki laki yang bersama dengan Rani saja." saran si baju hitam memberikan usul pada baju loreng.


"Bagaiamana?" tanya baju loreng melirik kearah baju kotak kotak.


"Oke, aku setuju saran kamu, tapi kita jangan gegabah kalau sampai Rina tahu bisa hancur rencana kita." cerocos baju kotak.


Si baju kotak masih ingat saat ia mengejar Rina tapi ia harus gagal kerena wanita itu memberikan tendangan tepat ke burungnya. Untung saja nyawa ia tidak melayang juga, sejak itu si baju kotak dendam pada Rina yang telah berani menendang burung piaraannya.


Terlihat wajah si baju kotak mendendam pada Rina yang telah tahu sepak terjang dirinya. Sekarang siasat dirinya hanya ingin memancing adiknya Rina untuk keluar dan membalaskan dendam pada Rina.


"Aku hanya ingin wanita itu hancur!" geram baju kotak dengan wajah merah padam menahan marah.


"Tenang, dendam mu bakal aku balas kan," hibur di baju loreng menepuk bahu si baju kotak.


"He, apa benar kalau ketua bakal memaksa Rey menikah dengan Rani. Aneh saja sih! seharusnya kalau memang ketua inginkan bunuh saja bayi itu bereskan?" tanya si baju hitam heran.


"Nggak usah heran sih! Itu hanya tujuan awal saja, kalau saja si Rani masuk jebakan ya sudah mampus wanita itu " tawa si baju loreng renyah.


Ketiganya langsung tertawa keras, mereka puas sekali mendengar rencana mereka untuk menghancurkan Rani dan Rina dalam satu kesempatan yang ada. Dan membuang Rey supaya tidak memiliki cinta pada kedua wanita itu!


Setelah mereka puas tertawa, mereka langsung keluar dari tempat itu. Tanpa mereka sadari seorang wanita muda mendengarkan pembicaraan mereka, sampai tangan wanita itu mengepal geram mendengarkan semuanya.*

__ADS_1


__ADS_2