
Rani tidak bisa memungkiri kalau perhatian Dio tulus untuknya. Tapi ia merasa heran hatinya belum terbuka untuk Dio, ia takut kalau Dio tersakiti oleh dirinya.
Ia tidak mau kalau Dio tersakiti kerena dirinya pernah tersakiti oleh Rey, Rani tidak mau kalau Dio jadi.pelempaisan dirinya. Rani mengusap cairan bening diwajahnya.
'Dio maafkan aku, aku nggak pantas buat dirimu. Kamu pantas mendapatkan wanita yang baik bukan seperti aku," bisik hati Rani pelan.
Malam harinya, Rani menanyakan Rey pada Dio. Ia tidak berani untuk menghubungi Rey apalagi dalam kondisi seperti ini, ya kondisi dimana Rey terluka oleh dirinya. Tadi juga sebelum Dio dan Zoya datang, Rey dengan kasarnya mendorong tubuhnya.
Kalau ingat semua kelakuan Rey, Rani ingin melumatkan tubuh Rey. Ya kalau bisa. Tapi ia sama sekali tidak bisa melakukannya, Rani hanya bisa.menatik nafas dalam dalam dan menghembuskan nafasnya.
"Udah jangan khawatir. Rey tadi tidur di kamar belakang," goda Dio.
Tapi sejujurnya Dio merasa hatinya perih sekali, kerena Rani hanya menanyakan kabar Rey saja. Tapi Dio berusaha untuk memberikan jawaban yang sesungguhnya pada Rani tentang Rey.
Rani hanya tersenyum mendengar godaan Dio padanya, ia tahu sebenarnya Dio mengatakan itu hanya menggodanya tapi Rani hanya mengangguk saja.
Sudah beruntung Dio memberitahukan keadaan Rey pada dirinya, kadang kalau laki laki suka.sama cewek tapi kalau ceweknya menanyakan laki laki lain, maka laki laki itu bakal marah dan jeules. Dio berbeda dengan laki laki kebanyakannya.
"Rey tadi ngomong kalau kamu tadi bolos ya? Kenapa?" Tanya Dio serius.
Deg!
Hati Rani hampir berhenti berdetak saat Dio mengucapakan kata kata itu untuknya, sebenarnya sejak tadi ia berusaha menutupi semuanya pada Dio, tapi malah Rey yang bicara pada Dio. Rani mengepalkan tanganya dan meninju bantal yang ada di sampingnya.
Rani meringis mendengar pertanyaan Dio seperti itu.
"Nggak apa apa kok! Ada kerjaan di rumah." Dusta Rani.
Rani menyembunyikan pada Dio, ia nyakin kalau ia jujur Dio bakal datang dan menemani dirinya, tapi itu yang ia tidak inginkan dari Dio. Seharusnya Rey yang melakukannya tapi Rey malah tidak peduli sama sekali.
"Jangan jangan kamu pulang kerena perutmu sakit ya." Tebak Dio diseberang sana.
Deg!
Dua kali jantung Rani hampir berhenti berdenyut.endengar tebakan Dio diseberang sana.
__ADS_1
"Sok tahu. Udah ya, aku ada kerjaan nih!" Dusta Rani langsung menutup sambungan hpnya.
Ia lakukan itu tidak mau kalau Dio banyak bertanya keadaan dirinya, jadi Rani langsung menutupnya tanpa menunggu Dio mengiyakan.
Dio hanya mendesah, saat sambungan hpnya terputus begitu saja, ada sesuatu yang hilang dihati Dio. Tapi ia berusaha dengan sekuat tenaga menekan perasaannya.
"Ran, sampai kapan ini. Sakit rasanya, cinta bertepuk sebelah tangan." Desah Dio
*
PLAK!
Rani menampar muka Zoya yang baru datang.
"Kak!"
"Kamu yang cerita ini semuanya? Kenapa, Zoy? Tanya Rani menatap adiknya tajam. Zoya mengusap pipinya. Ia menatap wajah kakaknya, tanpa Rani duga Zoya langsung memeluk tubuh Rani dengan erat.
"Kak, maafkan Zoya kak. Zoya lakukan ini kerena Zoya ingin melihat kakak bahagia. Zoya sering sedih lihat kakak suka nangis sendirian." Tangis Zoya meledak.
"Zoy, seharusnya kakak yang minta maaf. Maafkan aku yang telah," kata Rani melepaskan pelukan. Ia, menatap wajah Zoya dengan kelembutan.
"Kak, kakak tidak salah. Zoya lakukan ini kerena Zoya sayang kakak." Ujar Zoya memeluk tubuh kakaknya.
Akhirnya sambil duduk di teras depan Zoya cerita kalau dirinya datang ke rumahnya Rina. Dengan berbekal alamat yang Rani simpan di bawah meja laptop. Zoya memberanikan diri, bertemu dengan Rani dan menceritakan apa yang terjadi. Menurut Zoya. Awalnya Rina terkejut atas kehamilan Rani oleh Rey.
Zoya melihat wajah Rina tegang sekali tahu kalau bayi yang di kandungan Rani adalah benih Rey. Zoya pun cerita kalau Rani dan Rey pernah dekat sebelum Rey menikah dengan Rina. Hanya Rey tidak bisa mempertahankan cinta pertamanya.
Maka Rey harus menikah dengan wanita yang Rey tidak suka. Zoya masih menceritakan. Rani hanya diam mendengarkan kadang Rani melotot, mencubit tangan Zoya. Kerena Zoya menceritakannya kadang ditambah dan dikuranginya.
"Kamu tahu tidak. Rina meminta Kakak memberikan bayi kakak pada dirinya." Cerita Rani pada Zoya.
"Trus kakak gimana? Jangan kak. Biar Zoya yang mengasuhnya. Jangan dikasih sama dia. Percuma Zoya datang ke rumah dia kalau kakak ngasih bayi kakak pada dia," kata Zoya memelas.
Zoya kaget mendengar apa yang di ceritakan oleh Rani. Sebenarnya kalau mau jujur ia.lakukan itu hanya ingin Rina meninggalkan Rey dan memberikan seutuhnya Rey buat kakaknya.
__ADS_1
"Kakak nggak mau memberikan bayi kakak, Zoy. Kakak ingin mengurusnya. Biarpun tanpa ayah biologisnya " ujar Rani.
Ya, Rani tidak akan memberikan bayi yang dilahirkan untuk Rina. Ia lebih baik kehilangan Rey, tapi ia tidak mau kehilangan bayi yang akan ia lahir kan. Bagaimanapun bayi itu adalah anak dia.
"Aku setuju. Lebih baik kak Rani yang mengurus bayi itu kalau bayi telah lahir." Ujar Dio mendukung.
"Kak Dio!" Seru Zoya gembira.
Dio yang tiba tiba datang duduk disebelah Rani. Ia melirik kearah wajah Zoya yang berwarna merah.
"Pipimu kenapa, Zoy? Tanya Dio menatap wajah Zoya.
"Kakak!" Kata Zoya sambil mengusap bekas tangan Rani. Sambil matanya melirik kearah Rani.
"Ran, ada apa?" Tatap Dio kearah Rani.
"Zoya yang cerita kehamilanku pada kakakmu. Sampai kakakmu melabrak ku dan meminta bayi yang telah lahir untuk diurus sama dirinya." Kata Rani membela diri..
"Iya, Zoy?" Tanya Dio menatap wajah Zoya kembali. Zoya mengangguk.
"Habis Zoya kasihan sama kakak. Kakak, selalu menangis sendirian. Kalau ada kak Rey kan bisa bantuin kak Rani kalau ada apa apa." Kata Zoya jujur.
"Emang Zoya mau kak Rey jadi kakak ipar Zoya?" selidik Dio.
Zoya dengan polosnya mengangguk. Dio tersenyum manis.
"Zoy, dengar. Biarpun kak Rey tidak pernah mengakui bayi itu anaknya. Kak Dio mau kok menemani kak Rani." Kata Dio tersenyum.
Sambil matanya melirik pada Rani. Rani langsung memukul lengan Dio dengan lembutnya. Dio tertawa bahagia melihat Rani tersenyum mendengar godaannya.
"Kak Dio suka sama kak Rani?" Tanya Zoya polos sambil menatap mata Dio meminta kepastian.
"Iya, Zoya. Masalahnya kakakmu tuh yang memilih kak Rey." canda Dio sambil melirik Rani.
Kata kata itu sebenarnya buat Rani. Rani yang tahu kata kata itu untuknya, sekali lagi menghajar lengan Dio. Kali ini hajatan Rani keras sampai Dio meringis. Tapi Dio tidak membalasnya.*
__ADS_1