BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Rasa Itu


__ADS_3

Beberapa bulan sebelum kehamilan Rani.


Rey bersorak gembira. Ia tidak menyangka kalau ia bakal bertemu kembali dengan Rani, ia tidak menyangka kalau Rani tetap seperti dulu. Tidak berubah sama sekali di matanya. Hatinya begitu sakit saat ia ingat kejadian yang telah lampau sampai ia rela meninggalkan Rani, dalam kesedihan yang panjang.


Pernikahan dengan Rina yang tidak pernah disadari perasaan cinta sedikitpun, malah membangkitkan cinta pada Rani kembali. Apalagi Rani kini sebagai pustakawan di SMP tempat ia kerja.


Rani sebagai pengelola perpustakaan, sedangkan diri kepala perpustakaan. Cinta yang terpendam sejak lima tahun yang lalu tumbuh kembali bagaikan benih kecambah yang kering tersiram air yang sejuk.


Ia benar benar bersorak riang. Dan wangi tubuh Rani tetap sama seperti yang dulu, hanya bedanya rambutnya saja yang panjang.


Di kamar ia tersenyum saat tangannya menggenggam tangan Rani saat bersalaman, lembut banget.


"Kamu mau saja di jodohkan, ini bukan masa Siti Nurbaya," ejek Ridwan ketika Rey baru seminggu menikah dengan Rina.


Ridwan dan Rey bertemu di kantor yang sama, Ridwan mengajak Rey ke kantin kantor ia ingin tahu kabar yang ia dengar dari orang lain, kalau Rey menikah dengan wanita pilihan ibunya Santi. Awalnya Ridean tidak percaya kalau Rey menikah dengan Rina, kerena ia tahunya Rey pacaran dengan Rani sudah lama.


"Maksud kamu apa?" tanya Rey tersinggung atas ucapan Ridwan.


Ditatapnya wajah Ridwan dengan tajam, seperti mencari jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Ridwan tadi. Ridwan tidak langsung menjawab apa yang dilontarkan oleh Rey, ia langsung duduk dan mengajak Rey untuk duduk di pojok kantin.


Rey menghindar saat tangan Ridwan menyentuh lengannya. Ridwan bersikap biasa saja melihat perubahan Rey. Rey akhirnya duduk di samping Ridwan.


"Kamu mau aja di jodohkan, mengorbankan cintamu pada Rani," cipir Ridwan.


Sambil meminum jus alpukat yang dipesannya tadi. Ridwan tidak memperdulikan perasaan Rey yang semakin diaduk aduk oleh perkataan dirinya, Rey sebenarnya mengajak Ridwan hanya ingin sharing saja bukan untuk merendahkan dirinya.


Sebenarnya Ridwan sengaja memancing emosi Rey terhadap perjodohan yang dilakukan oleh Santi. Ridwan tidak mau menanyakan detilnya pernikahan sahabatnya dengan Rina, kerena bagaiamana pun ia tahu apa yang akan Rey katakan pada dirinya.


Jadi Ridwan mengatakan itu hanya ingin mancing Rey, apalagi tentang pernikahan dan sebuah cinta pada Rani.


BRAK!

__ADS_1


Tiba tiba Rey dengan kekuatan tenanga nya memeluk meja tempat ia menyimpan makanan nya, Ridwan sampai terkejut melihat Rey seperti itu..Tapi Ridwan masih menguasai dirinya, ia hanya tahu kalau Rey kena oleh sindiriannya..


"Ridwan, aku juga nggak suka ya di jodohkan. please jangan pancing emosiku," gertak Rey tidak suka.


"Tapi kamu enjoy kan dengan pernikahanmu itu?" jebak Ridwan sinis.


Ridwan pura pura marah dan emosi melihat Rey yang semakin tertekan oleh ucapan Ridwan.


"Ridwan! Aku kesini mengajak kamu bukan itu yang aku inginkan dari kamu, tapi kamu malah mempojokkan aku!" teriak Rey sambil mengebrak meja kantin.


"Santai bro! Kalau kamu marah berarti benar kan?"


"Ridwan, please!"


Ridwan hanya menepuk bahu Rey, dengan cepatnya sambil tersenyum meredakan emosi Rey, yang hampir saja memuncak kerena kata katanya.


Ridwan tahu Rey marah. Tapi ia cuek saja. Malah ia mencoba memancing emosi Rey sejauh mana Rey mencintai Rani wanita yang pernah mengisi hatinya, dan malah dengan gampang berpaling begitu saja.


Ridwan yang tahu Rey marah ia hanya tertawa ber bahak bahak melihat Rey seperti itu. Melihat Ridwan yang tertawa Rey hanya diam saja. Ia langsung meninju bahu Ridwan dengan kerasnya sampai Ridwan mengasuh kerena merasakan sakit..


"Trus aku harus bagaimana?" tanya Rey setelah Ridwan berhenti tertawa.


Rey yang tadinya akan marah melihat Ridwan tertawa akhirnya ia luluh juga.


"Sekarang kamu tanya, kamu bagaiamana? Pertanyaan yang tidak ada gunanya." sembur Ridwan.


Ridwan Hanya mengelengkan kepala saat tahu Rey teman kerjanya mengikuti keinginan ibunya. Ridwan hanya bisa menggelengkan kepala saja, Rey harus mengembik keputusan sepihak.


"Kamu seharusnya bicara dulu dengan Rani kesepakatan kamu dengan dirinya, jangan langsung gas menikah Rina tanpa cinta bagaikan makan tanpa minum,"


Rey hanya diam saja. Mendengarkan celotehan Ridwan seperti itu, ia sebenarnya menyesal atas keputusan diri sendiri. Keinginan orang tua yang menyiksa hatinya..

__ADS_1


"Udah jadilah suami yang baik," ujar Ridwan meninggalkan Rey..


cowok itu memberikan waktu luang untuk Rey berpikir, tapi kalau dipikir pikir sih percuma juga sih Rey memikirkan wanita yang bernama Rani.


Kerena bagaiamana pun Rey sudah tidak berhak memikirkan Rani, seharusnya yang ia pikirkan adalah istrinya sekarang. Bukan wanita yang lain, biarpun itu Rani, kerena menurut Ridwan Rani hanya lah wanita masa lalu Rey. Dan wanita masa depan Rey adalah Rani, yang siapa atas segala komitmen yang dihadapi berdua.


Ketika Ridwan beranjak dari kursinya, tangan Rey langsung menarik tangan Ridwan dengan cepat. Rey tidak ingin kalau Ridwan meninggalakan dirinya di tempat itu, akhirnya Ridwan duduk lagi, sambil matanya menatap wajah Rey dengan herannya.


"Aku menyesal meninggalkan Rani. Jujur aku harus bagaimana ini, apa aku harus pura pura sayang sama Rina atau bagaimana?" tanya Rey memelas.


"Jadilah suami yang baik buat Rina, itu yang aku berikan sama kamu. Jangan coba coba main api kalau kamu belum siap terbakar. Lupakan Rani. Untai lah harapan dengan Rina." nasehat Ridwan dewasa.


"Ah! Kamu aku nggak butuh nasehat seperti itu. Aku hanya ingin kalau kamu jadi aku bagaiamana? apa kamu pisah dan menikah dengan wanita yang kau cintai atau kau pertahankan biarpun kamu tersiksa." rajuk Rey menatap wajah Ridwan..


Ia tidak mengubris apa yang Ridwan katakan padanya tentang nasehat yang diberikan oleh Ridwan padanya. Sebenarnya Rey hanya ingin kalau Ridwan memebeikan saran Sutapa ia meninggalkan Rina dan mencari Rani..Tapi Ridwan malah bicara itu.


Ridwan mengambil nafas dalam dalam dan mengeluarkan kembali.


"Aku hanya ingin kamu jalani status kamu sebagai suami bukan sebagai cowok jomblo," ujar Ridwan melangkahkan kaki menuju kantor yang tidak jauh dari kantin.


"Mas, kok ngelamun," Rina mengagetkan petualang dirinya.


Rey hanya mendesah, saat melihat baju yang dipakai Rina. Baju yang memperlihatkan lekuk tubuh Rina yang mulus dan bersih sekali. Tiba tiba ada sesuatu yang bergerak dalam tubuhnya, ia langsung meninggalakan Rina.


"Mas, kemana? Ayo tidur,'' ajak Rina langsung menghampiri Rey sambil tangannya langsung menyentuh bahu Rey dengan lembut.


Jantung Rey berdebar dengan kerasnya saat mendengar ******* Rina yang penuh dengan gairah. Tapi Rey langsung menepiskan tangan Rian yang memengang bahunya.


"Rin, kamu nggak sopan ya, lihat tubuhmu. nggak pantas!" damprat Rey meninggalakan Rina.


"Mas!" teriak Rina frustasi

__ADS_1


__ADS_2