
Kerena Rani duduk di samping Dio sedangkan Vian di belakang, jadi dengan melihat spion ia bisa melihat wajah Rani.
"Kita lanjut saja, nggak apa apa kok!" kata Rani saat Vian memtuskan panggilan senja.
Vian menanyakan pada Rani tentang Maslah Surya.
"Terlanjur kita udah jauh dan satu jam lagi kita sampai masa balik lagi ke rumah, kalau misal ayah nggak ada di rumah kita menginap di rumah Senja," lanjut Rani pada Vian.
"Nggak apa apa kalau kita menginap disana?" tanya Dio yang dari tadi hanya diam saja.
"Kayanya nggak deh!" kata Rani ragu.
"Kalau misal pak Surya tiba tiba datang dan melihat kamu," Hela Dio melirik Rani.
"Aku takut kalau pak Surya tiba tiba membunuh kamu," lanjut Dio tanpa melihat wajah Rani.
Ia lebih fokus ke jalan yang kini ia lewati. Jalan propinsi yang berada di jantung kota kabupaten jalannya masih berlubang, jadi Dio berusaha untuk hati hati sekali kerena lalu tidak hati hati ban bisa tergelincir masuk lubang.
"Sejahat jahatnya harimau nggak mungkin bunuh darah dagingnya." ujar Rani berusaha menenangkan hati Dio.
"Tapi buktinya Rey yang ingin membunuh Anindya," celetuk Vian tidak suka sama slogan yang diucapkan Rani.
"Maaf aku bukan membela Rey. Aku nyakin kok kalau Rey nggak bakal melakukan pada Anindya ia punya alasan pastinya," Rani membela Rey.
Entah kenapa Rani merasa kalau Rey punya alasan yang kuat ingin membunuh anaknya sendiri, itu yang dipikirkannya selama ini.
Dio hanya diam mendengar percakapan antara Vian dan Rani hanya diam saja, baru kali ini ia mendengar protes Rani pada Vian masalah Rey.
Sedangkan Surya yang tetap saja berjalan menuju tempatnya, ia akhirnya berhenti sambil memikirkan kata kata yang diucapkan putrinya.
Ia menarik nafas panjang lalu dihembuskan kembali dengan kasarnya. Surya yang akan berangkat akhirnya duduk dulu di pinggir jalan dibawah pohon yang rindang. Tatapan matanya lurus kearah depan.
'Ningsih apa benar kau hamil saat aku meninggalakan kamu? Kalau memang kamu hamil sewaktu aku meninggalkan kamu Neta egoisnya aku, membiarkan kamu berjuang sendirian,' suara menarik nafas dan berlahan ia menghembuskan lembut sekali.
'Aku salah Ningsih, telah meninggalakan kamu. Aku masih mencintaimu tapi apa kau masih menerima aku?' lanjut Surya dalam hati.
__ADS_1
"Mas kamu tega menjadikan aku yang kedua, ceraikan aku sekarang juga!" teriak Ningsih terhiang hiang di kepala Surya.
Ya teriakan dan tangisan Ningsih masih jelas terdengar, wanita itu tertegun sesaat saat ia tidak menyangka kalau ia dijadikan istri kedua oleh Surya. Dan dihadapannya ada seorang wanita yang sedang hamil besar, wanita itu Amanda yang hanya bisa menangis melihat kenyataan kalau suaminya harus menikah lagi.
"Nggak akan aku ceraikan kamu Ningsih, dan aku bakal ceraikan kamu Amanda setelah bayi itu lahir!" suara Surya menggelegar di telinga Amanda dan Ningsih.
"Mas, kamu gila ya. Aku yang minta cerai tapi malah dia yang diceraikan, dia sedang hamil. sedangkan aku nggak hamil!" bentak Ningsih berang.
Ia tidak menyangka kalau Surya bakal mengatakan itu pada dirinya dan Amanda. Amanda yang mendengarkan hanya pasrah saja mendengarkan apa yang dikatakan oleh Surya.
Setelah mengatakan itu, Ningsih pergi begitu saja tanpa memperdulikan Surya. Laki laki itu langsung mengajar Ningsih tapi dicegah oleh Amanda, Surya langsung menepiskan tangan Amanda dengan kasarnya.
Melihat Surya seperti itu Ningsih hanya bisa mengelus dadanya. Ia akhirnya meninggalakan tempat itu, Surya yang tidak bisa menyusul ningsih langsung kembali ketempat Amanda tapi wanita hamil itu sudah pergi.
Surya hanya bisa berteriak dan menangkub kan tanganya ke wajah. Ada kekecewaan yang teramat dalam. Tanpa memperdulikan keadaannya ia akhirnya meninggalkan Amanda yang sedang menanti kelahiran anak yang dikandung. Dan ia juga tidak menyadari kalau Ningsih juga sedang hamil, semuanya terlambat.
Surya dengan desahnya langsung meninggalkan tempat itu dengan perasan tidak karuan, tiba tiba bayangan wajah wanita yang menolongnya hadir tersenyum kearahnya.
"Kita bakal ketemu lagi ya." ujar wanita yang menolongnya terhiang hiang dalam telinganya.
Ia tidak bisa melupakan wanita itu dalam ingatannya, dan anehnya saat ia memerintahkan ke anak buah nya untuk menghabiskan anak Ilham anehnya bayangan wanita yang menolongnya itu selalu hadir dalam hatinya.
*
"Apa!" teriak Rina terkejut mendengar pengakuan anak buah Santi.
Matanya terbelalak hampir keluar, mendengar apa yang keluar dari mulut Mardi anak buah Santi.
Akhirnya ia menyimpulkan semua kejadian yang terjadi pada Rani,'ya Allah apa salah Rani,' bisik Rina dalam hati.
Ia sesaat terdiam sebelum angkat bicara.
"Rin, sebenarnya kamu bisa menyelamatkan bayi Rani." kata seseorang.
"Maksudmu?"
__ADS_1
"Lebih baik kamu.pura pura hamil dan jadikan anak Rano sebagai anakmu,"
"mas Rey bagaimana?"
"Masa dia tega membunuh anaknya sendiri, dan kamu bisa lindungi bayi itu."
Awalnya Rina ragu untuk melakukannya tapi setelah mendengar penjelasan dari nya akhirnya Rina mengangguk tapi saat ia meminta bayi itu. tidak segampang dalam pikirannya, Rina tidak bisa memaksa kehendak Rani.
Tapi dalam hatinya ia hanya bisa menyesali keputusan Rani, dan kini apa yang ia dengar ke bukti dan ia tidak bisa menolongnya lagi.
'Senja,' bisik Rina pelan.
"Non, bagaiamana apa yang kami harus lakukan pada bayi itu?" tanya orang yang tadi memberitahukan tadi.
"Apa kita hanya diam saja, atau kita bergerak?" tanya nya pada Rina.
"Kalian bergerak dulu itu lebih baik, jangan sampai terluka!" perintah Rina tegas.
'Oke!'
Orang suruhan Santi langsung pergi begitu saja, Rina hanya bisa menghela nafas berat. Tapi ia ingat senja akhirnya ia menelpon Senja untuk bertemu di Ramayana. Senja yang hanya bisa mengangguk.
Sebenarnya Senja bukan tidak menanyakan kenapa Rina mengajak bertemu, tapi saat Senja menyakan alasannya Rina tidak menjawab apa apa hanya ingin bertemu saja.
Senja akhirnya mengikuti perintah Rina untuk bertemu di Ramayana.
'Kenapa nggak ke rumah saja," Dengus Senja.
Senja hanya tahu kalau Rina adalah anak dari Amanda mamanya yang sudah sekian lama tidak pernah bertemu sama sekali. Mau tidak mau akhirnya ia pergi juga meninggalkan rumah, sebenarnya ia sudah janji pada ayahnya bakal bertemu hotel di Anyer.
Tapi Senja berusaha datang menemui Rina, ia juga ingin tahu apa yang Rina katakan pada dirinya, ia sebenarnya ingin kalau Rina mengatakan tentang mamanya saja tapi tidak bisa.
"Apa sih yang kamu ingin bicarakan?" tanya Senja pada Rina yang telah sampai ditempat itu.
"Anindya jadi incaran penculikan ayahmu," spontan Rani menceritakan apa yang telah didengar dari anak buah Santi.
__ADS_1
Ia juga tidak mengatakan kalau Santi adalah mertuanya.*