BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Hati Zoya


__ADS_3

Zoya melakukan itu hanya untuk melindungi Rani. Ia tahu kalau Rani sebenarnya butuh perlindungan dari Rey tapi Rey seperti tidak pernah peduli sama sekali.


Itu yang membuat Zoya nekad memberitahukan semuanya pada Rina. Ya, kemarin ia secara diam diam memberi tahukan pada Rina kehamilan Rani.


Pikir Zoya kalau Rina dikasih tahu ia bakal bisa menerima Rani untuk memberikan Rey pada Rani. Tapi kenyataannya Rani malah dilabrak oleh Rina. 


Gadis 18 tahun hanya menarik nafas dalam dalam. Hatinya kesal, kecewa sama Rina. Apalagi Zoya tahu kalau Rina istri Rey sama sekali tidak hamil.


Menurut dirinya, buat apa coba Rey mempertahankan pernikahan dengan Rina. Itu hanya hati Zoya saja yang berontak pada Rina dan dirinya. Kalau ia jadi Rey mungkin lebih memilih Rani dibandingkan Rina. 


"Aku harus melakukan sesuatu," gumam Zoya. 


Hari itu Zoya langsung menuju rumah Rina. Tapi sebelum ke rumah itu, sebenarnya Zoya menyelidiki keberadaan rumah Rina. Setelah tahu ia langsung datang ke rumah Rina tanpa permisi sama sekali. 


"Kak, aku mohon. Kakak tinggalkan kak Rey!" Kata Zoya waktu bertemu dengan Rina yang sedang membaca buku. Wanita muda itu mantap tajam kearah gadis remaja itu! Ia heran sekali kerena tanpa hujan dan angin ada remaja yang datang tidak dikenal ujug ujugnya menyuruh dirinya meninggalkan Rey. 


"Kamu siapa? Kenapa kamu menyuruh aku meninggalkan Rey?" Tanya Rina dengan suara tinggi. Ia merasa terusik melihat kedatangan Zoya yang tiba tiba sekali. Tanpa menanyakan kepentingannya datang ke rumah. 


"Aku Zoya, adiknya Rani. Maaf sebelumnya kaku kedatangan aku kesini lancang." Kata Zoya menjelaskan kedatangan dirinya menemui Rina..


Zoya tanpa disuruh duduk langsung duduk di kursi yang hanya dihalangi oleh meja. Rina membiarkan Zoya untuk duduk, ditatap wajah gadis remaja itu. Rina shock! Tidak menyangka kalau pengakuan Zoya membuat hatinya bergidik dengan kerasnya.


Cerita Zoya tentang Rani terkuak begitu saja, Zoya bukannya tidak ingat apa yang dipesankan Rani pada dirinya. Zoya masih ingat apa yang Rani katakan pada dirinya di kamar, ketika Rani pertama tahu kalau ia hamil.


Zoya juga awalnya shock melihat kakaknya muntah muntah dipagi hari, setelah sarapan ditambah lagi Zoya melihat tespect yang tergeletak begitu saja di kamar mandi. Zoya melihat kakaknya terguncang. Tapi ia berusaha untuk menenangkan Rani, Rani waktu itu hanya bisa menangis menyesali kekeliruannya.


Akhirnya Zoya mengorek keterangan pada Rani, siapa bapak dari bayi yang dikandung Rani. Rani tidak mengakuinya tapi Zoya terus mendesak kakaknya. Rina pun menjawab kalau Rey adalah bapak biologis janinnya.


"Zoy, kakak harap kamu jangan ceritakan kan ya siapapun juga. Kakak mau bilang ini pada Rey." Kata Rani kala itu.


Zoya hanya mengepalkan tanganya saat tahu dari Rani kalau Rey tidak mau mengakui kalau kehamilannya itu adalah benih diri Rey. Malah Rey menyuruh Rani untuk mengugurkan janin yang baru bersemayam di rahim Rani.

__ADS_1


Sejak itu. Drama antara Rey dan Rani dimulai. Awalnya Zoya tidak mau ikut campur kerena ia  tidak punya hak apa apa. Tapi, melihat kenyataan yang ada di depannya. Zoya harus melakukan semuanya.


Ia melakukan demi Rani kakaknya. Zoya tidak mau melihat kakaknya menangis sendirian saat ia tidak di rumah. Ditambah lagi ia mendengar kalau kandungan Rani rawan. 


"Segampang itu kamu datang hanya untuk bilang itu? Coba kamu pikir apa pantas kalau kamu atau Rani meminta Rey balik." Sembur Rina tidak suka. 


"Kak! Kak Rey hampir menikah dengan kak Rani tapi kakak merebut Rey dari tangan kakak!" Teriak Zoya marah. 


PLAK 


Sebuah tamparan mendarat di pipi Zoya. Rina sangat geram mendengar kata kata Zoya tadi. Ia sama sekali tidak merebut Rey dari tangan Rey. Ia tidak merasa kalau dirinya melakukan hal yang salah. Ditatapnya gadis dihadapannya dengan tajam sekali.


"Coba kamu ngomong lagi seperti itu! Ku robek mulut busuk mu!" Teriak Rina meradang menatap wajah Zoya yang masih duduk di kursinya.


Rina langsung berdiri dihadapan Zoya. Ia tatap wajah remaja itu dengan tajamnya. 


"Kak!" Suara Zoya meninggi.


Remaja itu mengusap ngusap pipinya yang terasa sakit. Rina masih tetap berdiri didepan Zoya. Wajahnya merah padam menahan gejolak darahnya yang naik ke kepalanya. 


"Kenapa harus marah! Berarti kamu benar merebut Rey dari tangan kakakku!"teriak Zoya garang.


Ia tidak terima kalau Rina memukul wajahnya. Kerena Rani kakak kandungnya juga belum pernah memukul. Ia dengan ganasnya langsung mendorong tubuh Rina yang berdiri dihadapannya. Rina yang tidak menduga langsung jatuh ke atas tanah. Tubuhnya menyentuh tanah dengan kerasnya. Sampai Rina tidak bisa menahan. 


"Aduh!" Teriak Rina keras. 


Ia langsung mengusap punggungnya yang menimpa tangga yang ada dibelakangnya. Wajah Rina meringis kesakitan. Sedangkan Zoya tersenyum sangat puas sekali melihat Rina terjatuh. Tubuh Rina terasa sakit sekali. Ia berusaha untuk bangun. Zoya mendekati Rina. 


"Kamu jangan macam macam. Sekali kau menyakiti ku beberapa kali aku juga akan menyakiti kamu. Camkan! Kalau kamu tidak memikirkan ini, jangan harap kamu bahagia." cerca Zoya sadis.


Tidak lupa tanganya langsung mendorong kan kepala Rina ke sebelah kanan. Zoya beranjak dari duduknya lalu meninggalkan Rani yang kesakitan.

__ADS_1


Rina sebenarnya ingin mengejar Zoya, tapi gadis 18 tahun itu langsung pergi begitu saja tanpa berpaling lagi, ia hanya diam saja melihat kepergian Zoya.


Rani hanya mengepalkan tangannya. Tubuhnya terasa sakit, tapi didalam tubuhnya lebih sakit ya hatinya sangat terluka mendengar pengakuan dari Zoya.


Zoya melenggang begitu saja, gadis itu tidak memikirkan apa yang akan terjadi pada Rani. Kalau sampai Zoya cerita semuanya pada Rina, itu yang tidak diketahui oleh Zoya sendiri.


Ya masih untung kalau Rina masih menerima kehamilannya Rani, kalau tidak bagaimana? Sebenarnya itu yang ditakutkan Rani. 


"Kak, kenapa?" Teriak Dio heran melihat kakaknya duduk diatas tanah dan wajahnya meringis kesakitan.


"Anak tikus itu!" dengus Rina.


Dio berkerut wajahnya saat mendengar dengus kakaknya. Ia berlari menyongsong tubuh kakaknya, dan langsung membantu kakaknya untuk duduk di kursi.


Rina tanpa menunggu waktu lagi langsung cerita kedatangan Zoya di rumah. Dio terbelalak mendengarnya. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Zoya akan melakukan itu pada Rina.


Ada perasaan ciut saat Rina cerita kalau dirinya didorong Zoya sampai terjatuh. Rina juga cerita kalau ia menampar wajah Zoya, kerena ia tidak suka kalau Zoya menyuruh dirinya meninggalkan Rey.


Dio hanya diam saja mendengarkan apa yang  diceritakan oleh kakaknya. Ia menyalahkan Zoya yang telah gegabah menceritakan pada Rina, sedangkan Dio tahu kalau Rani telah wanti wanti untuk tidak cerita semuanya pada siapapun tentang keadaan Rani.


Tapi Dio nyakin Zoya melakukan itu pasti punya alasan tersendiri. Itu yang akan Dio cari tahu. Alasan Zoya menceritakan kehamilan Rani pada Rina. 


"Aku harus cari perhitungan!" Geram hati Rina. 


Ya bagaimana pun Rina tidak bisa menerima kalau suaminya menghamili wanita lain. Sedangkan pernikahan dirinya sudah berjalan selama 5 tahun tidak memiliki anak sama sekali, hatinya menangis mendengar kenyataan yang harus ia hadapi sekarang. 


Ia merasa kalau dirinya sangat tidak berguna sama sekali. Apalagi dihadapan Rey suaminya. 


Dio hanya diam. Ketika melihat kakaknya diam, Dio tidak tahu kalau hati Rina sangat berontak mendengar kelakuan Rey dengan Rani, mereka menyatakan cinta tapi dibarangi nafsu semata. 


Dio menenangkan hati Rina. Dio sebenarnya takut kalau kakaknya melakukan hal hal yang tanpa ia ketahui maupun Rey. Ia harus melindungi Rani*

__ADS_1


__ADS_2