BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Pembicaraan Membuat Iri.


__ADS_3

Rina hanya mendengarkan apa yang disampaikan teman teman wanitanya tentang cerita malam pertama yang menakjubkan, Rina hanya menelan ludah tanpa haus. pancaran matanya membuat dirinya iri pada teman temannya yang bisa merasakan indahnya malam pertama bersama suaminya masing masing. Sedangkan dirinya. Rani menarik nafas pedih.


"Apalagi aku sekarang hamil bestie!" teriak Dinda Sambil mengusap perutnya yang kempes.


Tiga temannya berteriak riang mendengar kabar itu. Rani hanya diam saja, ada benci, kecewa pada semua yang ia alami. Rani merasa panas kupingnya tanpa permisi lagi ia pergi meninggalkan teman teman arisannya..


Adinda menatap kepergian Rani, ia awalnya ingin menyusulnya tapi Santi, Sisi, dan Vira menghalangi Dinda untuk menyusul Rani.


"Udah kamu ngapain cape cape nyusul wanita itu?" ejek Santi.


"Rani teman kita kan, seharusnya.." bela Dinda tidak mengerti.


"Tahu nggak cerita yang berkembang. Rey suaminya selingkuh dengan wanita lain dan wanita itu hamil, berarti kan dia bukan wanita yang pantas untuk dijadikan istri Rey!" cemooh Santi memberi tahukan kabar terbaru tentang Rey.


DEG!


Hati Dinda hampir berhenti saat mendengar berita itu. Selam ini ia sama sekali tidak pernah mendengar tentang Rina dan Rey, apalagi perselingkuhan Rey dengan wanita lain. Hati Dinda teriris iris mendengar semuanya dari Santi, ia tidak menduga kalau Rani punya masalah seberat ini..


Wanita mana yang mau suaminya selingkuh? Tidak ada wanita manapun yang mau diselingkuhi suaminya, apalagi pernikahan mereka telah memasuki usia 5 tahun. Dinda beranjak dari duduknya ia tidak peduli sama dua temannya yang menatap kepergiannya. Dinda berusaha menyusul Rina.


"Rin," panggil Dinda saat ia melihat tubuh Rina yang terlihat diparkiran.


Rina membalikan badannya menatap Dinda yang berdiri beberapa langkah darinya. Dinda mendekati Rina dan memeluk tubuh sahabatnya.


"Ceritakan kah, apa yang terjadi pada kamu," bujuk Dinda perhatian.


"Rey," seketika juga meledak tangis Rina dihadapan Dinda.


Dinda mengajak Rani duduk di sebuah cafe yang tidak jauh dari tempat itu. Ia sengaja mengajak Rina duduk disana kerena ia nyakin kalau Rina bakal cerita banyak pada dirinya. Dinda akan siap mendengarkan apa yang bakal Rina ceritakan padanya.

__ADS_1


"Ray, kenapa?" tanya Dinda.


"Rey jahat! Rey jahat," tangis Rina.


Dinda menunggu Rina untuk menceritakan, Dinda nyakin kalau Rina cerita tentang perselingkuhan dan kehamilan wanita itu! tapi dugaannya tidak tepat. Bagian Dinda yang tidak bisa berkata kata apa apa mendengar oa yang terjadi.


"Jadi selama ini kamu tidak tersentuh?" tanya Dinda merinding.


"Aku berusaha meminta cerai, tapi ia susah mengucapkan talak," tangis Rina meledak kembali.


"Coba siapa yang salah dalam hal ini? Aku?" teriak Rani tertahan oleh Isak tangisnya yang keluar dalam dada.


Dinda hanya bisa termangu mendengarkan cerita Rini. Ia tidak menyangka kalau Rina akan mengalami kehidupan seperti itu, Dinda tidak sepenuhnya salah dalam hal ini.


"Din, aku rindu bercinta, rindu hamil, rindu melahirkan, rindu menyusui, aku sebenarnya selama 5 tahun berusaha kuat menahan ini. Tapi sekarang aku tidak bisa sama sekali, kerena semua orang menyalahkan aku?"


Mungkin buat Rina bercinta yang ia inginkan sekarang, menyerahkan kehormatan untuk laki laki yang sah Dimata Allah dan manusia tapi nyatanya Rani tidak mendapatkan semuanya, Dinda mengutuk Rey yang dengan gampang nya membiarkan Rina menderita melalui Rani.


"Aku nyakin kalau Rey melakukan ini kerena ia juga tidak mencintaiku."


"Tapi Rin biarpun Rey tidak cinta sama kamu, seharusnya dia ngasih nafkah batin dan lahir itu harus dipenuhi sama dirinya," protes Dinda geram.


"Apa aku salah kalau aku minta nafkah batin?" tanya Rina polos.


"Dua dua nya kamu wajib memintanya. Dan seharusnya Rey tahu semuanya." Dinda geram sekali.


Ia menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan kembali, seperti membuang beban di hatinya setelah mendengar dari Rina.


"Trus kenapa Rey menyalahkan kamu?" tanya Dian heran.

__ADS_1


"Entah. Tapi semua tetangga juga menyalahkan aku kalau aku yang mandul? Apa aku harus ceritakan semuanya aib keluarga ku pada mereka?"


Dinda heran sekali mendengar apa yang diucapkan oleh Rina, seharusnya Rey yang seharusnya menyadari kesalahan dirinya yang tidak menyentuh sama sekali tubuh Rani.


Oke! kalau istri sih mungkin bisa menahan gejolak dan hasrat bercinta, tapi laki laki? Dinda masih ingat ceramah ustad X antara suami maupun istri berbeda satu sam lain masalah hasrat diatas ranjang.


Kalau suami harus menyalurkan hasrat itu dua Minggu sekali, kalau misal wanita tidak sanggup melayani maka bisa fatal akibatnya, bisa bisa sang suami berpaling ke wanita lain.


Sedangkan istri, mampu dan menekan hasrat di ranjang. Tapi istri tidak bisa menhan hasrat ekonomi, Dinda menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan kembali.


Mendengar cerita Rina Dinda hanya bisa menggelengkan kepala saja, malah Rey menolak melakukan kewajiban di atas ranjang. Dan malah Rina yang punya hasrat di ranjang, ia tidak bisa mengerti pada pikiran Rey.


Mungkin kalau dirinya jadi Rina, ia tidak akan sanggup sama sekali menghadapi semuanya. Ya menurutnya Rani mau hamil bagaimana kalau tidak bercinta dengan Rey dan malah Rey bercinta dengan Rani.


Trus kalau Rey masih mencintai Rani kenapa ia harus menikah dengan Rina.


"Kamu sabar ya, jangan ceritakan semuanya pada orang lain. Belum tentu orang lain bersimpati pada kamu," nasehat Dinda menggenggam tangan Rina.


Dinda hanya bisa bicara itu pada Rina, ia sama sekali tidak banyak bertanya masalah keluarga sahabatnya. Rina sekarang butuh sahabat untuk menemani dirinya.


"Trus aku harus bagaimana?" Rina bigung.


Wanita itu menatap wajah Dinda dengan tajam, inginendengarkan solusi yang diberikan Dinda pada dirinya, supaya dirinya tidak menceritakan kegundahan hatinya ke orang yang salah.


"Kamu dekatkan pada Allah, biar Allah saja yang membalas perbuatan Rey."


Akhirnya Dinda memberikan jalan pada Rina supaya selalu berjalan di jalan Allah tanpa harus mengindahkan semuanya. Rina mengangguk. Ia tidak menyangka kalau Dinda bakal memberikan nasehat pada dirinya, awalnya ia.mwnyangka kalau Dinda seperti orang orang yang nyinyir tapi nyatanya tidak sama sekali.


"Aku nggak nyangka kalau kamu bakal berkata seperti itu," haru Rina langsung memeluk tubuh Dinda dengan erat ya.

__ADS_1


__ADS_2