BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Penculikan


__ADS_3

Rani kecewa sangat kecewa. Orang yang ditemui tidak ada di rumahnya begitu juga dengan Senja, ia tidak tahu Surya dan Senja pergi kemana. Dio hanya bisa merangkul bahu Rani dengan erat. Vian berusaha menghubungi Senja tapi hpnya tidak dibawa, Vian juga mwnghubungi Surya tapi pending. 


"Kita udah berusaha menemui dan bakal cerita semuanya tapi orang yang kita temui nggak ada, berarti kita nggak salah," hibur Dio memberikan semangat pada Rani. 


"Tapi bagaimana kalau ayah benar benar balas dendam pada Anindya? Anindya tidak salah, aku juga nggak salah, bapak juga," getir Rani. 


Ia membanyangkan kemungkina yang bakal terjadi kalau misalkan Surya tidak tahu masalah Anindya. Surya hanya menyangka kalau Anindya adalah cucu Ilham, hati Rani tidak bisa tenang kalau ia belum bertemu dengan Surya. 


Rani bukan untuk minta apa apa pada Surya hanya ingin laki laki itu tahu kalau ia dan Anindya bagian dari darahnya. Tiba tiba ingatannya pada Anindya, nasibnya kini seperti bayi berumur 5 bukan. 


Ya Rani merasakan posisinya sama dengan Anindya, ia anak yang tudks diharapakan oleh ayahnya. 


Dengan cepat ia mengusut cairan bening yang mengalir begitu saja di pipinya, dengan tangan kanannya. 


Dio yang melihat Rani mengeluarkan cairan bening di matanya hanya mengelus bahu Rani lembut, seperti memberikan motivasi pada Rani. 


"Ayah hpnya pending, hp kak senja juga nggak diangkat. Sepertinya kak senja tidak bawa hp keluar," kata Vian pasrah. 


"Ya udah, kita nggak bisa apa apa, kita juga tidak tahu kapan mereka.pulang juga," Hela Rani. 


Akhirnya ketiga orang pulang kembali ke sebuah perkampungan yang jauh dari kota kabupaten. Hati Rani bergemuruh sangat kuat sekali, sedangkan Vian menatap kosong. 


Orang yang dicari oleh Rani, sebenarnya sedang berada di sebuah pondok bersama anaknya Aulia. 


Setelah menemui Rina di Ramayana, ia sebenarnya pulang lagi ke rumah tapi kerena Surya memerintah Senja untuk menemui nya, akhirnya Senja langsung menuju pondok yang telah ditentukan oleh ayahnya, awalnya Senja malas untuk menemui Surya tapi beberapa kali Surya menelponnya. 


Sampai hp nya juga ketinggalan di kamar, ia terburu buru menemui Surya. Tapi setelah bertemu malah Surya kekeh untuk menemui anak Ilham. 


"Ayah cuma tahunya anak Ilham saja, tanpa menyelidik lebih lanjut" ketus Senja. 


"Maksudmu apa?"


"Ayah selidiki dulu kebenaran yang aku sampaikan jangan sampai ayah menyesal dikemudian hari,"tegas Senja..


Surya hanya membuang muka, mendengarkan Senja bicara seperti itu. 


Senja hanya bisa menghela nafas panjang melihat ayahnya Seperti membuang muka pada dirinya. 


Senja akhirnya terdiam, saat matanya melihat Aulia, tanpa ia sadari bibirnya tersenyum melihat Aulia sedang berlatih kecil diantara rerumputan hijau, Surya yang bersamanya hanya menatap sendu ke arah Senja yang hanya diam saja tidak berespon dirinya. 

__ADS_1


"Aku nggak nyangka kalau ayah bakal lakukan itu pada bayi Rani, bayi itu cucu ayah," getir Senja. 


Beberapa kali Senja menjelaskan berapa kali pun Surya tidak pernah mengubris dirinya. 


"Ayah jangan menyesal apa yang bakal terjadi pada Rani dan anaknya," camkan Senja mentap putrinya yang sedang bermain di depan pondok. 


*


Rani akhirnya menyempingkan masalah pribadinya, daripada masalah tugas dirinya sebagai pustakawan di sebuah SMP yang berada di kecamatan. 


Hari yang telah disepakati oleh semua orang, di SMP tempatnya ia berkerja mengadakan kegiatan Pelantikan Pramuka Penggalang Rakit. 


Awalnya Rani tidak akan ikut kegiatan Pelantikan Pramuka, tapi ia malah dijadikan sebagai orang yang terpenting dari kegiatan itu. Mau tidak mau Rani akhirnya ikut biarpun hatinya masih belum bisa melepaskan Anindya bersama Zoya dan ibunya. 


"Kamu tega meninggalkan Anindya?" Tanya Ningsih menatap wajah Rani. 


"Bukan tega Bu, tapi ini pekerjaan yang tidak bisa di lepaskan begitu saja," kata Rani meringis mendengar Ningsih angkat biasa. 


"Ya udah kamu hati hati saja, jangan lupa sering sering telpon ke rumah." 


IaRani mengangguk dengan cepat. Ia berangkat pagi hari dan meninggalakan Anindya dengan ibunya, kerena Zoya harus sekolah dan pulang sore..


"Sama ibu, aku nggak tega bawa Nindy, apalagi cuaca tidak mudah diprediksi."


"Ya udah." 


Kegiatan demi kegiatan yang dilaksanakan di sekolah lancar dan tidak kurang apapun juga, tapi pas badza asyar tiba tiba perasan Rani tidak enak. 


Ia berusaha menghubungi Ningsih tapi Ningsih tidak mengangkat hpnya berbunyi juga. Wajah Rani pucat sekali, kerena beberapa kali ia menelpon Ningsih tidak menjawabnya. 


Dio yang melihat Rani yang mondar mandir tidak karuan langsung menghampiri Rani yang berada di halaman sekolah. 


"Ran, kenapa? Apa yang terjadi?" Tanya Dio menatap wajah Rani. 


"Ibu nggak bisa dihubungi gimana yah!" 


Dio pun akhirnya berusaha menelpon Ningsih, apa yang dikatakan oleh Rani memang benar kalau Ningsih tidak mengajar hpnya, sedangkan hpnya berbunyi terus menerus. 


Zoya Oun dihubungi oleh Dio, ingin tahu apa yang terjadi. Nihil. Keduanya tidak mengangkat sama sekali, itu membuat Dio dan Rani kelimpungan. 

__ADS_1


Ditambah lagi gerbang sekolah dikunci kerena banyak siswa dan siswi yang keluar dari sekolah. 


Itu membuat hati Rani ketat ketir, ia juga telah minta izin ke penjaga sekolah. Tapi kata penjaga sekolah kalau koncinya berada di kunci motor, dan motornya di bawa oleh salah seorang guru ke pasar membeli kebutuhan dikala malam hari. 


Akhirnya Rani berusaha menekan perasaan dirinya terhadap Anindya, baru kali ini ia merasa tidak enak pikiran. 


Apa yang ditakutkan Rani terbukti badza magrib ada telpon dari seseorang, awalnya Rani malas untuk mengangkatnya tapi Dio meminta Rani untuk mengankatnya. 


"Kalau anakmu ingin selamat, sekarang kamu datang ke tempat xxx" suara berat terdengar ditelinga Rani. 


"Maksud kamu apa, anakku dimana anakku!" Teriak Rani luluh. 


Tubuhnya lemas seketika dan bergematar sangat kuatnya. Dio yang melihat langsung merangkul tubuh Rani dengan lembutnya. 


Sambungan hp terputus. Rani berteriak, dan menangis. 


"Nindy hilang," Isak Rani hampa. 


Dio gamang, shock, ditatap mata Rani dengan tajamnya. 


"Siapa yang menculiknya? Jangan jangan?" 


"Nggak tahu, trus aku bagaiamana?" Rani langsung manangkupkan tangannya ke wajah. 


"Ya udah kita kesana. Anindya lebih mengharapakan kedatanganmu. Dia ngasih tahu tempatnya?" Tanya Dio. 


Rani mengangguk. Kerena pintu gerbang masih di kunci, terpaksa Dio mengambil jalan pintas. Ia pinjam motor masyarakat di sekitar sekolah. 


Rani yang panik hanya bisa menangis, Riri yang mendengar dari Dio. Riri akhirnya menghendel apanyang di pegang oleh Rani. 


"Dio cepat sedikit, aku takut kalau Anindya kenapa kenapa Dio." Suara Rani terdengar rusuh sekali. 


Ia merasa motor yang membawa dirinya tidak berlari dengan cepat. Dio berusaha menenangkan dirinya kerena Rani terlihat gelisah dan rusuh sekali. 


Ketika sampai tempat yang dituju, Rani terkejut mendengar tangisan Anindya yang keras sekali, serta tawa yang renyah menyertai tangisan Anindya. 


"Ibu," teriak Rani shock melihat ibu nya terikat dengan kuat di kursi. Zoya pingsan dan darah mengalir di sudut bibirnya. 


Rani memburu Anindya yang tidak jauh dari Ningsih, tapi sebelum itu terjadi seseorang menubruknya. Rani berontak dan melihat siapa orang yang menubruknya.*

__ADS_1


__ADS_2