BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Rina mengamuk


__ADS_3

"Bu!" teriak Rina shock sekali.


"Rin, ikhlaskan saja Rani menjadi yang kedua dalam hidupmu, toh itu anaknya juga,kan?" tanya Santi tanpa beban.


Rina otomatis tidak setuju apa yang dilontarkan oleh mertuanya. Biarpun memang itu anak Rey, darah daging Rey tapi kan tidak begitu. Tidak gampang punya seorang madu.


Apalagi kehamilan Rani sebenarnya tidak pernah diduga sam sekali oleh Rani maupun Rey, kehamilan yang tidak direncanakan sebelumnya oleh keduanya. Sedangkan dirinya sendiri yang menikah dan menanti anak tidak pernah di sentuh sama sekali, trus disini siapa yang salah?


"Aku nggak ikhlas Bu! Bu, Rey yang salah, kenap dia tidak menyentuh aku. Kalau saja Rey mau menyentuh aku sekali saja, mungkin aku akan hamil dan mengandung anak Rey tapi kenyataannya?" teriak Rina frustasi.


"Kecuali kalau aku memang tidak pernah sama sekali tidak tersentuh sama Rey baru ibu menyuruh Rey menikahi Rani. Aku tidak salah dalam hal ini," keukeuh Rina pada Santi sambil memegang tangan mertuanya dengan erat sekali.


"Nggak mungkin kan Rey melakukan itu? Rey kau laki normal nggak mungkin Rey membiarkan dirimu," kata Santi tidak percaya.


Wanita itu melepaskan tangan Rina yang menganggam tangannya. Ia tidak menyangka kalau Santi bakal mengatakan poligami pada dirinya, ia harus membiarkan Rey menikah dengan Rani sampai kapanpun juga ia tidak ingin sama sekali di madu.


Kata kata mertuanya bagaikan halilintar yang menerjang tubuhnya di siang bolong yang terik. Mungkin kalau tubuhnya kena halilintar bisa jadi ia meninggal di tempat tapi ini?


Rina meraung. Santi yang saat itu bicara pada Rina seperti tidak memperdulikan perasaan Rina yang hancur bagaikan kaca yang dihantam oleh batu batuan. Santi hanya memikirkan keadaan bayi dalam kandungan Rani saja, kerena Santi tidak ingin kalau Rani kenapa kenapa apalagi ia tahu Rani sebenarnya butuh dukungan dari Rey sebagai ayahnya janin yang dikandung Rani.


"Bu, please jangan salahkan aku, bujuk Rey buat menyentuh aku,"


Dengan terbata bata Rani meminta bantuan mertuanya supaya Rey dan dirinya untuk tidur bersama.


"Nyatanya kamu sudah 5 tahun menikah nggak hamil hamil, sedangkan Rani!" tohok Santi pada Rina


Santi seperti lupa apa yang diceritakan menantunya kemarin, masalah rumah tangga dirinya dengan Rey sampai wanita itu menyuruh Rina untuk berbagi suami dengan dirinya.

__ADS_1


"Bu, ibu nggak ngerti ya sebenarnya yang patut disalahkan itu Rey bukan aku?" tandas Rina tidak suka


Ia sama sekali tidak menyangka kedatangan Santi kesini hanya membela Rani yang notabennya salah, salah menurut agama juga. Telah merebut suami orang, selingkuh dan malah ingin jadi istri kedua Rey.


"Jangan jangan Rani yang meminta ibu bicara ini padaku ya kan Bu?" tuduh Rina.


"Nggak Rani tidak meminta pada ibu, ibu sendiri yang meminta dirinya untuk dijadikan madunya kamu," jelas Santi.


"Bohong! Aku nggak percaya sama sekali, kalau ibu bicara kalau seperti itu pada Rani. Pasti dia yang bicara pada ibu, kerena bayi itu," desak Rina tidak suka.


Rina drop seketika juga. Apalagi ibu dan Dio sedang kondangan ke desa lain, sedangkan dirinya dan Santi di rumah bersama. Santi malah masuk kamarnya, ketika itu ia sedang ada di kamar menyelesaikan membaca buku karya Hanum Anindya dengan judul Memetik Ketulusan Cinta.


Santi tiba tiba mengetuk pintu dan setelah diizinkan masuk Santi masuk dan duduk di pinggir ranjang. Rina yang sedang bertelengkub langsung duduk, dan mengambil bantal untuk disimpan dipangkuan ya.


Rina sama sekali tidak.menduga. Mimpi juga tidak pernah, malah Santi datang dan memberikan kabar Rani harus jadi madunya. Dunia seakan akan runtuh seketika juga, ia tidak menyangka apa yang dipikirkan oleh Santi.


Tapi tiba tiba ingatannya muncul kembali, saat ia mengatakan sesuatu tapi entah pada siapa, disaat ia pertama kali mendengar Rani hamil.


Ya Rina masih ingat kat kata itu, ia mengucapkan ya sambil menangis kencang, ada perasan kecewa saat itu, apalagi kehamilan yang ia nanti tidak kunjung tiba.


Santi hanya mendesah ya sebenarnya disisi lain Rina tidak salah, kesalahan yang ada adalah pada Rey yang tidak pernah menjamah tubuhnya. Itu saja. Dan kenapa harus ia yang harus disalahkan oleh semua orang tanpa tahu yang sebenarnya?


"Bu, perlu ibu tahu. Rey tidak menginginkan bayi itu, ia berusaha membujuk Rani untuk mengugurkan kandungan," ujar Rina akhirnya.


Deg!


Hati Santi berdetak keras. Mendengar kata kata, Rina. Kata katanya hampir sama dengan apa yang diucapkan oleh Rani kemarin.

__ADS_1


Tanpa bicara lagi Santi langsung beranjak dari duduknya, ia langsung meninggalkan menantunya dikamar, Rani yang melihat itu semuanya hanya gamang. Ia takut apa yang dikatakan mertuanya benar benar terjadi pada dirinya sendiri.


Aaaahhhhh!" teriak Rina frustasi.


Santi yang sudah ada di luar kamar Rina mendengar teriakan menantunya. Ia bukanya masuk kembali malah meninggalakan begitu saja Rina dalam keadaan yang tidak stabil sama sekali.


Rina yang emosinya membludak. Lanhsung melempar novel yang ia baca ke arah pintu kamarnya. Masih terhiang hiang kata kata mertuanya tentang poligami Rey, dan ia harus mengizinkan poligami itu.


Rina yang pikiran kemana mana langsung mengacak alat perhiasan yang ada di kamarnya. Kaca rias ia pecahkan dengan tangan sampai tangan yang memukulnya sobek dan berdarah dengan deras.


"Rina! Kamu kenapa?" teriak Amanda masuk ke kamar Rina.


Wanita itu langsung shock melihat kamar putrinya yang tidak karuan sama sekali, dan yang lebih terkejutnya lagi ia melihat darah yang mengalir dengan deras di tangan Rina..


Ia langsung meraih tangan Rina dan menarik Rina keluar untuk menuju ruangan tamu. Rina awalnya menolak tapi Amanda tidak mengubris tarikan tangan Rina.


Amanda langsung mendudukkan Rina ke kursi dan ia mengambil alat P3K yang tersimpan dekat ruangan keluarga. Memang keluarganya sering mengadakan alat P3K untuk pengobatan ringan sebelum dibawa ke rumah sakit.


"Ada apa dengan kamu?" tanya Amanda setelah membersihkan luka di tangan Rina.


Luka itu dikasih Betadine serta diberi perban supaya tidak terjadi infeksi yang serius, Rani hampir saja menjerit saat luka dibersihan oleh cairan warna bening, saat cairan itu menyentuh lukanya. Ia merasakan sensasi yang perih sekali, ia hanya meringis kesakitan, ia beberapa kali secara reflek menarik tangannya untuk tidak dibersihkan. Tapi ngenggaman tangan Amanda sangat kuat sekali menggenggam.


"Ibu, ma," jawab Rina pelan.


"Ibu kenapa?" tatap wajah Amanda menatap bola mata Rina ingin tahu.


"Ma, bayangkan coba. Masa Rani harus jadi madu aku," cerita Rian pada ibunya.

__ADS_1


Awalnya Amanda ingin menyakan lebih lanjut lagi, tapi keburu Rina menceritakan kejadiannya. Kejadian tentang pembicaraan dirinya dengan Santi kalau Santi ingin Rani menjadi madu dirinya.


Mendengar Rina mengadukan kelakuan Santi pada dirinya, Amanda geram sekali. seenaknya saja itu mertuanya Rina menyuruh Rey menikah lagi, Amanda hanya mengepalkan tangannya saja, ketika ia bangkit Rina menghalanginya*


__ADS_2