
Dio hanya menghembuskan nafas yang menghimpit jantungnya mengingat semua yang lakukan Rey.
Biar pun Rani dsn Rina sekarang baikan tapi entah hati kedua wanita itu, dan sejak kejadian itu hubungan mereka seperti tengang begitu saja. Dio tidak tahu apa yang terjadi setalah percakapan itu, ia juga tidak mencari tahu lagi, Rani juga tidak pernah cerita tentang Rey maupun Ina padanya.
Dio menyangka kalau Ranintudsk cerita tentang Rina kerena Rina kemungkian besar kakaknya, jadi Rani tidak bisa menceritakan tentang Rina atau tidak bisa menjelaskan Rina dihadapan nya.
Dio menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan kembali, ia merasa semua asing.
Dio masih mencoba mengingat percakapan waktu itu. Percakapan yang mengungkapkan hati dan perasaan keduanya wanita yang mencintai satu laki laki, dan dirinya bagaikan kambing hitam yang harus mendengarkan kata kata yang mengiris hatinya.
"Picik! Rey, banyak ribuan wanita yang merindukan kehamilan seperti ini. Masa aku harus menghilangkannya, aku nggak akan mengugurkan." Kata Rani sengit.
Luapan marah Rani masih terbayang saat itu. Rani seperti nya tidak suka pada Rey, Dio hanya diam begitu juga dengan Rina. Kedua adik dan kakak hanya mendengarkan apa yang diucapkan oleh Rani.
"Tapi kamu hamil diluar nikah!" Teriak Rey emosi.
Rey dengan gampangnya meluapkan emosi didepan mereka bertiga. Dio tidak berusaha menenangkan kakak iparnya, ia hanya ingin melihat seberapa jauhnya Rey tidak mengakui anak dalam kandungan Rani.
Dio hanya melirik kakaknya yang diam tidak ada gairah, kalau saja ia tidak menyentuh tangan Rina mungkin wanita itu meninggalkan tempat itu, sambil membawa luka dihatinya.
Rina yang merasa Dio mengusap tanganya dengan lembut hanya tersenyum tipis, ada luka di senyuman itu Dio rasakan. Tapi Rina seperti menutupi hatinya dengan baluran senyuman yang menghiasi wajahnya.
"Hamil luar nikah maupun hamil di dalam pernikahan sama saja Rey. Mungkin hanya satu perbedaannya, kalau hamil diluar nikah tidak punya nasab, sedangkan hamil di dalam pernikahan punya nasab." Seru Rani dengan cepat.
Apa yang dikatakan Rani, oleh Dio dibenarkan. Ya dari pada anak digugurkan lebih baik diurus dan didik untuk menjadi manusia berguna. Dio salut pada pemikiran Rani waktu itu, biarkan ia berada diposisi korban dari Rey tapi Rani masih berpikir positif.
"Ran, hamil tanpa suami bakal menjadi ancaman terhadapmu!" Suara Rey terdengar kembali.
"Kalau kamu ada ancaman buatku dimasa datang dengan kehamilanku, kenapa kau lakukan itu padaku!" Teriak Rani marah.
Rey tidak menduga sama sekali kalau wanita yang dihadapannya bisa membalikan kata katanya. Memang apa yang dikatakan wanita itu benar, kalau memang ia tidak ingin dinganggu dimasa depan seharusnya ia tidak menganggu Rani di masalalu.
Rey hanya bisa terdiam oleh kata kata yang keluar dari mulut Rani. Apa yang dibicarakan Rani waktu itu ada benarnya juga.
__ADS_1
Rey bukannya menjawab kata-kata Rani, ia langsung duduk di samping Rina, sedangkan Rani masih berdiri menatap wajah Rey yang diam saja. Ada guratan kekesalan di wajah Rani pada Rey itu terlihat dengan jelas sekali.
Dio yang tadi terdiam.lanhsung berdiri dan mengajak Rani untuk pergi, untung Rani mau pergi menjauhi Rey. Sedangkan Rey dan Rinaasih duduk sambil matanya memandang kepergian Rani.
Dio tidak tahu apa yang dibicarakan oleh keduanya lagi, kerena ia dan Rani langsung pulang ke rumah. Setelah mengantarkan Rani pulang, Dio juga pulang ke rumahnya.
Sedangkan Rey dan Rina pulang pas badza magrib, Dio melihat keduanya pulang bersama. Tapi ia tidak menanyakan kepergian mereka setelah di tempat itu. Dan mereka juga tidak pernah cerita apa apa lagi, apa yang terjadi setelah mereka pergi.
Oe oe oe
Lamunan Dio buyar seketika saat telingganya menangkap suara tangisan Anindya. Dio lanhsung menghampiri Anindya yang menangisi, sedangkan Rani pulas tertidur dengan nyamannya tidak mendengar kalau Anindya menangis.
Dio langsung memangku Anindya, supaya bayi itu diam. Tapi Anindya sepertinya tidak, bayi mungil itu kejer menangis. Terpaksa Dio membangunkan Rani yang terlelap tidur.
"Dari tadi dia nangis, mungkin ingin minum asi mu Ran," kata Dio ketika Rani bangun.
Dengan malasnya Rani langsung bangun dan memberikan asi pada Anindya. Dio lanjsungnmwlangjah kelaur saat Rani memberikan asi pada Anindya.
Dio duduk di teras mesjid yang berada di Ciceri, tidak lama kemudian Rani menghampiri Dio yang duduk di sana.
Dio menghela nafas panjang." Aku hanya ingat kejadian kamu sama Rey di TBM itu," jujur Dio.
Mendengar jawaban Dio Rani hanya mendesah,"Sejauh itu kamu mikirin kejadian itu Dio,"
"Iya Ran, sejak kejadian itu kak Rina agak berubah denganmu, aneh!"
"Udah jangan diingat lagi," hindar Rani.
"Kenapa?"
"Kamu hanya ingin mengingat itu," ketus Rani tidak suka.
"Bukan mengingat sih, sebagai bahan introfeksi saja," bela Dio.
__ADS_1
"Sebenarnya kami ingin apa sih mwnggat itu semuanya, aku malah udah lupa."
"Masa sih!
"Trus bagaiamana dengan perjalanan yang kita lakukan ini," alih Rani.
"Ya kita dari sini lanjut ke komplek Ciruas Permai, alamat itu yang mama tahu juga,"
Rani mengangguk. Perjalanan di rumah ke kota propinsi memakan waktu 3 jam, itu dengan kecepatan sedang.
"Lebih baik kita lanjut sekarang saja Dio, aku nggak sabar lagi."
"Kasihan Anindya kalau kita lanhsung.pergi begitu saja, kalau kita sih nggak apa apa tapi Anindya,"
"Ya udah gimana kamu saja," Dengus Rani lanhsung meninggalkan Dio.
Rani langsung masuk ke dalam mejid lagi, dan merebahkan tubuhnya di samping Anindya yang tertidur lelap setelah minum ASI nya. Sedangkan Amanda dari tadi tidur setelah sholat Dzuhur tanpa terusik sama sekali.
Bukannya tidur, Rani hanya termenung sambil rebahan. Tatapan matanya menatap wajah bayinya yang begitu imut dan lucu sekali.
"Anak haram tetap anak haram," terhiang hiang suara Rey mengingat kehamilan dirinya.
"Kamu.ngak bakal bisa.mwnguris bayi itu setelah lahiran, repot tahu ngurus bayi tanpa suami."lanjut Rey mengajak.
Rani awalnya ingin diam saja mendengar apa yang Rey katakan tapi lama lama ia tidak tahan lagi oleh ocehan Rey yang menusuk hatinya.
"Rey yangbharam itu bukan janin yang aku kandung tapi yangbharam itu kamu dan aku!" Sembur Rani mengebrak meja yang ada dihadapannya.
"Kamu tahu aku bakal nggak mampu mengurus bayi ini, kenapa kamu lakukan itu padaku? Kenapa?" Tanya Rani melanjutkan kata katanya sambil penuh dengan emosi.
"Kamu yang merusak aku, tapi kamu yang marah menyalahkan aku, seharusnya aku yang menyalahkan kamu!" Berondong Rani geram.
PLAK
__ADS_1
Sebuah tamparan sukses mendarat di pipinya Rey yang mulus itu, Rey lanjsungnterkejut saat pipinya terkena tamparan yang keras sekali..
Rani lanhsung meninggalkan perpustakaan, sambil tangannya mengelus perutnya yang semakin besar kerena ia mengandung anak Rey yang tidak pernah peduli pada anaknya.*