
"Rey jadi kamu!" Teriak Rani terkejut melihat Rey yang menubruk tubuhnya. Ia langsung menyangka kalau Rey melakukan semuanya pada dirinya dan Anindya.
Dio terhenyak melihat Rey berada disana, ia hampir saja melakuakan hal yang tidak diinginkan, kalau saja tidak ada orang yang datang di bagian depan.
Enam orang laki laki, baju putih, hitam, navy, merah, putih garis dan kotak kotak.
Pok pok pok
Sebelum Rey menjawab pertanyaan dari Rani, tepuk tangan langsung erdengsr dari balik pintu ruangan lain, seorang laki laki berdiri dengan wajah berseri seri.
Seperti telah menangkap mangsa yang telah ia cari sebelumnya, dan dibelakang laki laki itu beberapa anak buahnya berdiri dengan wajah yang menyeramkan.
Rey dan Rani langsung mengalihkan wajahnya kearah beberapa laki laki yang ada di hadapannya.
Rey yang awalnya berada di belakang Rani langsung menyingkirkan Rani untuk berada di belakangnya. Rani yang melihat itu hanya diam saja, hanya hatinya bergetar saat melihat Rey melakukan itu pada dirinya.
"Kalian sebenarnya mau apa?" Tanya Rey penuh keberanian.
"Jangan sentuh sentuh kulit bayi itu, kalau sampai kalian menyentuh bayi itu kalian harus berurusan denganku!" Terima Rey.
Dihadapannya Anindya menangis sangat keras sekali, membuat hati Rani ketar ketir melihat anaknya yang melengking. Ia berusaha menorobos keenam laki laki itu ta oa rey sadari, tapi tubuh Rani terpelanting kerena lanjsungndi dorong oleh laki laki yang ada di depannya.
Sampai tubuh Rani terantuk ujung meja, Rani meringis dan memegang pinggangnya. Sedangkan Rey hanya melirik Rani, pandangan Rey hanya berfokus pada bayi uang menangis.
Tawa keenam orang itu nyaring sekali, membuat Rani emosi ia tidak menghiraukan.rada sakit yang ada di tubuhnya apalagi saat telinga menangkap tangisan Anindya.
Dio yang berada ditempat itu langsung menerjang salah satu dari keenam orang itu, melihat situasi seperti itu Rey juga mengunakan tangan untuk memukul salah satu dari lima orang.
Rey berhasil mendorong tubuh laki laki baju navy dengan kuat sekali, iaa menyepak laki laki itu, laki laki itu yang tidak menduga Rey bakal mengejarnya kewalahan sekali.
Melihat temannya yang kewalahan, salah satu temannya yang berbaju putih menyerang Rey, tapi Rey bisa melayani. Saat ekor matanya melihat satu bayangan, tiba tiba Rey dengan secepat kilat langsung mengajungkan kaki kanannya ke arah baju putih.
Dengan sekali tendang si baju putih terpental jauh. Dengan cekatan Rey langsung melepaskan anindya, melihat Rey mendapatkan Anindya Rani.lanhsung menyongsong Anindya di pelukan Rey. Tapi tiba tiba Rani merasakan pukulan di tekuk dirinya.
__ADS_1
Dio yang melihat itu langsung menubruk tubuh Rani supaya tidak jatuh. Dio juga langsung mengambil kayu yang tidak jauh darinya, ia menghantamkan kayu itu lelaki kaki baju navy yang akan mencelakakan Rey.
Berhasil. Dio berhasil memukul laki laki itu dengan keras sampai laki laki itu jatuh pingsan.
Rey yang berhasil menyelamatkan Anindya langsung berlari kabur, hanya untuk menyelamatkan Anindya. Kelima lak laki itu langsung menyusul Rey dan bayi itu! Tapi nihil Rey kabur mangunakan Avanza-nya menuju arah selatan.
Kelima nya.sangat.maarah dan emosi rencananya gagal untuk memberikan bayi kepada ketuanya. Mereka membanyangkan kemarahan ketuanya kalau sampai bayi yang ada ditangannya samoi lepas gara gara Rey.
Sedangkan Dio yang melihat Rey membawa anindya hampir saja mengejar Rey tapi niatnya ia urungkan kerena melihat Rani yang tidak sadarkan diri.
"Semuanya gara gara kalian!" Teriak baju navy beringas.
Ia dengan teganya langsung menarik baju dio dengan kasar sampai Dio terangkat lalu dengan satu hentakan yang besar laki laki baju navy langsung melemparkan tubuh Dio sampai menyentuh dinding dan tubuh itu terjelambab jatuh ke lantai.
Dio yang tidak menduga sangat kaget dan terkejut sekali, apalagi melihat tatapan mat laki laki navy itu membara penuh dengan emosi.
"Gara gara kamu, seharusnya kalian introfeksi diri. Buat apa kalian menculik Anindya! Butuh uang kah kalian!" Ketus Dio mengejek.
PLAK
Kita tinggalkan dulu Dio yang harus menyelamatkan Rani dan yang lainnya. Kita lihat apa yang terjadi saat Rey membawa bayi 6 bukan dioangkuannya.
Rey membawa bayi Rani ke rumah yang ia tempati bersama Santi dan Rina. Ia langsung masuk rumah, di rumah itu sepi sekali kerena Rina dan Santi entah kemana keberadaannya.
Rey menatap wajah bayi itu, Anindya wmlah tertidur dioangkuannya. Tiba tiba hatinya berdesir melihat an iamdya dengan nyamannya tidur dioangkuannya.
"Rey dengar ya janin yang aku kandung nggak pernah berdosa apa pun juga, dia bukan anak haram. Hanya orang tuanya yang haram yang telah melakukan perbuatan yang keji!" Teriak Rani terhiang hiang di telinganya.
Rey masih ingat teriakan dan kata kata Rani pada dirinya. Dan sekarang bayi itu ada ditangannya, ia merasakan apanyang dikatakan Rani itu benar.
'Ya Allah apa yang pernah aku.lakukan pada bayi ini disaat dikandungan ibunya?' bisik hati Rey lembut.
Tiba tiba ada perasan haru menyelinap dihatinya saat melihat wajah bayi yang ada di gendongannya. Anindya bergeliat dipangkuan Rey membuat Rey menatap wajah bayi itu.
__ADS_1
Ia dengan penuh kerinduan langsung mencium pipi Anindya lembut dan mwmwbangunakan bayi itu. Tiba tiba Anindya membuka matanya dan tersenyum kearah Rey.
Tangan mungilnya memegang wajah Rey dengan pelan dan lembut. Tanpa Rey sadari sepasang mata menatap kearah Rey dengan perasan yang tidak menentu sama sekali.
"Mas, jangan jangan itu!" Suara pemilik sepasang mata itu menatap Rey dengan bayi dalam gendongannya.
"Rin, Anindya anakku!" Teriak Rey gembira.
Rina shock mendengar teriakan Rey, ia yang awalnya akan menghampiri Rey malah mematung menatap Rey tanpa bergeming.
Apalagi Rey yang spontan tanpa ia sadari meneriaki kata kata itu, ia langsung terdiam saat tahu kata kata apa yang ia keluarkan. Kata kata dalam hatinya mengakui kalau itu adalah anaknya.
"Munafik!" Sembur Rina sewot.
"Munafik? Maksudmu apa?" Tanya Rey tidak suka.
"Katanya anak itu anak haram, kenapa kamu mengakui jadi kamu masih suka sama Rani!" Ketus Rina.
"Sampai bayi itu kamu bawa ke rumah ini, jangan jangan Rani sebentar lagi kau bawa,"lanjut Rina cemberut.
"Hai hai jangan marah dulu, seharusnya kamu tanya kenapa bayi ini ada di rumah ini." Jawab Rey cepat.
"Kamu cemburu pada anak ink?" Tanya Rey serius menatap wajah Rina.
Mendengar pertanyaan Rey seperti itu membuat Rina memalingkan muka nya kearah lain. Rey mendekati Rina sambil tersenyum manis.
"Surya mencoba menculik Anindya, aku sudah tahu sebenarnya," Rey membuka pembicaraan.
"Surya?" Tatap Rina shock.
"Aku hanya bisa menolong Anindya dari Surya itu saja. Anindya tidak perlu merasakan penderitaan ibunya, aku sih nggak peduli sama ibunya tapi Anindya tetap anakku." Lanjut Rey membuat mata Rina terbalaskan.
'Sejak kapan kata kata itu ada dalam hatinya, terus kemarin kemarin kemana saja?' tanya Rina dalam hati.
__ADS_1
'Bolehkan aku sayang sama Anindya?" Tanya Rey menatap wajah Rina tajam.
Mendengar pertanyaan Rey seperti itu Rina hanya diam, Rina baru menyadari kalau ada sisi lain Rey buat anaknya. Ya nak yang pernah Rey ingkari tapi kini mwlah mengakui sendiri.*