
"Apa sih yang kamu rencanakan pada mertuaku?" tanya Rina tiba tiba menghampiri Rani.
Rani yang tidak menduga hanya melonggo atas apa yang dikatakan Rina. Wanita itu tanpa disuruh langsung duduk di samping Rani, sambil melirik buku yang dipengang oleh Rani.
Wanita itu langsung mendatangi Rani, tanpa berkomunikasi dulu dengan Rani. Awalnya sih Rani menghubungi Rani tapi hpnya tidak diangkat kerena diisi daya. Ditambah lagi Rani juga sedang menyelesaikan membaca novelnya, ia membaca di teras rumahnya sambil santai. Apalagi udara sore itu sejuk sekali, ditambah lagi cuacanya juga hangat..
"Ada apa sih kayanya heboh banget!" ujar Rani dingin.
Ia langsung menutup buku yang dibacanya dan menyimpan buku diatas meja yang menjadi penyekat antara dirinya dengan Rina. Kedatangan Rina telah diketahui oleh Dio sendiri, tadi siang Dio telah menghubungi dirinya disuruh hati hati takut kalau Rina datang ke rumah, apa yang dipikirkan Dio tiba tiba nyata banget.
Rina datang langsung the to point' saja tanpa ada embel embel pembukaan. Dio menceritakan secara singkat masalah mertua Rina yang sebenarnya pada Rani. Sampai Rani yang mendengarkan hanya bisa menggelengkan kepala saja..
"Rina bertengkar sama mertuanya kerena.tidak mengizinkan Rey menikah denganmu." Dio menceritakan permasalahannya Rina sama Rani.
"Memang aku nggak ikut campur dalam pertengkaran itu, tapi aku mendengar semuanya," lanjut Dio waktu itu.
"Terus hubunganku dengan mereka apa sih! Kalau mbak mu marah nggak ada hubungannya denganku, Dio?" tanya Rani heran.
"Entah. Aku punya firasat kalau kakakku bakal.mendstangi kamu,"
Rani hanya menarik nafas dalam dalam mendengar apa yang diceritakan oleh Dio. Kalau benar Rina bakal datang buat apa sedangkan dirinya tidak ada hubungan sama sekali dengan mereka.
"Kenapa sih dia kekeh!" Rajuk Rani tidak mengerti.
Ya Rani tidak mengerti pada apa yang dipikirkan Santi dulu ia benar benar menentang pernikahan dirinya dengan Rey, tapi sekarang ia kekeh menyatukan ia dengan Rey. Memang sih ia masih mencintai Rey tapi bagaimana dengan Rina, ia pernah diposisi Rina.
"Entahlah! Aku juga nggak ngerti apa yang dipikirkan. Tapi aku sarankan kamu hati hati saja ya, mungkin aku nggak bisa bantu kamu kali ini..Tapi kalau ada apa apa kamu hubungi aku," kata Dio masih peduli.
"Ya nggak apa apa sih! Makasih ya atas perhatian kamu," ujar Rani tersenyum samar.
Sejak dari dulu mungkin masa kuliah Dio lah yang selalu ada dikala ia sedih, terpuruk, Dio selalu menemani dirinya. Sekarang Dio juga membantu dirinya, ya biarpun tidak secara langsung ia telah merusak rumah tangga kakaknya Dio.
"Kalau misalkan perutmu sakit hubungi aku ya, Ran," pinta Dio.
__ADS_1
Rani langsung memutuskan hubungan dengan Dio, tapi ia masih mendengar pesan yang Dio katakan untuknya. Rani hanya tersenyum atas perhatian Dio selama ini.
Rani menatap wajah Rina yang terlihat agak kusut, rambutnya juga terlihat tidak rapi, diwajahnya ada guratan guratan bekas air. Entah itu air apa, bisa jadikan Rina cuci muka dulu sebelum ke rumahnya, tapi Rani melihat wajah Rina tidak ada polesan make up sama sekali.
"Ran, hentikan semuanya. Aku sama sekali nggak ngerti pola pikiran yang kamu pikirkan," cerca Rina tajam.
Rina langsung menusukan kata katanya pada Rani.
"Maksud mbak apa ya aku nggak ngerti apa yang mbak katakan?" Rani pura pura tidak tahu.
Rani sengaja mengelak dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Rina, ia langsung memandang goyangan dedaunan yang tertiup angin sore hari. Sebenarnya ia tahu sedikit dari Dio. Pria itu sedikit memberi tahukan semuanya yang ia lihat, Rani hanya mengangguk angguk saja saat Dio memberi tahukan semua yang Santi lakukan pada keluarganya..
"Aku nggak tahu apa yang Santi rencanakan, aku nyakin kalau ia tidak bergerak sendirian," masih terhiang kata kata Dio.
"Apa ada hubungan dengan Rey?" akhirnya Rani bicara.
"Kayanya rencana Rey dan Santi berbeda, tapi kita juga nggak tahu kan rencana mereka?"
Rani hanya menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan kembali, mendengar apa yang Rina katakan pada dirinya.
"Aku nggak ada yang aku ingin kan dari Rey, mbak."
"Semuanya masa lalu saja, aku sekarang tidak ada hubungan apa apa," lanjut Rani menjelaskan.
"Rencana mertuaku dengan kamu apa?"
"Rencana? Rencana apa, aku nggak tahu apa apa tentang rencana ibu Santi." bela Rani sedikit kesal.
"Bohong! Kamu hanya ingin menghancurkan pernikahan ku, dengan kehamilan mu.itu kan, ngaku!" teriak Rina marah sambil mengebrak meja yang ada di sebelah kanan nya.
"Mbak, aku nggak pernah merencanakan apa apa pada keluarga mbak maupun Rey!" balas Rani tidak suka atas apa yang keluar dari mulut Rina.
Ia langsung beranjak dari tempat duduknya. Rani berjalan mendekati pinggiran teras, matanya ia pejamkan menahan gejolak hatinya.
__ADS_1
Dari dulu sampai sekarang ia harus disalahkan, sekarang ia juga disalahkan, kenapa wanita selalu disalahkan oleh wanita lainnya, malah saling menghujat.
'Rani kamu harus kuat!' bisik hati Rani.
"Kalau kamu tidak merencanakan semuanya, kamu dan adikmu lebih baik pergi dari kampung ini!" bentak Rina yang tiba tiba berada di belakang Rani.
BLAR!
Rani langsung membalikan badannya, terlihat Rina berdiri dibelakangnya. Sambil menatap Rani, tatapan mereka.ssling beradu satu sama lainnya, tapi Rani langsung mengalihkan pandangan kearah lain. Sinar mata Rina terlihat menusuk hatinya.
"Meninggalkan kampung ini? Trus aku harus tinggal dimana? Ini rumah rumahku, kalau aku nggak mau pergi bagaimana?" tantang Rani berani.
Apa yang dikatakan Rani benar, itu rumah yang ia tempati adalah rumah dirinya bersama Zoya, kalau misal ia pergi rumah itu untuk apa? Masa ia dan Zoya harus mengontrak sedangkan rumah itu kosong. Lucu juga sih!
"Jual saja rumahmu itu, beli lagi rumah yang baru tapi jangan di daerah sini. Kamu jauh jauh tinggalkan Rey." sengit Rina seenaknya mengucapakan pada Rani.
"Enak banget ya jual rumah, beli rumah. Orang gila juga bakalan waras' dulu dengar omongan mbak," ketus Rani.
Rani langsung menuju kursinya, tapi Rani langsung meraih tangan Rani, tapi Rani langsung menepiskan tangan Rina dengan cepat.
"Apaan sih pegang pegang!" teriak Rani menghindar.
"Aku belum selesai bicara kamu main pergi begitu saja," protes Rina membela diri.
"Kak!" jerit Rani spontan.
"Kamu manggil aku juga udah plin plan apalagi masalah Rey!" hantam Rina keras.
Rina langsung protes pada Rani, tentang sebutan Rani pada dirinya. Rina kadang heran pada Rani yang selalu plin plan menyebut nama panggilan dirinya kadang mbak kadang kakak.
'Ya Allah masalah.panghilan mbak dan kakak juga di permasalahkan?' bisik Rani dalam hati.
Mendengar ucapan Rina, Rani hanya diam saja ya ia ingat kalau lagi emosi ia sering manggil Rina dengan sebutan kakak tapi kalau emosinya stabil menyebutnya kakak.
__ADS_1
"Pinggang aku sakit,' lirih Rani sambil mengusap pinggangnya.
Rina hanya diam saja, ia akhirnya duduk diikuti Rani.*