BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Masih simpang siur


__ADS_3

Di tempat lain Rey masih memikirkan Rani yang pergi tanpa memberi tahukan dirinya. Ia merasa kesal terhadap Rani yang tidak pernah bilang saat pergi dan yang lebih kesal lagi kenapa harus Dio yang mengantarkan Rani..


Ada helaan nafas yang keluar dari mulut Rey. Ia merasa tersisihkan oleh Dio. Ia lanjsungbberanjak dari rumahnya, tanpa izin dulu Rey langsung meninggalkan rumah menuju sekolah. 


Sampai di sekolah ia menuju teras perpustakaan. Sebelum ia duduk di teras, ia mendengar hpnya berteriak dengan keras seperti ingin diangkat oleh pemiliknya. Rey langsung mengangkat hpnya. 


"Bang, ada berita nih!" Suara disebrang terdengar jelas. 


"Berita apa?" Tanya Rey mengkerutkan wajahnya heran. 


"Surya tahu kalau Rani anak Ilham?" 


"Apa kamu nggak salah mendengarkan?" Tanya Rey menegang. 


'Waduh! Ini bagaimana, sedangkan Rani anaknya, apa nggak ada kesalahan ya.' bisik hati Rey. 


"Jo, kamu dengar berita itu dari siapa lalu Surya tahu Rani anaknya Ilham?" Tanya Rey penasaran. 


"Ada yang bilang, bilang. Surya mencari Rani sekarang," 


"Memangnya Surya nggak tahu kalau Rani anaknya sendiri?" Tanya Rey..


"Menurut informasi Surya tahunya Rani anak Ilham bukan anak sendiri."


"Jo, aku pinta sama kamu cari tahu darimana Surya tahu kalau Rina anaknya Ilham?" Rey blank. 


Rey lanhsung memutuskan hubungan telponya dari Jo. Rey langsung menyandarkan badannya ke dinding dan duduk begitu sajadi teras perpustakaan. 


'Kok informasinya salah sih! Jadi selama ini Surya mencari Rani dan sayangnya dia tahu kalau Rani bukan anak dari surya.' bisik Rey pasrah. 


Tiba tiba hpnya berteriak lagi, saat ia melihat layar hpnya. Jo yang menghubungi nya kembali.


"Ada apa Jo?" 


"Bang, informasi benar. Kalau Surya tahu Rani anak dari Ilham bukan anak dari dirinya." 


"Lalu apa kita cari anak Surya yang sebenarnya?" Tanya Jo yang telah percaya pada informasi yang ia sampaikan pada Rey. 


Jo menyangka kalau anak surya dan Rani berbeda. Menurut Jo kalau memang berbeda ia bakal mencari keberadaan ank Surya.


Jo sebenarnya di suruh mencari identitas anak Surya. Tapi ia mengambil identitas yang salah. Malah yang diambil adalah anak Ilham identitasnya.

__ADS_1


Intinya barita yang di dapat Jo tidak benar sama sekali. Surya hanya mencari keberadaan wanita yang menolongnya dan ia tahu wanita yang ditolongnya bernama Rani. Sedangkan informasi yang ditangkap oleh Jo, adalah kalau Surya telah menemukan Rani sebagai anak Ilham. Dan menurut Jo, Surya tahu nama anak Ilham itu Rani. 


Kesalahpahaman menangkap informasi. Rey yang mendengar hanya bisa menghela nafas panjang mendengar apa.yang disampaikan oleh Jo. 


"Apa nggak salah informasi, Jo?" Ujar Rey pasrah. 


"Nggak, ini informasi fix benar." 


"Ya udah. Nanti aku hubungi kamu kalau ada sesuatu," ujar Rey langsung mematikan sambungan hpnya. 


"Kenapa seperti ini sih!" Keluh Rey agak kesal. 


"Rey dengar ya aku nggak peduli! Akumingin ketemu ayah!" Seru Rani waktu itu. 


"Kamu jangan sendiri Ran," bentak Rey tidak suka.


"Jalan sendiri maksudnya apa Rey, masa aku harus bawa rombongan?" 


"Ran! Dengar ya aku nggak mau kamu gegabah mengambil kesimpulan, aku mau bantu kamu." Jelas Rey tegas.


Dalam hati sebenarnya masih terselip perasan pada Rani, tapi Rey tahu kalau Rani tidak pernah mengubris dirinya kembali. Tapi, dengan keadaan seperti ini ia hanya ingin melindungi Rani itu saja. 


"Rey, aku nggak mengambil jalan yang gegabah. Aku berpikir dulu Rey, jadi jangan khawatirkan aku ya Rey," ujar Rani. 


Rey menangkap wajah Rani yang terbelalak saat ia mengucapakan kata kata khawatir dihadapan Rani. 


"Kenapa? lucu?" Ujar Rey mendelik. 


"Nggak apa apa kok!" 


Rey kesal dengan jawaban yang dilontarkan oleh Rani. Ia.mwngjwla nafas panjang lalu beranjak dari tempat itu langsung pergi begitu saja. 


Rey tersentak dari lamunannya, saat hp kembali berteriak dengan keras. Ia langsung mengangkat hpnya, disangka Jonyang telpon kembali tidak tahunya Rina. 


"Mas, dimana?" 


"Aku di sekolah!" 


"Ngapain sih di sekolah, ini kan libur seharusnya kamu temani aku dong!" Seru Rani tinggi sambil merajuk. 


Rey menghela nafas mendengar rajukan manja istrinya. Ia mengiyakan bakalan pulang ke rumah, setelah itu Rey memutuskan hubungan hpnya. 

__ADS_1


"Pasti ingatannya sama Rani?" Ketus Rina waktu ia sampai di rumah. 


"Kok kamu bilang itu sih!" Protes Rey tidak suka. 


"Iya kan kalau kamu ingat Rani pasti kamu ke sekolah," cemberut Rina kesal. 


"Wajarkan aku ingat Rani, dia itu ibu dari Anindya." Pojok Rey tajam. 


"Mas!" Teriak Rina marah. 


Rina langsung pergi ke dalam rumah sambil wajahnya ditekuk sedemikian rupa. Rey yang melihat itu hanya garuk garuk kepala tidak gatal. 


'Yaelah segitu aja marah,' bisik hati Rey. 


Rey langsung menyusul Rina masuk ke dalam kamar, tapi saat ia ingin membuka tiba tiba pintunya di kunci oleh Rina. Akhirnya Rey berjalan menuju halaman belakang. 


'Aneh ya kok beda Rina dan Rani wkatu hamil, aku rasa Rani nggak ngini ngini banget sih!' gumam hati Rey heran..


Tiba tiba ingatannya muncul ketika ia melihat Dio memberikan rujak pada Rani. 


"Apa ini?" Tanya Rani menatap Dio heran. 


"Biasanya wanita hamil doyan rujak, aku tadi beli rujak buat kamu," kata Dio tersenyum. 


Rey melihat itu hanya diam saja, ia merasakan hatinya terbakar saat memberikan rujak itu pada Rani, dan Rani menerima dengan wajah berseri seri. 


Malah ia lah yang membuat rujak yang diberikan Dio di buang oleh dirinya. Ya waktu Rani akan memakan rujak, ia datang dengan emosi yang meluap luap langsung merampas wadah rujak itu. 


Sampai kuah rujak tercecer kemana mana, ia yang merasa marah dan sakit hati langsung membuang semua rujaknya. 


Rey mengingat itu hanya bisa mengelus dadanya, dan sekarang ia juga merasa Rani tidak pernah uring uringan seperti Rina, disaat Rani tidak bisa terpenuhi ia malah diam saja. 


Tapi Rina malah terkesan uring uringan dan bawaannya marah dan marah kalau semua keinginan tidak tersampaikan. Rey hanya mendengus. 


"Aneh! Sama sama wanita tapi seperti langit dan bumi ya, kenapa?" Kecamuk Rey. 


"Aku nggak minta apa apa, Rey. Aku hanya minta kau sayangi janin yang aku kandung!" Rey mengingat kejadian itu. 


Kejadian waktu Rani mengejar dirinya hanya ingin Rey mengakui kalau janin yang Rani kandung itu anak Rey itu saja. Tapi Rey waktu itu hanya tertawa beebahak bahak, merasa lucu mendengar permintaan dari Rani. 


"Kalau nggak bisa bagaimana?" Tanya Rey cuek. 

__ADS_1


"Terserah pada kamu, aku nggak maksa." Hela Rani. 


Kalau ingat semuanya ia merasa bersalah pada Rani. Dan sekarang Rina malah menguras kesabaran yang ia miliki, apa apa keinginannnya harus terpenuhi. Ia merasa kesal, tapi ia tidak bisa melempiaskan pada orang.* 


__ADS_2