BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Ayah Dimana?


__ADS_3

Tiga orang yaitu Dio, Rani dan Amanda yang punya niatan mencari keberadaan Surya sampai sekarang malah masih di Ciceri, sebelum Dzuhur mereka langsung menuju alamat yang ditunjukan oleh Vian tapi pas mereka.di sana Surya pindah..


"Ran, aku malah heran ya. Kenapa kalau Vian dan Surya anak dan bapak terpisah gitu ya? Maksudku nggak kaya orang tua kita gitu jadi keluarga utuh?" tanya Dio heran.


Pikiran Dio saat itu begini, kalau ibu Vian menikah dengan Surya kenapa mereka tidak tinggal bersama seperti keluarga utuh seperti orang lain, malah orang tua Vina hidup masing masing seperti sendiri sendiri gitu, malah Vian tinggal dengan pamannya?


"Surya dan ibunya Vian bercerai dan Surya menikah lagi dan sekarang ia bahagia dengan istri barunya," cerita Rani.


Rani juga dapat berita itu dari Vian, ia tidak menyangka kalau ayahnya Surya begitu harus ceria dan menikah lagi. Dio yang mendengarkan hanya diam saja, Dio merasa unik saja mendengar apa yang diceritakan oleh Rani.


Kerena Surya tidak ada di alami itu hanya ada istri dan anak yang berusia 5 tahun, mereka akhirnya balik lagi. Rani shock banget sih sebenarnya harus bertemu dengan.istti ayahnya yang usia tidak jauh terpaut dengan diri ibu sambungnya..


Tapi dari tatapan wanita istri dari ayahnya, Ranty tahu kalau ibu sambungnya tidak tahu masalah ini.


Amanda hanya diam saja saat ia bertemu dengan istri sah dari Surya, ia malah Dima saja tidak ada respon sama sekali, setelah Rani pamit wanita itu hanya bilang begini;


"Kalau kalian ingin bertemu dengan bapak, bapak ada di Jakarta sedang melakukan tugas,"


Awalnya Rani ingin menanyakan lebih lanjut tapi Amanda menarik tangannya langsung pulang.


"Mama, kasihan sama wanita itu seharusnya harus jadi anaknya tapi ini sebagi istrinya." sungguh Amanda agak marah.


Rani dan Dio hanya diam saja tidak bereaksi sama sekali. Dio berhenti kembali di mesjid di Ciceri serang, sampai Asya mereka disana.


"Ma, Ran, kalian nggak mau shopping dulu? Gimana kalau kita ke MOS( Mall OF Serang )?" tanya Dio menatap wajah ibu dan Rani.


"Nggak lah ngapain kesana, ngabisin uang,"gerutu Rani.


"Kamu saja bawa Rani kesana, refreshing," ujar Amanda.

__ADS_1


Dio menatap Rani. Tapi wanita itu hanya menggelengkan kepala saja.


Jam telah menunjukan jam 16.00, Dio langsung Tanjab gas pulang kembali ke kampung halaman nya bersama Amanda dan Rani.


Amanda menatap jalan dengan tatapan kosong, ia tidak menyangka petualangan Surya benar benar tidak mudah diragukan sama sekali, dari Surya menikah dengannya dan hamil malah diselingkuhi oleh Ningsih, tapi Ningsih pun ditinggalkan begitu saja tanpa melakukan apa pun juga.


Amanda hanya menarik nafas dalam dalam mengingat Surya. ia juga tidak tahu sama sekali apa yang Surya lakukan pada dirinya, Ningsih, ibunya Vian dan sekarang wanita itu.


Apa yang dipikirkan oleh Rani tidak jauh dari pikiran Ningsih saat ini. Hanya bedanya Rani masih ingat pada lelaki yang pernah menolong dirinya, laki laki itu seperti dekat dengannya. Tapi hatinya menipiskan, kerena tidak mungkin wajah Surya seperti itu. Tapi gambar yang diberikan Vian sangat mirip dengan laki laki yang menolongnya waktu itu.


"Aku sering ketemu bapak kok,"


Itu yang diucapkan Vian pada Rani waktu itu. Tapi waktu itu Vian tidak ada niatan mengenalkan bapaknya pada Rani sama sekali.


'Ya Allah kenapa aku harus mencari ayah, sedangkan Vian sering ketemu dengan ayah, kenapa ayah nggak nyari aku,' ujarnya dalam hati.


Tapi ia ingat kalau ibunya saat hamil dirinya, Surya tidak tahu sama sekali, Surya hanya berusaha mencari tahu anak yang lain. Ra i hanya bisa menghela nafas panjang. Vian yang tahu semuanya sekarang ia juga belum pernah ketemu Vian lagi, sejak semuanya terungkap. Kalau mang Vian tahu kalau ia salah satu kakaknya dari awal kenapa Vian tidak bicara tentang Surya.


Rani hanya tersenyum saja, Anindya begitu tenang di joknya. Tidur terlelap biarpun jalan yang mereka lalui tidak rata sama sekali.


Sedangkan Amanda di kok belakang, Rani sebenarnya menawarkan jok depan dekat Dio tapi Amanda menolak. Amanda di jok bekang Dio dan Rani bisa merebahkan tubuhnya. Kepalanya di beri bantal ia dengan nyaman ya tidur di joknya, seperti Anindya.


Rani dan Dio tidak bisa memaksa Amanda untuk di depan, akhirnya Rani duduk di samping Dio, ditengahnya antara tempat duduk Rani dan Dio ada jok kecil untuk Anindya tidur dengan nyaman.


"Aku nggak punya rencana lagi sih!" jawab Rani waktu Dio menanyakan rencana Rani sekarang apa.


Ya Rani sebenarnya hanya ingin ketemu saja, ia masih penasaran pada dirinya, dalam hati ia masih ingat ketemuan singkat dengan laki laki yang ada di liontin Vian.


Kejadian beberapa bulan sebelum kejadian ia hamil anak Rey mungkin hanya beda dua bulan dengan pernyataan dokter kalau ia hamil.

__ADS_1


BRUK


BRAK


Tiba tiba terdengar suara keras yang beradu dengan keras sekali, kejadian yang spontan pemecah keheningan sore hari yang ceria. Saat itu Rani berada di kios tukang bakso, kerena perutnya minta makan akhirnya Rani makan bakso dulu.


Baru beberapa suap ia makan, tiba tiba terdengar suara di telinganya. Dua pengendara motor langsung ambruk di depan kios bakso dimana disana ada Rani.


Semua orang yang mendengar ada dua motor yang beradu lanhsung melihat. Termasuk Rani, Rani melihat salah satu orang dari pengendara motor hanya terluka ringan sedangkan yang lainnya dibawa oleh orang orang disana.


Laki laki yang luka ringan hanya diberi obat merah saja, Rani juga meminta pada pedagang bakso untuk membuat kan teh anget untuk laki laki yang terluka ringan.


"Aku harus bertangungjawab!" gumamnya sambil berdiri dari duduknya.


"Pak, bapak lebih baik istirahat saja dulu, nanti aku anyer bapak kok!" kata Rani mencegah bapak tadi.


"Tapi bagaimana dengan korban yang saya," kata bapak itu menatap Rani.


"Tenang saja,"


Tapi bapak tadi memaksa untuk pergi, Rani langsung membayar bakso dan teh manis ke pedagang setelah itu ia mengantarkan bapak yang hanya luka ringan menuju PKM terdekat.


Motor sang bapak itu sudah tidak karuan sama sekali. Ia hanya menatap sendu pada sepeda motornya yang amburadul.


"Nuhun ya neng entos nganterin bapak," ujarnya dengan logat Sunda yang kenal..


Rani hanya mengangguk saja, ia tidak lama kemudian langsung pulang kerena Zoya menelpon minta jemput.


"Neng, iraha iraha deui ketemuan, bapak traktir neng ya," kata bapak itu berharap.

__ADS_1


"Insha Allah pak, mugia urang tiasa tepang deui," ujar Rani.*


Rani langsung meninggalakan bapak yang ia tolong tadi, tapi setelah ia pergi hati ia seperti kehilangan sesuatu di hatinya. Ia merasakan seperti kehilangan Ilham.*


__ADS_2