BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Mencoba memahami


__ADS_3

Akhirnya Rani terpaksa ikut Dio dan Amanda untuk mencari Surya. Keberadaan Surya yang sampai saat ini misterius sekali, Ningsih tidak mengizinkan Rani membawa Anindya tapi Rani tidak mengikuti perintah Ningsih, Rani berpikir bagaimana pun Anindya adalah anaknya yang harus selalu bersamanya. 


Apalagi Anindya belum MP-ASI. Kata ibunya Ningsih Nindy bisa minum asi eksklusif dengan mengunakan sendok, tapi Rani tidak mau. Anindya tetap minum asi di tempatnya saja, dan selama ini Rani juga tidak pernah meninggalkan Anindya biarpun ia sekolah. Anindya selalu dibawa, kalau tidur langsung di kasurnya kerena Rani selalu membawa tempat tidur buat bayinya. 


Apalagi di perpustakaan ia hanya menyapu, beresin buku, kadang kalau misal bongkar buku diberesin semuanya ia kadang minta bantuan Riri untuk menunggu Anindya, itu juga kalau Riri nya tidak ada jadwal masuk kelas. 


"Lho kok ngelamun sih! Ada apa?" Tanya Dio perhatian. 


"Nggak apa apa kok, tadi cuma kepikiran ibu saja," elak Rani. 


"Ibumu kenapa?" Tanya Amanda tiba tiba nimbrung pembicaraan keduanya.


"Ibu nggak izinkan aku bawa Nindy, tapi aku pengen bawa Nindy." Jawab Rani. 


"Oh! Nggak apa apa kok kamu bawa Nindy, dia anakmu. Anindya masih ASI jadi nggak apa apa kok dibawa juga," celetuk Amanda spontan. 


Rani mengangguk saja.


"Ma, hati hati bicara," Dio mengingatkan Amanda. 


"Kenapa? Seharusnya Ningsih itu punya pikiran masa Rani  mencari bapaknya malah mau dipisahkan sama Anindya." Ketus Amanda. 


Entah Amanda bicara itu kerena apa, Rani hanya diam ia sebenarnya perih mendengarkan kata kata kata Ningsih yang terdengar ketus dan sinis pada Ningsih. 


"Ma, bukan mau memisahkan tapi ibu Ningsih khawatir kalau Anindya kenapa kenapa," bela Dio pada Rani. 


"Kan Anindya sama ibunya kenapa Ningsih khawatir segala aneh."


"Ma," teriak Dio  tertahan.


"Benar kan Ran, ibumu itu.."


"Sudah, ma. Aku lagi nyetir nih," sembur Dio agak marah pada Amanda. 


Dio melirik pada Rani yang duduk di depan, Rani hanya diam saja. Sedangkan Amanda cuma menghela nafas mendengar apa yang diucapkan oleh Dio. 


Sebenarnya Amanda ingin sekali membuat Rani salah dihadapan Dio tapi Dio melerai dirinya untuk tidak bicara apa apa pada Rani, sedangkan Rani diam saja mendengarkan perdebatan ibu dan anak. Ia sebenarnya menduga kalau Amanda sebenarnya ingin sekali membalas dirinya tapi Dio dengan cepat langsung menyanggahnya.


Amanda kesal pada Dio tapi ia tidak bisa berbuat apa apa pada Dio. Apalagi Dio kini lebih fokus mengendarai roda empatnya dengan kecepatan sedang.


"Ini lagi jalan nya kapan di bangun, celetuk Amanda jengah. 


Kerena Dio selalu menginjak bannya ke lubang apalagi lubang besar dan dalam..

__ADS_1


"Seharusnya jalan harus diperbaiki," 


"Ma, jangan ngomel salah. Boro boro jalan di sini jalan di pedalaman kampung juga belum bagus sama sekali." 


Dio hanya mengelengkan kepala mendengar apa yang dilontarkan oleh Amanda, ada saja. 


*


PLAK!


"Kamu kurang ajar ya sama suami nggak ada sopan santunnya sekali," teriak Rey marah.


Rina langsung meringis dan memegang wajahnya yang terasa panas dan sakit, akibat sebuah gesekan dari tangan Rey yang begitu keras dan membuat ia sedikit kaget. 


"Suaminya saja yang kurang ajar, bukan istrinya." Teriak Rina tidak kalah marahnya. 


Ia langsung memukul lengan Rey dengan kerasnya. Rina tidak mau kalau diajak injak terus oleh Rey, selam ini ia selalu mengalah untuk kebaikan tapi nyatanya Rey malah berani untuk menindas. 


"Mas, kalau bicara plis deh jangan main tangan sakit tahu," lanjut Rina menatap Rey dengan tajamnya. 


"Kamu nya, aku kan bilang jangan kesini kenapa kamu harus kesini," 


"Suka suka aku mau datang mau nggak juga nggak apa apa. Emang kenapa?" sembur Rina tidak suka. 


"Sejak kapan aku istrimu, aku istrimu yang tidak pernah kamu sentuh selama ini, rumput tetangga lebih hijau ya dari pada rumput sendiri. Makanya langsung nyosor ke rumput tetangga," Rina sinis. 


"Maksud kamu apa?" 


"Kamu bisa kok jawab dan aku nggak bakal jawab,"


Rey langsung menarik tangan Rina. Tubuh Rina hampir jatuh untung Rey meraih tubuhnya, sampai keduanya saling berdekatan satu sama lain. Dada mereka beradu menimbulkan detak jantung yang keras sekali, Rey merasakan ada sengatan di tubuhnya saat tubuh Rani menyatu dalam pelukannya. 


Nafas Rani terdengar dengan lembut sekali, tiba tiba Rey mengigit bibir bagian bawahnya melihat wajah Rina yang alami tanpa make up terlihat mempesona sekali dimata Rey. 


Mereka saling tatap satu sama lain, dsn tidak ada yang berkedip satu lainnya. 


"Kalau mau berduaan jangan disini ya, ini di teras," ujar Santi mengangetkan keduanya. 


Rey yang kaget atas kata kata Santi langsung saja melepaskan tangannya yang memeluk tubuh Rani. Rani yang kaget tidak menyangka kalau Rey melepaskan pelukannya otomatis tubuh Rani langsung tersungkur ke lantai dan terbentur ke meja dekatnya. 


Rina langsung menjerit, saat tubuhnya mengenai ujung meja, dan tangannya sambil mengusap pungungnya.


Rey hanya diam mendengar jeritan kesakitan Rina, Rina langsung bangun dan langsung memeluk bahu Rey dengan kerasnya sampai Rey meringis kesakitan. 

__ADS_1


"Satu satu," ujar Rey menghindar. 


Ia menghindar kerena melihat Rina yang yang akan memukulnya lagi, melihat Rey berlari ke dalam langsung Rina mengejar Rey ke dalam. Santi yang ada di teras hanya manyun melihat keduanya saling mengejar. 


Santi tidak mengikuti anak dan menantunya, ia hanya duduk di teras rumah sambil memikirkan kata kata Rani yang kemarin. 


"Bu, bukannya Rani nggak mau punya anak tapi Rey nya yang nggak mau memegang," celetuk Rina kesal. 


"Kamu kan istrinya, seharusnya kamu ngajak Rey bercinta. Masa gitu aja nggak bisa, kalau laki laki itu biarpun nggak mau juga kalau sudah dipaksa oleh istrinya bakal mau nggak kaya istri," ketus Santi gemas.


"Ibu nggak percaya saja sama Rina. Rina ingin sekali Bu melakukannya, tapi."


"Jangan tapi tapian pokoknya besok harus coba,"desak Santi. 


"Iya, Rina bakal usahakan,"


"Masalahnya ibu pengen nimbang cucu." 


"Itu anak Rani, emang bukan cucu ibu," ketus Rina sinis. 


"Diam kamu," jawab Santi ketus.


"Kenapa? Itu kan cucu ibu yang selalu diagungkan,"


"Rin, jangan ngomong itu lagi, ibu hanya ingin cucu yang lahir dari rahimmu?" Santi menatap Rina serius. 


"Ibu benar ingin cucu yang aku lahirkan?" Tanya Rani serius. 


"Iya, kapan nih kamu ngasih ibu cucu yang lucu lucu pada ibu?"


Rina langsung terdiam mendengarkan kejujuran Santi untuknya, sejujurnya ia juga ingin sekali hamil, melahirkan dan menyusui seperti wanita wanita lainnya. Rani membanyangkan sudah rindu merasakan semuanya. 


Santi menatap wajah Rina yang berseri seri, ia juga tidak tahu kenapa Rina seperti itu. 


"Kamu kenapa?" 


"Nggak apa apa kok," senyum Rina. 


"Bu, nggak apa apa kan kalau aku misal bisa hamil anaknya mas Rey?" Lanjut Rina menanyakan pada mertuanya. 


"Lho kok! Kenapa nggak boleh, boleh kok. Kalian udah jadi suami istri,ngapain juga nggak apa apa." 


Rina spontan bersorak gembira sekali. Santi yang melihat Rina seperti itu keheranan, ia merasa kalau Rani sangat berbeda dengan hati hari lainnya.*

__ADS_1


__ADS_2