BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Perasaan Rey dan Rani


__ADS_3

BRAK! 


"Rey! Ada apa?" Teriak Rani kaget. 


Rey yang datang langsung marah di depan Rani yangbsedang menyelesaikan tugas membuat perlengkapan pengolahan pustaka. 


Ya pagi ini Rani dengan santainya sedang mengunting karton karton untuk membuat slip pinjam buku. Sebenarnya Rani sudah meminta Rey untuk menganti pengolahan bahan pustaka mengunakan aplikasi SLiMS, atau inslite perpustakaan. 


Kalau saja Rey mengizinkan ia ingin sekali.mebgunakan aplikasi itu untuk mempermudah pekerjaannya. Tapi si Rey keras kepala ia tidak mengizinkan dirinya mengerjakan aplikasi SLiMS perpustakaan. 


Memang kalau dipikir sih aplikasi SLiMS lebih bagus dibandingkan secara menual. Dan Rani sedang enak enakembuat perlengkapan bahan pustaka tiba tiba Rey datang dengan wajah yang lusuh dan ditekuk ditambah lagi ia menendang meja yang ada dihadapannya. 


Rani hanya mwngelangkan kepalanya. 


'Kenoa sih anak ini, ada salah kalau ada masalah kenapa harus aku yang jadi pelempiasannya?' bisik hati Rani cuek. 


Ia langsung menyelesaika. Pekerjaannnya dsn tidak ingin ikut campur urusan yang terjadi pada Rey. 


'Sehsruwnya dia senang sih istrinya hamil, kenapa wajahnya kusut kaya gitu?" Tanya hati Rani keppo. 


Setahu Rani kalau seorang calon bapak bakal senang mendengar istrinya hamil, apalagi anak yang dikandung Rina anak pertama mereka tapi Rey seperti menanggung beban yang teramat berat. 


Rey yang datang ke ruang perpustakaan lanhsung menghempaskan tubuhnya ke kursi, ada ******* yang keluar dari mulut Rey. 


Rani hanya menyun saja, ia tidak berniat mengubris apa yang terjadi pada Rey lalu misal ia bicara pasti Rey bukannya curhat malah marah marah pada dirinya. 


"He! Kenapa kamu diam saja!'' terikat Rey menatap wajah Rani. 


'Tuh kan serba salah,' bisik hati Rani ciut. 


"Trus aku harus apa gitu Rey, aku sibuk tapi kamu malah marah marah kaya gitu!" Kata Rani berusaha mengejan emosi. 


"Kamu tanya aku kek, aku kenapa marah marah. Kamu malah diam saja kaya nggak peduli kaya gitu sih kamu kaya nggak peduli ya sama aku?" Damprat Rey kesal. 


Sebenarnya ia ingin sekali Rani menanyakan kenapa ia marah sepagi ini, hanya Rani tidak peka apa yang dirasakan oleh Rey. Rani malah asyik dengan pekerjaannya itu yang membuat Rey uring uringan. 


"Emang kamu anak kecil Rey, masa harus diperhatikan?" Ujar Rani cepat. 

__ADS_1


Rani merasaa heran mendengar apa yang keluar dari mulut Rey, tanpa diduga Rani langsung tertawa mendengar rajukan Rey seperti itu. 


Rani baru mengerti kenapa tadi Rey jalan sana sini tidak tahu ingin perhatikan olehnya. Ia sama sekali tidak menduga kalau Rey seperti itu. 


"Cari perhatian sama kak Rina Rey jangan perhatian pada cewek lain," tukas Dio kesal. 


Sejak tadi sebenarnya Dio ada di perpustakaan bareng dengan Rani, ia juga terkejut mendengar suara tendangan Rey yang menghantam meja. Dio awalnya ingin menghampiri mereka berdua tapi ia membatalkan nya, ia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Rey pada Rani. 


Dio hanya bisa.mebgelangkan kepala mendengar apa yang di utarakan hati Rey pada Rani. Rey yang tidak menyangka adik iparnya ada di ruangan yang sama hanya beging saja, ia langsung menatap Dio dsn Rani bersamaan. 


Dio hanya garuk garum kepala tidak gatal, ya biarpun hatinya sakit mendengar apa yang diucapkan Rey pada Rani. Dan jawaban Rani pada Rey membuat ia membenarkan apa yang Rani katakan. 


"Gimana kabar kakakku, kasihan ya kakakku menikah dengan kamu yang harus memikirkan wanita lain," ketus Dio. 


Rey hanya diam saja, ia langsung beranjak dari tempat duduk nya langsung meninggalakan mereka berdua, tapi Dio langsung menarik tangan Rey untuk menghentikan gerak jalan Rey supaya tidak meninggalakan tempat itu. 


"Kenapa? Ada apa?" Tanya Dio serius menatap wajah kakaknya. 


"Aku cuma kesal sama Rani!" Gumam Rey menatap tajam kearah Rani. 


"Kok kesal sama aku emangnya kenpa?" Tanya Rani heran. 


"Kak sebenarnya kakak kesal kenapa sama Rani?" Tanya Dio menarik kursi dan duduk disana. 


"Aku nggak mau kamu menemui Surya itu saja," ujar Rey memberikan alasan. 


"Rey itu udah aku bahas kan di rumah kak senja, aku ingin ketemu ayah!" 


"Tapi aku khawatir sama kamu," ujar Rey lembut. 


Deg! 


Hati Dio bergetar mendengar apa yang Rey katakan pada Rani, di depan dirinya lagi. 


"Rey kamu apa apa an sih! Bilang khawatir segala sama Rani. Rani bakal jaga dirinya sendiri," Dio langsung menempaskan..


"Nggak, kamu nggak merasakan apa yang aku rasakan Dio!" 

__ADS_1


"Apa yang kau rasakan?" Balas Dio heran. 


Matanya menyipit mendengarkan omongan Rey. 


"Kalau misal Rani kenapa kenapa bagaimana dengan Anindya." 


"Kamu khawatir sama Anindya atau sama Rani sih!" 


"Hei hei sudah apa yang kalian ributkan." Sanggah Rani sambil menatap keduanya. 


"Ran, pis jangan temui Surya, kasihan Anindya kaki ini aja Ran." Rey memelas pada Rani. 


Ia memegang tanga Rani lembut, saat Rani ingin menarikannya Rey tidak membiarkan tangan Rani terlepas dari tanganya. 


Dio yang melihat itu menghela nafas kasar. Tanpa menunggu lama lagi ia langsung meninggalakan tempat itu, awalnya Rani ingin menyusul Dio tapi tangannya ditangan oleh Rey. 


Rani menatap wajah Rey, memohon pada Rey untuk melepaskan tanganya tapi Rey tidak mau melepaskan tangan Rani. Rani akhirnya diam saja..


"Apa yang kami pikirkan?" Tanya Rani. 


"Kamu masih mencintai aku kan?" Tanya Rey. 


Deg! 


Hati Rani berdetak keras saat Rey menyakan perasaan pada dirinya," Rey maksudmu apa? Aku nggak ngerti apa yang kau ucapakan?" Tanya Rani mengelak. 


Sebenarnya ia tahu apa yang dikatakan Rey padanya, Rey hanya ingin tahu perasaan dirinya. 


"Rey aku nggak ada perasaan apa apa pada kamu, kamu lebih baik cintai Rina dia hamil anak kamu." Kata Rani lembut. 


Waktu Rani mengucapakan kata kata itu hatinya sangat terluka, kerena sebenarnya ia masih mencintai Rey. Tapi ia berusaha untuk mengingkari biarlah ia yang terluka daripada Rina yang terluka. 


Sejujurnya ia merasa benci saat mendengarkan Rian hamil, tapi ia tidak bisa apa apa, kerena mereka berada dalam hubungan sah. 


Rey lanhsung.melepaskan tanganya dari tangan Rani, ia perih mendengarkan kejujuran Rani lada dirinya. Ia tidak menduga kalau rani mudah melupakan dirinya. 


Sejujrnya tadi malam ia bertengkar hebat dengan Rina gara gara ia.salah.menyebut nama Rina. Ia.malah menyebut nama Rani. Entah Rey juga heran kenapa bayangan Rani harus muncul dalam benak dirinya sampai Rinaarah dsn tidak mau tidur dengan dirinya, ia berusaha menenangkan Rina tapi Rina tetap marah. 

__ADS_1


'Maaf, Rey. Aku sebenarnya suka sama kamu, tapi apa aku harus merusak pernikahan kamu? Nggak aku nggak bisa terima kamu, aku nggak bisa Rey,' bisik Rani sendu. 


Kalau mau jujur ia ingin sekali Rey mencintai dirinya, ia ingin sekali tapi Rey telah milik orang lain dan itu tidak bakal terjadi apalagi ia harus memiliki Rey saat Rey akan punya anak.*


__ADS_2