BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Ada Apa dengan Rina


__ADS_3

Di perpustakaan sekolah. Rani hanya bisa.mematung  sambil duduk di kursi pustakawan, tanganya mencoret coret kertas yang di hadapannya. Sedangkan Anindya tidur lelap di tempat tidurnya yang dibawa oleh dirinya. 


"Aku nyakin kalau ada apa apa dengan Rina, Ran. Kamu mencari tahu nggak sih tentang Rina," kata Riri kemarin di rumahnya. 


"Selama ini aku nggak pernah mencari keberadaan mbak Rina, aku juga nggak tahu mbak Rina kemana?" Sesal Rani sambil memainkan tisu yang ia pegang. 


"Trus kamu tanya nggak sama Dio." Tanya Riri seperti ingin tahu. 


"Aku udah tanya, tapi Dio ya juga sepert ia. Nggak mau berbagi cerita denganku, apa mungkin ia.marah ya?" Tanya balik Rani. 


Pandangan matanya menatap dedaunan yang terkena angin sore hari yang sejuk, kerena habis hujan di pagi hari, jadi udara terasa nyaman dan sejuk seperti ini. 


"Pasti ada alasan Dio tidak menceritakan sama kamu. Jangan jangan ini masalah pribadinya,"


"Maksud kamu?" 


"Apa kerena kamu selalu menolak kamu jadi Dio nggak mau cerita tentang kakaknya pada kamu," tebak Riri. 


"Kamu ngawur kalau ngomong," sembur Rani tidak suka. 


"Bisa jadi kan?"


"Udah kamu jangan bahas itu lagi, aku nggak mood nih!" Sewot Rani. 


"Lebih baik kamu pulang saja, dari pada bikin aku nggak nyaman," usir Rani pedas. 


"Kamu ngusir aku?" Ketus Riri. 


"Kamumya lagi malah bahas itu," bela Riri sengit. 


"Ya udah aku pulang Kaskus gitu, tapi pikirkan apa yang aku omongkan sekarang ya." Riri mengalah. 


Tapi sebelum ia pergi Riri meminta pada Rani untuk memikirkan apa yang ia katakan pada Rani. Setelah Riri pulang Rani hanya diam saja, ia tidak menyangka kalau Riri bakal mengatakanadaalh perasan Dio padanya. 


'Bukan memberikan solusi malah bikin hati mumet,' bisik hati Rani. 


"Hai kenapa ngelamun?" Suara Dio mengangetkan Rani. 

__ADS_1


Rani hanya melirik kedatangan Dio. Laki laki itu lanjsungnduudkndi samping Rani, perpustakaan sepi sekali kerena memang jam masuk kelas telah di mulai. Untung tidak ada jam kosong, jadi semua masuk kelas belajar bersama. 


Kalau misal tidak ada gurunya, semua murid harus masuk ke perpustakaan. Rani hanya bisa kesal saja melihat semua murid masuk perpustakaan, apalagi kalau jam kosong ada dua atau tiga kelas tidak ada gurunya. 


Otomatis perpustakaan tempat belajar anak anak, belum lagi murid murid sering membuang sampah sembarangan, sedangkan tempat sampah sudah tersedia. 


Tapi tetap saja, banyak siswa maupun siswi membuang sampah di perpustakaan. Mau mengingatkan guru piket, takut salah paham. Rani kadang lebih banyak diam saja, yang penting ia datang dan membersihkan perpustakaan, ya itung itung kerja tambahan selain mengurus bahan pustaka yang ada di perpustakaan. 


"Hai kok diajak ngomong nggak ngerespon. Ayam aku juga begong malah disembelih buat lauk makan," canda Dio pada Rani. 


Rani langsung memukul lengan Dio dengan kerasnya tapi nihil, Dio lanhsung menghindar sambil tersenyum manis kearah Rani. 


"Kenapa?" Kata Dio kembali.


"Ada apa sih dengan mbak Rani?" Spontan Rina menanyakan tentang Rina pada Dio. 


"Oh! Berati kamu melamun kerena kak Rani ya!" Ujar Dio memahami Rani. 


Rani mengangguk saja."Apa yang dikatakan Adinda benar sih!" Kata Rani serius. 


Dio tidak merespon Rani, tapi ia hanya menghela nafas panjang. Sebenarnya bukan ia tidak ingin membahas apa yang Rani bicarakan, sebenarnya ia juga tidak tahu apa yang di lakukan kakaknya sendiri. 


Kalau ia jadi kakaknya juga mungkin apa yang dilakukan Rina bakal ia ikuti oleh dirinya. 


"Maaf aku juga nggak tahu apa apa tentang kak Rani." Kata Dio jujur. 


"Nggak tahu atau nggak mau ngasih tahu, kerena ia kakak kamu," sembur Rani tidak suka jawaban dari Dio. 


"Kamu nggak percaya sama aku," tatap Dio mendengar semburan kata kata Rani. 


"Aku nyakin kamu tahu kepergian kakakmu, masa kamu ngga tahu, kalian satu rumah!" Ketus Rani. 


Wanita itu sambil mengebrak meja yang ada dihadapan nya. Dio melotot melihat mejanyang digwbrak oleh Rani. Matanya melirik Anindya yang tidur, bayi yang baru 60 hari itu hanya bergerak pelan saat mendengar suara yang berasal dari pukulan tangan Rani. 


Rani juga kangen ia melakukan itu spontan, kerena Dio seperti menyembunyikan sesuatu pada dirinya. 


"Ran! Jangan berisik. Anindya tidur." Hela Dio pada Rani. 

__ADS_1


Rani hanya diam saja mendengarkan Hela nafas Dio. 


"Kamu harus percaya aku Ran, nggak mungkin aku bohong Sam kamu, kak Rina pergi, tidak bilang bilang apalagi mas Rey juga nggak pernah pulang." Kata Dio menjelaskannya. 


"Aku kira kamu tahu, trus menyembunyikan semuanya padaku," kata Rani. 


"Kapan aku suka bohong, Rani. Perasaanku juga nggak pernah aku bohong sama kamu.aoalagi tentang kak Rina." Goda Dio. 


"Apaan sih!" Hindar Rani. 


Ia langsung beranjak dari tempat duduk nya saat mendengar Anindya menangis. Awalnya Dio hendak memangku Anindya tapi keburu Rani yang memangku Anindya. 


Wanita itu langsung memangku Anindya dan menempelkan tangannya ke pipi Anindya, bayi itu langsung mengikuti gerakan tangan Rani. 


"Kamu lapar ya, oke ibu kasih ASI buat kamu ya," ujar Rani sambil melirik Dio. 


Dio mengerti apa yang Rani inginkan, tanpa menunggu perintah dari Rani. Ia langsung meninggalakan perpustakaan untuk memberikan waktu supaya Rani menyusui Anindya. 


Setelah Dio keluar ia langsung menyusui Anindya, bayi itu dengan lahapnya menyusui dari Rani. Ia terharu melihat Anindya yang begitu lahap minum asinya. 


"Kamu lapar ya sayang, maafkan ibu ya." Kata Rani memegang tangan Anindya dengan lembut sekali. 


Jam pulang sekolah langsung berbunyi dengan kerasnya. Dio langsung menuju ruangan Rani yang masih di perpustakaan, sejak Anindya lahir setelah 40 hari Dio selalu antar jemput Rani. Biarpun Rani selalu menolaknya tapi Dio berusaha untuk bersama Rani dan Anindya. 


Awalnya Rani selalu diantar oleh Zoya tapi dio.melarang Zoya mengantarkan Rani kerena Dio khawatir kalau Zoya terlambat ke sekolahnya, ditambah lagi kalau pulangnya Zoya pulang jam 16.00 kerena di SMA sudah melaksanakan full day. 


Kalau Sabtu kadang Zoya yang antar jemput Rani. 


"Kita bareng saja ya Ran, kasihan Anindya kalau panas panasan," kata Dio menghampiri Rani. 


Rani yang sedang membuat grafik tentang para pengunjung pemustaka di perpustakaan. 


"Oke!" 


"Tapi aku lapar nih! Aku beli nasi Padang dulu ya, kamu tunggu disini, aku bakal beli juga buat kamu." Kata Dio sambil melangkahkan kaki keluar. 


"Dio, pake uang aku aja sih! Kemarin kita makan pake uang kamu, Mada sekarang uang kamu lagi,"protes Rani sambil meraih tas dan mengambil dompetnya. 

__ADS_1


Dio akhirnya menganguk saja, ia menerima uang dari Rani. Setelah Dio pergi Rani hanya melihat Dio pergi mengunakan Avanza-nya. Ia tidak.mau mengatakan kebaikann Dio demi dirinya, kalau dipikir sih Dio lebih berkorban daripada dirinya sendiri.*


__ADS_2