
"Entah lah RI, aku nggak bisa mengelak," gumam Rani di perpustakaan.
"Jadi kamu setuju dengan apa yang dia katakan?" tanya Riri penasaran?"
Entahlah aku juga nggak bisa berpikir jernih," Rani benar benar blank dalam permasalahnya yang ia hadapi.
"Kamu jangan stres, kasihan kandungan mu," kata Riri menasehatinya.
Riri pernah baca sih tentang wanita hamil, kalau bisa wanita hamil itu jangan sampe stres, kecapean, itu bakal terpengaruh pada janinnya. Entah benar atau tidak nya sih itu, ia memang belum merasakannya.
"Aku juga ingin tenang sih, Ri, tapi bagaimana semua orang malah melibatkan aku dalam persoalannya." Dengus Rani kesal.
Apalagi mengingat kedatangan Santi yang memaksa ia untuk mwncoba gaun pengantin. Rey juga disana bersama Rian dengan muka ditekuk.
"Kamu jangan senang dulu ya, ini mungkin akhir dari dirimu," cerca Rina bergemuruh hatinya.
Wajahnya terlihat sangat sangat sekali, apalagi Rey menatap seperti ingin mencengkram tubuhnya dan melumatkan sampai tidak ada sisa sama sekali.
Riri langsung mengusap tangan Rani lembut.
"Seharusnya sih aku senang, tapi keadaannya tidak memungkinkannya." lanjut Rani pasrah..
Riri hanya mendengarkan keluh kesah Rani saja ia tidak menambah beban dengan pertanyaan atau komentar yang tidak seharusnya ia ucapkan. Ia tidak ingin kalau Rani bakal susah oleh pertanyaannya, untuk sekarang mungkin Rani hanya butuh ditemani bukan di nasehati.
"Jangan percaya apa yang ia bicarakan! Dia pasti senang kan bisa.menkkah dengan aku!" tiba tiba Rey datang menghampiri kedua wanita yang masih asyik mengobrol.
"Rey hati hati kamu bicara!" teriak Rani tidak suka..
Rani.lanhsung berdiri saat ia mendengar Rey datang dan menyemburkan kata kata ketidaksukaannya pada dirinya.
"Hati hati, seharusnya kamu yang tahu diri, sudah tidak diakui malah datang dengan kehamilan mu, seharusnya kamu gugurkan saja kandungan mu, biar ibuku tidak mengharapakan bayi itu!" gertak Rey emosi.
Sampai meja yang ada dihadapannya di gebrak dengan keras sekali. Sampai Riri yang masih duduk terkejut sekali melihat kemarahan Rey yang memuncak segitunya menatap Rani penuh kebencian.
"Aku nggak pernah meminta pada ibumu Rey. Buat apa aku memintanya, sejak dia tidak merestui aku jadi menantunya. Jadi buat apa aku caper sama ibumu, buat apa?!" teriak Rani kalap.
Ia dengan refleknya memukul lengan Rey dengan kerasnya. Ia tidak menyangka kalau Rey bakal mengeluarkan kata kata itu padanya. Hatinya terluka, berdarah mendengarkan apa yang keluar dari mulut Rey.
"Alah nggak pernah meminta..Buktinya kamu menyisihkan Rani dalam kehidupanku," sudut Rey menghindar dari pukulan tangan Rani yang bertubi tubi..
__ADS_1
"Rey! Hentikan ocehan kamu. ocehan kamu nggak ada yang bermutu!" terik Riri yang masih ada disana..
Riri langsung beranjak dari tempat duduknya, ia menghampiri Rey dan menarik lengan Rey untuk menjauh dari Rani. Riri tidak mau kalau Rey terus menyudutkan Rani terus dengan kata katanya yang pedas.
Rey yang ditarik lengannya oleh Riri langsung menepiskan tangan wanita itu dengan kasarnya. Ia tidak suka kalau Riri ikut campur urusan dirinya dengan Rani.
"Lepaskan penganan kamu dari tanganku!" teriak Rey kasar.
"Aku bakal lepaskan tanganku dari tubuhmu, asal kamu pergi dari sini jangan bikin onar!" teriak Riri mengusir Rey.
"Oke, aku bakal pergi tapi aku ingin menyelesaikan urusanku dulu," ujar Rey menatap Riri.
Riri yang ditatap oleh Rey tidak membalas tatapan Rey ia hanya menatap wajah Rani, mencari kepastian pada wajah sahabat nya. Akhirnya Rani mau tidak mau hanya mengangguk kerena ia juga tidak mau ada pertengkaran lagi dengan Rey.
Rey tidak pergi biarpun ia diusir oleh Riri, ia mendekati Rani kembali yang masih menatapnya.
Riri akhirnya meninggal ruangan itu dengan hati tidak karuan, ia sangat tahu Rey seperti apa ia tidak mau sebenarnya pergi kwrena Rey pasti melakuakan perbuatan yang tidak diinginkan, tapi Riri berusaha percaya pada apa yang dilihatnya.
Setelah Riri pergi, Rey mencengkram tangan Rani dengan kuat sekali. Sampai Rani meringis kesakitan.
"Kamu jangan harap lebih!"
"Aku tahu kamu seperti ini kerena kamu merencanakan semuanya kan, pantas kamu nggak mau menggugurkan kandungan mu," tuduh Rey.
Rey merasa kalau Rani sekarang ingin menghancurkan dirinya, kerena ia hamil jadi Rey menyangka kalau Rani lah yang jadi biang keladi dari semuanya.
"Mbak Rina kan yang telpon ibu, bukan aku?"
"Alah kamu hanya ingin Rina yang disalahkan olehku, kamu bahagiakan kalau aku dan Rina...!" teriak Rey emosi.
"Cukup! Rey. Kenapa harus aku yang di salahkan oleh kamu dan keluargamu!" teriak Rani sambil menarik tanganya dari cengkraman tangan Rey.
"Kalau kamu datang hanya untuk itu lebih baik kamu pergi! Pergi!" teriak Rani sambil melangkahkan kaki kearah kursi pustakawan..
Ia menghempaskan tubuhnya ke kursi, sambil membenamkan wajahnya ke tangan yang ia lipat diatas meja. Ada kekesalan dihati Rani.
Melihat itu Rey sebenarnya ia ingin melayangkan tangannya kearah Rani tapi saat tangannya diatas tiba tiba seseorang datang dan menghalangi tangan Rey.
Rey langsung menepiskan tangan orang itu, dan melihat lada orang yang datang. Dio.
__ADS_1
"Kak, hentikan semuanya. Lebih baik kakak urus sendiri istri kakak daripada mengurusi Rani," sembur Dio kesal..
"Oh! Kamu," lirih Rey agak sinis..
Rani mengangkat wajahnya dan lihat Dio di samping Rey. Mereka saling memandang penuh dengan bara api yang terpancarkan di matanya.
"Dio sudah, jangan ladeni dia." Rani beranjak dari duduk nya dan langsung menyentuh tangan Dio.
"Seharusnya ia jangan seperti ini sama kamu?"
"Kenapa sih kamu ikut campur terus!" teriak Rey tidak suka.
Ia benar benar tidak suka kalau Dio selalu ada di samping Rani, 'kenapa bukan aku saja yang ada di samping Rani, kenapa harus adik iparku,' rintih Rey sakit.
Lebih sakit kalau Dio memperhatikan Rani apalagi dihadapannya.
"Aku nggak pernah ikut campur, kamu nya saja yang baper," hantam Dio tajam.
PLAK!
BUG!
Sebuah tamparan dan pukulan mengenai pipi Dio dengan keras, sampai Dio tidak menduga sama sekali kalau Rey akan melakukan itu pada dirinya. Tubuh Dio terhuyung kebelakang, Rani juga kaget tapi ia langsung pasang tubuh menghalangi Dio.
"Rey kenapa sih kamu seperti ini?" teriak Rani kesal dan geram pada Rey.
"Kamu nggak suka kalau Dio di hajar, jangan jangan kamu," terik Rey tidak melanjutkan kata katanya.
"Kamu cemburu," lirih Rani pelan.
Sebuah debaran hati berdetak dengan cepatnya di dada Rani, ia tatap wajah Rey yang hanya memalingkan wajahnya kearah.
Tapi ucapan Rani yang lirih itu terdengar jelas ditelinga Rey dan Dio. Dio menatap Rey saat ia mendengar apa yang diucapkan oleh Rani. Tapi Rey yang ditatap seperti itu hanya menghindar saja.
"Jawab Rey, apa kamu cemburu!" getar suara Rani.
"Ran, sejak dulu sampai sekarang aku sayang kamu. Kenapa kita harus seperti ini, aku sampai saat ini tidak pernah mencintai Rina. Rina telah aku anggap adikku, kamu puas!" teriak Rey frustasi.
Laki laki itu langsung meninggalkan Rani dan Dio. Mendengar ungkapan hati Rey, Rani sempoyongan dan menjatuhkan badan ke lantai dengan hati sakit. Dio melita Rani langsung memburu Rani, tapi Rani diam saja. perasaan nya menjadi galau antara benci, rindu, kecewa, pada Rey.
__ADS_1
Dio merangkul bahu Rani dengan erat ya. Hati Dio terluka sangat terluka mendengar kejujuran hati Rey, biarpun suatu waktu Rey menyakiti kakaknya mungkin itu lebih baik daripada Rey menelantarkan anaknya.*