
"Trus ayahku dimana Dio? Aku nggak nyakin kalau wanita itu istri ayah." kata Rani serius.
Rani masih belum.percaya kalau wanita yang ia temui itu adalah istri dari Surya ayahnya.
'Masa doyan daun muda,' gumam Rani dalam hati.
"Mungkin anak temannya yang numpang di rumah ayahmu," kata Dio meraba raba.
"Dari dulu juga sebenarnya ayahmu itu sudah doyan daun muda, nggak puas dengan satu wanita," sembur Amanda geram.
Ia sebenarnya geram ketika ia melihat wanita yang ada di rumah Surya tidak heran bagaimana, gara gara wanita itu Surya tidak pernah mencari dirinya. Dan lebih parah lagi wanita itu juga punya anak kecil dari Surya.
Amanda kalau tidak dicegah ingin rasanya mengamuk dan memukul wanita muda yang ada di hadapannya, tapi keburu Dio mencegah kalau saja Dio tidak mencegah mungkin wanita muda yang kemarin ia temui sudah jadi perkedel.
Hati Amanda menggerutu sebenarnya melihat wanita muda itu dengan santainya memangku gadis kecil yang memanggil ibu pada wanita muda itu.
"Senja,"
Nama yang terhiang hiang ditelinga Amanda. Dan yang lebih geram lagi nama gadis itu yang akan disandingkan pada bayi yang ia bakal lahirkan. Tapi kata orang bayi nya laki laki dan diculik.
Rani yang mendengarkan kata kata Amanda hanya diam saja, ia tidak menyangka kalau Amanda bakal melontarkan kata kata seperti itu pada dirinya.
Dio yang tahu Rani hanya diam hanya mengusap bahu Rani lembut.
"Aku ingin istirahat," ujar Rani.
Ia secara halus mengusir Dio dan Amanda, ya kerena di dan Amanda tadi pagi ke rumahnya hanya ingin bicara tentang Surya, otomatis ia juga tidak tahu apa yang harus diperbuat sama sekali.
"Kamu bilang saja mengusir kami di sini, kamu nggak suka ya kalau kami main sambil lihat anakmu?" tanya Amanda sewot.
"Bu,"
Dio langsung melerai ibunya yang emosi. Dio langsung mengambil tangan ibunya, Amanda menepiskan tangan Dio tapi Dio berusaha mengajak ibunya pergi dari rumah Rani. Akhirnya Amanda mau pulang setelah Dio menatap wajah Amanda dengan tajamnya.
Rani diam saja melihat Amanda dan Dio pulang, ia langsung mengunci pintu dan masuk kamarnya.
__ADS_1
*
"Kita harus bunuh cucu Ilham, jangan biarkan ia hidup di bumi ini," gaun laki laki setengah baya.
Biarpun kulitnya keriput tapi badannya masih kekar, dan suaranya masih keras. Sorot matanya tajam setajam mata elang, anak buah yang ada dihadapannya hanya menunduk saja.
"Aku dengan anak Ilham telah melahirkan bayi itu, bunuh bayi itu, aku nggak Sudi melihat bayi itu hidup tenang." lanjut laki laki itu mengelegar.
"Baik Tuan kamu bakal menemukan bayi itu secepatnya." kata anak buahnya yang paling bongsor.
HA HA HA
Tawa laki laki itu melengking sangat kuat, sampai tubuhnya bergoyang. Ia membanyangkan wajah istrinya Ilham bakal shock melihat cucu tercinta tergeletak penuh darah.
Dan laki laki itu juga membanyangkan kalau anak dari Ilham yaitu ibu dari bayi itu juga bakal mati kerena melihat anaknya merenggang nyawa melihat anak yang dilahirkan meninggal di tanganya.
Ia benar benar ingin rasanya mendengar tangisan anak Ilham, dan cucunya Ilham. salah satu anak buahnya langsung mengundurkan diri untuk mencari informasi tentang keberadaan anak Ilham dan cucunya Ilham. Sedangkan laki laki itu hanya tersenyum puas membayangkan target utama nya mendapatkan ganjaran.
Setelah anak buahnya pergi semua, laki laki itu hanya menatap kosong kearah depan. Ia masih terbayang kejadian yang membuat membenci Ilham.
"Aku bangga sama kamu Ilham, kinerja kamu bagus. Aku angkat kamu jadi presiden di perusahan yang aku pimpin." tepuk tangan bergemuruh.
Tapi salah satu karyawan sangat geram ia tidak menyangka kalau perusahaan yang jadi incarannya malah diturunkan pada Ilham. sejak saat itu ia mendendam pada Ilham. Dan ditambah lagi Ilham telah membunuh adik sepupunya. Kemarahannya semangkuk memuncak saja, dan kini ia mendengar kalau anak Ilham telah melahirkan anak.
Jadi ini seperti ada kesempatan untuk membalas dendam pada Ilham melalui anak dan cucunya.
*
"Jadi?" Santi terbelalak saat Rey menceritakan apa yang terjadi.
"Iya Bu, aku lebih baik kehilangan bayi itu di bandingkan aku harus melihat bayi itu dibunuh oleh orang lain, aku yang harus menghabiskannya!" teriak Rey geram.
"Aku nggak ikhlas kalau orang lain yang membunuh darah dagingku sendiri!" lanjut Rey berteriak histeris.
Santi gemetar mendengar apa yang diceritakan oleh Rey, ia tidak menyangka kalau laki laki itu telah tahu kalau Rani hamil dan melahirkan, jadi selama ini Rey melakukan?
__ADS_1
Santi tidak bisa menahan emosi, ia sebenarnya ingin menyatukan Rey dengan Rani tapi itu tidak mungkin kerena tujuan Rey ingin membalas dendam pada Surya dan sekarang Santi tahu semuanya dan Rey memohon pada ibunya untuk tidak memberitahukan semua orang.
Gamang!
Santi benar benar benar gamang sekali. Tapi wanita itu langsung beranjak dari tempat duduknya lalu meninggalkan Rey yang masih berada di ruangan tengah, sedangkan Rina entah kemana perginya.
Rina sebenarnya berkunjung ke suatu tempat, ia menemui seseorang, tapi orang yang ditunggunya belum ketemu sama sekali, sampai ia berhenti di pinggir jalan.
BRAK!
Tiba tiba sebuah motor dengan kecepatan sedang menabrak pohon yang ada di pinggir jalan. Rani yang melihat langsung menolong wanita yang naik motor itu..Untung wanita itu hanya jatuh saja, sedangkan di belakang motor yang dibawa wanita itu, sebuah mobil dengan kecepatan kencang lolos begitu saja.
"Untung selamat!" gumam wanita itu meringis merasa perih di lututnya.
"Mbak nggak apa apa,?" tanya Rina menatap wanita itu.
"Makasih ya dek, udah menolong!" ujarnya tersenyum..
"Mbak dikejar mobil itu," lanjut wanita itu.
"Kok dikejar?" tanya Rina keppo.
"Dek, bisa anterin mbak ke alamat xxxx" kata wanita itu.
Rian tidak langsung menjawab, ia melonggo mendengar alamat yang disebutkan wanita itu! Alamat yang tidak begitu asing dalam pikirannya, waktu ia ingin menanyakan lebih lanjut masalah alamat itu, tapi wanita yang ditolong Rian langsung bicara kembali.
"Dek, kamu bisa bawa motor kan?" Tanya wanita itu menatap wajah Rina.
"Bawa kok mbak, emang kenapa ya" gugup Rina.
"Motor kakak kayanya nggak bisa digunakan kembali, motornya rusak jadi kamu.mau kan nganterin kakak ke rumah kakak." tatap wanita itu.
Rina mengangguk setuju. Setelah motor wanita itu di simpan di bengkel kedua wanita langsung menuju alamat yang tadi di sebutkan oleh wanita yang ditolong Rina.
Rina melonggo melihat rumah wanita yang ditolongnya sangat mewah, Rina dibawa kedalam rumah.
__ADS_1
"Ibu!" panggi bocah kecil berlari dan langsung memeluk tubuh ibunya erat.
Rina hanya melihat adegan antara ibu dan anak begitu indahnya. Tiba tiba ia ingat ibunya yang selalu ada disampingnya. Ia hanya menelan ludah melihat semua keakraban kedua wanita yang ada dihadapannya.*