BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Sisi Lain Rey 1


__ADS_3

Rani panik saat tahu Anindya hilang. Dio langsung memberitahukan kalau Anindya dibawa sama Rey. 


Wajah Rani terlihat pucat saat telinganya mendengar kalau Anindya dibawa oleh Rey. Ia ingat waktu beberapa orang mendorong tubuhnya, sampai ia kesakitan kerena dorongan laki laki itu kuat sekali sampai tubuhnya terbentur. 


Rani sempat melihat Rey tidak peduli pada dirinya, tapi Rey malah menghampiri Anindya. Setelah itu ia tidak sadarkan diri, ia tidak tahu Rey membawa Anindya kemana. 


Perasaan itu oleh Rani ditekan supaya Dio yang ada dihadapannya tidak tahu. 


"Kau biarkan dia bawa Nindy!" Rani sewot mendengar apa yang dikatakan oleh Dio. 


Rani sewot pada Dio kerena Dio tidak menolong anaknya, dan malah membiarkan Rey membawa anaknya begitu saja. 


"Maaf, aku hilap. Awalnya aku mau mengejar mas Rey tapi aku khawatir sama kamu disini dalam keadaan nggak sadarkan diri," bela di membela diri. 


"Anindya bukan anakmu sih jadi kamu nggak pernah peduli," dengus Rani marah. 


"Kamu sama saja dengan Rey. Kamu puaskan Anindya hilang," lanjut Rani menepiskan tangan Dio yang hendak memegang tangan Rani. 


Rani langsung pergi begitu saja, Dio yang melihat Rani seperti itu langsung menyusul Rani. 


"Kamu mau kemana?" Tanya Dio. 


Rani hanya diam saja, ia langsung menghempaskan tubuhnya ke kursi yang ada di rumah itu. Sedangkan Ningsih dan Zoya tidak bisa berbuat apa apa melihat kemarahan Rani. 


"Aku nyakin mas Rey nggak bakal melukai anaknya sendiri, itu kan yang kamu katakan?" Kata Dio. 


Rani tertegun mendengarkan apa yang dio katakan. Rani hanya menarik nafas saja, kerena ia masih ingat, kalau kata kata itu adalah kata kata yang pernah ia ucapkan pada Dio. 


"Kamu tahu nggak waktu Anindya mennagis lalu di pangku begitu sama Anindya tidak nangis ia malah diam saja malah berceloteh lucu," lanjut Dio menceritakan tentang Anindya. 


Rani hanya diam saja. Hati Rani tiba tiba luluh mendengarkan kalau Rey menyelamatkan Anindya, Dio berusaha membuat Rani nyaman kembali. 

__ADS_1


Di sisi lain Zoya yang mendengar kalau Rani menyalahkan Dio, ia awalnya ingin membela Dio tapi Ningsih menggelengkan kepalanya. Akhirnya Zoya hanya diam saja di dalam bersama ibunya, mereka saling duduk berdampingan, Dio yang membuka ikatan mereka berdua. 


"Aku yang seharusnya yang diinginkan mereka bukan kak Rani," getir Zoya. 


Ia menyadari semuanya, sebenarnya penculikan bayi Rani kerena dendam Surya pada Ilham. Tapi sasarannya Adah anaknya sendiri. Ya Surya tidak menyadari kalau Rani adalah anak sendiri dari pernikahannya dengan ibu. 


Zoya hanya bisa menelan ludahnya. Ningsih merangkul tubuh putrinya dengan lembut, ia merasa bersalah pada Surya dan ia yang meminta cerai. 


Kalau saja tidak minta cerai mungkin Surya tidak akan meninggalkan dirinya dan semuanya tidak akan seperti ini. Ningsih memegang tangan Zoya dengan erat sekali. 


"Semua salah ibu, ibu meminta cerai kerena ibu nggak mau dijadikan yang kedua. Ibu tahunya Surya belum.ounya istri, ibu menggugat cerai kerena ibu tahunya ibu tidak hamil tapi kenyataannya," jelas ningsih. 


Di wajah Ningsih terlihat ada guratan penyesalan yang mendalam apalagi mengingat kehidupan Rani yang sekarang. Tapi, ia tidak bisa mengubah semuanya kerena semuanya telah terjadi dan tidak mungkin waktu bisa terulang lagi. 


Ditempat yang lain. Rina dan Rey hanya diam saja, melihat Anindya tertidur dengan pulas. Rey berusaha untuk menidurkan Anindya di kasur yang ia pakai, dengan berlahan tapi pasti Rey menurunkan Anindya dari gendongan. 


Rey juga beberapa kali mengelus kepala Anindya dengan lembutnya. Gerak gerik Rey tidak lepas dari tatapan mata Rina yang melihat semua yang Rey lakukan untuk Anindya. 


"Rey kamu sayang sama Anindya?" Tanya Rina. 


Pertanyaan klasik dari Rina muncul begitu saja kerena ia tahu kalau Anindya adalah hasil dari luar nikah. 


Rey tersentak mendengar pertanyaan Rina, ditatap wanita yang ada dihadapannya. 


"Pertanyaan aneh, ya iyalah aku sayang sama Anindya bagaimanapun Anindya anakku, darahku.mwhalir dari tubuhnya." Ujar Rey cuek. 


"Anindya lucu, gemes lagi aku lihatny, kalau saja dulu aku menikah dengannya mungkin aku sudah punya anak berapa ya sama dia," lanjut Rey memandang wajah Anindya lembut. 


Rina menelan ludah dengan susah payah mendengar apa yang keluar di hati suamianya, ya ia nyakin kalau kata kata yang dilontarkan Rey murni hasil dari hatinya Rey yang sebenarnya. 


Rey langsung mengalihkan pandangan pada Rina yang diam saja, melihat Rey melihat pada dirinya Rina hanya menghela nafas panjang. 

__ADS_1


Ada rasa kesal sebenarnya dalam hati, tapi ia berusaha menekan perasaan itu. Lalu tanpa diperintah Rina meninggalakan Rey yang masih di ruangan itu bersama dengan Anindya. 


Tidak lama kemudian Santi datang, ia heran disamping Rey terdapat bayi yang tertidur lelap. Hatinya bergetar saat melihat kalau bayi itu adalah Anindya. 


"Bu, jangan dinganggu!" Jerit Rey melotot pada ibunya. 


"Kamu mwmcitu bayi Rani? Kok bisa?" Tanya Santi yang hampir saja menggendong Anindya. 


Tapi gerakan tangan Santi berhenti diatas angin kerena Rey melarang Santi buat membangunkan Anindya. Di lihat wajah anaknya dengan tajam, ia ingin mendengar apa yang terjadi. 


"Jangan jangan kamu?" 


"Bu, nggak mungkin aku lakukan itu pada Anindya!" Jerit Rey tidak suka. 


"Anindya diculik oleh anak buah Surya, aku nggak rela dia menyakiti anakku, bagaiamana pun Anindya anakku Bu," ungkap Rey tajam. 


Tiba tiba ada perasaan yang hangat saat ia menyebut Anindya adalah anakku, anehnya ia tiba tiba menyukai Anindya mungkin mereka Anindya adalah anaknya ya biarpun sempat tidak diakuinya. Bukan tidak diakui tapi ia tidak ingin kehilangannya saja. 


Santi diam mendengarkan cerita anaknya. Ia juga tidak menyangka kalau Surya bakal melakukan itu pada Rani, sedangkan Rani anaknya. 


Santi sebenarnya sudah tidak diam saja masalah Rani, ia berusaha memberi tahukan semuanya pada Surya tapi kakak sepupunya tetap ngotot. 


"Aku hanya ingin Anindya tumbuh besar, Bu. Tapi kenapa kakek sendiri ingin menghabiskan nyawanya," getir Rey. 


Ia lupa kalau diriny sewaktu Anindya berada dalam kandungan berusaha untuk mengugurkan bayi itu. Rey tidak ingat itu, malah dalam matanya ada kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. 


Rey dengan lembut mengelus wajah Anindya yang masih terlelap tidur. 


"Sebentar lagi Rani kesini kok, Bu. Tenang saja," hibur Rey pada Santi. 


Apa yang dikatakan oleh Rey terbukti Rani dan Dio datang bersama dengan Zoya dan Ningsih. Rani yang ingin memeluk tubuh kecil Anindya dibiarkan oleh Rey, Rani langsung memeluk tubuh Nindy dengan lembut sampai Anindya menangis terbangun dari tidurnya. 

__ADS_1


Rani sedikit melirik wajah Rey yang mengusut cairan bening yang keluar dari matanya. Hatinya bergetar lembut melihat Rey seperti itu.*


__ADS_2