BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Dio mengingatkan


__ADS_3

Rani hanya menarik nafas dalam dalam kalau menghembuskan nafas panjangnya. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding kamar, matanya memandang lurus kearah jendela.


Angin di alam begitu sejuk sekali, menyentuk tubuhnya yang hanya mengunakan daster pendek selutut.


Rani mengunakan daster hadiah dari Dio, daster bermotif motif bunga kecil kecil berwarna putih campur merah marun.


Rani hanya mendesah saat ia mendengar dengan jelas kata kata Dio pada dirinya kemarin, ia tidak menyangka kalau Dio berpikir seperti itu pada dirinya, sedangkan Rey sama sekali tidak pernah berkata apa apa hanya bisa bully dirinya saja.


Kata kata Dio yang lebih memikirkan keadaan bayi yang dikandungnya, Rani hanya bisa.menarik nafas mengingat semua percakapan dirinya dan Dio di perpustakaan. Untung Rey tidak ada, lalu.midal.ada mungkin semuanya bakal kacau balau kedatangan dirinya.


"Kamu harus pikirkan bayi dalam kandungan mu," kata Dio waktu itu


Dio menemui Rani yang sedang membuat slogan untuk perpustakaan masalah pentingnya membaca.


Rani yang mendapatkan kata kata Dio pada dirinya lanhsung diam seketika juga ia sama sekali tidak menduga kalau Dio mengatakan itu padanya.


"Maksudmu apa sih! Aku nggak ngerti."


"Aku hanya ingin kamu mikirin anakmu itu, bagaiamana kalau kelak ia dewasa dan menayakan bapaknya?" ulang Dio.


"Apa kamu akan jawab ia.anak Rey?" lanjut Dio.


Menatap wajah Rani tajam. Dio menunggu jawaban dari bibir Rani, tapi Rani hanya diam saja ia sepertinya tidak mengubris apa yang Dio katakan, tapi sebenarnya ia juga ketakutan apa yang dikatakan Dio ada benarnya. Ia tidak mungkin menyembunyikan rahasia terus menerus pada anak yang ada dalam kandungannya.


"Kenapa sih kamu tanya itu," ketus Rani tidak suka pada pertanyaan yang dilontarkan oleh Dio sendiri.


"Dengar ya Dio sampai kapan pun anak ini milikku, Rey hanya biologis saja bukan anak nasab" lanjut Rani ketus.


Ia malas berdebat dengan Dio apalagi masalah anak dan ayahnya. Rani juga bukan tidak memikirkan apa yang diucapkan oleh Dio, sebelum Dio menayakan hal itu ia telah memikirkannya.


Hanya ia tidak pernah bilang sama siapa pun juga termasuk Dio sendiri, Rani tidak mau melibatkan Dio pada masalah yang ia hadapi, kalau ia.mau.mungkin Dio juga bakal ikut terjun lalu ia mengizinkan tapi ia sama sekali tidak menginginkan dio ikut campur terlalu jauh dalam urusan nya.


"Tapi, Ran dia butuh ayahnya, ayah biologisnya" sanggah Dio.

__ADS_1


"Tapi dia tidak pernah mengakuinya sampai detik ini juga, aku nggak butuh dinikahi sama Rey yang aku butuhkan pengakuan dirinya," seru Rani tajam.


"Aku tahu rasanya di tinggal begitu saja sama orang yang disayangi, aku ini wanita Dio nggak mungkin kalau aku merebut Rey di hidup kakakmu," lanjut Rani kembali sambil menghela nafas pandang.


Rani mendesah! Apa yang keluar dari mulutnya itu murni keluar dari hatinya sendiri, kalau mau jujur ia sebenarnya tidak pantas mendapatkan cinta Rey kembali tapi keren semuanya sudah terjadi, tidak mungkin kembali ke masa lalu.


Memang kalau memang ia.hsfus jujur, ia masih sayang sama Rey tapi sayang dirinya pada Rey seharusnya tidak seperti ini, mencintai dibarengi dengan hal yang tidak baik.


Rani ingin mengatakan dirinya kotor di hadapan Dio tapi ia urungkan niatan itu, kerena Dio pasti bakal menyalahkan dirinya, apalagi wanita yang di sakiti oleh Rani adalah kakak Dio.


Otomatis lah Dio bakal 100%membela kakaknya dibandingkan dirinya yang bukan siapa siapanya Dio.


Dio lanhsung meraih tangan Rani, ia menggenggam tangan Rani dengan lembut sekali, Rani hanya diam saja saat tangan di menganggam tangannya dengan lembut, ia tidak menepiskan tidak pula membalas ngenggaman tangan Dio.


"Aku mau kok jadi ayah dari anakmu nanti, asal kamu terima aku menjadi suami mu," kata Dio lembut.


Rani langsung menarik tangan nya dari tangan Dio..Dio menatap wajah Rani dengan tajam. Ada perasan yang hilang saat tangan Rani ditarik dari tangannya.


"Dio aku nggak pantas menerima kamu," Dengus Rani.


"Ran, pikirkan anakmu, butuh kasih sayang dari ayahnya, biarpun itu bukan.dsri Rey bisa jadikan ayahnya dari aku,"


"Dio aku ngerti kemana arah yang kau katakan, tapi pantaskah," Rani tidak melanjutkan perkataannya..


Ia nyakin kalau ia.melankutkan.kata katanya, Dio bakal menyangkal kata katanya, jadi ia langsung diam saja. Apalagi kalau ia mengatakan kalau ia tidak pantas untuk Dio. Pasti pria muda bakal marah. Jadi Rani tidak melanjutkan apa yang ia katakan dihadapan Dio.


"Aku hanya ingin sendirian dulu, Dio. Kapan kapan aku pikirkan masalah bayi ini, maafkan aku ya Dio."


"Aku bakal menunggu kamu kok, kalau kamu siap aku bakal menerima kamu," senyum Dio tulus.


Sejak istrinya meninggal, cinta Dio malah berpindah pada Rani. Ia menikahi istrinya juga kerena istrinya mirip dengan Rani, hanya bedanya mungkin kalau istrinya mengunakan hijab sedangkan Rani?


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Rani.

__ADS_1


"Nggak ada apa. kok," elak Dio.


"Dio makasih ya perhatianmu,.Rey nggak seperti ini," getir Rani.


"Nggak apa apa, pokoknya.aku senang kok bantu kamu," senyum Dio.


Dio menyangka kalau Rani masih mengharapakan kehadiran Rey, ia hanya pasrah saja kerena mang cinta tidak pernah bisa dipaksakan sama sekali.


"Kak, dipanggil panggil kok nggak nyait sih!" protes Zoya masuk tanpa mengetuk pintu dulu.


Rani terkejut saat tiba tiba Zoya masuk dan berdiri di hadapan dirinya dengan tatapan heran sekali. Zoya menaksir naksir pada pandangan Rani yang terlihat terkejut saat kedatangan dirinya.


Rani hanya tersenyum kikuk sekali diperhatikan oleh Zoya, Zoya langsung menghampiri kakaknya dsn duduk di pinggir kakaknya.


"Apa yang dipikirkan kakak?"


"Keppo!" Dengus Rani sambil tersenyum kearah Zoya.


"Dasar! Eh, kak Dio ada tuh pengen mengatakan sesuatu pada kakak." Zoya memberitahukan kedatangan Dio..


Rani hanya melonggo mendengarkan apa yang diucapkan adiknya, akhirnya ia bangkit dari duduknya dan langsung menuju ruang tamu.


"Kamu udah pikirkan kata kata ku pada kamu?" tanya Dio menatap wajah Rani yang duduk di depan Dio.


"Aku nggak mau bahas itu Dio, kamu datang cuma bahas itu," seru Rani tidak suka.


"Dio tanpa kamu ingatkan juga aku udah mikirin kok, kamu tenang saja,"lanjut Rani menghela nafas.


"Sampai kapan? Sampai anak itu brojol," tekan Dio kesal.


"Dio ini urusan aku bukan urusan kamu ya, lalu kamu kesini mau bikin gaduh lebih baik kamu pulang," usir Rani.


Rani terlihat kesal, akhirnya ia meninggalkan Dio di ruang tamu. Dio yang melihat Rani menuju kamarnya hanya bisa menggelengkan kepala, akhirnya ia pun pulang dengan tangan kosong, tanpa ada jawaban yang pasti.

__ADS_1


Tapi Rani sebenarnya memikirkan kata kata Dio, hanya ia tidak mau melibatkan Dio dalam masalah yang ia hadapi.*


__ADS_2