BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Rey merasa penasaran


__ADS_3

"Ran, apa yang kamu.ketahui dari aku?"


Wanita itu hanya diam saja tidak memberikan respon sama sekali pada apa yang Rey katakan, Rani tahu kalau Rey merasa kalau dirinya telah tahu..Tapi Rey tidak Meu semuanya terungkap apalagi dihadapan wanita yang pernah mengisi hatinya.


"Oke kalau kamu.nggak mau cerita, itu terserah padamu, emang aku pikirkan," hindar Rey merasa terpojok.


Rey akhirnya tidak mau lama lama Dihadaon Rani, ia meninggalakan Rani di ruang perpustakaan. Ia tidak mau terjerat oleh kata kata Rani lagi, di ruangannya ia hanya mendesah.


"Apa Rani yang cerita?" tanya geram hati Rey..


Cowok itu merampas pahanya. Ia gusar sekali kalau semuanya diketahui oleh Rani, selama ini.memng ia sering memfitnah Rina Dihadaon Rani hanya untuk mencari perhatian Rani yang telah lama ia tinggalkan.


Laki laki itu hanya mendesah saat mengingat percakapan dengan Rani.


"Aku dituduh tidak menghasilkan keturunan, bukanya aku tidak bisa tapi Rani mungkin Rani mengalami kemandulan," desah Rey Kala itu.


"Kamu sabar ya, Alah sayang kamu kok!" hibur Rani terenyuh mendengar curhatan Rey.


Rani mengusap bahu Rey dengan lembut, tapi tiba tiba saat tangan Rani menyentuh bahunya biarpun dilapisi baju kemeja coklat, tapi perasaan Rey seperti tersengat ribuan lebah. Satu satu aliran yang hangat menyentuh otaknya, tiba tiba ia membalikan tubuhnya menatap wajah Rani tajam, deburan jantung berpacu sangat keras sekali.


Bola mata Rani juga terkesima.melihat wajah tampan Rey yang memikat, Rey dengan santainya memegang tubuh Rani, wanita itu hanya diam saja seperti membiarkan apa yang dilakukan Rey.


Rey mendengar dengan jelas ******* halus keluar dari mulut Rani, wanita itu membiarkan tangan Rey membelai rambutnya, menciumnya dan Rey mencumbu leher Rani dengan penuh gairah dan hasrat.


Malam hujan dengan lebat. Seperti memberikan peluang sama keduanya untuk mereguk cinta yang terputus ditangan jalan, Rey tidak memikirkan Rina yang setia menunggu di rumah.


Sedangkan Rani yang awalnya telah mabuk cinta pada Rey, dengan mudahnya terbujuk rayuan cinta yang tidak mestinya dilakukan oleh keduanya.


Malam yang sejak dan dingin, ditambah angin yang menusuk tulang. Memberikan dingin yang alami dari alam, tapi dinginnya hujan tidak memusnahkan hangatnya di sebuah kamar. Lampu kamar sengaja seperti dimatikan begitu saja, ******* demi ******* terdengar lirih.


Malam yang seharusnya tidak harus terjadi, kini malah terjadi sangat singkat dan memuaskan Rey sendiri. Didekapnya tubuh Rani yang berada disampingnya, Rey tidak memikirkan Rina yang menunggu sampai ketiduran di sofa rumahnya.

__ADS_1


Rina tidak menyadari kalau suaminya bakal bercinta di rumah mantan kekasihnya dulu. Dio lah yang membangunkan Rina dari tidar lelapnya.


"Aku menunggu Rey," ujar Rina saat Dio berhasil membangunkan kakak dan menanyakan keadaan kakaknya yang tidur di sofa.


"Kakakmu belum pulang?" tanya Rina menatap wajah Dio tajam..


Laki laki yang ditunggu oleh Rina malah berada di pelukan wanita lain. Seharusnya wanita itu Rian bukan Rani, kerena Rina adalah istri yang sah Dimata Allah dibandingkan Rani, tapi nyatanya tidak sama sekali.


Rey terkejut saat pintu kantornya di.ketukndengam.keras sekali, lamunannya langsung buyar seketika juga langsung beranjak dari kursinya menuju daun pintu yang tertutup.


"Dio, ada apa kamu kesini?"


"Jangan nganggu Rani.!"


Tiba tiba Dio yang berdiri di hadapan Rey, ketika pintu telah terbuka oleh Rey lebar lebar. Melihat Dio yang datang Rey hampir saja menutup kembali pintunya, tapi Dio dengan cepat menghalangi pintu supaya tidak ditutup oleh Rey.


Rey dengan keras menutup tapi tenaga Dio besar sekali, mereka saling dorong pintu seperti.mwbgadu kekuatan. Akhirnya Rey melepaskan pintu yang di dorong Dio, hampir saja Dio terjatuh.


Tapi Rey tersenyum puas, saat tubuh Dio terpelanting sedikit saat tanganya yang tadi memegang pintu, tiba tiba dilepas begitu saja.


"Maksud kamu apa?" tantang Dio.


Alah, ngeles saka.kamu. Jangan jangan kakak kamu ya yang telah cerita semuanya pad Rani!" Rey marah kalau ingat kata kata sinis Rani tadi.


"Aku nggak ngerti apa yang kau bicarakan." gumam Dio menarik nafas dalam dalam..


PLAK!


Tiba tiba dengan cepatnya Rey langsung melayangkan tanganya menuju pipi Dio dengan kuatnya. Sampai Dio yang tidak menduga sama sekali, kaget kalau Rey melakukannya.


"Aku tahu. Kalau kakakmu itu bukan wanita baik baik, penyebar aib!" dengan gemasnya Rey menunjuk wajah Dio.

__ADS_1


Dio yang tidak mengerti kemana arah bicara Rey hanya menepiskan tangan Rey yang menunjuk wajahnya. Ia hanya datang ke ruangan kakaknya cuma ingin mengingatkan Rey supaya tidak menganggu kehidupan Rani lagi. Tapi Rey malah bilang tentang kakaknya yang menyebar aib, Dio benar benar tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Rey.


Dio tadi sebenarnya melihat Rani hanya melamun saja, saat ditegur wanita itu hanya senyum tipis, ia bertanya Rani tidak menjawab. Melihat Rani seperti itu Dio langsung mendatangi ruangan kakaknya.


BUG!


Dio dengan geramnya meninju pelipis Rey dengan keras sekali, Rey sempoyongan..Tanpa ampun lagi ia langsung mendorong tubuh kakak iparnya yang sempoyongan, dasar apes. Tubuh Rey meluncur dengan bebas mengenai meja yang ada di depannya.


BRAK!


Suara keras terdengar. Ditambah tubuh Rey terhempas setelah terbentur kepala dulu. Dio yang akan menghampiri Rey tidak jadi kerena salah satu tangannya ada yang memegangnya. Dilirik siapa pemilik tangan itu..


Rani.


"Dio, sudah."


Ucap Rani sambil menarik tangan Dio menuju ruang perpustakaan. Rey yang tersungkur bangkit kembali, ia duduk di dekat meja yang tadi membuat ia terhempas. Dadanya terasa sakit kerena dadanya langsung mengenai lantai, sedangkan tanganya yang seharusnya menahan malah lurus saja. Ya secara reflek ia terbentur sangat kuat.


Ia hanya bisa.memijT dadanya yang terasa sesak sekali. Ia belum bangkit dari duduknya ia malah memandang pintu yang terbuka sambil merenungi kata kata Rani.


Rey nyakin kalau Rani yang cerita semuanya, menurut hati Rey kalau Rani hanya ingin membenarkan diri sendiri, tapi hati kecilnya ia juga sebenarnya mengakui salah tapi ia tidak mengakuinya.


"Aku melakukan untuk Rani, bukan untuk orang lain," bisik hati Rey pelan.


Ia menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan kembali. Akhirnya ia beranjak dari duduknya lanhsung berdiri sambil menahan sakit di dadanya. Ia sedikit sedikit memijit dadanya yang terasa panas.


"Masa iya Rani cerita?"


Rey masih bertanya tanya dalam hatinya, Rani tidak mungkin tahu kalau ia melakukan itu pada Rani, kalau Rina tidak menceritakan pada Rani.


"Tapi buat apa? Ah!" desah Rey.

__ADS_1


Ia mengepalkan tangannya dan langsung memeluk meja yang berada disampingnya.


BUG!*


__ADS_2