
Dio hanya memandang dedaunan di balik jendela. Hujan mulai mengguyur perkampungan yang ditempati Dio. Hujan juga yang membuat ingatan Dio pada sosok Rani.
"Maaf aku nggak bisa,"tolak Rani waktu mereka.masih kuliah.
"Kenapa?" Tanya nya pada Rani waktu itu.
"Aku telah punya seseorang yang kucintai, aku nggak mau menghianati cintanya," ujar Rani.
Dio kecewa mendengar alasan Rani. Kalau saja ia dulu yang dicintai Rani mungkin ia salah satu laki laki yang beruntung sekali, kerena memiliki Rani. Wanita yang baik, ulet, tapi ia tahu Rani menolaknya.
"Ran, aku bakal menunggu kamu," kejar Dio.
Waktu ia melihat Rani langsung meninggalkan dirinya, di mushola yang Rani duduki. Dio berusaha memegang tangan Rani tapi tidak berhasil, ia langsung berjalan mensejajarkan dirinya dengan Rani.
Waktu itu sang raja siang bersinar dengan teriknya, wajah Rani yang putih terlihat bersih kerena ia tadi mengambil wudhu shalat Dzuhur di mushola.
Ditatap nya wajah Rani yang tanpa make up terlihat alami dan bersinar bersih, Dio sangat kagum atas kecantikan Rani.
"Dio, maaf, cari wanita lain ya. Aku nggak pantas untukmu," lirih Rani menghentikan jalannya.
"Aku yang nggak oantaskan bukan kamu," sembur Dio ketus.
Dio tidak suka kalau Rani bilang kalau dirinya nggak pantas buat Dio. Rani tersenyum,"iya aku minta maaf, tapi.." Rani tidak melanjutkan kata katanya.
"Kita makan yuk!" Ajak Dio.
"Aku nggak lapar kok, aku.malah pengen menyelesaikan tugas yang dosen berikan," alasan Rani.
"Tugas apa sih! Dipikir kelasmu banyak tugasnya," protes Dio.
"Suruh bikin klasifikasi persepuluhan dewey. Kalau nggak salahkan persepuluhan itu, 000 karya umum, karya umum juga harus dibagi menjadi sepuluh devisi." Rani merenggut sambil.ngoceh masalah ddc ( decimal dewey classification ) perpustakaan.
Ada hembusan nafas yang berat. Kalau mengingat masalah ilmu perpustakaan, ia masuk ke perpustakaan juga tidak pengen berpikir malah sekarang berpikir.
Dio hanya tertawa renyah melihat Rani mengeluh masalah pelajaran yang harus ia kerjakan. Sebenarnya bukan hanya Rani yang kesal ia juga kadang kesal harus berkutat di dalam dunia perpustakaan.
''Jadi kamu menolak diajak makan sama aku?" Tanya Dio menatap Rani.
__ADS_1
"Oke deh! Mubajir menampik Rizki dari orang,"Canda Rani sambil menepuk bahu Dio lembut.
"Eh kita makan dimana?" Tanya Rani pada Dio.
"Bagaimana kalau kita makan di antara perbatasan kabupaten." Tanya Dio.
"Ha! Cuuuy jauh banget dari sini," terima Rani kaget.
"Kan naik mobil." Dio tersnyum..
"Jam kuliahmu udah selesaikan, lebih baik kita pulang sambil mampir kesana."
Mau tidak mau Rani juga mengikuti Dio, ia juga bete di rumah apalagi Ningsih selalu ngomel ngomel masalah Rey yang ingin mengenalkan Ningsih pada orang tuanya Rey.
Bukan hanya Ningsih sih yang belum ketemu, dengan ibunya Rey tapi Rani juga belum.oernah ketemu sama sekali. Hanya bapak Rey yang Rani kenal dan sering banget ketemu juga.
Dio membawa Rani ke sebuah perbatasan antara kabupaten Pandeglang dan kabupaten Lebak.
Tidak terlalu lama mereka menunggu, hidangan nasi liwet yang harum sereh tercium hidung membuat perut yang keroncongan makin bernyanyi.
Bukan hanya ikan Nila bakar yang tersaji, sayur asem, ada juga keredok ( makanan seperti pecel tapi sayurannya semua mentah terdiri dari touge, terong ungu, kol, kacang panjang ) yang di aduk dengan saus kacang tanah.
Tok Tok Tok
Terdengar suara pintu diketuk dari luar mengangetkan Dio yang sedang ada di kamarnya. Dio merasa kesal sama orang yang mengetuk pintu, awalnya ia tidak memperdulikannya tapi ketukan pintu tidak berhenti membuat Dio merasa kesal sekali.
Akhirnya dengan rasa malas ia menghampiri pintu dan membuka pintu itu. Saat pintu terbuka dilihat Amanda berdiri di pintu itu.
"Ma, ada apa?" Tanya Dio heran.
Ia melihat wajah Amanda pucat sekali. Sambil tangannya menganggam sebuah kertas.
"Ini nggak mungkinkan,''lirih Amanda.
"Ma, ada apa, apa yang nggak mungkin?"
Amanda me unjukan kertas yang ia pengaang. Dio langsung mengambil dan melihat apa yang di tulis disana, tiba tiba Dio seketika juga membeku.
__ADS_1
"Nggak mungkin ini terjadi! Ini nggak mungkin terjadi!" Histeris Amanda.
Wanita itu berteriak dengan kerasnya sambil.memeukul.tubuh Dio. Amanda terpukul saat ia.mendapatkan kertas dan membaca isi dari secarik kertas uang ia temukan di teras rumahnya.
"Ma, mama tenang ya. Ya ini nggak mungkin terjadi, mama dapat ini dari mana?" Dio berusaha menahan emosi.
"Mama, tadi menemukan di teras rumah. Mama nggak tahu siapa yang mengirimnya, nggak mungkin kan?" Cerocos Amanda.
Dio mengajak ibunya ke dalam kamar, ia berusaha menenangkan Amanda yang terlihat gelisah dan panik kerena membaca surat yang Amanda temukan itu..
"Ma, Dio nyakin ini hanya teror orang yang nggak suka sama kita, mama harus tenang kalau mama nggak tenang bagaimana Dio bicaranya." Dio menenangkan Amanda.
Bukan hanya Amanda yang gelisah, sebenarnya ia juga gelisah tapi berusaha bersikap normal dihadapan Amanda kalau ia sampai gelisah apalagi ibunya.
Dio duduk di samping Amanda, ia.meraih tanganya sambi menggenggam tangan Amanda lembut sekali.
"Ma, itu hanya orang yang iri saja, masa Surya membunuh ayahnya kak Rey." Dio berusaha menenangkan Amanda berkali kali kerena Amanda selalu mengamuk dan histeris.
Dio sebenarnya terhenyak saat membaca secarik kertas yang berisikan kali Surya yang membunuh ayah Rey. Surya harus di tangkap dan dijebloskan ke penjara. Kata kata di surat itu..
'Apa jangan jangan Santi yang melakukannya? Ah! Wanita itu cari masalah saja,' gumam Dio dalam hati.
Dio merangkul tubuh Amanda supaya Amanda tenang saja.
"Aku nggak nyakin kalau Surya yang membunuh ayahnya Rey, aku nggak percaya." Dengus Amanda.
"Ma, mama percaya kan sama Dio nggak mungkin kalau Surya yang melakukan itu pada ayahnya kak Rey."
Amanda mengangguk angguk..
"Ini ulah siapa?" Tanya Amanda heran..
"Entahlah, Dio juga nggak tahu siapa orang yang neror kita, udah jangan dipikirkan ya," Dio berusaha menghibur ibunya.
Dio menarik nafas dalam dalam. Ia nyakin kalau Santi melakukan nya kerena Santi pasti ingin membuat keonaran dalam keluarga Amanda.
Dio tidak percaya pada hal teror seperti ini, kerena kalau misal Santi melakukannya berarti Santi pelaku teror itu. Dan ia juga tidak percaya kalau Surya mantan suami.ibunya.yang melakukannya. Motif apa coba saurya membunuh ayahnya Rey?
__ADS_1
Dio menduga kalau misal Santi melakukan ini, pasti mereka merencanakan sesuatu yang ingin membuat Rani yang notabennya anak Surya tersakiti. Dan Dio bakal bicarakan hal ini pada Rani di sekolah.
Bisa sih ia sekarang ke rumah Rani, tapi ia tidak tega meninggalkan Amanda di rumah sendirian apalagi dalam kondisi seperti itu.*