BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Rani minta Bantuan.


__ADS_3

Setelah acara aqiqah bayi Rani selesai. Nama Anindya Maharani disematkan oleh Rina pada bayi itu, Rani menarik Zoya ke dalam kamarnya Zoya akhirnya mengerti apa yang kakaknya maksud.


"Dek, bantu kakak ya,"


"Bantu apa kak, kaya yang serius saja," tanya Zoya heran.


Keduanya saling duduk di kasur, sedang tak Anindya tidur lelap. Zoya menunggu apa yang kakaknya bicarakan kerena ia juga tidak mengerti apa yang harus ia bantu dari kakaknya?


"Ibu Santi akan menikahkan kakak dengan Rey, kamu cari tahu ya kenapa dia kekeh mau menikahkan kakak." bisik Rani pada adiknya.


Zoya yang mendengarkan bisikan kakaknya melonggo saja, ia kaget sekali mendengar kalau Santi yang selama ini ia tahu tidak pernah merestui pernikahan kakak nya malah tiba tiba merestui pernikahan itu sejak 5 tahun yang lalu.


Akhirnya Zoya mengangguk seketika ia bakal mencari tahu apa yang terjadi dibalik pernikahan yang akan kakaknya lakukan dengan Rey.


"Apa kak Rina nggak bisa ngasih anak pada kak Rey kak, mungkin saja trus ibu Santi pengen anak dari Rey?" tanya Zoya polos.


"Sssttt kakak udah tahu semuanya, nggak mungkin kakak cerita pada kamu sekarang." ujar Rani serius.


Zoya menatap wajah Rani tajam. Hatinya ingin tahu apa yang diucapkan kakaknya tentang Rina, tapi Rani hanya mengelengkan kepala saja. Ia tidak mungkin cerita kalau Rey sela ini tidak pernah menyentuh tubuh Rina selama pernikahan, Zoya yang melihat Rani diam saja akhirnya mengangguk.


"Kamu cari teman yang bisa kamu percaya, jangan gegabah." pesan Rani.


"Siap bos!" pekik Zoya sambil berdiri dan tanganya diangkat keatas dekat dahi.


Rani tersenyum."Tapi, kakak cerita ya tentang kak Rina dan kak Rey kenapa mereka nggak punya anak," canda Zoya sambil melangkah kan kaki menuju luar.


Rani menarik nafas dalam dalam lalu menghembuskan nafasnya kembali, ia harus tahu semuanya kenapa cerita ini seperti benang kusut.


"Apa ini ada hubungan dengan Surya?" tanya Rani ketika Adinda berkunjung menengok Anindya anaknya.

__ADS_1


Pas ketika itu Santi, Amanda, dan Ningsih entah kemana perginya. Sedangkan Zoya waktu itu sedang istirahat di kamarnya, sedangkan Rani berada di ruang tengah sambil tiduran.


"Bisa jadi sih!"


"Masalahnya aneh saja, tiba tiba ibu Santi yang sudah sekian lama tidak pernah mengizinkan aku menikah dengan Rey eh datang malah menyuruh aku menikah dengan Rey?" tanya Rani seperti Rani.


"Seharusnya ibu mertua Rina tahu, wanita hamil tidak boleh menikah apalagi dengan wanita yang dihamili sih!" ujar Adinda menjelaskan.


"Masa sih!" tanya Rani.


Adinda mengangguk cepat dan tegas." Maaf ya ini sensitif." Adinda bicara berlahan.


"Kalau bisa wanita yang hamil nggak bisa menikah dengan laki laki yang telah menghamilinya," lanjut Adinda berlahan.


Ia menjelaskan dengan hati hati kerena takut menyingung hati Rani, tapi Rani tidak cuek saja kerena apa yang dikatakan oleh Adinda memang benar kenapa ia harus marah sama Adinda.


"Aku nyakin semuanya ada sesuatu yang disimpan rapi," akhirnya Adinda membelokan bicara nya daripada Rina tidak nyaman.


"Kamu cari tahu, itu lebih baik. Kalau kamu.mau titip saja dedenya ke padaku, aku mau sih dititipin bayimu," ujar Adinda tulus.


"Nggak aku nggak mau menitipkan dede ke siapa pun, keren takut istri Rey menginginkan dede, " ketus Rani.


Rani sebenarnya risi dan kurang nyaman sebenarnya Santi selalu ada di rumahnya, ia seolah olah berkuasa di rumah itu. Memang kalau dipikir sih enak, Santi yang mandiin, Santi yang menggendong, dan yang paling parah Santi memberikan Sufor pada anaknya, sedangkan ASI nya juga mencukupi untuk Anindya.


"Aku takut kalau mereka mengambilnya, kemarin kemarin mertua Rina memberikan susu formula buat dede," Sura Rani terdengar getir.


"Ya Allah kok bisa sih, ASI kamu cukupkan untuk Anindya?" Adinda kaget mendengar cerita Rani tentang bayi Rani yang dikasih susu formula oleh mertua Rina..


"Nggak tahu sih tujuannya, aku berniat dede ku nggak dikasih susu formula tapi ibunya Rey kekeh ngasih formula,"

__ADS_1


"Kamu jangan stres ya, ujian. Tenangkan, dan tetap semangat ya untuk memberikan ASI eksklusif pada bayi mu,"


Rani hanya mengangguk saja. Adinda mengusap tangan Rani dengan lembut, ia tidak menceritakan siapa Rina pada Rani begitu juga Rani pada Rina. Ia tidak ingin kalau mereka terkejut kerena mereka bersahabat dengan dirinya, ia tetap menjaga perasaan keduanya. Dan Dinda juga tidak memihak pada siapapun juga. Ia tidak menyerahkan Rina, dsn menyalahkan Rani dalam.madalah kemelut rumah tangga.


Tapi Adinda hanya mengalahkan Rey yang melibatkan Rani dalam rumah tangga nya. Seharusnya Rey maupun Rani bisa menjaga diri dari nafsu, tapi bagaimana pun ia tidak mau ikut campur dalam kemelut rumah tangga mereka.


Rani salah satu korban, atau Rian juga salah satu korban. Kerena baik Rina dan Rani kalau tidak di dasari pernikahan Rey tidak mungkin mereka sampai saling mengenal.


Mungkin untuk Dio tidak, kerena bagaimanapun ia mengenal Dio juga. Dio pernah cerita kalau ada wanita yang ia sayangi tapi Adinda tidak menyangka wanita itu adalah Rani sahabatnya.


Rani akhirnya menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan kembali. Lamunan nya buyar saat Anindya bangun dan menangis, ia langsung memangku dan menimang Anindya dengan penuh kasih sayang.


Didekapnya tubuh mungil itu dengan penuh kasih sayang. Rani masih ingat apa yang Adinda bicarakan, ia akhirnya menyuruh Zoya pergi Rani hanya ingin tahu apa yang Santi lakukan untuk pernikahan itu!


Zoya yang diminta bantuan oleh kakaknya langsung menghubungi Vian teman kecilnya. Ya biarpun ia duduk di SMU dan Vian duduk di SMP tapi mereka selalu bersama.


Vian ditelpon oleh Zoya dan menceritakan apa yang yang terjadi, Vian akhirnya mau ikut saat Zoya mengatakan akan mencari tahu tentang Santi pada Vian.


"Aku curiga sih sama gerak gerik dirinya, seperti ada yang disembunyikan," ujar Vian saat Zoya menceritakan tujuan mereka..


"Betul juga, waktu ketemu pertama kali juga sepertinya ia bakalan melakukan sesuatu yang tidak pernah kita duga," pikir Zoya mengiyakan apa yang disampaikan oleh Vian.


"Kita selidiki darimana dulu?" tanya Vian menatap wajah Zoya tajam.


"Kita tanya dulu kak Rina tentang mertuanya," usul Zoya.


"Memang nggak apa apa ya bertanya sama kak Rina masalah mertuanya?" akhirnya Vian menanyakan pada Zoya.


Di wajah Vian ada ketahuan saat Zoya menyuruh kalau mencari tahu tentang Santi, ia hanya takut kalau Santi tidak sepenuhnya menjawab apa yang mereka katakan.

__ADS_1


"Aku nyakin kak Rina bakal ceritakan semuanya," Zoya percaya diri banget.


"Kalau gagal gimana?"


__ADS_2