
Rani hanya bisa menangis perih mendengar apa yang diucapkan oleh Amanda pada dirinya. Ia benar benar sakit hati, apalagi jalan untuk menuju kebaikan telah diucapkan oleh Amanda kerena manusia sepertinya tidak bakal diterima tobatnya. Rani benar benar terpuruk seketika juga, Adinda yang mendengarkan ocehan Amanda juga sakit hatinya apalagi Rani.
Adinda hanya bisa menenangkan Rani yang meraung. Riri juga memberikan pelukan yang hangat buat Rani.
"Aku salah Din, aku salah tapi apa tidak ada jalan lain yang aku lakukan?" tersendat sendal Rani mencurahkan hatinya.
Sebenarnya ia ingin sekali kembali ke kehidupan yang indah, apalagi dengan anak dalam kandungannya. Tapi mendengar kata kata dari Amanda ia merasa dirinya kotor sekotor kotornya.
"Kembalilah ke jalanNya. Allah mengharapkan tobat manusia yang kotor, Ran." akhirnya nasehat Adinda keluar begitu saja.
Adinda melihat Rani yang begitu rapuh dalam kerapuhan itu ia melihat cahaya yang indah memancar dalam hatinya. Berbeda saat ia memandang wajah Rina yang angkuh, menganggap dirinya baik. Adinda memeluk tubuh Rani dengan erat, begitu juga dengan Riri.
Sedangkan Ridwan hanya menepuk bahu Rani. Ia pertama kali bertemu dengan Rani, tapi telah melihat kalau wanita itu memiliki keistimewaan dibandingkan wanita lain, pantas kalau Rey mencintainya. Hanya Rey salah tidak bisa mempertahankan Rani, kalau saja Rey bisa dan mampu mempertahankan Rani mungkin cerita nya tidak akan seperti ini.
"Aku salah, aku sadar tapi aku tidak bisa berbuat apa apa lagi, Din. Aku ingin sekali bahagia seperti kalian." tatap Rani pada Adinda dan Ridwan.
Sejujurnya waktu pertama kali ketemu dengan mereka dan melihat Adinda berdua dengan Ridwan hatinya bergetar lembut. Ia sebenarnya ingin sekali kalau bisa bahagia seperti itu, tapi sepertinya itu tidak bisa sama sekali. Ia malah Marasa keberadaaan dirinya sama sekali tidak ada gunanya apalagi dengan keluarga Rina, kecuali Dio mungkin.
"Ran, kenapa kamu lakukan ini?" tanya Adinda hati hati.
"Melakukan apa?"
"Kamu melakukan hubungan yang di larang, seharusnya kamu tolak atau," lirih Adinda.
Adinda merasa heran sekali, sampai Rani yang awalnya ditinggal begitu saja oleh pacarnya malah memberikan mutiara yang sangat berharga pada Rey. Sedangkan Rey telah menikah dan punya istri, Rani mendesah mendengar apa yang dipertanyakan oleh Adinda.
Riri yang ada di hadapan kakaknya langsung mencubit lengan kakaknya. Tapi Rani tidak marah atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Adinda, ia tersenyum saja.
"Aku masih mencintainya, Din, sampai aku rela memberikan semuanya lada Rey. Aku lupa kalau Rey sudah punya istri, itu kesalahan yang aku lakukan," ujar Rani pelan.
"Kamu nggak menolak?"
__ADS_1
"Aku yang mau diapa Spain, aku nyangka lalu aku menyerahkan kehormatan ku, Rey bakal menjadi milik aku sepenuhnya. Tapi nyatanya aku malah ditinggalkan, dan aku juga percaya apa yang Rey katakan padaku waktu itu," Hela Rani.
"Apa yang Rey katakan?"
"Rey dituduh mandul oleh ibu mertuanya, sampai ia mengancam aku untuk menutupi kehamilanku, seharusnya ia senang. Tapi malah ia ingin mengakhiri kehamilanku," cerita Rani sedih.
Rani masih ingat kelakuan Rey sebelum semuanya terungkap. Rey kekeh kalau janin yang ia kandung harus lenyap, beberapa Kalai Rey mendorong tubuhnya. Tapi yang anehnya janin yang ia kandung terus tumbuh.
Adinda bergidik mendengar apa yang ceritakan, apa yang Rani ceritakan itu Riri juga menambahkan cerita yang ia lihat di perpustakaan biarpun ia tidak ikut terjun membela Rani.
Setelah melihat Rani mulai tenang, Adinda dan Riri juga Ridwan pamit. Adinda tidak meneruskan niatan untuk mengungkapkan nya, kerena cerita Rani dan cerita Rina hampir mirip ya iya lah mirip hanya bedanya yang menceritakan dua orang yang berbeda.
Tapi Adinda punya niatan akan berkunjung ke rumah Rani saat waktu yang tepat, ia ingin sekali mendengarkan semua hati Rani. Mungkin cerita Rani akan jauh berbeda dengan versi Rina, ya biarpun agak sama. Sama sama menyalahkan satu orang yaitu Rani.
*
"Aku gelap mata waktu itu, Din." kata Rani waktu Adinda berkunjung lagi ke rumah Rani untuk kedua kalinya.
"Kejadiannya cepat sekali, Din, saat itu benar benar hujan dan ditambah lagi aku hanya ingin menghibur Rey yang kalut kerena memikirkan kata kata mertuanya,"
"Din, percaya padaku. Aku nggak pernah tersentuh sama sekali oleh Rey, aku bisa hamil bagaimana," Rajuk Rina waktu itu masih terhiang hiang lagi.
"Aku kecewa sama Rey, dia malah menghamili anak orang tanpa sebab yang pasti." keluh Rina.
Adinda menarik nafas dalam dalam mendengarkan apa yang diceritakan oleh Rani, ditambah lagi terhiang hiang apa yang dikatakan oleh Rina tentang keluarga kecilnya.
"Trus tindakan Rey bagaimana saat tahu kamu hamil?"
"Marah, nggak terima kalau aku hamil dan dia malah ingin menggugurkan anak ini, aku nggak mau malah Rey menyiksa aku. Untung Dio datang dan menolong aku, " cerita Rani pedih..
Tidak pedih bagaimana, ia mengharapakan kalau Rey sayang sama anak yang dikandungnya malah kebalikannya, Dio yang memperhatikannya.
__ADS_1
"Istri Rey tahu?"
"Tahu, Zoya yang cerita kerena ia tidak tega melihat aku yang selalu disiksa oleh Rey. Zoya hanya ingin Rey kembali padaku, tapi Rey tidak kembali padaku."
Adinda menghembuskan nafasnya dalam dalam.
"Untung aku tahu dari Zoya adiknya Rani yang memberitahukan aku tentang kehamilan kakaknya," suara Rina terhiang kembali.
"Aku nggak mau berbagi suami dengan Rani, biarpun itu anak Rey. Aku malah ingin memilikinya tapi Rani tidak mau," Rina mengungkapkan perasaan pada Adinda waktu itu.
"Rina istri Rey ingin memiliki anak ini, Din, sampai kapanpun aku nggak akan memberikan anak ini, apalagi Rey tidak mengakuinya.
"Cerita kalian sama," ujar Adinda akhirnya.
"Maksudmu?" Rani heran.
"Setelah aku.oisah denganmu, aku bertemu dengan Rina. Dan ketemu lagi sekarang dengan Rina, aku kaget mendengarnya dari Rina twntang dirimu." akhirnya Adinda mengatakan yang sebenarnya tentang ia dan Rina berteman satu sama lain.
"Kamu jahat, aku nggak nyangka kalau," sembur Rani tidak suka.
Ia langsung beranjak dari tempat duduknya, ia sangat kecewa mendengar apa yang keluar dari mulut sahabatnya. Ia cerita semuanya kerena adinda sahabatnya tapi kenyataan ha Adinda juga sahabat Rina.
Adinda yang melihat Rani beranjak dari tempat duduknya langsung menahannya, ia ingin menjelaskan sesuatu pada Rani, tapi wanita itu keburu lari dan menutup pintu rumahnya.
Hatinya sangat kecewa, Adinda berusaha mengetuk pintu rumah Rani. Tapi Rani tidak membukanya. Rani sebenarnya untuk saat ini ia tidak mau sama sekali mendengar nama Riana dan keluarganya.
Terlalu sakit sebenarnya.
"Din kamu pulang saja dulu, aku cape!" kata Rani didalam rumah dibalik pintu.
"Ya udah kamu istirahat dulu, aku pulang ya."
__ADS_1
Adinda tahu itu hanya alasan Rani saja tapi ia memakluminya, kerena sebenarnya Rani butuh sendiri untuk introfeksi dirinya sendiri.*