
"Rencana gila. Puas kamu bikin Zoya pergi!" sembur Dio.
Dio kembali ke rumah Rani, ketika Rani memberikan kabar kalau Zoya pergi meninggalkan dirinya. Dio yang baru sampai di rumahnya langsung menuju rumah Rani.
Ketika Dio datang ke rumah Rani, ia langsung mengeluarkan kata katanya pada Rani, sebenarnya Dio sejak tadi juga tidak setuju cuma hanya diam mendengar rencana Rani, awalnya ia ingin mengutarakan ketidaksetujuan dirinya saat mendengar rencana Rani.
Tapi sebelum ia mengutarakan rencananya, tiba tiba Zoya datang menghampirinya. Zoya dengan polosnya menceritakan tentang Dyan. Tapi dengan santainya Rani mengatakan sesuatu yang membuat Zoya mungkin pergi begitu saja.
Biarpun itu ide Rani, tapi mungkin Zoya berpikir kalau Rani bakal balik pada Rey.
Rani hanya diam saja, apa yang mendengarkan semburan kasta kata Dio. Dio duduk di samping Rani ia berkali kali mendesah dan kedua tanganya mengusap wajahnya.
"Terus gimana sekarang?" tanya Rani takut takut.
Tiba tiba hatinya terselip penyesalan yang dalam pada Zoya, sebenarnya ia membuat ingin membuat surprise untuk Zoya tapi Zoya malah kabur seperti itu.
"Aku udah telpon tapi nggak aktif, hpnya," dimatikan," lanjut Rani.
"Kalau ada apa apa pada Zoya kamu yang tangung jawab!" hardik Dio kesal.
Deg
Rani terkejut mendengar hardikan Dio padanya ia tidak menyangka kalau Dio bakal marah pada dirinya masalah Zoya.
"Iya aku salah aku salah," jerit Rani.
"Terus kita harus bagaimana?" akhirnya Rani bertanya pada Dio.
Rani tidak tahu Zoya pergi kemana, masalahnya Rani tidak tahu satu satu teman Zoya di sekolah, Zoya jarang sekali membawa taman teman ke rumah paling Zoya sendiri yang ke rumah teman.
"Kasihan sama kakak. Takut kakak cape harus beres beres rumah,"alasan Zoya waktu itu.
"Teman teman aku kan suka banget makan, Taku rumah jadi kotor terus siapa yang bersihin rumah ya kakak," lanjut Zoya nyengir menatap Rani.
__ADS_1
Rani hanya menghela nafas dalam dalam, saat mendengar alasan Zoya seperti itu. Dio yang melihat Rani terdiam lanhsung menyentuh tangan Rani lembut tapi Rani langsung menarik tangannya dari sentuhan tangan Dio. Dio hanya mendesah saat Rani menarik tangannya dari tangannya, Rani hanya tersenyum tersamarkan saat wajah Dio menatap wajahnya.
"Kamu kita kira tahu nggak Zoya pergi kemana?"
"Kamu sih, main rencana rencana saja," protes Dio kesal.
Pria itu menghela nafas panjang. Ia merasa buntu mencari kemana Zoya adiknya Rani, ditatap wajah Rani dengan tajam sekali..Tapi sebelum berpikir panjang tiba tiba telpon Dio berteriak dengan keras seperti ingin diangkatnya.
Dio langsung mengangkatnya setelah ia melihat nama dilayar hpnya. Dio langsung mematikan hpnya setelah selesai mengobrol.
"Siapa?" tanya Rani heran.
Ya Rani heran kerena melihat Dio setelah mematikan hpnya lanhsung beranjak dari duduknya, tanpa melihat dirinya lagi. Rani langsung menanyakan sesuatu pada Dio ketika Dio akan pergi begitu saja.
"Kamu ikut nggak, ayo ikut," akhirnya Dio mengajak Rani yang keheranan.
Dio tidak banyak bicara di jalan ia membiarkan Rani bertanya tanya dalam hati, Dio sengaja tidak mengajak ngobrol Rani dulu sebelum sampai tujuannya..
Di SMP ia langsung menuju ruang perpustakaan, Rani merasa heran kenapa Dio mengajak dirinya ke sekolah tanpa bilang dulu padanya.
Rani langsung memeluk tubuh Zoya dengan erat sekali, ia tidak menyangka kalau bakal bertemu kembali dengan Zoya adiknya. Zoya hanya diam saja saat kakaknya memeluk tubuhnya.
Rani tidak menyangka kalau Zoya ada di sekolahnya. Apa lagi saat ia masuk ke ruangan perpustakaan melihat Zoya yang ada disana bersama Vian dan Rina.Tidak tahunya Rina yang tadi telpon Dio menceritakan kalau Zoya dan Vian ke sekolah.
Rani senang sekali bisa berkumpul dengan Zoya, Zoya hanya diam saja melihat kakaknya datang, ada kecewa sebenarnya dihatinya mengingat apa yang kakaknya katakan.
"Maaf kakak cuma bercanda ko," ungkap Rani tersenyum dan ngucek rambut Zoya dengan penuh cinta.
"Rencana Gagal deh!" seru Dio menggoda Rani.
Rani langsung meninju tangan Dio dengan keras, Dio hanya meringis mendapat pukulan dari Rani.
*
__ADS_1
PLAK
Sebuah tamparan langsung mengenai Rey dengan kerasnya. Laki laki yang sedang mengetik di laptop terkejut sekali, dan ia melihat kearah orang yang yang telah berani menampar mukanya.
"Rey apa yang kamu lakukan pada Dyan? Kamu telah berani kriminal, jangan bawa orang lain dalam urusan kita!" teriak Rani marah.
"Oh kamu sudah tahu," cemooh Rey geram saat tahu siapa yang menampar muka dirinya dalam hati ia mengutuk pada Zoya, dan Vian Ia nyakin kalau mereka berdua lah yang melaporkan dirinya pada Rani.
"Rey, jangan bawa bawa orang, dalam urusan kita. Aku nggak nyangka ya kalau kamu seperti ini, menyesal aku pernah mencintaimu!" sembur Rani pergi.
Tapi sebelum.ia melangkahkan kaki, Rey beranjak dari duduknya tanganya langsung meraih tangan Rani. Hampir saja Rani jatuh untung ia jatuh dalam pelukan Rey.
Beberapa saat Rani terpaku dalam dekapan Rey, hatinya berdebar dengan keras. Tapi wanita itu dengan cepat melepaskan pelukan Rey dengan cepat. Rey hanya tersenyum melihat semua nya. Ditatap lembut wajah wanita yang pernah menemani hati hatinya.
Rani terpaku pada tatapan Rey itu! Tapi ia langsung meninggalakan tempat itu, ia tidak ingin kalau Rey tahu kalau ia masih merasakan perasaan padanya. Ia ingin mengubur perasaan itu pada Rey, Rani lebih fokus memberikan cinta dan sayangnya pada janin yang di kandung.
Rey yang melihat Rani pergi, hanya bisa.menghempaskan tubuhnya di kursi yang ia duduki. Ia menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan kembali.
Rey hanya menelan ludah.
"Kamu jahat, tidak bisa mempertahankan kan apa yang kamu miliki!" teriak Rani waktu itu.
"Kenapa dulu kamu tinggalkan.aku," tangis Rani saat itu ketika awal pertemuan dengannya.
Rani langsung memeluk tubuh nya dengan erat, seperti Rey memeluk tubuh Rani begitu erat. Harum tubuh Rani seperti dulu, tidak ada yang berubah sejak pernikahan dirinya dengan Rina.
Kejadian itu!
Kini membuat dirinya limbung. Rina telah tahu, apalagi mertuanya. Memang mertuanya malah mendukung dirinya untuk memiliki bayi Rani. Tapi Rina tidak mau memiliki anak Rani.
Kejadian itu!
Semuanya berubah kerena ia takut kalau semuanya terbongkar ia yang jadi korban. Ya Rey yang berbuat tapi takut disalahkan seperti sekarang.
__ADS_1
"Pilih aku atau Rani!" teriak Rini waktu itu saat istrinya tahu kalau ia selingkuh dengan mantan pacarnya apalagi sampai Rani hamil.
Rey hanya mendesah ingat itu. Ia membenarkan sekarang tapi Rey tahu tujuannya belum sampai.Jadi untuk sementara ini biarlah seperti ini.