BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Hati ke Hati 1


__ADS_3

Setelah Rina .pulang tanpa tangungjawab membereskan buku buku, akhirnya dengan perasan dongkol dan kesal Rani lah.yang membereskan buku buku itu kembali.


Dio yang masih disana langsung membantu sambil mengajak bercanda, Rani hanya tersenyum saja mendengarkan candaan Dio, ia hanya merespon saja tidak membalas candaan Dio..


Dio tahu sebenarnya Rani kesal, hanya mungkin wanita itu segan untuk mengungkapkan padanya. Dio mengerti tapi ia tidak memaksa Rani untuk cerita lebih banyak lagi.


"Aku nggak nyangka kakak Kam UU. melakukan ini,"Desahnya.


Rani menghentikan membawa buku buku ke rak buku, kerena ia merasakan perut bagian bawah terasa kram. Beberapa kali ia mengelusnya, Dio yang melihatnya langsung mendekati Rani khawatir terjadi apa apa yang tidak diinginkan.


"Sakit?" tanya Dio penuh perhatian.


"Kram saat sih,"


"Maaf kakak ku salah sama kamu, kamu istirahat saja aku yang memberikan semuanya," ujar Dio.


"Tapi," tatap Rani tidak enak.


Bagaimana pun itu kerjaan dirinya, kenal harus dia yang mengerjakannya.


Dio tidak mengubris apa yang dikatakan Rani. Dio melanjutkan membereskan buku buku yang masih banyak tergeletak di lantai, bukan itu saja buku buku itu juga campur baur antara buku Kesustraan, dengan buku kimia, teknologi, jadi Dio memesankan buku yang berbeda dengan buku yang lainnya.


Sedangkan Rani mangut beberapa katalog kartu yang berserakan. O, ya di SMP ia bertugas masih mengunakan cara manual yaitu mengunakan katalog penulis, katalog subjek serta katalog judul untuk mencari buku yang ada di perpustakaan.


Sebenarnya di kampus untirta yang berada di Serang dekat dengan terminal Pakupatan perpustakaannya telah mengunakan aplikasi SLiMS, bukan hanya Untirta tapi perpustakaan dan pengarsipan daerah Banten juga telah mengunakan aplikasi SLiMS untuk mencari buku melalui komputer.


"Ibu Santi kemarin setelah sidang itu ke rumah aku, meminta aku untuk dijadikan madu kak Rina," cerita Rani pada Dio.

__ADS_1


Dio langsung menghentikan membereskan buku buku itu, ia langsung menatap wajah Rani dengan lekatnya. Ia ingin tahu cerita yang sebenarnya dari Rani.


"Aku menolaknya," desah Rani.


"Kalau memang aku mau menghancurkan pernikahan Rey dengan kakakmu nggak mungkin aku menyembunyikan kehamilan ku dari pertama juga," lanjut Rani.


"Mungkin ibu Santi cerita kalau ia ingin mengambil kamu sebagai yang kedua tapi kakak salah menafsirkan," imbuh Dio sambil duduk tidak jauh dari Rani.


Rani mengangguk menyetujui apa yang Dio katakan lada dirinya. Rani sama sekali punya keinginan lebih dari sekedar menjadi istri Rey, memang kalau dulu ia pernah berharap banyak pada Rey tapi sekarang ia pasrah. Sudah mengandung anak Rey tanpa ikatan juga ia bersyukur sekali.


"Aku bakal bantu kamu bicara sama kakak. Aku juga nggak mau kalau kamu ada ke salah pahaman dengan kakak aku lagi." kata Dio tersenyum.


"Terimakasih ya Dio kamu selalu ada untuk aku." ucap Rani tulus.


Dio ingin istirahat dulu, kerena keringatnya sudah keluar semuanya. Melihat itu Rani langsung beranjak dari tempat duduk menuju ruang ruang guru, Rani datang kembali dengan satu gelas air lalu disodorkan ke Dio untuk di minumnya.


Akhirnya Dio sebelum.rani dijemput oleh Zoya, ia menemani Rani. Sambil membantu membereskan buku, dengan bantuan siswa yang hendak pulang sekolah.


Dio yang baru datang tidak langsung ke kamarnya, ia langsung ke kamar kakaknya. Ia tahu kakaknya tidak tidur siang, biarpun berada di kamarnya. Apa yang ia duga memang benar, Rani sedang anteng dengan membaca buku favoritnya.


"Kak, boleh Dio bicara masalah tadi?" ujar Dio hati hati.


Ia sebenarnya segan menganggu kakaknya yang sedang asyik membaca buku yang dipengangnya. Kedatangan Dio oleh Rani hanya dilirik sekilas saja tanpa mengalihkan pandangan ke arah Dio yang duduk di samping dirinya.


"Kak, Rani nggak mungkin mau dijadikan yang kedua oleh Rey," kata Dio.


Ia langsung ke pokok permasalahnya. Kerena ia tidak melihat reaksi kakaknya saat ia bicara dari awal. Ia sengaja bicara di kamar kakaknya, kerena kalau di ruang tamu takut ada yang mendengar. Dio sengaja datang ke kamar kakaknya, kerena di kamar kakaknya pasti aman. Apalagi Rey belum pulang sama sekali dari kegiatan yang dilakukan di serang.

__ADS_1


Dio tidak habis pikir pada tindakan kakaknya yang marah pada Rani tanpa sebab akibat hanya dengan kata kata saja.


"Kak, coba pikir sama kakak, kalau memang Rani ingin jadi yang kedua nggak mungkin dia menyembunyikan kehamilan pada kakak,kan?" lanjut Dio kembali.


Dio merasa gemas dicuekin oleh kakaknya seperti itu, tanganya langsung mengambil buku yang dibaca oleh Rani supaya kakaknya memperhatikan apa yang dibicarakan olehnya. Rina tidak bergeming sama sekali, kerena kakaknya hanya diam saja, Dio menetap Rina dengan lembut sekali.


"Kamu bela dia kerena.kamu suka sama dia kan. Kamu ingin memilikinya," kata Rina sinis.


Rina langsung merebut bukunya yang diambil Dio tapi gagal, Dio lebih dulu mengambil dan melempar buku Memetik Ketulusan Cinta ke lantai sampai buku itu terjun dan jatuh begitu saja.


Deg!


Hati Dio bergetar saat mendengar kata kata sinis kakaknya. Dio langsung menatap wajah kakaknya dengan tajam sekali, Rina hanya mendengus melihat tatapan mata Dio adiknya seperti itu.


"Kak, kita bahas Rani, perasaan Rani bukan aku yang dibahas," tekan Dio lembut.


Dio merasa kesal pada rina.yang seenak jidat mengucapkan kata kata tanpa dipikir lagi. Tapi apa yang dirasakan Dio dengan ucapan Rina memang ada benarnya sih..


"Sebenarnya kamu kesini buat apa? Aku nggak mau bahas semuanya, aku cape," Dengus Rina kesal.


Kerena ia baru saja membaca lanjutan cerita tentang Bayu yang menjenguk Ranty yang berada di rumah sakit, kerena tokoh Ranty dipukul oleh anak pertama Bayu.


"Aku hanya ingin meluruskan saja kak, tadi Rani menceritakan semuanya padaku tentang rencana mertua kakak," jelas Dio pelan pelan.


Dio tidak ingin kalau kakaknya marah lagi pada Rani, Rian yang awalnya tidak mendengarkan apa yang diceritakan Dio akhirnya ia terpaksa mendengarkan semuanya dari Dio tentang keadaan perpustakaan saat Rani meninggalkannya.


Tiba tiba banyangan tadi berkelebat jelas sekali. Dio hanya bisa menggelengkan kepala ketika semua buku di lantai semuanya. Dan ia tidak tega kalau Rani yang membereskan semua buku buku itu, akhir ya ia membantu Rani membereskan buku buku itu biarpun ia tahu kalau sebenarnya Rani merasa lelah, tapi wanita itu tidak bicara apa apa pada dirinya.

__ADS_1


__ADS_2