BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Pengakuan Dio


__ADS_3

"Aku nggak habis pikir apa yang tersirat dalam hati Rey pada kakakku," desah Dio ketika ia ke rumah Rani di hati minggu.


Ia sebenarnya sengaja datang ke rumah Rani jaya ingin menenangkan pikirannya, tadi malam ia baru pulang dari saudaranya. Tapi ia sangat terkejut melihat kakaknya tertidur dengan mengunakan pakaian tipis di atas lantai tanpa alas sama sekali.


Ia membangunkan kakaknya dengan lembut Rina bangun dan langsung memeluk tubuh ia langsung memeluk tubuh Dio dengan erat sambil menangis. Dio membiarkan kakaknya memeluk dan menangis di pangkuannya, ia tidak langsung menanyakan apa yang terjadi tapi ia nyakin kalau kakaknya ada masalah dengan Rey.


Rani yang duduk di kursi hanya mengkerutkan dahinya merasa heran apa yang diucapkan oleh Dio yang tiba tiba tanpa hujan dan angin.


"Kak Rina tidur di ruangan tv tanpa alas sama sekali," ujar Dio memandang dengan yang bergoyang oleh semilirnya angin pagi hari yang lembut.


"Apa yang terjadi?" tanya Rani keppo.


"Ran, apa salah ya seorang istri minta jatah pada suami?" Tanya Dio menatap wajah Rani.lembit.


Rani menarik nafas dalam dalam dan mengeluarkan nafas kembali. Mendengar apa yang dimaksud oleh Dio, ia mengerti tujuan Dio bicara tentang jatah ya biarpun ia sama sekali belum menikah tapi ia nyakin kalau Rina sebenarnya meminta jatah pada Rey tapi entah diberi atau tidak oleh Rey.


"Kamu tahu kan maksudku?" lanjut Dio menanyakan apa.yang ia tanyakan pada Rani.


"Aku ngerti, menurut aku ya. Maaf kalau aku salah," ujar Rani.


Wanita itu tidak meneruskan kata-katanya ia menunggu reaksi Dio dulu, tapi Dio hanya diam saja seperti mengunggu apa yang akan dibicarakan oleh Rani.


"Seorang istri meminta jatah itu nggak apa apa kok apalagi kalau mereka.udsh menikah, nggak kaya aku yang mengikuti nafsu binatang," terang Rani sambil mendesah.


"Waktu aku bangunkan kakak, kakak cerita kaku ia meminta jatah pada mas Rey tapi mas Rey malah pergi begitu saja, sedangkan kakak berusaha merayu mas Rey," cerita Dio.


"Kamu tahu nggak, kak Rina kecewa saat kamu hamil oleh mas Rey. kerena selama ini kak Rina tidak pernah tersentuh sama sekali oleh mas Rey." jelas Dio pada Rina.

__ADS_1


Rani hanya diam saja. Disisi lain ia merasa bersalah pada Rina yang telah terbujuk rayuan Rey malam itu, ya ia.melakukannsuka sama suka dimalam hari yang dingin.


"Aku salah," rintih Rani.


Belum sempat Dio membalas ucapan Rani tiba tiba Rina datang menubruk tubuh Dio. Wanita itu menangis di pelukan Dio, Dio tertegun untuk beberapa saat kerena Rina datang untuk menangis dihadapan nya seperti malam tadi.


Rani yang melihat itu hanya terdiam terpaku, melihat adegan Rina dan Dio. Bukannya ia heran melihat Rina memeluk Dio tapi yang bikin hati Rani heran Rina datang sambil menangis, hati ia mulai tidak enak kerena Rani nyalain pasti ada sesuatu pada Rey.


Rani awalnya akan bertanya pada Rian atas kedatangan di rumahnya, tapi Rina lebih dulu bersuara biarpun dengan terbata bata kerena menahan tangisan.


"Rey jahat! Dia jahat," jerit Rina beberapa kali sambil memeluk pungung Dio dengan kerasnya.


Dio membiarkan kakaknya menangis, ia tidak ingin memotong kata kata yang akan Rina ucapakan pada dirinya, hanya matanya melirik kearah Rani yang menatap tajam Rina.


Rian melepaskan pelukan. Ditatapnya wajah Dio dan Rani, saling bergantian satu sama lainnya.


"Maksud kakak?" kerut Dio tidak mengerti.


Rani menyipitkan matanya mendengar apa yang diucapkan oleh Rina. Ia sama sekali belum mengerti apa yang bakal diucap kan kakak Dio.


"Rey bakal menjodohkan Dio dengan Dyan, Rey juga sebenarnya tidak suka kalau Dio mendekati kamu Ran, Rey bakal melakukan sesuatu pada kamu dan anakmu." lirih Rina menatap Rani dan Dio.


"Dyan? Dyan anaknya pak Hendra?" tanya Dio menyakinkan kakaknya.


"Kak, rencana apa yang Rey bakal dia lakukan padaku?" racau Rani.


"Iya Ran, entah rencana apa yang bakal dia lakukan padamu dan bayi kamu. Kalau aku jadi kamu aku nggak bakal ngasih anakku biarpun bapaknya," gumam Rina.

__ADS_1


Ia tidak sadar apa yang ia gumam kan pada dirinya. Rina tidak menyadari kalau sebenarnya apa yang keluar dihatinya itu sebenarnya pernah diucapkan Rani dihadapannya tanpa ia sadari..


Rina lupa kemarin ia sempat meminta janin yang bakal dilahirkan oleh Rani untuk dirinya diurus, tapi Rani kekeh mempertahankan bayi itu dan tidak bakal memberikan pada Rani maupun Rey.


Rina lupa itu, dan sekarang ia mengingatkan Rani untuk mempertahankan janin itu. Rani yang mendengarkan gumaman Rina hanya tersenyum, ia masih ingat apa yang ia katakan pada Rina dan Rian sendiri yang kini mengucapakan dihadapan dirinya.


Dio yang ingat kata kata Rani kemarin hanya tersenyum mendengar kata kata Rina yang diucapkan ulang oleh kakaknya. Tapi Rina tidak menyadari itu semuanya.


"Kalau bapaknya menginginkan mungkin aku kasih anak ini buat Rey saja, bagaimanapun Rey adalah bapaknya biarpun bukan bapak nasab," pancing Rani.


Dio tertegun sejenak. Ia belum mengerti arah bicara yang dilontarkan oleh Rani, kerena Rani tidak pernah bilang dulu, mungkin kalau kakaknya bakal datang Dio pasti bakal bertanya dulu biar tidak ada salah paham.


Dio menatap tajam kearah Rani. Tapi Rani hanya tersenyum tipis saja, Rani sengaja bicara itu dihadapan Rina hanya ingin tahu reaksi Rina yang sebenarnya.


"Ran, kamu tega ngasih anakmu pada bapaknya? Kamu yang hamil, melahirkan apa Rey berpikir pada kamu dan janin yang kamu lahir kan nanti." tiba tiba Rina emosi mendengar apa yang dikatakan Rani begitu entengnya.


"Nggak apa apa kan, dia bapaknya. Dia seharusnya mengurusnya juga. Jangan enak bikinnya saja tapi nggak mau bertangungjawab sama sekali," tuntut Rani tersenyum.


"Ran! Jangan lakukan itu pada anakmu. Jangan!" teriak Rina mengundang kedua bahu Rani dengan kuat sekali.


Dio terkejut melihat Rian mengundang tubuh Rani dengan kerasnya. Tiba tiba Rina menjatuhkan tubuhnya kepangkuan Rani yang masih duduk ditempat semula.


"Aku mohon Ran aku.mohon jangan kau berikan anakmu pada Rey. Rey tidak.pantas jadi bapak bayi itu,"Raung Rina sambil menatap wajah Rani.


"Kak, apa apa an sih. Aku juga nggak bakal ngasih bayi ini pada Rey kok. Kenapa kakak yang takut sekali?" tanya Rani akhirnya menghentikan sandiwaranya.


Rani luluh oleh tangisan Rina seperti itu. Rina yang mendengar ujaran Rani langsung memeluk perut Rani dengan erat nya. Rani langsung mengusap bahu Rina dengan lembut. Rani juga tidak tahu apa yang Rian pikirkan kemarin ketika ia meminta bayinya di sekolah, dan sekarang malah menyuruh mempertahankan nya?*

__ADS_1


__ADS_2