
Sore itu Rani dikejutkan dengan kedatangan Santi yang tiba tiba tanpa pemberitahuan dulu, ia datang dengan barang barang yang membuat ia terkejut.
Sebuah gaun warna putih, undangan serta perhiasan disimpan begitu saja di meja yang ada di teras rumahnya.
Wajah Santi berseri seri saat ia menyimpan barang barang yang dibawanya, sedangkan Rani melongo saja, ia tidak begitu fokus paa yang akan dilakukan ibunya Rey pada dirinya.
"Bu," pekik Rani terkejut.
Tanpa bilang dulu Santi datang ke rumah Rani dengan persiapan dirinya sendiri tanpa kompromi sama.sekali.
Mata Rani terbelalak lebar, shock, kaget melihat surat undangan atas nama dirinya dan Rey telah dibuat, gaun pengantin telah ada.
"Ibu minta maaf. Ini buktinya ibu merestui kamu dengan Rey, maafkan ibu." ujar Santi tidak memperdulikan perasaan Rani.
Ia merangkul tubuh Rani yang melihat semua barang yang dibawa Santi. Mungkin kalau dulu Santi seperti itu, Rani bakal menangis hari dan bahagia kerena bis menikah dengan laki laki pujaan hatinya, tapi sekarang Rani tidak menyangka sama sekali kalau Santi memang serius.
"Bu, jangan lakukan ini Bu, jangan," pekik Rani mwngelangkan kepalanya.
Rani anggap.mengjindar saat ia.merasakan tubuh Santi mendekati tubuhnya, tiba tiba ia kutang nyaman sekali saat Santi merangkul tubuhnya, ia berusaha untuk melepaskan rangkulan Santi. Tapi Santi tidak mengerti apa yang dirasakan oleh Rani.
"Kamu harus mau Ran, ini untuk kebahagiaan kamu," tatap Santi bahagia.
"Bu, seharusnya Rina yang mendapatkan perhatian ini dari ibu bukan aku," terikat Rani frustasi.
Ia benar benar frustasi mendapatkan prilaku Santi seperti itu lada dirinya, kalau memang Santi merestui nya kenapa tidak dari dulu bukan sekarang. Hari Rani terpukul oleh prilaku Santi seperti itu lada dirinya.
Sejujurnya hati Rani sebenarnya bergetar sekali, berbeda dengan 5 tahun yang lalu. Santi benar benar bahagia itu yang terlihat dari mata oleh Rani sendiri, Rani tidak bisa bicara apa apa lagi. Ia hanya terpuruk saat.
"Pokoknya ibu izinkan kamu menikah, kamu berhak bahagia,"
Deg!
Kata kata itu? Kata kata yang mirip dengan Zoya katakan pada Dio. Kata kata yang membuat rencana menutupi kehamilan gagal oleh Zoya, ya biarpun Zoya tidak bilang juga pasti Rina dan keluarganya tahu masalah kehamilan dirinya, kerena tidak mungkin disembunyikan.
__ADS_1
"Bu, ibu seharusnya bilang dulu sama Rey!''
"Nggak ibu nggak perlu bilang sama Rey, kamu harus bahagia,"
"Ibu egois, jangan seperti itu Bu!" jerit Rani tidak suka.
Ia menghempaskan pungungnya ke kursi, ada perasaan yang berbeda, menyelusup hatinya. Perasaan yang seharusnya muncul di waktu yang tepat tapi perasaan ini muncul sekarang. perih.
Disaat Rey tidak mengakui tapi ibunya dengan kekeh malah mengakui anak dalam kandungannya adalah cucunya, memang tidak memungkiri kalau bayi yang ada dalam rahim Rani adalah anak Rey dan cucu Santi.
Entah kenapa ia begitu sebal mendengar kata kata Santi, biarpun Santi memihak pada dirinya. 'kalau saja dulu seperti ini, mungkin aku bisa menerimanya,' bisik hati Rani.
"Ibu harus kompromi dulu sama Rey, Rina, kalau ibu seperti ini aku nggak akan menikah dengan Rey!" terima Rani mengancam.
"Ran, Rina nggak setuju!" jelas Santi memegang tangan Rani erat.
"Ibu sudah bilang sama Rina dan Rey tapi Rina menolaknya, terus buat apa kalau Rian menolak masa ibu harus mengikuti hal Rani," bela Santi.
"Bu, ibu egois. Ibu lebih mementingkan diri sendiri tanpa mementingkan orang lain," teriak Rani tidak suka
"Rina nggak setuju, trus kenapa.ibu lanjutkan ini!" lanjut Rani sambil melepaskan tangan Santi dari tanganya.
"Ibu ingin cucu dari kamu, itu cuci ibu,"
"Bu, sampai kapanpun ia memang cucu ibu, aku nggak melarang ibu kok." kata Rani pelan
Rani tidak bisa berbuat apa apa lagi, ia mentok mau berkata apa pada Santi.'ya Allah kenapa nggak dari dulu, ibu seperti ini? Kalau masalah cucu memang ia cucunya tapi keadaannya berbeda lagi,' rintih Rani sambil berdiri.
Santi pun ikut berdiri ia memegang tangan Rani supaya wanita itu tidak pergi kemana mana, Rani yang melihat kelakuan Santi hanya mendesah dan melepaskan tangan Santi dari tangannya. Akhirnya Rani duduk lagi.
"Aku nggak mau Bu?"
"Kenapa Ran?"
__ADS_1
"Kamu berhak bahagia dengan Rey." lanjut Santi menatap wajah Rani heran.
"Bu, kenapa ibu dulu nggak merestui kami menikah? Kenapa? Apa kerena aku berasal dari orang yang nggak mampu!" teriak Rani menahan emosi yang tiba tiba keluar begitu saja dalam hatinya.
Rani beranjak dari duduknya, ia berdiri di tiang rumahnya yang berada di teras. Santi yang mendengarkan kata kata Rani dan hanya diam mematung. Ia tidak menyangka kalau Rani masih mengingat semuanya, bagian Santi yang tertohok hatinya.
"Maafkan ibu Ran, ibu salah. Ibu hanya ingin menebus kesalahan ibu sekarang, dengan mengizinkan menikah dengan Rey,'' kata Santi pelan.
Ia menghampiri Rani yang berdiri bersandar membelakangi dirinya. Santi menyentuh kedua bahu Rani dengan lembut sekali, saat tangan Santi menyentuh bahu Rani, ia merasakan sensasi yang lembut menyentuh kalbunya.
Tapi Rani langsung menepiskan tangan Santi, ia tidak mau disentuh oleh Santi. Melihat itu Santi merasa bersalah pada Rani.
"Aku nggak pernah menghalangi ibu untuk bertemu dengan cuci ibu, tapi untuk menikah dengan Rey, aku tidak bisa."
"Kenapa? Apa kamu nggak mau jadi kedua, kamu ingin jadi pertama, ibu bisa lakukan demi kamu sayang,"
"Bu!" jerit Rani keras.
"Dengan mengorbankan Rina. Aku telah salah jalan, jangan buat aku salah jalan lagi, Bu. Rey dan Rina bisa punya anak tanpa harus menikah denganku," Rani terpojok oleh kata kata yang diucapkan oleh Santi pada dirinya.
"Rey mencintaimu sayang." harap Santi menatap lembut Rani.
Santi tidak.peduli dengan apa yang dikatakan oleh Rani.
"Bu, hentikan rencana ibu!" teriak Rani jengah.
Ia langsung masuk kedalam rumah, Santi dengan cepat langsung memegang tangan Rani, Rani berusaha melepaskan tangan Santi.
"Ibu harap kamu setuju dengan rencana ibu." getar suara Santi dengan cepat.
Rani langsung masuk tanpa mempedulikan santi lagi, biarpun Santi mengetuk pintu berkali kali. Tapi Rani hanya membelakangi pintu menyadarkan tubuhnya..
'Bu, kenapa ibu lakukan ini pada Rani dan Rina," Tangis Rani.
__ADS_1
Ia menurunkan tubuhnya ke lantai dan duduk begitu saja, kakinya diulurkan ke depan sedangkan tangannya mengelus perutnya lembut.
Rani tidak menduga sama sekali kalau Santi hanya bergerak sendirian tanpa ada kompromi pada dirinya. Dan itu yang membuat dirinya tidak mau mengambil resiko yang besar.