BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Rani hanya diam saja


__ADS_3

Senin telah datang dengan sinar matahari yang indah dan hangat mwnghangati bumi yang tadi semalam diguyur hujan dengan deras sekali.


Setelah upacara bendera Rani membereskan ruangan perpustakaan yang terlihat bagaikan gudang yang tidak terurus. 


Untung kepala perpustakaan nya hanya diam saja saat melihat perpustakaan seperti itu, sejak kehamilan Rina, Rey jarang sekali masuk sekolah apalagi sekarang ia semakin kacau masalah informasi yang di berikan oleh Jo tentang Rani. 


Sedangkan Rani haro itu tetap sekolah biarpun hatinya masih bertanya tanya masalah Surya. Surya yang ingin membunuh cucunya ilahm, itu yang Rani belum mengerti. 


'Masa Ayah sedemikian dendam pada bapak? Ingin membunuh Anindya, dulu Rey ingin mengugurkan kandungan dirinya sekarang Surya?" Bisik hati Rani heran. 


Ia tidak habis pikir mengingat kehidupan yang ia jalani penuh dengan masalah yang menghampiri dirinya. Dan yang lebih fatal lagi kenapa masalah bapak dan ayah semakin rumit saja, seharusnya ayah menyelesaikan dulu dengan bapak. 


"Kamu nggak tahu ayah Ran, ayah egois." Kata kata Senja terhiang hiang saat ia mengatakan kenapa ayah tidak menyelesaikan semuanya dengan Ilham. 


"Kami disini bukan nggak ngasih tahu ayah, tapi ayah keukeuh pada pendiriannya. Kalau beliau ingin bunuh pasti bunuh orang," lanjut Senja lagi. 


"Lalu aku harus jelaskan diriku bagaiamana pada ayah," keluh Rani pada Senja. 


"Apa nggak ada jalan keluar lagi," lanjut Rani pasrah. 


"Kayanya kamu bisa minta bantuan Rey atau Dio saja," ide Senja..


"Rey nggak mungkin. Kakak tahu nggak ayah Rey dibunuh sama ayah, ya gara gara bisnis." Cerita Rani menatap wajah Senja. 


"What?" Kamu tahu darimana berita itu?" Tanya Senja terbelalak kaget. 


"Sebelum Rey menikah dengan mbak Rina," kata Rani menjelaskan. 


"Kamu kenal dengan ayahnya Rey?" Kejar Senja. 


" Aku mengenalnya kak, kerena sebelum Rey dengan mbak Rian, aku dan Rey pacaran. Tapi ibu Santi tidak setuju kalau aku menikah dengan Rey, kerena ibu Santi menganggap aku miskin." 


Rani menjelaskan membuat Senja terkaget kaget, ia tidak menyangka kalau ayahnya bakal berbuat nekat seperti itu. 


"Jadi kalian putus gara gara bibi?" 


Rani mengangguk mengiyakan apa yang diceritakan dirinya. 


Rani terkejut saat mendengar suara ketukan pintu, matanya langsung melirik pada orang yang mengetuk pintu itu. Dio orang yang mengetuk pintu ia izin masuk dan duduk di depan Rani..

__ADS_1


"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Dio perhatian. 


"Aku ingat kak Senja tidak tahu kalau ayahnya telah mebunuh ayah Rey." Kata Rani jujur. 


"Kamu cerita itu pada kakakmu?" Tanya Dio. 


"Iya aku cerita itu pada kakak, kenapa?"


"Kapan?" Kejar Dio menatap wajah Rani yang halus. 


Rambut Rani hari itu tergerai begitu saja, sedangkan angin pagi hari dengan lembutnya meniup rambut Rani. Jadi terlihat rambut nya terkesan urakan tapi Dimata Dio, Rani semakin cantik saja. 


"Tadi malam, kak senja kan tidur di rumahku, bukan di rumahmu."


Dio mengangguk ia masih ingat waktu Senja meminta izin pada mama nya supaya diizinkan tidur di rumah Rani. Kaku dipikir aneh sih, seharusnya Senja tidur di rumah ibunya sendiri tapi kenyataannya ia tidur di rumah ibu sambungnya.


Dio sebenarnya tahu kalau Amanda dengan beratnya mengizinkan senja pergi begitu saja, ia menarik nafas lalu dihembuskan begitu saja. 


"Jadi kamu mikirin itu?" Tanya Dio sekali lagi.


Rani mengangguk mengiyakan apa yang dikatakannya. Awalnya Rani akan berkata sesuatu pada Dio tapi Vian datang dengan bergesa gesa masuk ke dalam perpustakaan tanpa permisi lagi, ia menyelonong masuk..


"Vian kami kenapa?" Tanya Rani heran..


"Kak, eh Bu Rani," gugup Vian tersipu malu. 


"Ada apa?" Tanya Dio kembali.


"Tadi aku cerita kalau kak Rani di sekolah ini," terbata bata Vian cerita. 


Rani dsn Dio saling pandang satu sama lainnya, langsung menatap wajah Vian heran. 


"Aku sekarang ketemu ayah, aku cerita kalau kak Rani sebenarnya kerja di perpustakaan, lalu ayah pengen ketemu kakak. " Jelas Vian menatap wajah Dio dan Rani saling bergantian satu sama lainnya. 


Rani terkejut mendengar apa yang dijelaskan oleh Vian. Ya Vian menceritakan kalau ia dan Surya bertemu, Surya datang mengunjungi Vian di sekolah itu, Vian sengaja cerita tentang Rani, menunggu reaksi Surya..


Menurut Vian kalau  Surya sedang menunggu Rani di pintu gerbang sekolah. Rani yang mendengar pengakuan Vian terkejut sekali, wajar sih kalau Surya datang kerena memang Vianadalah ank kandung Surya, hanya beda ibu dengan dirinya. 


"Aku kesana," pekik Rani girang. 

__ADS_1


Ia langsung beranjak dari tempat duduk langsung menuju tempat yang dimaksud Vian. Saat Rani keluar matanya memang melihat seorang laki laki berdiri tidak jauh dari gerbang sekolah, ia langsung menghampiri laki laki itu. 


"Rani! Kamu Rani kan, yang menolong saya dulu?" Teriak laki laki itu girang hati nya.


Rani yang mendengar ucapan laki laki yang ada di hadapannya langsung ciut, ia menyangka kalau laki laki itu ingin bertemu dengan dirinya kerena sudah tahu lalu ia anaknya tapi tidak.


Tanpa Rani duga, Surya langsung memeluk tubuh dirinya dengan erat. Tapi Rani hanya terpaku, awal nya bibir ia ingin mengucapkan nama ayah pada laki laki itu, tapi Surya malah bicara masalah kejadian waktu Rani menolongnya. 


Rani tidak mengucapkan nama ayah pada Surya tapi ia hanya diam saja, hatinya beberapa kali menyebut ayah pada Surya. 


"Aku janji bakal traktir kamu, itu janji ku padamu dulu." 


Rani hanya menelan ludah dengan susah payah. Ia tidak menyangka kalau lagi laki laki itu hanya kenal dirinya sebagai penolong pristiwa kecelakaan. Ia hanya menyembunyikan perasaannya saja. 


'Ayah apa ayah tahu kalau aku anakmu, anak yang disia sia kan olehmu, diurus sama bapak,' bisik hati Rani. 


'Ayah kalau ayah tahu aku anak dari bapak, aku nggak tahu reasimu,' lanjut bisik hati Rani perih. 


"Tapi, saya masih sekolah bagaimana ya?" Tanya Rani garuk garum kepala tidak gatal.


Dio dan Vian yang melihat Rani dan Surya bincang bincang hanya diam saja, Vian akhirnya menghampiri ayah dan Rani, ia mendekati Surya sambil memengang tangan laki laki itu. 


"Ayah ini kak…" kata Vian. 


"Vian!" Panggil Ranty sambil mencubit lengan gadis itu. 


Rani langsung mengelengkan kepala pada Vian, gadis itu mengerti gerakan kepal Rani. Vian yang awalnya akan menceritakan kalau Rani adalah anak ayah, tapi kerana ia melihat Rani menggelengkan kepala, Vian akhirnya tidak jadi cerita. 


"Nak, maafkan kalau Vian nggak sopan sama kamu." Ujar Surya. 


Rani hanya mengangguk, ia akhirnya menyuruh Vian ke kelas. Vian mengangguk dan mencium tangan Ranty dan Surya. 


"Kapan saya traktir kamu Rani?" Tanya Surya keukeuh sambil menatap wajah Rani lembut. 


Surya merasa heran saat ia menatap wajah Rani, ia merasa ada satu getaran yang lembut dihatinya. Hatinya begitu nyaman saat ia memeluk tubuh wanita itu. Ia merasa dekat sekali. 


"Bapak kesini hanya untuk ketemu Vian atau ada maksud yang lain?" Tanya Rani penasaran. 


Sebenarnya ia hanya ingin kalau Surya datang ke sekolah itu untuk menemui dirinya sebagai anak, bukan sebagai wanita yang telah meenlong Surya.*

__ADS_1


__ADS_2