
"ibu bakal bilang sama ibunya Rani kalau sebenarnya kalian belum nikah!" teriak Santi.
Bu, kenapa jadi begini, ibu kan yang ingin sandiwara ini?" seru Rina tidak mengerti..
Ibu ngomong seperti ini supaya Rina mengizinkan Rey menikah dengan Rani itu saja kok kalian yang marah!" sanggah sayangi santai.
Santi tersenyum dan ia menghempaskan tubuhnya ke kursi, dibarengi tatapan heran kedua anaknya. Sebenarnya Santi kemarin bilang kalau Rey menjadi pendamping Rani saat Ningsih datang itu hanya tak tik dirinya saja, ia ingin mereka.menokah bukan hanya pura pura nikah.
Santi tidak pernah bermimpi bakal bertemu dengan Ningsih, namanya Ningsih sudah ia kenal sejak lama sebelum Rey menikah dengan Rina.
Rina dan Rey hanya mendesah saat melihat ibu dengan tenangnya duduk tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Sebenarnya ibu maunya apa sih! ibu nggak ngerti perasaanku!" sembur Rina kecewa.
Ia tidak ingin kalau Rey menikah lagi, bagaimanapun ia sendiri yang tersiksa dalam pernikahannya. Menurut Riana seharusnya bukan ia yang tersiksa tapi kenapa harus dirinya yang selalu disalahkan oleh semua orang.
Tanpa menunggu Santi bicara Rina telah pergi begitu saja tidak memperdulikan perasaan Santi dan Rey. Rey bukannya mengejar istrinya ia mendekati Santi.
"Bu, lebih baik ibu tinggalkan rumah ini, ibu nggak malu tinggal di rumah mertuaku?" hardik Rey merah.
"Kamu mengusir ibu, Rey?"
Santi terbelalak matanya saat telinganya mendengar kalau anaknya mengusir dirinya. Santi sangat kecewa mendengar apa yang Rey katakan padanya.
"Rey ibu lakukan ini buat kepentingan kamu sendiri, kepentingan kita juga," lanjut Santi sambil berdiri disamping Rey.
Ia ingin menceritakan semuanya sama Rey tapi hatinya ragu sekali, bagaimanapun Santi menyangka kalau Rey tahu pasti Rey tidak bakal setuju apa yang dibicarakan dengan Rey nanti.
Apa lagi ini mengangkut kehidupan Rani. Dan kemungkinan besar Amanda juga bakal menentang nya.
"Kepentinganku atau kepentingan ibu?" terima Rey.
Ia tidak mau berlama lama dekat dengan ibunya. Tanpa menunggu jawab dari ibunya Rey lanhsung pergi begitu saja, tapi Rey pergi bukan masuk kamar tapi ia pergi meninggalkan rumah. Ia sama sekali merasa rumah bukan tempat yang nyaman tapi neraka yang harus ia tinggalkan.
Sedangkan ditempat lain.
__ADS_1
Rani.mwbgajka Ningsih ke dalam rumah, mau tidak mau akhirnya ia menceritakan yang sebenarnya. Dio hanya diam saja mendengar apa yana Ran ini ceeitakan. Rani juga cerita kalau Rina adalah kakak kandung Dio yang sekarang ada disampingnya.
Mata Ningsih langsung terbelalak, mendengar cerita sebenarnya. Ia sebenarnya telah menduga tapi mereka menyangkalnya. Ran ini juga hanya bisa minta maaf pada Ningsih apa yang ia perbuat dengan Rey, sedangkan ia mengetahui sejak awal kalau Rey telah menikah, tapi pertemuan itu telah membuat cinta yang lama bersemi kembali.
Ningsih lanhsung berdiri dan menyeret tubuh Rani dengan keras lalu dihempaskan begitu saja, sampai Rani terhempas dan terjatuh. Rani berteriak kesakitan saat tubuhnya terjelambab, Dio yang melihat tubuh Rani jatuh langsung menyongsong dan melindungi Rani.
Ningsih yang melihat Dio berusaha menolong Rani, amarahnya memuncak seketika juga, ia langsung mendekati kedua tubuh itu lalu ia bertubi tubi memukul dan menjerit saat tanganya memukul tubuh Rani dan Dio. Saling bergantian satu sama lainnya.
BUG!
PLAK!
"Sakit!" jerit Rani.
Ia langsung meraung dengan keras nya saat wajahnya dipukul dengan keras oleh tangan Ningsih, bukan itu saja kaki Rani langsung di sepak sampai Rani terjatuh diatas tanah, Dio terkesima tapi ia menyadari sesuatu dan ia langsung melindungi tubuh Rani ia tidak tega membiarkan tubuh Rani dipukul oleh ibunya sendiri.
"Kamu berdiri Dio, nggak pantas kamu lindungi pelacur ini!" amarah Ningsih telah sampai ke ubun ubun nya.
Rani menangis terisak. Ia sebenarnya telah menduga kalau hal ini bakal terjadi kalau Ningsih tahu keadaannya, tapi ia tidak menyangka kalau Ningsih bakal tahu secepat ini.
Ningsih berusaha untuk memisahkan Rina dan Dio, tapi Dio tidak mau akhirnya Ningsih memukul badan Dio dengan tanganya dan menyepak tubuh Dio dengan kerasnya,
"Dio lepaskan aku!" terima Rina berusaha melepaskan pelukan Dio.
"Nggak aku nggak pernah melepaskan kamu,"
"Dio lepaskan!"
Akhirnya Dio melepaskan pelukan dari tubuh Rani, Ningsih akhirnya berhenti memukul Dio kerena teriakan Rani yang melengking. Ningsih sebenarnya ingin sekali kalau Rey bertangungjawab tapi Rani mengelengkan kepalanya.
"Kenapa? Kenapa Ran?"
"Rey nggak pernah menginginkan anak ini?" akhirnya Rani menceritakan semuanya.
Ningsih benar benar shock mendengar semuanya darahnya langsung mendidih seketika juga.
__ADS_1
"Bangsat! laki laki yang bertangungjawab!" lengking suara Ningsih.
"Ibu Rey tahu semuanya," lanjut Ningsih menahan nafas.
"Ibu Santi tahu, tapi ia ingin menikahkan aku dengan Rey," terbata bata Rani cerita kerena menhan sakit.
"Wanita bajingan!"
"Orang tua Rina?"
"Mama menentang pernikahan Rani dan Rey. Ia tidak setuju kerena beliau nggak mau anaknya menderita." saut Dio.
"Antar kan saya ke rumah kamu," ujar Ningsih masih menahan marah dan emosi.
"Bu, ibu mau apa ke rumah mbak Rani, Bu aku mohon jangan membuat kegundahan disana," tangis Rani memohon pada ibunya.
Ia berusaha bangkit dan memegang tangan ibunya supaya tidak datang ke rumah Dio, ia takut nanti mereka.bksa bisa bertengkar kalau mereka.bertemu apalagi di sana ada Santi yang akan membuat suasana tidak baik..
Tapi ucapan Rani tidak digubris sama sekali, Ningsing mengajak Dio untuk ke rumahnya Amanda. Rani hanya mwngelangkan kepalanya tapi Dio tidak bisa menolak ajakan Ningsih.
"Aku ikut," pinta Rani akhirnya.
"Perutmu,"
"Nggak apa apa," elak Rani menghindar.
Ningsih sebenarnya ingin membuat perhitungan dengan Santi, bukan pada Amanda, ia hanya ingin ada komunikasi dengan Santi. Hanya mungkin tempat nya di ruang Amanda.
Rani sebenarnya tidak ingin kalau Ningsih mengadakan pertemuan sama siapapun di rumah itu, pasti bakal ada pertengkaran lagi di rumah itu apalagi kalau membicarakan dirinya dengan Rey.
Mobil meluncur dengan kecepatan sedang, mereka hanya diam saja, sekali kali Dio melirik Rani yang ada di sampingnya, kerena ia melihat Rani selalu mengelus perut bagian bawahnya.
"Kamu baik baik saja?" tanya Dio akhirnya membuka percakapan dengan Rani.
Rani hanya menganguk saja. Ia berusaha menyembunyikan sakitnya dihadapan Dio, Ningsih yang melihat hanya mendesah mendengar percakapan Dio yang penuh dengan perhatian pada Rani..
__ADS_1
'Ya Allah kenapa bukan Dio saja yang jadi pacarnya Rani,' bisik hati Ningsih..
Sejak pertama ketemu sampai sekarang Ningsih mengangumi sikap Dio yang begitu tulus pada Rani, tiba tiba ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Ia hanya bisa menarik nafas lalu menghembuskan kembali untuk menghilangkan himpitan Bebena dalam hatinya.*