BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Hati ke hati


__ADS_3

Zoya terus saja menceritakan apa yang ia rasakan saat tahu kakaknya hamil..Santi yang mendengarkan semuanya hanya bisa terpaku, ia tidak menyangka kalau Zoya bisa dengan lancar mencurahkan semuanya pada dirinya disamping tatapan mata orang orang yang ada disana.


Setelah Zoya terdiam akhirnya Santi membuka suaranya kembali, diikuti beberapa mata yang menatap termasuk Rani yang kini duduk bersama Dio dan Zoya.


"Ran, ibu yang salah. Bukan kamu."


"Kenapa ibu harus lakukan itu, apa ibu nggak mikir kalau sebenarnya ibu telah melukai hati semuanya," sembur Dio gemas.


Ya mungkin kalau tidak ada perjodohan. Rina tidak akan terseret dalam masalah yang rumit tanpa ada penyelesaian yang detilnya. Ia juga mungkin tidak mengharapakan banyak, semuanya telah jadi bubur..Dan tidak bisa diubah. Bisa diubah tapi salah satu pasti ada yang jadi korban tidak tahu Rina tidak tahu Rani.


"Dio! Hati hati bicara, ibu nggak salah. Aku yang salah kerena kata kamu juga aku nggak pernah memperjuangkan semuanya," bela Rey.


Kerena.ia tidak suka kalau ibunya di pojokan oleh Dio sedemikian rupanya.


"Usaha tahu salah kenapa harus mengikuti nafsu saja, ada yang halal malah milih yang haram," damprat Dio marah.


Dia tidak suka kalau kakaknya di sia sia kan oleh laki laki yang bernama Rey. Belum sempat Dio melanjutkan kata katanya Rina memotongnya.


"Dio, hentikan semuanya. Kamu nggak pantas bicara seperti itu, kamu cinta kan sama Rani lebih baik kamu dekati dia saja," tohok Rina tidak rela kalau suamianya dipojokkan..


"Kakak!" Dio dan Rey serempak menatap wajah Rina tajam.


Rey hanya mendesah berat. Ada perasaan sakit saat Rina mengucapakan itu di hadapan Santi.


"Kalian saling cinta?" Akhirnya Santi buka suara menatap wajah Rani dan Dio.


Ia tidak menyangka kalau Dio dan Rani mempunyai perasaan yang sama. Mendengar suara Santi yang cepat dan jelas membuat Rani melotot ke arah Rina, begitu juga dengan Dio. Sedangkan Rey terpuruk.


"Cinta bertepuk sebelah tangan," desah Dio tidak semangat.


"Rani lebih memilih Rey daripada aku," lanjut Dio bergumam tapi masih kedengaran.

__ADS_1


Diao hanya menunduk saja. Sedangkan Rani diam, ia tidak bicara apa apa, begitu juga dengan Rey.


"Untung ada kak di yang selalu menemani kak Rani, kak Rey nggak bertanggungjawab," Zoya angkat bicara.


"Kak Rey hanya ingin enaknya saja tanpa melihat resiko yang ditimbulkan, aku sangat kecewa sama kak Rey," lanjut Zoya kesal.


Santi hanya menarik nafas dalam dalam, ia akhirnya mengambil kesimpulan.


"Ran, ibu besok ke rumah kamu," kata Santi langsung pergi begitu saja.


Santi akhirnya meninggalkan mereka, yang menatap kepergiannya. Dio awalnya ingin mencegah Santi pergi begitu saja tapi dengan cepat Rina melarangnya.


"Tapi, kak,"


"Sudah, ibu cape. Baru sampe, kapan kapan kita bincang lagi dengan beliau," ujar Rina.


Rina melihat Rani yang mulai segar sekarang, ia.hanya mendesah melihat wajah Rani yang berseri seri sejak kedatangannya ke rumah itu, Dio merasakan kalau tatapan matanya Rina tertekuk pada Rani..


Sore itu membuat sebuah kenangan kecil di hati Rani, pertemuan yang tidak disangka oleh dirinya dengan Santi membuat dirinya sebenarnya serba salah untuk memutuskan semuanya.


Besok siangnya tanpa Rani duga sama sekali. Santi mengunjungi rumah Rani, Rani terkejut sekali melihat Santi datang, biarpun ada pemberitahuan dari Santi kemarin. Ia sama sekali tidak menduga Santi datang secepat ini, antara siap dan tidak sebenarnya ia menerima Santi mengunjungi dirinya.


Untung Zoya tidak ada di rumah, maka keduanya lah yang berbincang bincang masalah yang dihadapi oleh Rani dan Rey.


"Nggak aku nggak mungkin kembali ke Rey, Bu. Bu, ibu seharusnya memikirkan perasan Rani," rajuk Rani pada Santi.


Rani tidak menyangka kalau Santi menyuruh dirinya untuk dijadikan yang kedua oleh Rey. Rani benar benar tidak menyangka sama sekali kalau kedatangan Santi bakal bicara masalah poligami. Ia tidak bisa membanyangkan kalau ia menjadi yang ke dua dalam hidup Rey, untuk jadi orang pertama juga susah apa lagi orang yang kedua.


"Kenapa nggak Ran? Anak dalam kandungan mu itu adalah anak Rey!"


"Atau jangan jangan itu bukan anak Rey tapi kamu ngaku ngaku anak Rey!" Lanjut Santi tajam.

__ADS_1


"Rey tidak mengakuinya. Dia ingin anak ini meninggal, aku nggak peduli apa yang ibu ucapkan," imbuh Rani pelan.


"Nggak mungkin!" Santi berteriak tidak percaya apa yang diucapkan oleh Rani.


"Kalau memang itu anak Rey kenapa coba Rey tidak mengakuinya?" desak Santi.


"Entahlah!"


Santi hanya mengelengkan pengakuan Rani. Sebenarnya ia datang ke rumah Santi ingin kalau Rani menjadi istri kedua Rey demi anak yang dikandung Rani, tapi melihat penolakan Rani dan menuduh Rey tidak mengakui Santi jadi sangsi atas kehamilan Rani sebenarnya.


"Nggak mungkin Rey melakukan itu, Rey pasti dengan senang hati menerima anaknya itu," tandas Santi tajam.


"Tapi Bu, buktinya Rey memang ingin kalau bayi ini mati!" jerit Rani.


Ia merasa kesal Santi tidak mengakui seperti Rey. Ibu dan anak sama saja gerutu Rani kesal. Santi masih menatap wajah Rani dengan tajam, ia sangsi pada pengakuan Santi


Ia masih belum percaya pada pengakuan dari Rani kalau Rey tidak mengakui kehamilan yang dijalani oleh Rani.


"Apa? Apa saya tidak salah dengar?" tanya Santi menatap wajah Rani tajam.


Wanita setengah baya itu seperti tidak percaya apa yang didengarnya, ia tetap bergeming dalam pendiriannya. Santi shock mendengar apa yang Rani katakan pada dirinya kalau Rey tidak menginginkan anak yang ada dalam kandungan Rani. Sedangkan Rey sangat mencintai Rani.


"Mungkin Rey malu sama keluarga Rani, sampai ia ingin mengugurkan kehamilan yang aku jalani." akhirnya Rani terbuka.


Tubuh Santi bergetar mendengar pengakuan Rani tentang Rey. Ia tidak menduga kalau Rey akan melakukan itu pada Rani, kalau memang Rey melakukan seharusnya ia juga harus bertangungjawab atas apa yang ia lakukan pada Rani.


"Jadi apa pantas kalau aku jadi istri Rey. Memang Bu aku masih mencintai Rey tapi Rey jahat ingin mengugurkan kandungan ini," Isak Rani sambil mengusap perutnya.


Santi beranjak dari tempat duduknya, lalu tanpa Rani duga wanita itu langsung memeluk tubuh Rani dengan erat. Rani yang mendapatkan prilaku Santi seperti itu hanya diam saja, ia membalas pelukan Santi.


"Jangan menangis sayang. Maafkan ibu sayang maafkan ibu," tiba tiba Santi juga menangis sambil memeluk tubuh Rani dengan eratnya.

__ADS_1


Perkataan Rani begitu tulus tergambar dalam sorot matanya. Santi tiba tiba merasakan sebuah magnet saat ia memeluk tubuh Rani, sebuah aliran yang hangat menyentuh hatinya.*


__ADS_2