BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Ayah, Jangan Sesali!


__ADS_3

"Kita harus ketemukan anak Ilham! Aku ingin membuat perhitungan dengan anaknya Ilham. Dan bunuh cucunya itu!" Teriak laki laki itu dengan suara garang. 


Teriakan laki laki itu mengema.memenuhi ruangan yang ditempati. Wajahnya terlihat kesal dan marah sekali, tidak marah bagaimana saat ia pulang anak pertanyannya senja pergi begitu saja. 


Dan si art tidak bilang apa apa pada dirinya, ya Art tidak bilang senja menemui ibu kandungnya itu amanat senja padanya. Mendapatkan informasi Senja pergi tanpa di ketahui oleh dirinya, otomatis ia kesal dan marah sekali..


Ia akhirnya dengan kerasan yang tidak menentu langsung mendatangi pondok, tapi sebelum mendatangi pondok ia menelpon orang orangnya supaya datang ke pondok. 


Waktu Surya sampai ke pondok, orang orang suruhannya ada semua tanpa kecuali, yang membuat hati Surya tiang gembira. Kalau misal ada anak suruhan tidak datang dipastikan ia bakal ngamuk dan bakal mencaci maki anak buahnya. 


Setelah dikumpulkan semuanya, ia memerintahkan pada mereka untuk mencari anak Ilham dan cucunya, ia tidak mungkin gagal untuk kedua kalinya. 


Surya menatap tegas ke wajah wajah anak buahnya, ia hanya ingin menyelesaikan semuanya. Ya keren ia telah menemukan wanita yang telah menolongnya dan telah memenuhi janjinya pada Rani. 


Surya Tidak tahu apa yang dirasakan oleh Rani saat pertama kali bertemu dengannya. Wanta itu bimbang untuk mengutarakan hatinya, ia ingin menceritakan siap sesungguhnya diri Rani pada Surya tapi tudks ada keberanian yang terungkap..


Ia nyakin kalau Surya telah menemukan dirinya, otomatis pencarian anak Ilham dilanjutkan itu yang ia tidak inginkan kerena bagaiamana pun orang yang dicari oleh Surya masih dirinya. 


Anak buah Surya dengan gesit harus mencari informasi keberadaan anak Ilham. Surya tidak tahu pasti anak Ilham itu siapa, Zoya bisa saja mengaku kalau  ia bukan anak Ilham. 


Surya dengan kasarnya menghempaskan tubuhnya ke atas dipan yang ia duduki. Ada helaan nafas yang kasar, tapi tiba tiba ia mengingat wajah Rani yang begitu lembut dan sejuk di matanya. 


"Pak, bapak punya anak?" Tanya Rani terhiang hiang di kepala Surya. 


Surya tertawa begitu telinganya mendengar apa yang keluar dari mulut wanita itu ia langsung menepuk bahu Rani dengan lembut sekali. 


"Punya, seorang wanita cantik seperti mu," Surya menatap wajah Rani. 


Hatinya benar benar berdebar halus, tapi ia membiarkan perasan halus itu timbul dihatinya kerena perasan itu lah yang membuat hatinya selalu ingin dekat dengan wanita yang ada dihadapannya. 


"Ah! Bapak masa iya aku cantik," sipu Rani. 


Surya menarik nafas, laku dihembuskan begitu saja. Mengingat semua percakapan yang ia lakukan dengan Rani, satu hal lagi ia tidak menyangka kalau ia bisa menemui Rani. 


Satu yang ia bertanya tanya pada dirinya, ucapan Rani benar benar membingungkan dirinya. 


"Pak, apa bapak tidak menyesal bertemu dangan ku? Pak, kalau kita bertemu kembali jangan salahkan masa lalu ya pak," suara Rani terhiang hiang di telinga Surya.

__ADS_1


Awalnya Surya ingin menanyakan apa yang dimaksud kata kata Rani, tapi Rani hanya menggelengkan kepala dan begitu saja. Satu hal dari dirinya, ia menyesal tidak meminta nomor Rani supaya ia bisa menanyakan apa arti dari kata kata itu. 


'Kira kita kenapa Rani mengatakan itu ya padaku, apa ada yang ia sembunyikan terhadapku? Apa itu?" Tanya Surya penasaran sekali. 


Di kejauhan tanpa Surya sadari, Rey mendapat informasi dari Jo tentang pertemuan Surya dengan Rani. 


"Mereka bertemu? Dimana?" Tanya Rey penasaran. 


"Iya bang." 


"Oke kita ketemuan di tempat biasa." Rey mengajak Jo bertemu supaya tidak ada orang yang menguping pembicaraan apalagi kali di rumah. 


Rey langsung pergi menemui Jo. 


"Jadi mereka sudah bertemu ya?" Tanya Rey tidak semangat. 


"Informasi sih! Surya datang ke sekolah menemui Rani, tapi mereka hanya bukan dan pergi sepulang sekolah." Cerita Jo. 


"Kamu tahu ia pergi kemana dengan laki laki itu?" Tanah Rey penasaran .


"Entah aku juga nggak tahu, Kanya nya mereka pergi dekat sih tapi aku juga nggak tahu," kata Jo. 


"Nggak, kayanya hari itu Anindya tidak dibawa?" 


"Kamu lihat nggak Rani pulangnya?" 


"Pulangnya sih lihat, tapi nggak bawa Anindya, ia mengendarai motor yang biasa dipakainya ke sekolah,"


Rey langsung terdiam seketika juga, ia menatap dedaunan yang tertiup angin. Jo yang melihatnya langsung menyentuh bahu Rey dengan lembutnya.


"Apa yang kau pikirkan bang?'' tanya Jo. 


Rey menghela nafas dengan kasar. Di tatapnya wajah jo dengan tajamnya. 


"Aku rasa semakin jauh dan Rani, apalagi ia ketemu ayahnya." Hela Rey..


Jo menepuk bahu Rey, ia tahu kalau  Rey masih mengingat Rani dalam hatinya. 

__ADS_1


"Lupakan Rani, sekarang kan Abang punya Rina. Rina jodo Abang." Jo mengingatkan. 


"Entahlah, Jo," desis Rey. 


Setelah Jo menceritakan kalau Rani bertemu dengan Surya hatinya merasa jauh dengan Rani. 


"Aku harus menemui Rani sekarang, apa yang ia lakukan dengan ayahnya." Ujar Rey langsung beranjak dari tempat duduknya. 


Ia menuju motor yang parkir di depannya, Jo yang melihat langsung mengikutinya. Mereka pergi kearah masih masing, Jo pulang ke rumahnya sedangkan Rey langsung pulang ke rumah Rani..


Ia hanya ingin tahu saja, pertemuan Rani dan Surya.


"Maksudmu?" Tanya Rani sat Rey menyakan tentang Surya pada Rani.


"Kamu tahu dari mana kalau aku ketemu ayah?" Tanya heran Rani. 


Kerena ia sama sekali tidak cerita apa pada siapapun juga apalagi cerita pada Rey. Dio tidak mungkin menceritakan pada Rey apalagi di rumahnya ada Senja otomatis bakal ketahuan sama senja. Kenapa ia percaya pada Dio kaku Dio tidak cerita, kalau  misal Dio cerita pasti bukan Rey yang datang duluan tapi Senja. 


Yupz dugaan Rani 100% benar, Rey bukan tahu dari Dio tapi tahu dari anak buahnya Rey sendiri. 


"Kamu nggak perlu tahu siapa yang memberitahu ku tentang pertemuan kamu dengan ayahmu," ketus Rey menatap tajam Rani. 


"Picik! Kamu nggak mau kalau aku tahu siapa yang ngasih tahu kamu tentang pertemuan aku dengan ayah, tapi kamu malah nanya aku tentang ayah!" Sembur Rani tidak suka. 


Wanita itu hanya bisa menggelengkan kepala saja, mendengar alasan yang dikemukakan oleh Rey. 


Rey yang mendengar Rani mengatakan itu hanya bisa menghela nafas panjang..


"Kamu datang kesini hanya untuk menanyakan itu sja, bukan yang lain?" Tanya Rani. 


"Maksudmu?"


"Nggak ada apa apa kok!" Hela nafas Rani kesal. 


"Ran!" Panggil Rey lembut. 


"Sudahlah aku mengantuk, aku ingin istirahat, tadi malam aku nggak tidur Anindya rewel." Alasan Rani. 

__ADS_1


Wanita itu langsung beranjak dari tempat duduknya tanpa pikir panjang lagi ia meninggalakan Rey yang menatap kepergian dirinya. Rani tidak peduli apa Rey menatap atau tidaknya, ia hanya ingin sendiri saja. 


Rey hanya garuk garuk kepal tidak gatal, awalnya ia ingin mengejar Rani tapi mendengar alasan wanita itu, akhir ya ia mengurungkan, dan Rey pergi pulang menuju rumahnya.*


__ADS_2