
"Maaf ketua, kenapa ketua melamun disini," ujar seseorang mengagetkan Ray yang duduk di gubug di tengah pesawahan.
Rey bukan menjawab pertanyaan orang yang datang, ia hanya bisa menarik nafas dalam dalam lalu dihembuskan begitu saja, ia seperti sedang membuang pikiran tentang Rani.
Rey mendengus saat ia melihat kedatangan orang yang kini berada di hadapannya. Pikirannya masih ke ruangan perpustakaan bersama Dio.
Anak buahnya hanya diam seketika melihat tuannya mendengus kesal atas kedatangan dirinya. Daripada tuanya marah ia langsung diam dan matanya memandang hamparan sawah yang luas sekali.
"Sayangi dia, Dio. Dia pantas mendapatkan kebahagiaan biarpun itu bukan dariku, aku nyakin kamu bisa membahagiakan Rani." Ujar nya pada Dio perih.
Kata kata itu kata kata Rey untuk adik iparnya, kerena ia tahu sebenarnya Dio suka sama Reni hanya kerena Rani selalu menghindar.
Rey juga tidak mengerti kenapa Rani selalu menolak cinta Dio yang tulus, ia menarik nafas dalam dalam lalu dihembuskan begitu saja.
Hatinya sangat sakit. Seharusnya ia yang menyanyangi Rani, apalagi sekarang Rani sedang mengandung dari benihnya sendiri.
Tapi kenyataannya berbeda sama sekali, Rani hanya dijadikan pelampiasan kekesalan hatinya pada ibu mertua yang menyatakan dirinya mandul. Kenyataannya sekarang Rey tidak mandul, dengan hamilnya Rani membuktikan kalau dirinya subur.
Anak itu, anak darinya. Tapi ia tidak bisa sepenuhnya menjaga dan memperhatikan, Rey hanya tersenyum menyamarkan perasaan hatinya yang terluka sangat terluka tapi tidak berdarah sama sekali.
Rey hampir meneteskan cairan bening di wajahnya, kalau saja ia tidak cepat mengusap dengan tangannya. Rey tidak ingin Dio tahu kalau ia menangis.
Akhirnya kedua pria itu pulang bersama sama dengan dua kendaraan yang berbeda.
Tiba tiba terdengar suara hp Rey yang berteriak nyaring sekali, Rey dengan cepat langsung mengangkat.
"Iya nanti pulang, nggak bakal malam." Ujar Rey terusik.
Tidak menunggu lama lagi Rey lanhsung mematikan hpnya, lalu dibuang begitu saja olehna.
"Komeng berita apa yang kau bawa padaku?" Tanya Rey menatap wajah anak buahnya si Komeng.
Entah nam darimana ia dapatkan kerena waktu bertemu dengan Rey laki laki kepala 5 itu sudah bergelar Komeng.
__ADS_1
"Bayi itu ada di sekitar sini," ungkap Komeng berbisik.
Lucu. Si Komeng bicara dengan Rey dengan bisik bisik seperti takut ketahuan, sedangkan itu pesawahan yang tidak ada manusia sama sekali kecuali keduanya.
Mata Rey terbelalak mendengar bayi sasarannya berada di toat yang sama..
"Kamu benar kalau bayi itu ada di tempat yang sama dengan ku?" Tanya Rey terbelalak.
"Iya informasi sih ibu bayi itu mencari ayahnya di sekitara sini." Ujar Komeng masih berbisik.
"Meng, kira kira tahu dari man dia alamat si bajingan itu?"
"Menurut informasi sih dari anak kecil itu," ungkap Komeng.
Rey tanpa sadar langsung meninju kayu amben ( tempat duduk dari bambu ), suara BRAK terdengar nyaring sekali. Si Komeng sampai terkejut mendengar gebrakan tuannya.
Si Komeng menatap wajah Rey yang merah padam sektika juga, Komeng hanya diam saja mereka itu yang ia berikan dari penyelidikan dirinya.
"Ada lagi nggak?" Tanya Rey bergetar.
Komeng pulang duluan meninggalkan Rey yang masih duduk di gubug di pesawahan. Komeng takut kalau harus kena bogem ketuanya, ia masih merasakan sakit di sekitar wajah kerena di bogem oleh Rey.
Setelah kepergian Komeng, Rey lanhsung beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menuju rumahnya dengan perasaan campur baur antara cinta, sayang, benci pada orang yang di ceritakan Komeng tadi.
***
Sepeningglan Rey, Rina termenung di rumah yang iantempati sekarang. Tiba Tiba ia ingat pertemuan dengan Rani di sebuah TBM yang berada di kecamatan. Ia berapa kali mendesah sangat panjang seperti mengeluarkan beban yang mengganjal hatinya.
Rina mengingat semua yang ia dan Rani lakukan, ia sama sekali tidak menduga kalau harus bertemu dengan wanita yang pernah suaminya sayangi.
Ia baru tahu. Kalau Rani adalah wanita yang pernah mengisi hatinya Rey. Ia tidak tahu sama sekali kalau Rani wanita yang bisa menaklukan hati Rey.
Dirinya tidak tahu sama sekali kalau Dio juga mencintai wanita yang Rey cintai. Tapi Rani lebih memilih Rey ketimbang Dio sendiri.
__ADS_1
Ya perjodohan lah yang membuat Rey dan Rani terpisah, begitu juga dirinya sendiri.
"Lebih baik disayang sama cowok dibandingkan kita yang sayang sama cowok itu! Kata orang kalau kita disayang sama cowok bakal indah, sedangkan kalau kita sayang sama cowok bakal susah."
Kata kata itu terhiang hiang di telinga dirinya. Ya sejak lima tahun pernikahan ia harus mencintai Rey tanpa Rey membalas cintanya. Dan dirinya sangat itu sama Rani kerena Rani memiliki dua laki laki yang menyanyangi diri Rani. Sedangkan ia sendiri sejujurnya merasa lelah sangat lelah kerena harus mencintai tanpa respon sama sekali.
"Kak, maaf aku tadi beres buku dulu baru kesini." Kata Rani yang tiba tiba muncul tanpa permisi lagi ia duduk di samping Rina.
Rina hanya mengangguk saja. Ya hari ini ia dan Rani janjian di TBM, untuk bertemu satu sam lain dan Rina yang meminta Rani datang. Awalnya Rani menolak tapi Rina keukeuh ingin bicara berdua dengan Rani.
"Kamu masih mencintai Rey?"tanya Rina memandang dedaunan yang tertiup angin siang hati.
"Kak, aku nggak mau bahas apa apa kalau kalau kakak bahas dia." Potong Rani menghindar.
Rani juga tidak menyebut nama Rey. Nama Rey ia ganti dengan sebutan dia. Rani sebenarnya ingin melupakan Rey tapi tidak bisa kerena ia dan Rey sering bertemu di sekolah.
Di sekolah juga ia kadang lebih banyak menghindar dari pada bertemu dengan Rey tapi susah kerena satu sekolahan, jadi tiap detik ketemu.
"Aku hanya ingin jawaban yang pasti dari kamu, Ran." Gumam Rina seperti bertanya pada dirinya.
Rani mengelengkan kepalanya. Ia beranjak dari tempat duduknya, berdiri. Tapi Rina langsung menyentuh tangan Rani untuk mencegah supaya tidak meninggalkan dirinya di tempat itu.
Rani mendesah.
"Aku nggak mau jawab pertanyaan kakak."
"Kenapa? Kerena kamu sebenarnya masih mencintai Rey?" Tohok Rina dengan kata katanya.
"Kak!" Jerit Rani menatap wajah Rina.
"Kamu beruntung dicintai oleh dua pria yang sangat sayang sama kamu." Desah Rina memelas.
"Kak, please jangan ngomong masalah itu ya kak. Apa kakak mau ketemu aku hanya untuk bahas Rey dan Dio?" Tanya Rani mengerti siapa dua pria yang disebutkan oleh Rina.
__ADS_1
Deg!
Hati Rani berdetak keras. Saat matanya melihat anggukan pelan Rina, hatinya terasa perih sekali. Rani mendesah mengeluarkan beban dihatinya. Akhirnya ia duduk kembali disamping Rina yang masih duduk ditempatnya. *