BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Senja menghalangi


__ADS_3

Keesokan harinya Dio, Vian dan Rani menuju ke sebuah kota propinsi yang jaraknya 3 jam perjalanan menuju propinsi, itu juga dengan kecepatan 100/ meter. Zoya sebenarnya ingin ikut tapi Rani melarangnya, ia masih berlaku pada kata kata Vian tentang anak Ilham.


Rani juga tidak ingin kalau Zoya ikut pasti akan terjadi apa apa, apalagi kalau Surya tahu Zoya adalah anak Ilham. Itu bisa membuat Zoya susah dan itu akan menjadi jalan Surya untuk membalas dendam pada Ilham melalui Zoya.


Vian yang ikut juga tidak mengizinkan Zoya ikut, Zoya akhirnya tidak ikut biarpun hatinya ingin sekali membela kakaknya.


Mereka bertiga pergi jam 07.00 sengaja untuk menghindari kemacetan yang terjadi di kota kabupaten. Zoya hanya memandang kegiatan kakaknya dengan perasaan yang tidak dapat dilukiskan. Tapi gadis 15 tahun itu berusaha melepaskan kakaknya dan ia hanya bisa berdoa saja dalam hati, Rani sebenarnya tahu kalau Zoya ingin ikut tapi ia juga harus melindungi adiknya dari kemungkinan yang terjadi.


"Maafkan kakak, Zoya kalau saja kakak bisa membawa kamu. Kakak ingin sekali membawa kamu untuk mengenal ayah dan kak senja, tapi suatu waktu kakak bakal melakukan padamu,'bisik Rani dalam hati sambil melirik Zoya.


"Kamu hati hati ya di rumah, jangan menerima tamu yang kamu nggak kenal ya," kata Rani sebelum mereka berangkat.


Ia memberikan nasehat pada adiknya supaya Zoya menjaga diri dari kemungkinan terjadi, Zoya hanya mengangguk saja. Hatinya ketar ketir mendengar nasehat dari kakaknya.


Ketiga orang itu pergi tanpa Zoya, gadis 18 tahun itu hanya bisa.menatap kepergian mobil yang menuju kota propinsi dengan perasaan tidak karuan sama sekali.


Di sepanjang perjalanan ketiganya ya hanya diam saja, hany pikiran mereka masing masing yang berkecamuk.


'Ya Allah peristiwa apa yang membuat ayah membenci bapak? Sedangkan ayah sendiri yang meninggalkan ibu dalam keadaan hamil? Seharusnya ayah bertanya pada ibu dulu, tentang bapak?' bisik hati Rani gelisah.


Vian lain lagi pikirannya. Kalau mendengar cerita Senja ia bergidik sekali, kalau Surya ingin membunuh Rani kerena status Rani adalah anak Ilham, kalau itu sampai terjadi Surya bakal menyesali semuanya.


'Dan aku juga nggak ingin kalau kak Rani dibunuh, terlalu baik bagi dirinya untuk menerima kesalahan yang bapaknya lakukan,' bisik Vian.


'Aku juga nggak ingin kehilangan kakak, aku nggak mau kak Rani kenapa kenapa. Biarpun aku dan kak Rani bukan lahir dari satu rahim, tapi ia tetap kakakku,' lanjut bisik Vian.


Sedangkan Dio hanya bisa menggelengkan kepala saja mendengar semuanya.

__ADS_1


'Surya sama Rey sama sama jahat, mementingkan dirinya tanpa memikirkan orang lain.' Hela Dion dalam hati.


Ya ia berpikir begitu kerena buat apa Rey dan Surya ingin membunuh anaknya? Dendam? Seharusnya mereka berpikir jernih pada kenyataan yang ada.


Disebuah rumah, seorang wanita dan laki laki paruh baya terlihat bersitegang satu sama lainnya.


"Ayah aku nggak bohong. Ini kenyataan kalau Rani bukan anak Ilham!" teriak Senja berusaha menyakinkan ayahnya.


Mendengar teriakan putrinya Surya menatap mata Senja tidak berkedip, sebenarnya ada kejut dimata Surya mendengar kalau Rani bukan anak Ilham. Kalau Rani bukan anak Ilham lalu untuk apa Ilham melindungi anak itu?


Wanita itu tidak.ingin.kalau ayahnya mengambil keputusan sendiri dan berujung penyesalan.


Surya memandang senja tidak suka, ia tidak pernah mengubris apa yang Senja katakan. Ia harus lakukan, tapi Senja menghalangi Surya.


"Kalau dia bukan anak Ilham lalu kenapa Ilham melindungi wanita itu?" tanya Surya heran.


Surya terlihat goyah saat Senja menjelaskan itu, tiba tiba sekelebat bayangan wanita yang menolong dirinya hadir, ia hanya bisa menepiskan bayangan wanita itu dengan kasar dalam ingatannya.


Surya geram sekali kenapa wanita yang menolongnya selalu hadir saat ia benar benar ingin menghilangkan Rani? Dengan emosi masih di ubun ubun Surya dengan kasarnya mendorong tubuh Senja sampai wanita itu terpelanting. Tubuhnya sakit tapi ia berusaha bangkit untuk menghalangi ayahnya pergi.


"Vian, ayah," teriak Senja.


"Aku tahu ini dari Vian, ia cerita banyak tentang Rani. Wanita yang akan ayah bunuh oleh ambisi ayah sendiri," lanjut Senja..


Surya yang telah berjalan beberapa langkah menuju pintu keluar langsung membalikan badannya menatap Senja yang masih belum bangkit dari dorongan dirinya.


"Aku nggak percaya, itu semua hanya akal akal an kamu sja kan supaya aku melindungi wanita itu, ditubuhnya adalah darah Ilham!" tegas Surya tidak bergeming.

__ADS_1


Surya langsung bergegas pergi meninggalakan Senja sendirian di rumah, tapi dihalaman rumah ia masih berpikir dan mencerna kata kata Senja.


Biarpun ia sering bertemu dengan Vian tapi gadis itu belum pernah menceritakan tentang Rani pada dirinya, hanya Surya yang tahu sekolah dan kehidupan Vian saja. Dan ia sama sekali kadang tidak peduli pada kehidupan Vian.


Surya hanya menarik nafas dalam dalam, ia akhirnya berangkat ke suatu tempat.


Senja langsung bangkit dan mengambil hp di kamarnya, ia menelpon Vian, ya biarpun itu tidak mungkin Vian bisa membantu dirinya tapi ia harapkan kalau Vian bisa memberitahukan pada Rani.


"Kak, ada apa?" Tanya Vian mendengar Isak tangis kakaknya. ia langsung loadspeker hpnya.


Kerena waktu itu Vian sedang berada di mobil Dio bersama Rani. Ia sengaja supaya mereka berdua mendengarkan apa yang diucapkan senja. Dio dsn Rani yang berada di dalam mobil menyimak apa yang Senja katakan Lewat hp.


"Ayah bakal menemui Rani, kakak sudah jelaskan kalau Rani anak ayah tapi ayah nggak percaya," terbata bata Senja menceritakan..


Rani yang menyimak langsung tertegun mendengarkan apa yang Senja katakan kalau Surya bakal menemui dirinya, Rani secara diam diam berpikir dari mana Surya tahu alamat dirinya, apa mungkin alamat yang dicari Surya adalah rumah yang sekarang ia tempati?


Kerena memang Surya hanya tahu alamat yang sekarang. Surya pernah kesana saat Ningsih hamil Rani itu yang pernah ibunya hamil. Ningsih juga kata orang mengadukan pada dirinya, dan diulang ceritanya ke Rani sendiri.


Awalnya Rani ingin memutuskan supaya Dio balik arah pulang, tapi perjalanan yang mereka tempuh sudah jauh dan sekarang sudah ke kota kabupaten, hanya satu jam lagi untuk sampai ke rumah Surya.


Jadi kalau balik lagi percuma.


Vian hanya mendengarkan saja apa yang diceritakan oleh Senja sekali kalau menatap wajah Rani lewat kaca spion yang berada di tengah.


"Aku sih bagaiamana kamu saja," ungkap Dio.


"Aku ingin bertemu dengan ayah," tegas Rani.

__ADS_1


Akhirnya Dio mengangguk mendengar apa yang diucapkan oleh Rani.*


__ADS_2