
"Bu, apa apa sih ini!" teriak Rey marah.
Ia dengan luapan amarah yang berada dipuncak ubun ubun.lanhsung melempar undangan yang ia temukan di kamar Santi, dan jantungnya bergolak tidak karuan saat melihat nama Rani dan namanya tersandung dalam undangan itu.
Rey sangat marah dan langsung melempar undangan itu ke sembarang arah sampai undangan yang tersimpan rapih berterbangan ke penjuru arah.
Santi yang melihat Rey melakukan itu langsung mengejar anaknya mau menghentikan gerakan Rey, tapi terlanjur kedua tangan Rey mengangkat tumpukan undangan itu lalu dilempar dengan.kuatnya.
"Rey, kamu apa apa an,ain lempar saja!" terik Santi tidak suka.
"Ibu yang apa apaan, Bu, itu apa yang ibu bakal lakukan denganku!" sembur Rey marah menatap wajah ibunya.
Rani yang berada di kamar langsung mencari asal suara yang terdengar gaduh. Matanya terbelalak seketika juga ketika ia melihat kembaran surat undangan yang tercecer akibat lemparan Rey. Ia langsung memunggut salah satu undangan yang dilempar Rey tadi. Saat matanya menata dua nama yang tercantum langsung mengangkat wajahnya menatap wajah Santi dan Rey bergantian.
"Bu, maksud ibu apa?" tanya Rina tersendat.
"Ibu hanya ingin Rey menikah dengan Rani, itu saja, apa salah ibu lakukan itu untuk mereka," tatap Santi tajam.
"Bu, nggak mungkin!" jerit Rani.
"Kenapa nggak mungkin? Harus mungkin."
"Bu," sendat Rina..
"Ini keputusan ibu, kalian harus tunduk atas perintah ibu!" teriak Santi.
"Nggak Bu. Aku nggak mungkin melakukan itu untuk duka kalinya!" jawab Rey keras.
Rey tidak habis pikir pada jalan pikiran ibunya. Mungkin kalau ia tidak menjalankan rencana, ia bakal mengikuti perintah ibunya. Tapi untuk saat ini ia bakal berusaha untuk menjalankan rencananya tanpa mereka tahu termasuk Rani. Mungkin kalau Rani tahu, ia juga bakalan disalahkan oleh Rani.
Jadi buatlah ia berkorban membela Rina untuk saat ini, tapi ia janji akan meninggalkan Rina demi Rani. Sudah cukup ia.mwnyakiti Rani, sejujurnya ia lakukan ini hanya untuk Rani semata.
"Bu, kenapa ibu seperti ini?"jerit Rina.
__ADS_1
Ia langsung jongkok. kedua tanganya dilipat di atas dengkul dan wajahnya dimasukan dalam keduanya dengkulnya. Ia tidak menyangka kalau kedatangan Santi bukan untuk membela dirinya tapi malah memihak Rani.
Masalah kehamilan Rani yang belum selesai juga membuat ia gemas, marah, kecewa, apa lagi harus melihat orang yang ia sayangi bersanding dengan mantannya.
"Ibu hanya ingin cucu dari Rey. Apalagi Rani sekarang sedang hamil, butuh kasih sayang dari Rey, sedangkan kamu!" sudut Santi.
"Bu, bukan aku yang nggak mau hamil tapi Rey yang tidak membuat aku hamil. Kenapa anak harus dipersoalkan?" jerit Rina.
Rina berontak pada Santi. Kehamilan yang jadi persoalan utama nya, sedangkan kalau mau jujur ia juga bukan nya tidak mau hamil, tapi Rey lah yang tidak.mau menyentuh dirinya, dan ini malah disalahkan oleh mertuanya.
Kenapa dalam.rumah tangga harus perempuan yang harus disalahkan, saat wanita tidak bisa hamil, tidak bisa masak, tidak bisa.mengufus suami, suami selingkuh kenapa harus wanita yang jadi korban?
Rey yang melihat istrinya menangis langsung menghampiri tubuh istrinya. Santi langsung menghalangi Rey, tapi Rey langsung menepiskan tangan Santi dengan kuatnya. Rey menubruk tubuh istrinya.
"Bu, aku nggak akan melakukan kesalahan yang kedua kalinya."
"Tapi, Rani setuju dengan apa yang ibu lakukan, kamu nggak sayang sama Rani," dusta Santi.
Perasaannya gamang sekali, ia tidak menduga kalau Santi akan memperlakukan dirinya seperti ini. Kalau memang Santi hanya ingin anak dari Rey, otomatis Rey juga terlibat dalam masalah ini.
Ya sejak 5 tahun Rey mendiamkan dirinya, sampai ibunya menuduh Rey mandul, ia sama sekali tidak membongkar semuanya pada Amanda kerena ia nyakin kalau suaminya normal. Tapi nyatanya itu yang membuat dirinya dianggap salah oleh semuanya.
Hati Rina benar benar sakit sekali, apalagi Santi yang seharusnya mendukung dirinya untuk merayu Rey mendekati dirinya malah terpincut sama kehamilan Rani..
Otomatis Rina yang tidak pernah berpikir apa apa menjadi kalut dan sangat tertekan oleh keadaan yang Santi lakukan pada dirinya.
Apa yang dirasakan oleh Rina, sebenarnya Rani juga merasakan semuanya. Ia meresa kedatangan Santi bukan memberikan solusi buat dirinya, dihati Rani ada satu ketakutan yang sangat kalau Santi bakal mengambil bayi yang ia lahirkan nanti.
"Ibu hanya ingin kalian bahagia." kata Santi masih terdengar oleh Rani ketika Santi datang kembali.
"Apa nggak ada pekerjaan lain lagi selain membahas ini Bu, aku cape!" teriak Rani menghina.
"Ibu nggak sama sekali sayang sama aku, malah menjerumus aku dengan Rey!" Rani marah.
__ADS_1
Rani meninggalkan Santi, tapi Santi dengan cepat menarik tangan Rani supaya duduk kembali ke tempat semula.
Rani akhirnya duduk di kursinya kembali, Santi juga memberikan gaun kehadapan Rani untuk digunakan Rani, Rani hanya mendesah melihat kelakuan Santi seperti itu.
Rani dengan emosinya lanhsung melempar gaun yang ada dipangkuan ya ke arah depan. Santi melonggo melihat kelakuan Rani yang tiba tiba seperti itu, Santi tersinggung apa dilakukan oleh Rani.
"Kamu itu apa apa an sih! Seharusnya kamu senang aku bela kamu!" teriak Santi kasar.
Santi memengang tangan Rani dengan cepat sekali.
"Senang? Kenapa aku harus senang bu, ibu yang lakukan ini bukan aku!" teriak Rani sambil berdiri dan menepiskan tangan. Santi yang menyentuh tangannya.
"Ibu egois sebenarnya, ingin menang sendiri nggak mau mengalah,"
Rani langsung masuk dalam kamarnya dengan perasaan yang campur baur antara sedih, perih, terluka, dan frustasi melihat kelakuan Santi padanya.
Rani hanya menarik nafas dalam dalam.mwngingat semua kelakuan Santi padanya.
"Kak, kenapa?" ucap Zoya menghampiri kakaknya yang duduk di teras.
Sejak tadi Zoya melihat kakaknya melamun saja, seperti ada pikiran yang menganggu dirinya. Rani menarik nafas dalam dalam mendengar suara Zoya yang mendekatinya, Zoya duduk di pinggirnya. Menatap wajah Zoya.
"Nggak apa apa kok!" jawab Rani tersenyum.
Ia tidak mau kalau Zoya tahu apa yang ia rasakan, Rani menepuk tangan Zoya dengan lembutnya.
"Tapi kenapa kakak seperti ada masalah, ceritakan lah sama aku kak, kalau kakak ada apa apa,"
"Makasih ya, kamu telah perhatian. Sueer kakak nggak ada apa kok," hindar Rani.
Kalau Zoya tahu pasti Zoya bakal melabrak Santi. Itu yang tidak inginkan oleh Rani, ia masih ingat peristiwa tentang Rina yang melabrak dirinya.
Memang masalah yang ia hadapi Zoya tidak tahu sam sekali, kerena ia sengaja untuk merahasiakan semuanya pada Zoya, ia tahu kalau Zoya sayang sama dirinya, tapi kalau Zoya melabrak Santi itu yang tidak inginkan sama sekali.*
__ADS_1